
Malam ini menjadi malam spesial bagi Anyelir, entah mengapa rasa bahagia memenuhi seluruh relung hatinya setelah Satya mengungkapkan semuanya. Ada secercah harapan dihatinya yang membuatnya semangat untuk memperjuangkan cinta Satya, walaupun ia tahu tidak akan mungkin cinta itu bisa sepenuhnya untuknya.
Ternyata selama ini dugaan Anye terhadap Satya itu salah, Satya bukan pria dingin seperti bayangannya, sebenarnya ia adalah sosok pria yang perhatian, bertanggung jawab dan mengutamakan kebahagiaan keluarga di atas kebahagiaannya sendiri serta sosok yang masih menta'ati norma-norma agama.
Kebahagiaan kini terpancar jelas diwajah sepasang insan yang sedang berjalan meninggalkan cafe The Awan Lounge. Angga yang telah mengeluarkan semua uneg-uneg hatinya merasa lepas dari beban yang menghimpitnya, kini dia berusaha ikhlas menjalani takdir rumah tangganya. Mungkin dengan menawarkan persahabatan kepada Anyelir menjadi langkah awal untuk saling kenal, saling mengerti, saling perhatian diantara keduanya hingga suatu saat tumbuh rasa cinta yang bisa menjadi pondasi bagi rumah tangga mereka.
Senyum terus tersungging disudut bibir keduanya saat mereka saling bercanda, saling tertawa dalam perjalanan pulang hingga tak terasa mobil telah sampai ke tempat kost Anyelir. Satya segera turun dari mobilnya kemudian membukakan pintu mobil untuk Anyelir sambil berkata,
" Silahkan turun calon nyonya Satya, apa mau aku gendong sampai ke dalam?", goda Satya.
Anyelir yang mendapat perlakuan spesial malam ini tersipu malu, ia pun buru-buru turun dari dalam mobil sebelum Satya semakin menggodanya. Ternyata Adam yang sedari tadi duduk di teras sambil bermain gitar sedang memperhatikan interaksi keduanya. Ada perasaan kecewa menyusup kedalam hatinya tatkala melihat wanita yang sedang ditunggunya pulang dan yang ingin dia dekati ternyata sudah memiliki kekasih.
Niat Satya yang ingin mengantar Anyelir hingga kedalam agar bisa bertemu dan berkenalan dengan ibu kost terhenti saat melihat ada seorang pria tampan duduk diteras memperhatikan mereka.
" Siapa dia Nye? kenapa ada seorang pria di dalam kost kalian malam-malam begini ? ini kan kost wanita", selidik Satya.
" Ooh....dia adalah Adam, putra dari ibu pemilik kost, yang baru datang dan baru menyelesaikan kuliahn gelar master kesehatannya di Malaysia".
" Jadi dia akan tinggal disini?"
" Aku tidak tahu Sat, katanya ia akan bekerja sebagai dosen STIKES apa ya...di jakarta ini, aku pun lupa".
" Mudah-mudahan saja hanya sementara ia tinggal disini", dengan lirih Satya bicara.
" Memangnya kenapa Sat, ini kan rumah ibunya yang berarti rumahnya juga".
" Iya sih, tapi kan nggak etis jika ada laki-laki disini sementara ini kan kost-kost an cewek", ada nada kurang suka dalam ucapan Satya.
Saat Anye dan Satya sampai di teras, Adam tersenyum dan menyapa mereka.
" Selamat malam, baru pulang Nye?"
__ADS_1
" Iya Dam...oh ya kenalkan Dam, ini Satya".
Adam pun mengulurkan tangannya kepada Satya, Satya pun menyambut uluran tangan Adam sambil berkata dan menatap tajam ke arah Adam.
" Saya Satya calon suami Anyelir".
Adam yang mendengar hal itu sedikit terkejut dan wajahnya yang putih itu terlihat pucat.
Sementara Anyelir yang mendengar Satya mengucapkan itu juga heran, Anye bermonolog di dalam hatinya, "Ada apa dengan Satya?, kenapa dia terkesan menegaskan ke Adam bahwa aku adalah miliknya". Tetapi saat ini Anyelir tidak mungkin mempertanyakan hal itu kepada Satya di depan Adam".
Satya kemudian melanjutkan ucapannya, " Nye aku permisi dulu, lain kali saja aku bertemu ibu kost kamu ya, hari telah larut nggak enak nanti jika tetangga ada yang melihat ada laki-laki disini dikost wanita. Kamu masuk duluan Nye baru aku pulang".
Anye yang mengetahui maksud Satya pun segera bergegas masuk, sebelumnya ia berpamitan dulu kepada Satya dan juga Adam.
" Aku masuk ya Sat, Assalamu'alaikum. Mari Dam aku duluan", ucap Anyelir.
