Terikat Cinta Lain

Terikat Cinta Lain
Episode 43. Janji Tirta


__ADS_3

Setelah makan malam selesai, Anye membereskan semua peralatan makan bersama Bik Darmi dan Mama Tiara sementara Papa Chandra kembali ke kamar untuk menyelesaikan tugas kantor yang dikerjakannya dari rumah.


Tinggalah mereka bertiga disana, Kakek berencana mengajak kedua cucunya itu ngobrol di ruang tamu, sebelum sempat mengutarakan keinginannya Kakek melihat Tirta bermaksud kembali ke kamarnya tapi kemudian Kakek menarik lengan Tirta dan berkata,


" Tunggu dulu Nak, ada yang ingin kakek bicarakan kepada kalian sekaligus kita akan membicarakan pernikahan kakakmu, ayo Nak kita pindah ke ruang tamu agar lebih nyaman dan santai kita ngobrolnya disana saja".


Kemudian kakek dan Satya berjalan menuju ke ruang tamu, Tirta juga menyusul mereka, ia tidak dapat menolak permintaan Kakeknya.


Saat melihat kedua cucunya duduk saling berjauhan Kakek meminta mereka untuk duduk didekatnya lalu menggenggam tangan keduanya dan menyatukan tangan mereka, Tirta bermaksud menarik tangannya tapi Kakek malah menggenggamnya semakin erat, kemudian Kakek berkata,


" Cuma kalian yang Kakek punya, apa kalian mau seperti ini terus, umur Kakek tidak lama lagi kakek hanya ingin kalian akur seperti dulu. Kamu Satya cucu tertua Kakek, kamu yang harus menjaga dan membimbing adikmu bukan malah menjauh dan kamu Tirta sebagai adik juga harus menghargai, menghormatinya, Satyalah pengganti Kakek dan Papamu jika kami sudah tiada untuk menjaga keluarga ini. Tugas di pundaknya sangat berat, jadi kamu hendaknya membantunya bukan malah memusuhinya", sejenak Kakek terdiam sambil mengatur nafasnya yang mulai sesak.


Satya yang melihat hal itu mulai khawatir, " Kakek kenapa? mana yang sakit Kek?, ayo kita kerumah sakit, Satya nggak mau Kakek kenapa-kenapa".


Tirta juga merasa khawatir dengan kondisi Kakek karena selama Satya di Amerika dialah yang lebih tahu tentang perkembangan kesehatan kakeknya.


" Ayo Kek kita ke rumah sakit, biar dokter segera memeriksa Kakek atau Tirta telephonekan dokter Ary saja ya Kek".


" Kakek tidak apa-apa, kalian tidak usah khawatir, Kakek tidak membutuhkan dokter, saat ini hanya hati Kakek yang sakit melihat kalian seperti ini terus, yang Kakek mau adalah melihat kalian berbaikan. Sekarang kakek ingin bertanya apa sebenarnya yang membuat kalian seperti ini?


Kamu dulu Sat, Kakek ingin mendengar penjelasan mu?".


" Satya tidak memiliki masalah apapun dengan Tirta Kek, Satya juga tidak mengerti kenapa sikap Tirta berubah kepada Satya, jika Satya berbuat salah Satya akan meminta maaf kepadanya".


" Kamu Tirta bagaimana?", tanya Kakek.


Tirta hanya terdiam, dia tidak mungkin membicarakan tentang kekecewaan hatinya terhadap Satya dihadapan Kakek.


" Kek beri Tirta waktu ya, saat ini Tirta belum bisa membicarakan masalahnya, tapi Tirta janji akan segera menyelesaikannya dengan kak Satya".


" Baiklah, Kakek hanya ingin melihat dihari pernikahan Kakakmu nanti semuanya harus sudah selesai, tidak ada lagi permusuhan diantara kalian".


" Oh ya Nak, bagaimana perkembangan hotel kita sekarang, kakek dengar kamu sudah membuka cabang lagi di Bali?", tanya Kakek kepada Satya.


" Iya kek, Alhamdulillah prospek disana sangat bagus makanya Satya meminta Pak Ferdhi pindah kesana untuk mengelolanya karena Satya yakin dengan kemampuan Pak Ferdhi pasti hotel kita disana akan cepat berkembang. Sementara yang menggantikan posisinya disini adalah Anyelir atas rekomendasi Pak Ferdhi sendiri dan kepala koki".


" Syukurlah jika begitu, kakek percaya dengan strategi bisnismu dan mudah-mudahan dengan bantuan Anyelir disisimu bisnis yang kamu kelola bisa semakin berkembang".


" Kamu bagaimana Tirta, kapan kamu akan mulai mengurus pabrik garment kita, kakek sudah tidak kuat lagi jika harus bolak-balik ke pabrik, lagi pula tidak mungkin selamanya kan kamu akan mempercayakannya kepada pamanmu sebagai asisten pribadimu disana dan hanya menunggu laporannya saja dirumah".


