Terikat Cinta Lain

Terikat Cinta Lain
Episode 41. Dipandang sebagai pelakor


__ADS_3

Kenaikan jabatan merupakan idaman setiap pekerja, begitu juga dengan Anyelir, namun semakin tinggi jabatannya membuatnya dihadapkan pada tanggung jawab yang lebih besar pula.


Sebelum memulai tugasnya yang baru, Anye mempelajari berbagai berkas yang diserahkan oleh Pak Ferdhi manajer resto yang lama, beliau menjelaskan banyak hal tentang tugas-tugas pokok yang harus Anye jalankan, diantaranya mengatur jadwal kerja dan mengawasi kinerja tim, menyetujui dan mengelola anggaran, merencanakan dan mendiskusikan menu sajian dengan chef, mempersiapkan acara dan event spesial, memastikan standart kebersihan dan keamanan, memantau bahan baku, mengurus inventaris, dan yang utama tentang strategi pemasaran serta memastikan/mengukur kepuasan tamu.


Karena kecerdasannya, Anye dengan mudah memahami setiap penjelasan yang diberikan. Tugas Anye sekarang adalah menunjukkan kinerja terbaiknya membangun kerjasama yang baik di dalam timnya untuk memajukan perusahaan.


Pak Ferdhi tersenyum bangga sebelum meninggalkan ruangan Anyelir, Beliau mengacungkan kedua ibu jarinya sembari berkata, " Selamat bekerja Nye, semangat 💪semoga sukses selalu buat kita dan perusahaan".


Anye pun membalas ucapan pak Ferdhi dengan senyuman dan ucapan terimakasih karena berkat kepemimpinan seperti Beliaulah bagian restoran mengalami kenaikan omzet yang cukup pesat.


Pekerjaan demi pekerjaan telah Anye selesaikan, ketika ia berbenah hendak pulang saat itu telphonenya berdering ternyata Satya yang menelephone.


" Hallo Nye, jika pekerjaanmu telah selesai langsung saja ke mobil ya, Mas tunggu kamu disana".


" Oke Mas, sebentar lagi ya Anye nyusul, ini lagi membereskan berkas".


Setelah menutup telephonenya Anye buru-buru membereskan sisa pekerjaannya, kemudian bergegas keluar dari ruangannya, saat di lobi hotel ia bertemu dengan Tina, kemudian Tina menyapa,


" Hai...bu Bos selamat ya atas kenaikan jabatannya, kutunggu traktirannya lho".


Tina kemudian memeluk sahabatnya untuk mengucapkan selamat, dia sangat senang atas kemajuan karir Anyelir. Walaupun bekerja di tempat yang sama namun mereka beda bagian, Tina bekerja di bagian pelayanan kamar.


Anye membalas pelukan sahabatnya sembari mengucapkan terimakasih, berkat Tina lah Anye bisa diterima bekerja disini".


" Terimakasih Tin, semua ini berkat kamu. Jika tidak, aku tidak akan pernah sampai ke titik jabatan sekarang ini. Besok sepulang bekerja aku traktir ya terserah kamu dech dimana maunya, untuk sekarang nggak bisa soalnya Mas Satya sudah nungguin aku di parkiran, rencananya kami akan kerumah kakek untuk membicarakan persiapan pernikahan dan sekalian menjenguk kakek".


" Aman Nye, ya sudah sana ntar kelamaan pula Pak bos menunggumu, aku masih menunggu jemputanku tiba Nye, rencananya mau singgah ke Mall dulu membeli kebutuhan bulanan, baru pulang ke kost. Kamu hati-hati ya Nye..."


Anye mengangguk lalu berjalan keluar menuju parkiran dan ternyata Satya sudah menunggu di dalam mobil. Melihat Anye telah datang Satya kemudian membukakan pintu mobil untuknya.


Sebelum masuk ke mobil Satya, Anye melihat ke kanan dan ke kiri terlebih dahulu, dirasanya tidak ada yang melihatnya barulah ia naik ke mobil dan menutup kaca mobil dengan rapat.


