
Satya dan Anyelir telah tiba di Bandara Internasional Minang Kabau yang terletak di wilayah Ketaping kecamatan Batang Anai kabupaten Padang Pariaman profinsi Sumatera Barat. Ardiansyah selaku tourguide mereka telah menunggu di pintu keluar kedatangan.
Ardiansyah yang sebelumnya telah menerima kiriman foto Satya dan Anye lewat WhatsApp, yang dikirim oleh Radit segera mengenali mereka. Kemudian ia melambaikan tangan sambil terus berjalan mendekat lalu berkata,
"Selamat datang Tuan dan Nyonya, perkenalkan nama saya Ardiansyah, saya yang akan menjadi tour guide untuk kalian selama kalian menikmati perjalanan bulan madu dikota ini."
"Selamat malam Dian, Saya Satya dan ini istri saya, terimakasih telah menjemput kami. Sebaiknya kita langsung ke hotel saja ya Dian biar kami bisa beristirahat malam ini."
"Baiklah Tuan, Nyonya, mari silahkan naik ke mobil, kopernya biar saya yang bawa Tuan."
Kemudian Dian membawa koper Satya dan memasukkannya ke dalam bagasi, Dian melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju hotel Kyriad Bumiminang hotel padang. Satya lalu check-in hotel, dan seorang bellboy mengantar dan membawa tas mereka ke kamar.
Setibanya mereka di kamar Anyelir bermaksud membersihkan diri, namun sebelumnya ia ingin menyiapkan baju untuk suaminya. Lalu Anye membuka koper, ketika ia mengambil pakaian Satya dan hendak meletakkannya diatas tempat tidur, terjatuhlah sebuah lingerie merah dari sela lipatan baju Satya. Anye merasa terkejut, spontan ia mengambil Lingerie itu dan menyembunyikan di balik jilbabnya. Ia melirik Satya, perasaannya sedikit lega ternyata Satya sedang fokus dengan handphonenya jadi tidak melihat lingerie yang terjatuh tadi.
Anye tidak tahu harus bersikap bagaimana jika tadi Satya melihatnya, dia pasti tidak akan berani menatap wajah Satya karena malu. Dalam hatinya berkata," Ini pasti pekerjaan Tina." karena Anye tidak merasa memasukkan lingerie dalam kopernya.
Saat Anye hendak berbalik ia dikejutkan oleh suara Satya, "Nye, ayo buruan mandi sebentar lagi kita akan keluar makan malam." Karena terkejut hampir saja Anye menjatuhkan lingerie yang ada di balik jilbabnya, dengan gugup dan sedikit pucat ia menjawab, " I i..Iya mas, ini Anye mau mandi ", tanpa menoleh ke Satya ia langsung berbalik badan untuk menyimpan lingerie tadi ke dalam koper mereka. Sebenarnya ia bingung mau menyembunyikannya dimana takut Satya menemukannya jika ia simpan kembali ke dalam koper.
Satya yang melihat kegugupan Anyelir pun merasa heran lalu ia bertanya," Kamu kenapa Nye, apakah kamu sakit? itu lihat wajahmu pucat."
"Nggak apa-apa kok mas mungkin hanya lelah saja", lalu Anye langsung masuk ke toilet, ia takut Satya akan bertanya lebih jauh.
Ketika Anye sudah membuka semua pakaiannya, ia menghidupkan Shower dan mengguyur tubuhnya, rasanya ia ingin berlama-lama di dalam kamar mandi, ia masih malu jika ia memikirkan apakah malam ini ia harus melaksanakan kewajibannya.
Lalu Anye melanjutkan berendam air hangat di dalam bathtub yang telah ia masukkan minyak aroma terapi di dalamnya. Anye berendam, ia memejamkan matanya menikmati aroma dari minyak aroma terapi yang merilekskan tubuhnya.
Saat ia hendak menyudahi mandinya, matanya tak sengaja menatap ke dalam cermin yang ada disana, tertulis sebuah tulisan ancaman dengan noda darah meleleh yang isinya, "Kamu pasti akan menyesal !"
