
"Dit kutunggu di ruanganku, sekarang juga ya!",
Begitu sampai hotel Satya langsung menelephone Radit, ia sudah tidak sabar ingin tahu tentang kabar Nadia.
"Oke bos!",
Radit segera menuju ruangan Satya, ia membawa berkas-berkas yang harus di tanda-tangani oleh Satya.
"Nih bos tandatangani dulu baru kita ngobrol."
Satya melihat sejenak berkas-berkas itu lalu tanpa ragu membubuhkan tandatangannya dan menyerahkan kembali kepada Radit.
"Sudah buruan cerita, di mana sekarang Nadia Dit!",
"Sabar dong Sat, Nadia baik-baik saja. Dia pergi tour bersama teman-temannya satu komunitas pengidap kanker, dan mereka semua sengaja mematikan handphone, mereka ingin tenang dan happy. Paling sekitar seminggu lagi mereka kembali."
"Darimana kamu tahu Dit jika Nadia pergi dengan teman komunitasnya!",
"Orang-orang kepercayaanku yang telah mencari info Sat."
"Tapi jika ia memang pergi tour, kenapa ia tidak pamit dengan ku atau setidaknya pamit dengan kakaknya biar kami tidak cemas."
"Seperti kamu tidak mengenal istrimu saja Sat, dia pasti takut kalian tidak akan mengizinkan dia pergi, makanya ia memilih pergi diam-diam."
"Terimakasih Dit atas infonya, sekarang aku bisa sedikit tenang. Aku akan coba telephone dia lagi besok siapa tahu Nadia sudah mengaktifkan kembali handphonenya. Berarti orang yang aku lihat waktu itu yang mirip dengan Nadia bukan dia ya Dit, mungkin mataku saja yang sudah tidak beres."
"Bukan lah Sat, yang jelas bukan Nadia. Mereka saja tour ke Los Angeles. Oke Sat, aku kembali ke ruanganku dulu ya...jika perlu sesuatu call aja, aku pasti siap apalagi jika diajak makan😜." Radit kemudian berlalu hendak meninggalkan ruangan Satya, di dalam hati ia berkata :
"Maaf Sat, aku terpaksa harus terus membohongimu sampai Nadia sendiri yang menentukan kapan dia akan menemuimu."
Melihat Radit yang berlalu dari ruangannya sambil cengengesan, Satya kemudian berucap :
"Siapa juga yang akan mengajakmu makan Dit, lebih baik aku mengajak Anyelir", jawab Satya sambil melempar bolpoint kearah Radit. Radit tertawa dan mengambil bolpoint yang mengenai punggungnya lalu menyematkan di kantong kemejanya sambil terus melangkah.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya Satya berniat kembali sesuai dengan janjinya kepada Anyelir, namun ketika ia hendak keluar tiba-tiba handphonenya berdering ternyata dari Mama Tiara.
Satya kemudian menerima panggilan tersebut,
"Assalamu'alaikum Ma", ucap Satya, sebelum ia menanyakan kabar, Mamanya berucap dengan panik,
"Kakek Sat, kakek...", ucap Mama Tiara yang menghentikan ucapannya sambil menangis.
"Ada apa dengan Kakek Ma, Mama tenang jelaskan semuanya kepada Satya!",
"Penyakit Kakek kambuh Sat, ini Mama dalam perjalanan ke rumah Sakit. Kakek sudah di bawa lebih dulu oleh Tirta ke Rumah Sakit Murni Teguh yang terdekat dari rumah kita."
"Ya sudah yang penting Mama jangan panik, Satya ini lagi di kantor, Satya akan segera pulang menjemput Anyelir dulu baru kami ke rumah sakit ya Ma. Bilang sama Tirta untuk menjaga Kakek dulu sampai Satya datang!",
"Baiklah Sat, nanti Mama sampaikan ke Tirta, kamu hati-hati ya!",
"Iya Ma", jawab Satya sambil berjalan ke ruangan Radit.
__ADS_1
Radit yang melihat Satya datang ke ruangannya pun segera bertanya, " Ada apa bos? jadi kita keluar makan😀?".
"Makanan dari rumah sakit mau!", jawab Satya asal.
"Jangan dong bos, aku kan sehat untuk apa harus dirawat di rumah sakit!",ðŸ¤
"Kakek Dit... Kakek di bawa ke rumah sakit lagi, kamu buruan dech kesana dulu, aku mau jemput Anyelir biar sekalian aku ajak dia kesana."
"Oke bos, aku bereskan berkas ini dulu ya!",
"Ya sudah, aku juga mau langsung jalan nih, kita ketemuan disana saja ya!",
Satya kemudian meninggalkan ruangan Radit hendak pulang kerumahnya untuk menjemput Anyelir, kemudian ia menelephone Anye agar bersiap-siap.
Setelah kepergian Satya Radit pun tersenyum, ia bergumam lirih,
"Kali ini kamu tidak akan bisa mengelak Sat, kamu pasti secepatnya akan berangkat untuk berbulan madu. Tidak ada yang bisa menolak permintaan kakek termasuk aku, aku sudah mempersiapkan semua kebutuhan untuk perjalanan kalian dan Nadia sengaja tidak akan menelephone mu sampai kalian kembali dari bulan madu."
