Terjebak Di Dunia Kultivator

Terjebak Di Dunia Kultivator
Ming Na


__ADS_3

Li Hao melebarkan matanya ketika menemukan seorang gadis cantik berambut pirang sedang terbaring di atas tempat tidur yang terbuat dari bambu.


"Cantik sekali..." Li Hao tanpa sadar berkata demikian sesaat setelah melihatnya.


"Banyak yang bilang begitu, hahaha..." kakek tua tertawa kecil.


Li Hao mengalihkan pandangannya pada kakek tua yang ada di sebelahnya dan bertanya, "Apa dia benar-benar cucumu?"


"Bukan... 17 tahun yang lalu, kakek tidak sengaja menemukannya di dekat tepi pantai. Saat itu usianya masih belum ada setahun, dan dia diletakkan di kotak kayu yang memiliki ukiran cukup mewah." kakek tua menjawab, lalu menghela nafas panjang, "Dalam sekali lihat, kakek tau kalau Ming Na adalah anak yang spesial. Matanya hijau yang indah dan rambut berwarna pirang, orang tuanya pasti memiliki latar belakang yang besar."


"Apa kakek pernah mencoba mencari tau orang tua aslinya?"


"Ya, kakek pernah mencobanya. Namun, kakek tidak pernah sekalipun menemukan petunjuk..."


Li Hao membuka mulutnya dan ingin bertanya lebih jauh, tetapi ia langsung mengurungkan niatnya karena dirinya tidak ingin sampai melewati batas.


"Ah, baiklah..." Li Hao mengangguk, lalu mengeluarkan satu pil penyembuh dari inventorynya, "Ini adalah pil yang aku bicarakan sebelumnya, bisakah kakek membangunkan cucu kakek?"


Kakek tua mengangguk lalu mendekati cucunya dan mencoba membangunkannya perlahan.


"Uh, kakek...?"


Suara yang terdengar sangat lembut terdengar, Ming Na melirik ke arah lain dan dia terkejut melihat seorang pemuda berdiri di belakang kakeknya.


"Siapa dia...?" Ming Na bertanya sembari berusaha bangun.


"Dia adalah kultivator pengembara yang kebetulan mencari tempat menginap di desa ini, namun karena tidak ada penginapan jadi kakek membawanya kemari..."


"Kultivator pengembara...? Kakek percaya padanya?"


"Tidak semua kultivator itu jahat, cucuku sayang. Kakek percaya pada pemuda ini..."


"Apa alasannya?"


"Firasat?"


Ming Na langsung menghela nafas panjang setelah mendengar jawaban itu, ia kemudian menatap Li Hao dan bertanya, "Apa kau berencana memanfaatkan kakekku?"


"Tidak, untuk apa aku melakukannya?" Li Hao mengangkat pundaknya dengan santai.

__ADS_1


Ming Na menatap Li Hao tanpa mengalihkannya sedetikpun, kemudian ia kembali menatap kakeknya dan bertanya tujuan pemuda yang tampak seusianya itu datang kemari.


"Setelah kakek menceritakan dirimu yang mengalami demam, dia langsung meminta izin untuk memberikanmu pil penyembuh dengan niat menyembuhkanmu."


Ming Na tentu tidak percaya setelah mendengarnya, tetapi ia tidak mengambil kesimpulan secepat itu dan mengajukan beberapa pertanyaan lainnya.


Kurang lebih selama lima menit lamanya Ming Na bertanya, akhirnya ia memutuskan untuk mempercayai Li Hao karena alasan tertentu.


"Kenapa kau terlalu mencurigaiku..." Li Hao menghela nafas panjang sembari memberikan pil penyembuh pada Ming Na.


"Sudah banyak orang yang ingin mendekatiku melalui kakek, jadi sulit untuk mempercayai orang sepertimu." Ming Na menjawab, sejenak ia menatap pil tersebut sebelum menelannya dengan hati-hati.


Li Hao tidak membalas karena mengerti dengan kewaspadaan Ming Na, mengingat wajah cantiknya pasti banyak orang desa yang ingin menikahinya.


"Beristirahatlah untuk sementara waktu, Na'er. Pastikan obat itu bekerja dengan baik..." kakek tua tersenyum lembut sembari mengusap kepala cucunya.


"Ya, kakek." Ming Na mengangguk kecil, lalu menatap Li Hao dan berterima kasih padanya mengenai pil penyembuh.


"Tidak masalah, aku juga mendapatkan tempat tinggal semalam di sini." Li Hao mengangguk kecil, kemudian pergi keluar dari ruangan itu bersama kakek tua.


Setelah keluar dari sana, kakek tua menggelar beberapa karpet di lantai dan mengatakan kalau mereka akan tidur di situ. Li Hao tentu tidak mempermasalahkannya sama sekali mengingat dirinya tinggal di sini secara gratis, ia juga akan pergi dari desa ini usai mencari tau rute pasti menuju Gua Dunia Lain.


Li Hao bersama kakek tua tidur di alas yang sama sembari mengobrol kecil, dan seiring berjalannya waktu kakek tua tertidur sementara dirinya masih bangun tetapi dengan mata tertutup.


Ming Na menghembuskan nafasnya secara perlahan melihat itu, lalu dengan jinjit mulai keluar dari kamar dan menuju pintu keluar rumah.


Li Hao yang masih bangun namun dengan mata tertutup jelas mengetahuinya, tetapi ia tidak membuka matanya atau menanyakan kemana perginya dia saat sudah tengah malam begini.