Satya tertawa memperhatikan tingkah Anyelir kemudian ia berkata, " Kamu lucu sekali Nye 😃, mau masuk ke dalam mobilku saja celingukkan dulu seperti seorang pencuri, biarkan saja orang melihat kita, aku nggak malu kok Nye".

__ADS_1


Anye tersenyum mendengar ucapan Satya kemudian ia menimpalinya " Memang Anye pencuri kan Mas, pencuri suami orang 🤭", ucap Anye sambil menutup mulutnya.


" Iya juga sih, tapi pencuri yang direstui", jawab Satya membenarkan ucapan Anye.


" Jadi kapan kamu nggak takut dan nggak malu lagi jalan bareng Mas Nye?", tanya Satya sambil menjalankan mobilnya.


" Ntar Mas, jika Anye telah berhasil mencuri hati dan cinta Mas. Anye akan tunjukkan ke semua orang bahwa Anye adalah istri yang paling beruntung bisa mendapatkan cinta suami seperti Mas, Anye bisa bangga bilang ke mereka ini suamiku, suami yang kucintai dan mencintaiku hingga cibiran buruk tentang jeleknya image istri kedua sebagai pelakor tidak melekat pada diri Anye Mas".


Satya terdiam mendengar jawaban Anyelir, ia tahu


posisi Anye saat ini di mata orang yang tidak mengetahui kisah hidupnya yang sebenarnya, sebaik apapun Anye pasti tetaplah dipandang sebagai seorang pelakor yaitu perebut suami orang.


Satya juga tidak bisa menyangkal hal itu, ia juga tidak bisa membungkam semua mulut orang yang akan mencibir dan mempermalukan Anyelir namun ia hanya bisa berjanji di dalam hatinya akan berusaha membahagiakan Anye, akan berusaha membuka hatinya untuk Anye yang telah mengorbankan hidupnya demi dirinya dan keluarga Permana.


Melihat Satya terdiam merenung membuat Anye melanjutkan ucapannya,


" Maafkan Anye Mas, maafkan perkataan Anye, Anye tidak bermaksud membuat mas tersinggung, Anye hanya ingin berkata jujur".


" Iya Nye, Mas tahu... seharusnya Mas lah yang meminta maaf ke kamu, karena Mas citramu di mata orang lain terlihat buruk walaupun kebaikan hatimu berkilau seperti berlian".


" Oh ya Mas... bagaimana dengan kabar Mbak Nadia, apa Mas sudah memberitahu tentang rencana pernikahan kita?"


" Belum Nye, tadi pagi sebelum berangkat ke kantor Mas sudah coba telephone tapi hand phonenya nggak aktif, dia juga sampai sekarang belum ada nelephone balik. Rencananya nanti malam setelah mengantarmu pulang Mas akan telephone dia lagi".


" Mungkin Mbak Nadia lagi tidak ingin diganggu Mas makanya hand phonenya ia matikan".


" Iya mungkin juga, tapi dia jarang mematikan hand phone jika dia tidak sedang menjalani proses kemoteraphy".


" Jadi perkembangan penyakitnya sekarang bagaimana Mas? apa belum sembuh hingga dia belum mau kembali".


" Penyakitnya tidak bisa sembuh total Nye, dokter bilang kapan saja kankernya bisa tumbuh kembali jika Nadia tidak rutin melakukan pengobatan".


" Ooh...kasihan Mbak Nadia ya Mas, dia pasti selalu membutuhkan dukungan Mas apalagi Mbak Nadia sudah tidak memiliki orang tua lagi, sementara saat ini Mas tidak ada di dekatnya".

__ADS_1


" Iya benar apa yang kamu bilang Nye, tapi mas harus bagaimana? mas nggak bisa selamanya tinggal di Amerika, Mas juga memiliki tanggung jawab besar disini. Maksud Mas, pengobatannya dilanjutkan disini saja jadi kami bisa selalu bersama dan Mas bisa terus support dia, tapi dianya bersikeras belum mau kembali, Nadia itu keras kepala Nye, paling Mas support dia via telephone setiap hari".