" Nanti Kek, jika fikiran Tirta sudah tenang Tirta akan segera kembali mengelola pabrik".


" Makanya segeralah selesaikan masalahmu dengan Satya biar kamu bisa fokus lagi mengurus pabrik kita. Kakek tidak ingin usaha yang sudah Kakek rintis dengan susah payah hancur begitu saja karena ketidakperdulianmu untuk mengurusnya".


" Tentang bisnis sepatu kulit kita, kakek sudah percayakan sepenuhnya ke Papa kalian, karena Kakek masih yakin dengan kemampuannya yang masih sama seperti saat dia mendampingi almarhum Papa Adiraja kalian".


" Sekarang tinggal satu lagi yang menjadi beban fikiran Kakek yaitu kepada siapa kakek akan mempercayakan toko bunga hidrogel kita, sementara Mama kalian sudah mengatakan tidak sanggup untuk mengelolanya lagi".

__ADS_1


" Bagaimana jika Kakek percayakan kepada Kak Nadia saja Kek, Kak Nadia kan suka dan gemar menanam bunga siapa tahu dengan hoby nya itu ia mampu mengelola bisnis bunga hidrogel", saran Tirta dengan penuh semangat.


Satya hanya terdiam, dia tidak tahu apakah Nadia akan bersedia atau tidak dan apakah dengan kondisi kesehatannya yang seperti sekarang ini, mengelola bisnis tidak akan membuatnya kelelahan yang akan semakin memperburuk kondisinya.


Melihat Satya yang hanya diam kemudian Kakek berkata, " Bagaimana menurutmu Sat?"


" Satya belum tahu Kek, apakah ini keputusan yang tepat untuk Nadia atau tidak, disatu sisi mungkin dengan adanya kegiatan ia akan lupa dengan penyakitnya tapi disisi lain apakah daya tahan tubuhnya akan sanggup menerima, takutnya kelelahan tenaga dan fikiran bisa semakin memperburuk kondisi kesehatannya".


Kakek dan Tirta akhirnya terdiam, di dalam hati mereka membenarkan perkataan Satya.


" Kita lihat saja nanti ya Kek, jika ia sudah siap kembali ke Jakarta Satya akan membicarakan langsung dengannya tentang rencana ini".


Kemudian Kakek meminta Satya untuk memanggil Anyelir dan Mamanya yang kini masih mengobrol di dapur.


" Nak, coba kamu panggil Anyelir dan Mama kamu kesini, Kakek ingin membicarakan tentang pernikahan kalian".


" Baik Kek".


Satya kemudian pergi ke dapur mencari Anyelir yang kini sedang asyik mengobrol dengan Mamanya tentang aneka masakan.


" Ma...Anye, Kakek memanggil Mama dan Anye, ada yang ingin Kakek omongkan tentang pernikahan kami".


" Iya Nak, Mama dan Anye akan segera kesana".


Kemudian keduanya mengikuti Satya berjalan ke ruang tamu memenuhi permintaan kakek.


Anye pun duduk disamping Satya seperti yang Kakek Permana minta.


" Tirta, kamu kan belum berkenalan dengan calon kakak iparmu, ayo kenalkan dirimu, dia sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarga kita".


Tirta yang dari awal tidak menyukai kehadiran Satya dan Anyelir hanya diam. Kemudian Mama Tiara mengulang ucapan Kakek Permana.


" Ayo Nak, benar yang diucapkan Kakek, kamu kan belum berkenalan dengan calon kakak iparmu".


Tirta tidak berani membantah, tanpa memandang wajah Anye ia mengulurkan tangannya sambil menyebutkan nama, Anyelirpun menyambut uluran tangan Tirta sembari menyebutkan namanya juga, walau ia tahu Tirta tidak menyukainya.


Kakek merasa kecewa melihat hal itu, Satya melihat jelas kekecewaan di wajah Kakeknya kemudian ia bermonolog di dalam hatinya " Aku akan segera menyelesaikan kesalah fahaman ini sebelum semakin dalam, aku tidak mau sikaf Tirta ini juga akan menyakiti Anyelir".


Kemudian Kakek mulai berbicara lagi " Jadi Nak Anye apakah kamu sudah siap untuk menikah dengan Satya cucu Kakek dan apakah orang tuamu sudah memberi restu?".


Anye menjawab pertanyaan Kakek hanya dengan mengangguk karena dia merasa malu. Kemudian Satya menimpali, " Insha Allah Kek orang tua Anye akan hadir dalam acara aqad nanti, Satya sudah meminta tolong agar dua hari sebelum aqad Pak Edi menjemput mereka".