Setelah Ming Na keluar dari sana, barulah Li Hao membuka mata dan bangun secara perlahan. Ia bangkit berdiri, lalu ikut keluar sembari berusaha menyembunyikan hawa kehadirannya tanpa menggunakan topeng.


"Pedang...?" Li Hao mengangkat alisnya ketika melihat Ming Na sedang berjalan keluar desa sembari memegang sesuatu yang diselimuti kain hitam.


Setelah mengikuti Ming Na cukup lama, Li Hao menyadari kalau mereka telah berada di dekat tepi pantai. Di sana, gadis cantik itu berdiri tepat di hadapan batu besar dan kemudian membuka kain hitam yang menyelimuti pedang di tangannya.


Trang!


Ming Na mulai mengayunkan pedangnya dan membentur batu besar tersebut, seharusnya melakukan hal itu bisa membuat kedua tangannya terasa sakit tetapi wajahnya terlihat datar seolah dia sudah terbiasa melakukannya.


"Yah, sebenarnya aku tidak terlalu terkejut. Saat pertama kali melihatnya, aku tidak sengaja melihat telapak tangannya penuh dengan kapalan. Sebelumnya aku berpikir kalau dia sering melakukan pekerjaan yang berat, namun pikiranku langsung berubah setelah melihatnya membawa pedang." Li Hao bergumam, lalu memegang dagunya, "Tapi apa alasan dia melakukan itu? Kuda-kudanya saja sangat rapuh, ayunannya memang kuat tetapi untuk membunuh seekor binatang spiritual akan sangat sulit baginya."

__ADS_1


Li Hao yang sedang memikirkan itu langsung berhenti ketika ada tiga pria datang menghampiri Ming Na, ketiganya merupakan kultivator dan mereka kemungkinan adalah orang-orang dari sekte Danau Suci yang dibicarakan oleh kakek tua sebelumya.


Kedua pria paruh baya itu terlihat sedang mabuk, sementara pemuda yang bersama mereka mencoba menenangkan keduanya.


"Huhuhu... Bagaimana bisa ada gadis cantik tengah malam begini?" seorang pria paruh baya bertanya, wajahnya memerah dan sepertinya dia sudah mabuk sepenuhnya.


"Tinggalkan saya sendiri..." Ming Na menjawab dengan acuh tak acuh dan terus mengayunkan pedangnya.


"Jangan galak begitu, dong. Apakah kamu sedang belajar pedang? Paman bisa membantumu, loh..." pria paruh baya lainnya berkata sambil tertawa kecil, dia juha sepertinya sudah mabuk parah.


"Aduh, paman! Kalian berdua terlalu banyak minum, ayo kita kembali ke rumah kepala desa." pemuda yang bersama kedua pria paruh baya itu tampak kerepotan, dia juga khawatir kedua pamannya ini bertindak di luar kendalinya, "Kau, bisa tolong pergi dari sini? Kedua pamanku sedang mabuk, aku takut tidak bisa mengendalikan mereka nantinya."


Ming Na menatap datar pemuda itu sebelum menghembuskan nafas melalui mulutnya, padahal belum lama dia berlatih pedang tetapi terpaksa pergi karena kedatangan mereka.


Ming Na bersiap untuk pergi dari sana, namun sebelum melangkahkan kakinya, satu pria paruh baya yang dipegang oleh pemuda itu melepaskan diri dan segera merangkulnya.


"Hehehe... Kenapa buru-buru pergi begitu? Paman tidak akan melakukan sesuatu yang berbahaya, jadi jangan takut."


"Lepaskan aku! Kalian anggota sekte Danau Suci, tapi kenapa bertindak seperti bandit?!" Ming Na mencoba melepaskan rangkulan pria paruh baya itu, namun tidak bisa karena kalah dalam hal tenaga.


"Jangan kaku begitu, paman hanya ingin mengajarimu ilmu pedang." pria paruh baya itu tersenyum lebar sembari mengusap lengan Ming Na.


"Paman, jangan lakukan itu!"


Pemuda yang sedang menahan pria paruh baya lainnya langsung berseru lantang ketika melihatnya.


Ketika kekacauan mulai terjadi, Li Hao yang menyaksikan dari kejauhan mau tak mau turun tangan. Ia berjalan santai tanpa menyembunyikan hawa kehadirannya, dan karena hal itu mereka langsung menyadarinya setelah berjarak kurang dari seratus meter.


"Kau..." Ming Na terkejut melihat keberadaan Li Hao.


"Ayolah, Tuan-Tuan. Jangan bersikap seperti anak kecil..." Li Hao berkata setelah jarak mereka hanya dipisahkan beberapa meter saja.


"Siapa kau?" pria paruh baya mengerutkan alisnya, dia menjadi waspada karena melihat basis kultivasi pemuda yang baru datang tersebut adalah Golden Core bintang 8.


"Aku mengenalnya..." Li Hao menunjuk ke arah Ming Na, "Tolong lepaskan dia dan mari akhiri ini dengan damai."


Pria paruh baya yang merangkul Ming Na terdiam sejenak sebelum melepaskannya, sementara gadis cantik itu langsung berlari pelan dengan pedang di tangannya dan bersembunyi di belakang punggung Li Hao.


"Terima kasih atas kemurahan hati anda, Tuan-Tuan. Semoga malam kalian menyenangkan..." Li Hao menangkupkan tangannya, lalu segera membawa Ming Na pergi dari sana sebelum muncul masalah lainnya.

__ADS_1


Bersambung.....


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.


__ADS_2