Tubuh Anye gemetar, ia sangat ketakutan dan menangis, tanpa memikirkan malu lagi dengan hanya berbalut handuk mandi ia berlari keluar dari kamar mandi langsung memeluk Satya dengan tubuh yang masih bergetar dan terus menangis.
__ADS_1
Satya yang tiba-tiba mendapatkan pelukan dari istri nya sambil menangis merasa terkejut, kemudian ia mencoba bertanya, "Tenang Nye, tenang, ada apa coba kamu ceritakan kepada mas, apa yang membuatmu ketakutan seperti ini!"
Anye hanya terisak dan tidak bisa menjawab, dia hanya menunjukkan jari telunjuknya ke arah kamar mandi.
"Memangnya ada apa disana Nye, kamu jangan panik biar mas lihat dulu!",
Anye tetap tidak melepaskan pelukannya, dia hanya berkata sambil masih menangis, " Hiks...hiks...hiks, itu Mas, ancaman."
"Maksudmu, ada surat ancaman lagi."
"Anye mengangguk".
"Ayo kamu jangan takut ada mas disini, mas mau lihat."
Kemudian Satya mengajak Anye untuk kembali masuk ke dalam toilet, ia tidak ingin meninggalkan istrinya yang masih ketakutan. Satya memeriksa tulisan dengan noda darah itu, darahnya sudah mengering berarti yang menteror mereka sudah lebih dulu tiba disini.
"Siapa sebenarnya yang melakukan ini, pengecut dia beraninya mengancam kamu saja, mas akan hubungi pihak hotel kenapa orang asing bisa masuk ke kamar yang sudah kita booking", Satya sambil berjalan kembali ketempat tidur dengan memeluk istrinya, Anyelir juga belum menyadari jika ia hanya memakai handuk saja.
"Mas tidak kemana-mana, hanya mau konfirmasi ke pihak hotel untuk lebih memperketat keamanan saja, sebentar mas akan ambil pakaian kamu dulu Nye baru mas hubungi pihak hotel, Mas nggak mau mereka melihatmu dalam keadaan seperti ini."
Mendengar ucapan Satya membuat Anyelir tersadar, ia merasa malu ternyata dia hanya memakai handuk saja keluar dari kamar mandi lalu ia menarik selimutnya hingga menutupi bagian kepalanya, Satya yang melihatnya pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia tahu jika istrinya saat ini sedang malu karena ini lah pertama kali ia memperlihatkan auratnya selama mereka menikah.
Sebenarnya naluri kejantanan Satya terusik ketika melihat sebagian tubuh istrinya yang terlihat putih mulus, rambutnya yang panjang tergerai basah semakin terlihat menggoda, apalagi saat Anye berada dalam pelukannya, jantung Satya tak karuan, sudah terlalu lama ia berpuasa tidak mendapatkan layanan batin dari seorang istri.
Namun ia berusaha sekuatnya untuk menahan birahinya yang mulai bangkit, walaupun Anye sudah halal baginya tapi situasinya belum tepat ucap Satya dalam hati.
Satya mulai membuka koper, ia mencari pakaian Anyelir. Saat ia mengambil pakaian dalam istrinya ia hanya bisa menelan ludah menahan gejolak yang mulai bangkit, apalagi saat ia menemukan lingerie disana. Sesaat Satya terdiam sambil memegang lingerie itu, dia hanya seorang manusia yang masih normal yang masih butuh pelampiasan nafsu, sambil tersenyum khayalan menerawang alangkah indahnya jika lingerie ini dikenakan oleh istrinya. Satya tersentak saat Anye memanggilnya,
" Mas, mana pakaian Anye?"
__ADS_1
" Iya Nye ini sudah mas ambil kok", Satya bangkit dan membawa pakaian Anye setelah ia menyimpan kembali lingerie tadi ke dalam koper.