" Mengenai surat-surat kelengkapan pernikahan apakah sudah kamu urus Nak", tanya Kakek kepada Satya.


" Sudah Kek, besok semua surat menyurat sudah selesai kata Radit".


" Mengenai acara resepsi Kakek serahkan kepada kalian maunya seperti apa, kalian gunakan saja hotel kita atau mau menyewa tempat lain juga boleh".

__ADS_1


" Maaf Kek, Anye ingin acaranya sederhana saja, cukup keluarga dan teman dekat saja yang kami undang dan jika Kakek berkenan acara aqadnya kami mohon dilakukan di rumah ini saja, berhubung kondisi Kakek kan belum sehat betul untuk bepergian", pinta Anyelir.


" Baiklah terserah kalian, terimakasih Nak sudah memikirkan kesehatan Kakek".


" Mengenai baju yang akan kalian pakai dalam aqad, Mama sudah konfirmasikan ke butik langganan Mama, besok kedatangan kalian ditunggu mereka, ini kartu nama pemilik butiknya nak", ucap Mama Tiara sambil memberikan kartu nama itu kepada Anyelir.


" Baiklah Ma, besok Satya akan ajak Anye kesana sekalian kami mau ke kampus perhotelan, rencananya Anye akan mendaftar kuliah disana".


" Oh...kamu mau kuliah Nak Anye?", tanya Kakek kepada Anyelir.


" Iya Kek", jawab Anyelir singkat.


" Bagus Kakek setuju, mumpung kamu masih muda jadi ilmu yang kamu dapat bisa mendukung karirmu, tapi satu yang Kakek minta tolong jangan tunda kehamilan nantinya ya karena Kakek yakin waktu Kakek tidak banyak lagi", pinta Kakek dengan serius sambil menahan sesak di dadanya.


Tirta dan Satya yang mendengar hal itu merasa sedih dan khawatir, kemudian Tirta berucap:


" Kakek nggak boleh ngomong seperti itu, Kakek pasti akan sembuh dan Tirta ingin Kakek juga bisa mendampingi Tirta nanti saat Tirta menikah dan Kakek pasti akan senang nantinya bisa bermain dengan para buyut Kakek".


Kemudian Tirta memeluk Kakek Permana sambil menangis, kesempatan ini lalu dipergunakan Kakek untuk mencoba menyatukan kembali kedua cucunya.


" Jika begitu Kakek mohon berdamailah dengan Kakakmu, cepat carilah jodoh dan menikahlah sebelum maut menjemput Kakekmu ini".


" Iya Kek Tirta janji akan berdamai dengan Kakak, tapi Kakek harus janji ya harus mau berobat terus agar Kakek sembuh".


" Kakek mengangguk dan kembali memeluk erat Tirta dan ikut menangis".


Kemudian Kakek bertanya lagi, " Kamu sudah punya calon atau belum Nak, jika sudah sekalian saja Kakek nikahkan kalian bareng dengan Kakakmu".


Tirta menggelengkan kepalanya sambil mengelap air matanya.


" Jika begitu Kakek yang carikan ya, atau calon Kakak ipar kamu punya sahabat yang baik yang bisa dikenalkan kepadamu, siapa tahu jodoh".


" Bagaimana Nak Anyelir, ada tidak teman kamu yang cantik, baik, dan sholehah?".


Sembari tersenyum Anyelir menjawab, " Jika Tirta berkenan, ada Kek teman Anyelir namanya Sri, dia seorang guru dan Insha Allah orangnya baik, cantik dan sholehah".


" Bagaimana Nak, jika kamu setuju kakak iparmu ini bisa memperkenalkan kalian dan jika cocok Kakek akan segera mengajukan lamaran kepada orang tuanya", ucap Kakek bersemangat.


Tirta lalu menjawab," Terserah Kakek saja, Kakek pasti tahu yang terbaik buat Tirta".


" Alhamdulillah", ucap Mama Tiara tanda bersyukur atas keputusan putra bungsunya itu.


" Tapi Kek... Sri adalah anak yatim piatu, kedua orang tuanya meninggal saat ia baru dilahirkan dan ia dibesarkan oleh pamannya, adik dari ibunya".


" Nah itu Nak, walaupun dia tidak pernah merasakan kasih sayang dan didikan dari orang tuanya tapi dia bisa tumbuh menjadi anak yang baik dan berhasil menjadi seorang guru, itu suatu kebaikan yang patut kita acungi jempol".


" Sekarang Kakek bisa tenang, Terimakasih...kalian hari ini telah memberikan kebahagiaan untuk Kakek, Kakek sangat beruntung memiliki kalian sebagai cucu-cucu terbaik Kakek".

__ADS_1


Kemudian Kakek memeluk Satya dan Tirta lalu meminta keduanya untuk mengantarkannya ke kamar agar beliau bisa beristirahat.


__ADS_2