
"Ma, aku titip Anye dan anak-anak sebentar ya!" ucap Satya.
"Memangnya kamu mau kemana Nak?" tanya Mama Tiara.
"Satya mau beli susu dan Pampers di swalayan depan, sekaligus menunggu Radit katanya ada berkas yang harus Satya tanda tangani."
"Baiklah, pergilah Nak biar Mama yang akan jaga mereka, kamu tenang saja."
Satya pun ke luar rumah menuju swalayan yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Selain membeli susu dan pampers, dia juga ingin bertemu Radit untuk membicarakan tentang kondisi Anyelir. Satya meminta Radit untuk mencarikan rekomendasi dokter luar yang pernah menangani kasus seperti Anye.
Nadia yang melihat Satya keluar rumah segera kembali ke kamar Anye, lalu dia menghampiri Mama yang sudah terlihat sangat mengantuk.
"Ma, sebaiknya Mama beristirahat di kamar, sepertinya Mama sangat lelah dan mengantuk, biar kita gantian saja menjaga Anyelir dan bayinya," ucap Nadia.
"Memangnya nggak apa-apa jika Mama tinggal? apa kamu tidak mengantuk?" tanya Mama.
"Nadia tadi sudah beristirahat Ma, lagipula anak-anak juga sedang tidur. Jika nanti mereka bangun dan menangis, Nadia bisa panggil baby sitter."
"Baiklah Nad, Mama ke kamar dulu ya."
Mama Tiara meninggalkan kamar Anye, lalu dia menuju kamar tamu di lantai atas, di sana beliau sejenak memperhatikan sekeliling rumah Satya dari balkon. Mama menarik napas dalam sembari merenungkan nasib putranya, kenapa cobaan rumah tangganya begitu berat.
Dia teringat kenangan masa kecil Satya hingga dia dewasa, anaknya itu berbudi sangat baik, sejak kecil selalu bisa di andalkan dalam segala bidang dan selalu bertanggung jawab terhadap diri dan keluarga serta tidak pernah menyusahkan orang lain.
Mama memandang jauh ke depan sembari berdo'a, agar Allah memberikan kekuatan kepada putranya dalam menghadapi setiap cobaan yang datang kepadanya.
Kemudian Mama meninggalkan balkon menuju ke kamar tamu, merebahkan diri untuk tidur sejenak sebelum kembali menemani Satya untuk menjaga menantu dan cucunya.
Sementara Nadia merasa mendapatkan kesempatan untuk mulai menjalankan rencananya. Nadia melihat keluar kamar, dia takut jika ada yang datang hingga bisa salah paham melihat apa yang akan dia lakukan.
Ternyata suasana di rumah saat ini sangat sepi, walau jam masih menunjukkan pukul setengah sembilan malam, setelah memastikan keadaan aman, Nadia kembali ke kamar dan mulai menjalankan rencananya.
Nadia mengambil baby putra lalu menggendongnya dan mulai mendekati Anye sembari berkata, "Hai bangunlah! sekarang aku menang, aku akan mengambil Satya. Dia pasti akan meninggalkan kamu! wanita yang tidak berguna, jangankan mengurus dia, bergerak saja kamu tidak mampu," ucap Nadia sembari mengguncang-guncangkan tubuh Anye.
__ADS_1
Namun Anye tidak bereaksi sedikitpun. Nadia terus melanjutkan rencananya dengan berkata, "Lihatlah ini putramu! aku akan membuatnya membencimu hingga dia hanya akan mengenal aku sebagai Mamanya," ucap Nadia lagi.
"Aku akan mendidik dia sesuka hati, merusak mentalnya, biar kamu tahu, inilah balasan untuk wanita yang sudah merusak rumah tangga orang lain. Kamu telah mengambil Satya dariku sekarang berbalik, aku akan mengambil putramu," ucap Nadia di telinga Anyelir sembari menarik botol susu di mulut baby putra hingga diapun menangis.
"Hai dengarlah! bayimu menangis, aku akan lakukan yang lebih parah lagi dari sekedar ini," ucap Nadia.
Baby putra terus menangis, karena dia sedang haus, sementara Nadia sengaja tidak memberikan botol susunya kembali.
Ternyata tidak hanya baby putra, Yasmine juga ikutan menangis, hal ini semakin membuat Nadia senang, dia yakin Anye mendengar hal ini dan akan bereaksi saat anak-anaknya terancam.
Nadia gantian mengangkat Yasmine, lalu berkata,
"Sayang sekali kenapa bayi cantik ini harus lahir dari rahimmu, aku akan membuat wajahnya menjadi buruk hingga di saat dia dewasa tidak akan ada pria yang mau menikah dengannya. Kamu tidurlah! anak-anakmu yang akan menanggung semua dosamu. Mereka akan menggantikan semua hukuman yang seharusnya kamu terima."
Kemudian Nadia meletakkan Yasmine kembali ke dalam box, dia mendorong box bayi itu masing-masing ke sisi kanan dan kiri Anye. Suara tangis kedua bayi tersebut semakin menggema, Nadia tertawa sembari terus berkata, "Ayo bangun! dasar ibu tidak berguna, tidak bisa menolong anak-anak saat membutuhkanmu, lebih bagus kamu mati saja."