Ternyata Radit sudah mempersiapkan semua permintaan Kakek Permana untuk mengurus keperluan bulan Madu Satya dan Anyelir, tinggal bagaimana usaha Kakek untuk meyakinkan Satya agar segera berangkat.
Satya sudah sampai dirumah, Anye juga sudah bersiap tanpa menunggu lagi keduanya langsung berangkat kerumah sakit. Di dalam perjalanan, Satya hanya diam, dia sangat mengkhawatirkan keadaan Kakek, Anye kemudian memecah keheningan dengan menanyakan kondisi Kakek Permana.
"Bagaimana keadaan Kakek saat ini Mas!",
"Entahlah Nye, Mas pun belum tahu bagaimana kondisi Kakek, mau bertanya sama Mama tidak tega, Mama tadi terlihat sangat panik dan menangis. Mas sudah coba telephone Tirta eh tidak diangkat, mudah-mudahan tidak ada yang serius dengan kondisi Kakek ya Nye."
"Iya Mas, mudah-mudahan Kakek baik-baik saja."
Mobil mereka sudah memasuki kawasan rumah sakit, Satya yang masih terlihat sangat khawatir segera menggandeng tangan Anyelir agar tidak tertinggal dibelakang karena Satya berjalan dengan sangat cepat.
"Ma, Pa...bagaimana keadaan Kakek sekarang, apa dokter belum mengatakan apa-apa Ma?"
"Belum Sat, dokter sedang melakukan pemeriksaan, kami semua diminta dokter untuk menunggu di luar", ucap Mama.
"Kakak boleh khawatir dengan kondisi Kakek tapi jangan khawatir lah dengan kak Anye, Tirta dan dokter ganteng disini nggak akan mungkin lho merebut Kak Anye, kami sudah kehilangan kesempatan 😃ðŸ¤", goda Tirta saat Kakaknya tidak juga melepaskan pegangan tangannya dari Anyelir."
Anyelir yang mendengar perkataan Tirta pun baru menyadarinya dan merasa malu😊, kemudian ia melepaskan tangannya dari genggaman tangan Satya. Satya juga baru sadar jika dia lupa melepaskan pegangan tangannya.
"Jangan iri dong Kamu!',, nggak akan pernah Kakak beri kesempatan siapapun untuk merebut apa yang sudah menjadi milik Kakak termasuk kamu", jawab Satya sambil tertawa dan sembari mengacak-acak rambut adiknya.
"Ah...kakak, siapa juga yang berani tapi jangan acak-acak dong rambut Tirta, kan jadi jelek nih Tirta, ntar nggak ada lho ko'as cantik yang melirik adik kakak yang ganteng ini
"Kamu Tirta dalam situasi begini masih juga godain kakak kamu!", ucap Mama Tiara. " Itu dokter sudah keluar dari ruangan Kakek, ayo kita tanya bagaimana keadaan Kakek", lanjut Mama Tiara.
Mereka semua mendekati dokter, kemudian Satya bertanya, " Bagaimana dok keadaan Kakek Saya!",
"Oh kalian semua keluarga Kakek Permana, silahkan satu orang ikut ke ruangan Saya, ada hal penting yang ingin saya jelaskan perihal kondisi Kakek."
"Baik dok, Saya yang akan ikut keruangan dokter."
Kemudian Satya mengikuti Dokter masuk ke dalam ruangannya dan Pak dokter meminta Satya untuk duduk lalu menjelaskan dengan rinci tentang keadaan Kakek yang tidak boleh terlalu banyak fikiran dan harus senantiasa berusaha membuatnya senang.
__ADS_1
Kakek sudah sangat tua dan keadaan jantungnya juga tidak memungkinkan beliau mendengar kabar buruk atau kabar yang mengejutkannya hingga bisa terjadi serangan jantung kembali. Lalu Pak dokter melanjutkan kembali perkataannya,
"Pasti ada yang menjadi beban fikiran Kakek saat ini, bersyukur kali ini hanya serangan ringan jika tidak kakek bisa terkena stroke bahkan lebih parah. Usahakanlah dek, apa yang menjadi keinginannya kalian penuhi bisa jadi itu keinginan terakhirnya, senangkanlah hatinya di usia senja nya ini."
"Insha Allah dok, kami akan coba tanya ke kakek apa sebenarnya yang membebani fikirannya dan kami akan coba memenuhinya."
"Baiklah dek itu saja yang ingin saya sampaikan, kalian boleh mengunjungi beliau tapi secara bergantian ya, jika ada apa-apa segera hubungi saya."
" Iya Dok, Terimakasih Pak dokter."
Setelah mengucapkan terimakasih Satya pun segera meninggalkan ruangan itu, dengan wajah khawatir dan sedih lalu ia berjalan kembali menuju ruang rawat Kakek. Mama, Papa, Tirta dan Anye yang melihat Satya keluar dari ruangan dokter segera menghampirinya, namun Satya belum bisa menjelaskan kepada mereka.
