
Membutuhkan waktu sampai setengah hari bagi kelompok Li Hao untuk bisa keluar dari hutan itu, mereka langsung beristirahat setelahnya karena melalui jalur hutan jauh lebih menguras stamina daripada jalur lain.
"Pengawal Shin, kenapa kau selalu repot-repot membunuh binatang buas yang menghalangi kita? Bukankah akan jauh lebih mudah jika membiarkan mereka melarikan diri dengan menggunakan aura kultivasi atau niat membunuh?" salah satu pemuda yang berasal dari Biro Pengawalan bertanya.
"Hm, aku hanya ingin meningkatkan pengalaman bertarungku." Li Hao menjawab, "Tidak selamanya kita bisa mengandalkan aura dalam pertarungan. Kalau suatu saat nanti kita bertemu dengan lawan yang sepadan atau bahkan lebih kuat, aura tidak akan banyak membantu dan malah akan memberikan kerugian pada kita karena fokus menjadi terbagi."
Meskipun itu bukanlah alasan utamanya, tetapi masih termasuk ke dalam salah satunya.
"Ah, kau benar." pengawal yang bertanya mengangguk kecil, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Pengawal Shin, bolehkah aku bertanya sesuatu?"
Li Hao sedikit menaikkan alisnya sebelum mengangguk kecil sebagai tanggapannya, pemuda yang kini sedang mengobrol dengannya bernama We Chi, dia adalah orang dari biro yang paling sering mengajak dirinya mengobrol. Itu bisa terjadi karena umur mereka berdua tidak terpaut terlalu jauh.
"Um, maaf kalau tidak sopan, tapi apakah kau benar-benar berusia 19 tahun?"
"Ya, benar."
"Haaa... Itu artinya kau adalah jenius di antara jenius, tanpa naungan manapun kau masih bisa menyaingi para jenius dari sekte besar." We Chi menghela nafas panjang melalui mulutnya, raut wajahnya tampak sedih.
"Meskipun tidak berbakat, tapi dengan kerja keras tidak akan membuatmu diremehkan oleh sebagian besar orang."
"Yah, itu hanyalah kata-kata manis yang dikeluarkan oleh kultivator berbakat sepertimu. Sulit untuk mengetahui perasaan orang yang tidak mempunyai apa-apa ketika kau memiliki segalanya..."
"Kau benar, tapi bukan berarti semua orang harus mengalami kehidupan yang sama agar bisa mengerti." Li Hao membalas, lalu menunjuk kepalanya dengan jari telunjuk, "Kita lahir dengan otak, digunakan untuk berpikir dan menganalisa. Kau bisa mengetahui kehidupan macam apa yang dirasakan oleh orang lain, namun bedanya kau tidak berada dalam kondisi itu."
Perkataan Li Hao tidak sepenuhnya benar karena memang benar seorang jenius harus mengalami kehidupan yang serupa dengan seorang sampah agar bisa mengerti perasaannya, namun Li Hao mempunyai pengalaman menjadi seorang sampah sehingga dirinya berani berkata demikian.
We Chi hanya membisu mendengar itu, perkataan Li Hao memang tidak benar secara menyeluruh tetapi ia setuju dengannya.
"Kusarankan jangan terlalu sering melihat ke langit, dengan begitu kau akan lebih menikmati hidupmu." timpal Li Hao dengan tenang.
We Chi mendongakkan kepalanya ke atas, lalu tersenyum tipis sebelum menganggukkan kepalanya.
Mereka berdua tidak lagi mengobrol lebih jauh karena ketua yang berasal dari biro memutuskan untuk menyudahi istirahat dan melanjutkan perjalanan sampai malam.
__ADS_1
......................
Tidak lama waktu berlalu dan malam kembali tiba, para pengawal kemudian berkumpul lalu berdiskusi mengenai pembagian shift. Kali ini, Li Hao mendapatkan shift kedua, itu artinya dia akan tidur selama lima jam dan bangun saat tengah malam.
Li Hao langsung pergi tidur usai pembagian shift selesai, mau tak mau dirinya tidur di perkemahan karena tidak ada pohon di sekitar mereka dan hanya terdapat liang rumput yang tak terhitung jumlahnya.
"Hm, misinya masih ada dan belum gagal..." Li Hao berkata dalam hati setelah berbaring di dekat api unggun, "Kemungkinan penyerangan yang dilakukan oleh kelompok itu akan terjadi malam ini atau sebelum kami sampai ke kota Luzin."
