
Makanan sederhana hasil kolaborasi memasak antara Mama Tiara dan Anye kini telah terhidang dan tertata rapi di meja makan, malam ini Mama Tiara sengaja memasak makanan kesukaan Satya dan Tirta, Mama ingin melihat keduanya makan dengan lahap berlomba menghabiskan makanan kesukaan mereka seperti beberapa tahun silam sebelum sesuatu membuat hubungan diantara keduanya memburuk.
Anye kemudian membuat jus jeruk, menata pisang
di dalam nampan buah kemudian menyajikan puding kelapa yang telah dibuat Mama sebelum ia tiba sebagai makanan penutup nantinya.
Setelah semua persiapan makan tertata, Mama Tiara menghampiri Kakek dan Satya untuk segera menuju ruang makan, sementara Bik Darmi di minta Mama Tiara untuk memanggil Papa Chandra di ruang kerjanya dan juga memanggil Tirta yang kini berada di kamarnya.
" Pa...Satya...ayo kita ke ruang makan, semuanya sudah selesai disajikan oleh Anyelir".
Lalu ketiganya berjalan keruang makan, melihat kakek dan Satya tiba Anye segera menarik sebuah kursi agar kakek Permana duduk, lalu menarik kursi disebelah kanan kakek dan mempersilahkan Satya duduk.
Mereka semua menatap Anye dengan perasaan heran termasuk Mama, Anye sepertinya tahu posisi duduk saat makan yang telah menjadi kebiasaan keluarga mereka. Mendapatkan tatapan aneh dari semuanya Anye merasa kikuk dan segera meminta maaf.
" Maafkan Anye, jika Anye salah memilihkan posisi duduk buat Kakek dan Mas Satya, Anye belum tahu kebiasaan keluarga ini".
" Kamu sudah melakukan yang benar Nak, Ayo kamu juga duduk disebelah Satya", ucap Kakek.
Semua telah berkumpul dan duduk di posisinya masing-masing termasuk Papa Chandra dan Bik Darmi, memang keluarga Permana selama ini telah menganggap Bik Darmi bukan hanya sebagai pembantu melainkan bagian dari keluarga mereka, makanya mereka selalu mengajaknya makan dimeja yang sama.
Hanya tinggal Tirta yang belum datang, kemudian kakek bermaksud berdiri hendak memanggil Tirta di kamarnya, Mama Tiara yang melihat hal itu merasa tidak enak kemudian ia segera mencegah kakek dan berkata,
" Ayah duduk saja biar Tiara yang akan memanggilnya, Tiara janji pasti Tirta akan datang makan bareng bersama kita".
Setelah mengatakan hal itu, Mama Tiara langsung berdiri lalu berjalan menuju kamar putra bungsunya itu yang terletak dilantai dua bersebelahan dengan kamar Satya waktu masih tinggal disini. Kemudian ia mengetuk pintu kamar Tirta perlahan,
__ADS_1
" Tok...tok...tok, Tirta ini Mama Nak, tolong buka pintunya".
Karena tidak ada jawaban dari dalam, kemudian Mama Tiara mengetuk pintu kamar Tirta kembali.
" Tok...tok...tok...ayolah Nak buka pintunya, Mama ingin bicara".
Kali ini juga tidak ada jawaban.
Untuk ketiga kalinya mama mengetuknya lebih keras lagi,
" Tok...tok...tok...tok, jika kamu tidak juga membuka pintunya mama akan terus duduk dilantai di depan kamarmu ini sampai kamu membukanya dan jika kamu tidak turun, semuanya tidak akan ada yang mulai makan, apa kamu tidak kasihan dengan Kakek, beliau bisa sakit lagi jika terlambat makan. Ingat Nak, kakek sangat sayang sama kamu kenapa kamu tidak bisa membahagiakan kakek hanya dengan memenuhi permintaan kecilnya yaitu ingin melihat kita semua makan bersama malam ini".
Mendengar ucapan Mamanya tentang Kakek Permana, Tirta kemudian perlahan membuka pintu kamarnya. Mama Tiara yang berhasil membujuk putranya merasa senang, kemudian ia mulai mendekatinya.
" Aku benci kakak, pokoknya aku benci dia, kenapa ia selalu lebih beruntung, tidak sepertiku. Aku benci kakak, aku benci kak Satya, semua orang lebih menyayangi dia ketimbang aku", akhirnya Tirta mulai mengungkapkan isi hatinya dengan marah.
" Kami semua menyayangimu, tidak ada yang membedakanmu, coba tolong kamu temui kakakmu katakan yang sebenarnya kepadanya, apa yang membuatmu membencinya. Tidak akan ada penyelesaiannya jika kamu terus menghindar, masa depanmu masih panjang, kamu harus bangkit nak karena mereka semua membutuhkanmu terutama Kakek. Beliau sudah tua, ingin melihat kalian berdua bekerja sama mengembangkan semua bisnisnya. Kakakmu belum bisa fokus mengurus semuanya, dia pasti membutuhkan bantuanmu. Dulu kalian berdua saling menyayangi, jika Kak Satya memang bersalah dia pasti akan meminta maaf kepadamu. Mama sangat tahu watak dan perilaku kakakmu sedari kecil, kalian berdua adalah hidup Mama dan kesayangan Mama Papa".