Kemudian Satya menyerahkan pakaian Anye, namun Anye belum keluar dari selimutnya.
" Bagaimana kamu akan berpakaian jika kamu tidak membuka selimut itu dari tubuhmu Nye".
Anye hanya menyembulkan kepalanya dari balik selimut, ia tersenyum bertambah malu, dalam hatinya berkata pasti Satya telah menemukan lingerie disana dan Satya juga telah memegang pakaian **********.
" Ayo buka dulu selimutnya, kita kan sudah halal jadi jangan malu lagi sama Mas Nye. Begini saja kamu berpakaian dan mas pergi mandi jadi setelah itu kita baru temui pihak hotel."
Anye pun mengangguk, kali ini dia selamat dari rasa malunya. Satya kemudian mengambil handuk mandinya dan segera berjalan masuk ke kamar mandi. Disana ia buru-buru merendam tubuhnya dengan air dingin untuk menurunkan birahinya yang sempat naik, area vitalnya yang sempat menegang kini mulai normal kembali. Sambil menghela nafas ia pun memikirkan Nadia, maafkan aku Nadia, aku sudah tidak sanggup lagi menahannya. Aku juga tidak mungkin terus menggantung hak Anyelir. Kini kalian berdua telah sama-sama memiliki hak atas diriku.
Setelah merasa normal kembali Satya langsung menyelesaikan mandinya, kemudian ia keluar dan disana ia melihat istrinya telah berdandan rapih.
Anye yang melihat suaminya berdiri dihadapannya menatapnya masih sedikit malu, Satya sengaja berpakaian di depan Anye, ia ingin mulai membiasakan diri dan juga membiasakan Anye agar perlahan menghilangkan rasa canggung diantara mereka. Anye juga menelan ludah melihat pemandangan di hadapannya, ia juga merasakan perasaan yang sama seperti yang di rasakan Satya tadi. Bagaimanapun dia harus membiasakan diri melihat semuanya, kemudian ia mendekati Satya, meraih kemeja yang sudah dikenakan Satya dan mengancingkannya.
Satya memperhatikan wajah istrinya yang tertunduk fokus dengan kancing baju ditangannya, kemudian dengan refleks Satya mencium kening Anye lalu turun ke bibirnya. Ciuman panas pun terjadi diantara mereka untuk beberapa saat, hingga akhirnya terhenti karena dikejutkan oleh suara deringan telephone.
Anye langsung melepaskan pegangan tangannya dari kemeja Satya kemudian ia berbalik sambil memegang bibirnya. Sementara Satya yang mulai menikmati ciuman panas bersama istrinya merasa kesal karena terganggu dengan deringan telephone, lalu ia mengambil handphonenya dan melihat siapa yang memanggil, ternyata dari Radit.
Dengan perasaan kesal iapun mengumpat kepada Radit," Kamu Dit mengganggu kami saja!"
" Maaf bos jika aku mengganggu keintiman kalian", jawab Radit sambil tertawa.
" Ada apa kamu menelephone!, jangan bilang kalau Kakek sakit lagi ya!",
" Aku cuma ingin pastikan bos, kalian telah tiba dengan selamat dan nyaman di salah satu ditempat yang sudah aku pesan. Malam ini, aku juga sudah mengatur makan malam romantis buat kalian dengan bantuan pihak hotel, gunakan kesempatan malam ini bagus-bagus ya bos. Segera buat keponakan untuk ku", ucap Radit sambil tertawa.
" Apanya yang nyaman, baru tiba saja kami sudah mendapatkan teror."
__ADS_1
" Apa maksud bos?"
Kemudian Satya menceritakan semua yang mereka alami baru saja, Radit yang mendengarnya merasa terkejut. Kemudian ia mengatakan kepada Satya akan mengkonfirmasi kepada pihak hotel tentang kejadian itu dan ia akan menambahkan pengawal untuk mendampingi ke setiap perjalanan yang akan dilakukan oleh Satya dan Anyelir.