Li Hao kemudian memejamkan matanya dan tidak memikirkannya itu lebih jauh, jika mereka datang maka datang saja dan dirinya akan dengan senang hati menghabisi mereka semua.
Beberapa jam berlalu, Li Hao masih diam di tempatnya tanpa tertidur sama sekali meksipun matanya tertutup rapat. Sejauh ini, tidak ada tanda-tanda kemunculan hawa kehadiran yang asing dan jika memang hari ini tentram tanpa adanya penyerangan maka besok malam adalah waktunya.
Setelah shiftnya tiba, salah satu pengawal yang berjaga di shift pertama membangunkannya. Li Hao sendiri langsung membuka mata, lalu menganggukkan kepalanya ketika pengawal itu memberitahu kalau sekarang adalah shiftnya.
"Hoammm..."
Li Hao menguap dengan santai, lalu mengedarkan pandangannya untuk mencari posisi yang nyaman untuknya berjaga. Namun, belum sempat melangkahkan kakinya, ada suara yang memanggilnya dan itu tidak lain adalah pengawal We Chi.
"Tentu saja di sekitaran sini." Li Hao segera menjawab.
"Yah, tapi kemarin kau memisahkan diri."
"Lalu apa maumu?"
"Hehehe... Mau berjaga bersama? Supaya kita bisa mengobrol sampai perjalanan berlanjut." We Chi menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum lebar, "Dan aku punya dua botol bir, kau pasti mau, 'kan?"
Li Hao terdiam sejenak sebelum tersenyum tipis sambil mengangguk kecil, "Baiklah, ayo."
We Chi menjadi semangat dan mereka berdua pergi ke tempat yang tidak terlalu jauh dari perkemahan.
Setelah itu, mereka berdua mulai mengobrol santai dan di sela-selanya We Chi mengeluarkan dua botol bir dari cincin penyimpanannya.
"Nih, untukmu!" We Chi mengulurkan tangannya yang memegang satu botol bir, dan Li Hao langsung menerimanya.
__ADS_1
"Apa semuanya ini untukku?" Li Hao bertanya memastikan sembari memperhatikan botol bir di tangannya.
"Ya, tentu saja." We Chi mengangguk kecil, kemudian membuka tutup botol bir tersebut dan meminumnya.
Li Hao tidak berkata lebih jauh, lalu membuka botol bir itu dan meminumnya. Tidak seperti We Chi yang menghabiskan hampir setengahnya, Li Hao hanya minum beberapa teguk saja.
Baru sesaat setelah menelan air birnya, kepala Li Hao langsung berdengung kencang sehingga membuat tubuhnya sempoyongan. Matanya langsung terarah pada We Chi dan menemukan sebilah pedang di tangan kanannya.
Tidak lama setelah Li Hao mengetahui itu, empat pengawal lainnya muncul dan mereka mengepungnya dengan senjata masing-masing.
"Dasar bajingan...! Ternyata kalian adalah kelompok yang ingin membunuh para orang tua itu!" Li Hao berseru marah, pada saat yang bersamaan Niat Membunuh merembes keluar dari tubuhnya.
Kelima pengawal itu begitu terkejut mendengar perkataan Li Hao, mereka saling menatap satu sama lain lalu semua perhatian tertuju pada We Chi.
We Chi yang menyadari itu langsung menggeleng cepat, "Tidak, bukan aku! Tidak mungkin aku menceritakannya!"
"Kita bicarakan itu nanti, sekarang kita harus mengurus dia." ucap pria paruh baya yang mempunyai basis kultivasi di ranah Golden Core bintang dua.
Mereka kembali mengalihkan pandangannya ke Li Hao, dan langsung menyerangnya yang sedang tidak berdaya itu.
Li Hao sendiri sulit untuk mengendalikan tubuhnya, namun ia masih bisa bergerak sehingga mampu menghindari semua serangan yang dilancarkan oleh mereka.
"Apa..! Bagaimana mungkin?!"
"Dia mampu menghindari semua serangan kita, itu artinya racun pelumpuh tidak terlalu bekerja padanya!"
"Jangan banyak bicara, kita harus fokus! Serang dia dengan seluruh kemampuan kalian!"
Kelima pengawal itu menyerang Li Hao dari berbagai arah, sementara pemuda yang diserang oleh mereka hanya berusaha menghindar tanpa melakukan perlawanan sedikitpun.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.
__ADS_1