Mendengar ucapan Satya yang terakhir membuat hati Anyelir berdesir, bagaimanapun dia tetaplah manusia bukan seorang malaikat, ada rasa iri tersirat dalam hatinya, sebagai wanita dia juga pernah bermimpi bisa mendapatkan cinta full dari suaminya kelak.


Akhirnya Anyelir menarik napasnya dalam-dalam dan mendesah perlahan sambil mengucapkan kalimat istighfar di dalam hatinya. Ia memohon ampun kepada Allah karena telah tersirat rasa iri, yang jika ia tidak sadari rasa itu bisa dimanfaatkan seytan untuk menjahati orang lain.


Satya yang mulai menyadari perubahan sikaf Anyelir yang sejak tadi terdiam berusaha mengalihkan perhatiannya,


" Nye...bagaimana dengan tugas baru kamu di kantor, apa tidak ada masalah?", tanya Satya.


Anye terkesiap dari lamunannya, kemudian dengan cepat ia menormalkan perasaannya kembali dan dengan cepat menjawab pertanyaan Satya.


" Alhamdulillah Mas, semuanya bisa Anye pelajari dan bisa Anye selesaikan dengan cepat. Penjelasan dari Pak Ferdhi cukup jelas jadi memudahkan Anye dengan cepat memahami apa yang harus Anye kerjakan".


" Syukurlah jika begitu, jika ada masalah jangan segan untuk membicarakannya kepada Mas ya Nye, Insha Allah Mas akan bantu menyelesaikannya".


" Iya Mas", jawab Anyelir.


Mereka akhirnya tiba di rumah kediaman kakek Permana, tempat Mama, Papa dan adik Satya tinggal.


Kakek yang sudah mengetahui akan kedatangan Anyelir merasa sangat bahagia, mama Satya juga menyambut kedatangan anak dan calon menantunya dengan ramah.


Mamanya Satya meminta Bik Darmi untuk menyiapkan minuman dan aneka cemilan sementara ia menyiapkan menu untuk makan malam.


Ia ingin memasak masakan kesukaan Satya dengan tangannya sendiri, karena ia yakin pasti Satya juga rindu ingin menikmati hasil masakannya seperti dulu.


Anye yang mendengar calon Mama mertuanya sedang memasak masakan kesukaan Satya langsung permisi ke dapur, ia ingin membantu sekaligus belajar memahami apa yang Satya suka dan apa yang tidak disukainya.


Memiliki kegemaran yang sama yaitu memasak membuat Anye cepat membaur dan akrab dengan Mamanya Satya. Anye meminta Mama mengajarinya membuat makanan yang disukai Satya.


Anye ingin nantinya setelah menikah ia sendiri yang akan mengurus semua kebutuhan Satya termasuk memasakkan makanan untuknya karena ada pepatah yang mengatakan Cinta suami bisa dimulai dari isi perut. Ketagihan suami akan masakan istri akan membuatnya lebih suka dan bahkan ketagihan untuk selalu makan bersama dirumah daripada makan di luaran.


Anye dan mama terus asyik dengan kegiatan memasak sambil sesekali terdengar mereka bercanda dan tertawa, bahkan candaan dan tawa mereka sampai terdengar ketelinga Satya dan kakek yang sedang mengobrol di ruang tamu.

__ADS_1


Hal ini membuat kakek gembira ternyata calon cucu menantunya selain cantik, baik, pandai memasak juga gampang beradaptasi dengan keluarga. Satya di dalam hatinya juga mulai mengakui hal itu, iapun tersenyum sendiri dan senyum itu terlihat oleh kakek, kemudian kakek berkata,


" Ternyata pilihanmu tidak salah Nak, semua orang pasti akan menyayanginya dengan kebaikan yang dibawanya dalam keluarga ini".


__ADS_2