Setelah menjawab salam dan melihat Anyelir menghilang dibalik pintu, Satya pun segera pamit pulang kepada Adam.
Satya kemudian berbalik arah dan pergi meninggalkan Adam yang masih tertegun.
Adam menjawab salam Satya pelan kemudian ia terduduk lemas kembali ke kursinya. Ia tidak menyangka jika Satya akan berkata tegas seperti itu, " Apakah Satya tau jika ia tertarik kepada Anyelir?, tanyanya dalam hati.
Anye yang telah masuk kedalam kamarnya diberondong pertanyaan oleh Tina. Tina yang melihat wajah sahabatnya pulang dengan tersenyum ceria membuatnya semakin penasaran ingin segera mendengar cerita dari Anyelir tentang pertemuannya malam ini dengan Satya".
" Sabar ya sayang, aku sholat isya' dulu udah telat banget nih!", jawab Anye.
" Oke, aku tunggu ya. Sementara kamu sholat aku buat minuman dulu dan ambil cemilan biar nggak ngantuk nanti jika kita ngobrol".
Anye membersihkan diri, mengganti pakaiannya dengan pakaian kebesarannya ( Tau kan ya para reader pakaian kebesaran kaum hawa itu apa jika dirumah dan akan tidurπππ ), kemudian ia berwudhu dan melaksanakan sholat.
Saat ia telah selesai sholat Tina sudah menunggunya dengan dua gelas susu dan beberapa cemilan.
__ADS_1
" Ayo cepat sini ceritain, aku udah nggak sabar Nye".
Anye duduk didekat Tina, kemudian ia menceritakan tentang acara makan malamnya bersama Satya dan semua yang terjadi disana hingga Satya bertemu Adam. Anye menceritakan dengan jujur tanpa ada yang ditutupinya dari sahabatnya itu. Tina yang mendengar cerita Anye ikutan senang dan ia tertawa saat mendengar cerita dari Anye tentang Satya yang tersirat difikiran Tina bahwa itu adalah rasa cemburu Satya kepada Pak Edi dan juga Adam.
" Haahaahaaa...", tiba-tiba Tina tertawa, " Ternyata si hantu yang membuatmu ketakutan itu bisa romantis juga ya dan dia juga bisa cemburu".
Anye pun yang mendengar Tina masih menyebut Satya dengan sebutan hantu berkomentar.
" Jangan sebut hantu lagi dong, kami kan sekarang sudah berteman jadi aku nggak takut lagi. Lagian aku juga yang salah sih menilai kepribadiannya, ternyata Satya orangnya baik, tidak sombong, perhatian dan bertanggung jawab. Bagi yang belum mengenalnya memang ia terlihat sombong dan dingin".
" Cie...cie...yang mulai ngebela calon suaminya. Udah lupa ya jika dulu kamu takut bertemu dengannya".
Anye menimpali omongan Tina.
"Ya iyalah, siapa lagi yang akan membelanya selain aku calon istrinya".
"Iya... iya, aku ngaku kalah dech.
" Oh ya Nye, kok bisa ya dia cemburu dengan Adam. Kan Adam tidak dekat denganmu? lagian kan Adam baru datang dan anak bu ida pula, masak Satya cemburu ke Adam".
" Entahlah, itu yang mau aku tanyakan ke Satya tapi nggak mungkinkan tadi kan di depan Adam aku bertanya".
" Iya sih, kamu benar Nye. Ya sudah besok kamu tanyakan aja Nye saat kalian ketemuan mau pergi jenguk kakeknya, aku jadi penasaran kenapa dia bersikap begitu di depan Adam".
" Ayo kita tidur, kamu pasti lelah Nye, lagian besok kita masih harus bekerja kan. Aku nggak mau terlambat, dan kamu juga Nye jangan mentang-mentang dah jadi calon istri bos nanti jadi malas bekerja. Sayang karirmu Nye, sebentar lagi kamu resmi jadi manajer".
" Iya Tin, terimakasih udah selalu ngingatin aku".
" Walau nanti aku sudah menikah dengan Satya, aku masih ingin bekerja bahkan aku ingin kuliah Tin. Aku ingin terus berkarir, karena kita tidak bisa menentang takdir, jika Allah nantinya tidak mengizinkan rumah tanggaku panjang dengan Satya setidaknya aku masih memiliki pekerjaan, memiliki ilmu untuk bisa berkarir diluar. Tapi aku tetap berdoa pernikahanku nanti adalah yang pertama dan terakhir dalam kehidupanku".
Aamiin....jawab keduanya. Lalu mereka merebahkan tubuhnya diatas kasur dan segera terlelap serta bermimpi di alam mimpinya masing-masing.
__ADS_1