"Pa, Ma, nanti Satya jelaskan apa yang dikatakan dokter, sekarang Satya ingin menemui Kakek dulu. Dokter bilang kita harus bergantian jika ingin menjenguknya."
"Pergilah Nak, Kakek pasti senang melihatmu datang."
Kemudian Satya masuk, ia melihat Kakek terbaring lemah dengan selang infus ditangannya. Kakek yang melihat Satya datang tersenyum bahagia, nampak jelas di balik wajah keriputnya itu ia mengharapkan kedatangan Satya.
Tanpa bersuara Kakek mengulurkan tangannya, Satya yang melihatnya langsung menghampiri Kakek dan menggenggam tangan beliau sembari menarik kursi dan duduk disamping tempat tidurnya.
"Kek...bagaimana keadaan Kakek, Kakek jangan banyak fikiran biar cepat sembuh. Kami semua sedih melihat Kakek seperti ini terus. Baru beberapa hari kakek keluar dari rumah sakit dan sekarang sudah dirawat lagi. Sebenarnya apa yang menggangu fikiran Kakek, katakanlah kepada Satya Insha Allah Satya akan kerjakan semuanya. Apa Kakek masih memikirkan perusahaan atau memikirkan Tirta biar nanti Satya yang bicara dengan dia."
"Kakek menggelengkan kepalanya dan berkata, " Kakek tidak memikirkan perusahaan, Kakek yakin kamu, Tirta dan Papamu bisa mengendalikan perusahaan dengan baik dan masalah Tirta, kakek juga sudah tidak khawatir lagi, dia sudah kembali menjadi anak yang baik, ceria seperti dulu lagi. Yang masih mengganjal difikiran Kakek adalah Kamu Nak!",
"Ada apa dengan Satya Kek, kenapa Satya masih menjadi beban fikiran buat Kakek, bukankah Satya sudah memenuhi janji kepada Kakek untuk menikah lagi, apa ada hal lain yang Kakek inginkan dari Satya!",
"Kamu memang telah memenuhi janjimu, tapi jika kamu belum memberikan kabar tentang kehamilan cucu menantu, Kakek tidak akan tenang. Kamu pasti belum memenuhi kewajibanmu kan, kasihan istrimu. Berikanlah haknya sebagai istri Nak!",
"Tapi Kek, saat ini fikiran Satya belum tenang, Satya belum bisa memberikan hak kepada Anye karena sampai sekarang Satya belum mengetahui keadaan dan keberadaan Nadia dimana."
"Mau sampai kapan Nak, jika Nadia tidak kembali selamanya, apa kamu selamanya juga tidak akan memberikan hak Anye terhadapmu atau kamu menunggu sampai Kakek meninggal!",
Satya hanya terdiam, ia tahu saat ini yang dia lakukan adalah salah, telah menggantung hak Anyelir sebagai istrinya.
"Seiring berjalannya waktu Nadia pasti kembali, jika ia sudah benar siap pasti dia kembali, Kakek sangat yakin itu. Nadia anak dan cucu menantu yang baik, dia juga pasti menginginkan yang terbaik untuk keluarganya".
"Jadi sekarang apa yang harus Satya lakukan Kek agar fikiran Satya bisa tenang."
"Pergilah Nak, ajaklah Anyelir ke suatu tempat yang indah, disana kalian bisa menenangkan fikiran, bisa saling kenal dan bisa sama-sama untuk saling memperoleh kebahagiaan. Lupakan masalah pekerjaan, lupakan sejenak masalah Nadia dan lupakan yang lainnya. Hanya kalian berdua disana, bersenang-senanglah dan raihlah kebahagiaan kalian. Kakek harap setelah pulang dari sana kalian akan memberi Kakek kabar bahagia."
Sejenak Satya terdiam memikirkan semua yang dikatakan Kakek, kemudian ia menjawab,
"Baiklah Kek, Satya akan mengajak Anyelir untuk pergi berbulan madu tapi Satya tidak tahu harus pergi kemana. Nanti Satya akan rembukkan semua ini dengan Anyelir."
"Jika Kakek boleh usul pergilah kalian Ke pulau Sumatera, tepatnya di Sumatera Barat tempat Nenekmu dilahirkan. Disana banyak tempat-tempat yang indah biar kalian juga bisa mengenal tempat asal-usul leluhurmu Nak"
"Terserah Kakek saja, Satya tahu pilihan Kakek pasti yang terbaik bagi kami. Kami setuju dengan usul Kakek."
Mendengar jawaban Satya senyum pun mengembang di bibir Kakek. Hati Kakek kini sangat bahagia, lalu ia melanjutkan ucapannya,
"Baiklah Nak, Kakek akan meminta tolong Radit untuk mempersiapkan semuanya agar kalian bisa segera berangkat."
__ADS_1
"Terimakasih Kek", ucap Satya sambil memeluk Kakeknya.
Kakek memeluk Satya dengan senyum bahagia, dalam hatinya berharap semoga kali ini misinya untuk mempersatukan Satya dan Anyelir dalam meraih kebahagiaan rumah tangga mereka akan segera berhasil.