Terikat Cinta Lain

Terikat Cinta Lain
Episode 34. Persiapan seserahan lamaran


__ADS_3

Sembari menunggu Pak Edi tiba, Ayah Anyelir dan Satya telah memesan tiga porsi lontong sayur lengkap dengan isiannya yaitu ada sambal tempe kering, serundeng, telur dan kerupuk.


Karena begitu ramainya pembeli, mereka harus sabar menunggu hingga Pak Edi tiba disana kembali barulah lontong tersebut terhidang di meja mereka.


Memang warung lontong ini cukup terkenal dikampung Anyelir dan untuk kampung sekitarnya, hingga pembelinya ramai terus setiap hari khususnya pada hari libur, jika datang lewat dari jam delapan pagi pasti kehabisan atau tidak bakal kebagian, jadi banyak pengunjung dari jauh sudah pada datang setelah sholat subuh.


Begitu sampai disana, Pak Edi langsung menyerahkan jaket yang diambilnya kepada Satya yang masih terlihat pucat dan segera menuangkan wedang jahe titipan Anyelir ke dalam sebuah gelas.


" Tuan pakailah dahulu jaketnya, nanti takutnya Tuan sakit jika terus seperti ini dan minumlah ini wedang jahe titipan dari Nona Anyelir, Nona sengaja membuatkan wedang jahe ini agar tubuh Tuan Satya kembali hangat, Nona sangat mengkhawatirkan kondisi Tuan ", lanjut Pak Edi sambil menyampaikan amanah dari Anye.


" Terima kasih Pak Edi".


Setelah memakai jaketnya Satya pun segera meminum setengah gelas wedang jahe itu barulah kemudian mulai menikmati lontong pesanan mereka.


" Ayo Pak Edi silahkan dimakan lontongnya, jika terlalu lama nanti makanannya jadi mengembang dan rasanya ntar jadi kurang enak", kata Ayah.


Kemudian mereka menikmati sarapannya dengan lahap dan tanpa bersuara. Satya pun segera menghabiskan sisa wedang jahe yang ada dalam gelasnya.


" Bagaimana Nak Satya, apa sekarang masih merasa kedinginan?", tanya Ayah.


" Alhamdulillah Yah, agak mendingan tidak gemetar seperti tadi, sekarang tubuh Satya terasa hangat dan berkeringat".


" Syukurlah jika begitu Tuan, memang Nona Anyelir pandai dalam banyak hal termasuk dalam memperhatikan kebutuhan bahkan merawat seseorang, mudah-mudahan Nona akan menjadi istri yang baik nantinya buat Tuan".


" Pak Edi bisa saja, Anyelir hanya seorang gadis biasa Pak", timpal Ayah.


" Sementara Satya hanya tersenyum mendengar perkataan Pak Edi, dalam hatinya ia mengakui bahwa Anyelir adalah seorang gadis yang memiliki banyak kelebihan dan juga perhatian dengan orang orang-orang disekitarnya".

__ADS_1


" Oh ya Pak, rencananya jam berapa Bapak dan Pak Kadus akan pergi memancing?", tanya Satya.


" Paling sebentar lagi Pak Kadus kesini Tuan, tadi soalnya pas balik kesini dari mengambil jaket, kami bertemu di jalan, beliau habis lari pagi dan katanya mau pulang sebentar untuk mengambil joran dan bekal".


" Nah, itu yang kita bicarakan muncul orangnya", celetuk Ayah.


" Mari Pak Kadus ikut sarapan", ajak Satya.


" Terimakasih Tuan, baru saja Saya sarapan di rumah, tadi istri membuatkan nasi goreng kesukaan Saya makanya ini perut jadinya kekenyangan", jawab Pak Kadus sambil tertawa malu.


" Asal jangan ntar saat mancing ngantuk ya Pak karena kekenyangan", gurau Ayah.


Mereka berempat pun tertawa.


" Ayo Pak Edi kita berangkat sekarang, lebih cepat lebih bagus mumpung ikannya lagi kelaparan dan biar kita bisa dapat banyak", alasan Pak Kadus supaya mereka cepat berangkat untuk mengecek lahan yang akan Satya beli terlebih dahulu sebelum berangkat memancing.


Mereka segera meninggalkan tempat itu, Ayah dan Satya terus berjalan menuju area persawahan. Satya yang melihat persawahan luas dengan hamparan tanaman padi yang menghijau sangat takjub.


" Iya Nak, juga termasuk penghasil palawija, kopi dan pemasok hewan ternak untuk rumah potong".


" Oh...sepertinya bagus juga untuk prospek bisnis disini. Tapi sayang Yah, Satya belum bisa meninggalkan bisnis kakek di kota karena nggak ada penerus kakek selain Satya yang saat ini bisa mengurusnya. Jika adik Satya sudah bisa kami andalkan, mungkin Satya akan senang tinggal disini bersama Anyelir".