Saat Nadia selesai dengan ucapannya, dia melihat jari-jari Anye mulai bergerak, hal ini semakin membuat Nadia bersemangat, usahanya mulai menampakkan hasil.
Kini Nadia pura-pura mencekik leher baby putra sambil berkata, "Kamu duluan ya, aku tidak mau kamu jadi pewaris kekayaan keluarga Permana," ucap Nadia lantang hingga membuat tangis keduanya semakin kuat.
Tiba-tiba saja Anye membuka matanya, lalu dengan susah payah dia berusaha menarik tangan Nadia sembari berteriak, "Jangan sakiti mereka!"
Teriakan Anyelir mengejutkan Satya yang baru saja tiba di depan pintu kamar, Satya mendorong pintu sekuatnya dan berlari menghambur ke arah Anye.
Satya memeluk Anyelir sembari menangis, saking senangnya dia tidak sadar jika Nadia ada di sana dan tidak bertanya dulu, sebenarnya apa yang terjadi hingga Anye berteriak sangat kuat.
Melihat Anye sadar sangat membuatnya bahagia, dia menciumi Anye sembari mengucapkan terimakasih. Rasanya Satya masih tidak percaya jika Anye telah sadar.
Anye mengaduh dan meringis kesakitan, hingga membuat Satya sadar, bekas operasi istrinya belum sembuh, dia melihat darah segar merembes di atas perban yang menutupi luka tersebut.
Satya hendak pergi memanggil dokter tapi Anye menarik tangannya agar jangan pergi, lalu Satya berkata, " Sebentar Nye, Mas hanya mau panggil dokter untuk memeriksa lukamu."
Anye tidak menghiraukan ucapan Satya maupun lukanya yang berdarah, dia terus memegangi tangan Satya sembari pandangannya terus tertuju kepada Nadia dan anak-anaknya.
__ADS_1
Sementara tadi saat Nadia melihat Satya berlari memeluk Anye, dia hanya bisa tersenyum, walaupun ada rasa cemburu tapi dia senang karena rencananya telah berhasil.
Lalu Nadia menggendong baby putera, menarik box baby Yasmine sedikit menjauh, memberi mereka susu hingga keduanya berhenti menangis.
Nadia pun menepuk-nepuk paha kedua bayi tersebut secara perlahan sembari menyenandungkan sholawat hingga kedua bayi itu kembali tertidur.
Satya dan Anye terpaku melihat ketelatenan Nadia menidurkan putra-putrinya. Satya tidak menyangka jika yang ada di kamarnya bukan Mama Tiara melainkan Nadia.
Anye pun masih bingung dengan apa yang terjadi, dia hanya diam sembari menatap tajam ke arah Nadia. Anyelir tidak mungkin menceritakan tentang tindakan Nadia barusan kepada Satya.
Bagaimanapun buruknya tindakan Nadia tadi, dia tetaplah istri Satya dan tidak ada saksi yang bisa menguatkan perkataannya jika Anye ingin mengadu ke Satya.
Hati dan pikiran Anye saat ini bimbang, dia meragukan Nadia, apakah Nadia benar seorang wanita yang baik atau hanya berpura-pura baik saja saat sedang berada di depan Satya.
Nadia merasakan kecurigaan dari tatapan mata Anyelir, lalu dia mendekati Anye sembari mengulurkan tangannya dan berkata, "Maaf, Maafkan aku Nye, aku telah membuat kamu dan anak-anak ketakutan. Aku hanya ingin membantumu, merangsang kesadaranmu dan Alhamdulillah ternyata rencanaku berhasil."
Satya bingung dengan maksud perkataan Nadia, lalu dia bertanya, "Sebenarnya apa ya terjadi? aku bingung. Aku heran, kenapa Anye tadi menjerit dan mengatakan jangan menyakiti mereka. Tolong jelaskan Nad?"
Kemudian Nadia menceritakan semua yang telah dia lakukan terhadap Anye dan anak-anak hingga akhirnya Anye bisa sadar.
Satya pun akhirnya mengerti lalu dia membantu Nadia, menjelaskan tentang kondisi Anye setelah pasca operasi dan mengatakan bahwa dokter tidak bisa memastikan kapan Anye bisa sadar.
Akhirnya Anye paham dengan yang terjadi, lalu dia menggenggam erat tangan Nadia dan meminta maaf serta mengucapkan terimakasih. Jika tidak karena rencana Nadia, mungkin saat ini dirinya masih terbaring koma.
Nadia memeluk Anye sembari berkata, "Kata orang, kamu adalah maduku Nye, tapi bagiku kamu adalah adik. Adikku yang akan selalu memberikan kebahagiaan untuk orang-orang yang kita sayangi.
Selesai mengatakan hal itu, Nadia langsung meminta Satya agar memanggil dokter, karena darah di luka Anye semakin banyak keluar dan membasahi seluruh perbannya.
Setelah Satya pergi, Nadia menarik kedua box bayi, dia ingin Anye melihat anak-anaknya. Anyepun menangis melihat kedua malaikat kecilnya, yang sedang tertidur pulas sembari tersenyum. Dia ingin menggendong mereka tapi dokter keburu datang untuk memeriksa lukanya.
Bersambung.......
🌻 Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys, vote, like, coment dan rate bintang limanya. Terimakasih 🙏
__ADS_1