Tirta terdiam memikirkan penuturan Mamanya, tapi rasa sakit hati dan ucapan seseorang yang terus terngiang-ngiang di telinganya membuat egonya mengalahkan hati nurani dan akal fikirannya.
Kakak yang sedari kecil ia sayangi, ia banggakan, selalu mengalah dalam segala hal, rela mengorbankan apa yang dia sukai demi adik semata wayangnya, selalu membela dan melindunginya dari kejahilan teman-temannya, seakan semua itu kini tidak ada artinya dimata Tirta, yang tersisa hanya kebencian dan rasa iri.
Cinta yang tak tersampaikan, hasutan-hasutan dari seseorang telah membutakan hatinya, telah mengubah jati diri Tirta Permana yang dulu baik, penyayang dan ceria kini menjadi seseorang yang pemurung, tidak perduli dan kadang kala bertindak brutal untuk melampiaskan amarahnya kepada orang-orang disekitarnya.
Hanya rasa cinta kepada sang kakek dan rasa takut akan memburuknya kesehatan kakek yang mampu mengalahkan egonya hingga Tirta mau turun untuk ikut makan malam bersama dan kemudian ia berkata kepada Mamanya,
__ADS_1
" Mama turun duluan nanti Tirta menyusul".
" Baiklah, Mama tunggu kamu dibawah Nak, tolong jangan kecewakan Mama dan Kakek".
Kemudian Mama Tiara kembali ke ruang makan, kakek yang melihat Mama Tiara datang sendirian merasa kecewa. Beliau hanya ingin di sisa usianya melihat kedua cucunya itu akur seperti dulu.
Mama yang melihat kekecewaan diwajah kakek merasa sedih namun akhirnya ia melihat senyum diwajah kakek Permana yang sedang mengarahkan pandangannya kearah tangga yang menghubungkan kedua lantai rumah itu.
Semua mata tertuju ke arah orang yang sedang menuruni anak tangga, ya ternyata dia adalah Tirta Permana orang yang mereka tunggu yang membuat kakek menunda makan malam mereka.
Anye yang melihat wajah Tirta secara langsung tertegun ternyata kedua kakak beradik itu banyak memiliki kesamaan, sama tampan, sama gaya berpakaiannya, sama gaya rambutnya dan sama menunjukkan aura dingin bagi orang yang pertama kali melihatnya.
Tirta berjalan menghampiri kakek Permana dengan mengucap salam tanpa memandang yang lain yang hadir disana, termasuk Anyelir. Dia mengambil posisi duduk seperti dulu saat mereka sering makan bersama yaitu dibangku sebelah kirinya Kakek.
Kakek Permana setelah menjawab salam dari Tirta segera mempersilahkan mereka untuk memulai makan. Satya yang berada disebelah kakeknya segera mengambilkan sepiring nasi dan semangkuk soto plus perkedel kentang dan Anyelir juga mengambilkan sepiring nasi plus sepotong oblok bebek dan semangkuk soto buat Satya, sementara Mama Tiara melayani Papa Chandra dan bermaksud melayani Tirta tapi ia menolaknya dengan menarik piringnya.
Suasana sangat hening hanya terdengar suara dentingan sendok saja, tiada suara seperti dulu saat kakak beradik itu berebut untuk mengambilkan makanan buat Kakek dan tidak ada suara berlomba menghabiskan makanan kesukaan mereka, hanya ada rasa canggung diantara keduanya.
Kakek yang merasa tidak nyaman menyaksikan aksi diam dan kecanggungan kedua cucunya berpura-pura terbatuk-batuk hingga keduanya spontan berdiri mengambilkan air mineral untuk sang kakek.
Satya yang melihat adiknya telah mengangkat gelas untuk diberikan kepada Kakek memilih meletakkan kembali gelas yang ada ditangannya dan melanjutkan makannya.
Kakek tersenyum sekilas melihat kedua cucunya, di dalam hatinya berkata " Walau saat ini kalian bermusuhan tapi Kakek tahu kalian masih sama seperti dulu, menyayangi kakek dan berusaha berlomba menyenangkan hati kakek. Kakek pasti akan membuat kalian kembali seperti dulu menjadi cucu-cucu terbaik Kakek".
Dan Anye yang sedari tadi memperhatikan Tirta yakin bukan dia pelaku pengancaman terhadap dirinya, Anye bertekad ingin mengakurkan kembali Satya dan Tirta, memperbaiki kesalah fahaman yang selama ini terjadi diantara keduanya.
__ADS_1