" Jadi Nak Satya memiliki seorang Adik, kenapa nggak sekalian diajak kemari ?".


" Ada Yah, Satya memiliki seorang adik laki-laki satu Ibu lain Ayah, tapi saat ini kondisinya masih kurang sehat".


" Walau beda Ayah tetaplah seorang Adik Nak, tetap mengalir darah Ibu yang sama di tubuhnya".

__ADS_1


" Iya Ayah, Satya sangat menyayanginya, apalagi dia adalah adik Satya satu-satunya".


Ayah kemudian mengajak Satya duduk di gubuk tepian sawah seraya bergabung dengan para petani teman Ayah.


Mereka mengobrol banyak hal, ada yang memberi kata selamat kepada Ayah karena sebentar lagi akan memiliki seorang menantu dan ada pula yang memuji ketampanan Satya yang menurut mereka sangat cocok bersanding dengan gadis seperti Anyelir yang cantik, baik, ramah dan penyayang khususnya terhadap orang tua.


Mereka menceritakan bagaimana keseharian Anyelir sebelum ia memutuskan untuk bekerja di kota demi menolong orang tuanya. Intinya warga kampung salut melihat kepribadian Anyelir.


Sementara itu Pak Edi dan Pak Kadus telah datang melihat sawah, ladang, rumah, ternak dan lahan kosong yang akan Satya beli dan bertemu langsung dengan warga yang akan menjualnya. Menurut Pak Edi semuanya sangat cocok seperti yang di inginkan Satya dan harganya juga sesuai pasaran di kampung ini.


Pak Edi ingin bertindak cepat seperti keinginan Satya, lalu ia memberi panjar tanda jadi pembelian kepada si penjual dan berjanji sore nanti ia pasti akan kembali bersama pak Kadus untuk melunasi semuanya.


Kemudian Pak Edi menelphone Satya untuk menceritakan semuanya, Satya yang menerima telephone dari Pak Edi pun langsung tahu, pasti apa yang akan dibicarakan Pak Edi adalah tentang lahan yang akan dibelinya, lalu ia pun sedikit menjauh dari gubuk tempat ia duduk bersama para petani teman Ayah untuk mengangkat telephone dari Pak Edi.


Setelah telephone tersambung Pak Edi menjelaskan semuanya dan Satya pun setuju, ia percayakan semua urusan pembeliannya itu ke Pak Edi dan Pak Kadus.


Satya ingin pembelian rumah, sawah, ladang dan hewan ternak semuanya di atas namakan untuk Anyelir. Sedangkan lahan kosong untuk pembangunan mesjid diatas namakan hamba Allah yang proses pembangunannya nantinya Satya percayakan kepada Pak Kadus dan Pak Lurah setempat.


Tentang masalah pelunasannya Satya akan memberika cek senilai harga yang telah disepakati dan akan memberikannya kepada Pak Edi setelah mereka kembali dari memancing. Satya juga berniat akan memberikan imbalan kepada Pak Kadus dan bonus kepada Pak Edi sebagai hadiah atas jerih payah mereka yang telah membantunya.


Sebelum mengakhiri percakapannya Satya tak lupa mengucapkan terimakasih kepada keduanya.


" Terimakasih Pak Edi, dan tolong juga sampaikan terima kasih Saya kepada Pak kadus, Saya sangat senang dengan hasil kerja bapak berdua sehingga rencana saya akan selesai tepat waktu dan sesuai seperti yang saya inginkan, mengenai imbalan dan bonus untuk Pak Kadus dan Pak Edi insha Allah nanti sore sekalian saya berikan, kini Pak Edi boleh bersenang menyalurkan hoby memancing dan jangan lupa ya Pak membawa pulang ikan yang banyak agar bisa kita panggang bersama-sama nanti malam".


" Terimakasih Tuan, masalah bonus untuk Saya tidak usah Tuan fikirkan, saya senang dan ikhlas melakukannya untuk mendukung rencana Tuan".


" Baiklah Pak Saya tutup dulu ya telephonenya, Saya akan kembali melanjutkan obrolan bersama Ayah dan teman-teman beliau, oh ya Pak satu lagi jangan lupa mengenai proses surat menyurat untuk balik nama kan butuh waktu, jadi bukti surat jual belinya aja dulu disiapkan secepatnya yang lainnya bisa menyusul karena itu besok yang Saya butuhkan untuk melengkapi keperluan seserahan lamaran dan lusa kita sudah harus kembali ke kota".

__ADS_1


" Baik Tuan, kami akan segera urus semuanya".


Kemudian Satya menutup telephonenya dan kembali ke tempatnya semula bergabung dengan Ayah yang masih asyik mengobrol bersama teman-temannya.


__ADS_2