
"Bagaimana kau mengetahuinya?" Diao Chan bertanya dengan nada waspada, secara tidak langsung ia mengakui kalau dirinya adalah seseorang yang berasal dari Aliran Hitam.
"Aku melihatmu ketika bertarung, dan beberapa kali kau mengeluarkan fluktuasi energi yang mengerikan." jawab Li Hao menjelaskan.
Diao Chan terdiam sejenak usai mendengar itu, dan kemudian berkata, "Kalau begitu, kau sepertinya tidak berpihak pada kedua aliran, ya?"
Jika saja Li Hao berasal dari Aliran Putih, pemuda itu pasti sudah membunuhnya ketika mengetahui kalau dia adalah seseorang yang berasal dari Aliran Hitam.
"Begitulah..." Li Hao mengangguk pelan, ia tentu saja tau kalau perempuan cantik itu kembali mewaspadainya.
Diao Chan hanya diam dan mengangguk pelan untuk menanggapinya, ia menurunkan kewaspadaan karena merasa yakin kalau Li Hao bukanlah orang yang berbahaya.
"Omong-omong, apa kau sedang melakukan perjalanan ke suatu tempat?" tanya Li Hao penasaran.
Diao Chan mengangguk pelan, "Aku sedang dalam perjalanan menuju kota Luoyang. Di sana akan digelar sebuah Turnamen bebas, apa kau pernah mendengarnya?"
Li Hao menggeleng pelan dan menjawab, "Tidak."
Diao Chan terdiam sejenak, tadinya ia tidak mau membicarakan hal ini-- akan tetapi dirinya tidak mau suasana kembali menjadi hening dan canggung.
"Turnamen bebas itu dibuka oleh Lima Menara Naga, aliran hitam dan aliran putih boleh bergabung. Aku sih belum mendengar tentang hadiahnya, tapi katanya sangat menggiurkan... Bahkan murid-murid dari sekte bintang 10 ikut serta dalam turnamen itu." Diao Chan menjelaskan dengan cukup antusias.
"Lima Menara Naga?" Li Hao sedikit mengangkat alisnya, "Kalau tidak salah itu adalah nama dari sebuah Perusahaan Perdagangan terbesar di Daratan Surgawi."
"Benar! Kota Luoyang adalah salah satu kota terbesar, sekaligus pusat dari Lima Menara Naga." Diao Chan menambahkan.
"Tapi, mengadakan turnamen semacam itu beresiko, bukan? Aliran Hitam dan Aliran Putih berada di satu tempat, aku yakin kekacauan akan terjadi." ucap Li Hao dengan alis yang sedikit mengerut.
"Kau benar, tetapi Lima Menara Naga mempunyai antisipasi mengenai masalah itu. Mereka akan menyewa belasan kultivator Immortal dan mengerahkan sebagian besar pasukannya untuk menjaga keamanan Turnamen bebas yang digelar." jelas Diao Chan, lalu melanjutinya, "Lagipula, Lima Menara Naga membuat beberapa peraturan yang melarang terjadinya konflik selama mereka berada di kota Luoyang."
Li Hao mengangguk paham mendengarnya, ia kemudian menatap Diao Chan dengan tatapan penasaran, "Kau tau banyak tentang Turnamen itu, bagaimana bisa?"
"Oh, itu... Aku mendengarnya dari orang yang kukenal." jawab Diao Chan cepat.
__ADS_1
Mendengar itu Li Hao tidak bertanya lebih jauh lagi, keduanya kemudian mengobrol panjang lebar sampai akhirnya kaki Diao Chan bisa digerakkan kembali.
***
Saat ini, Li Hao dan Diao Chan berada di kawasan luar hutan. Perempuan itu menundukkan sedikit badannya sembari menangkupkan tangan, "Terima kasih, teman Dao. Aku akan mengingat jasamu ini..."
Li Hao tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya, "Sama-sama..." sahutnya, lalu bertanya, "Omong-omong, tujuanmu sekarang masih ke kota Luoyang?"
Diao Chan hanya mengangguk untuk menanggapi itu.
"Kalau begitu, mau pergi ke sana bersama?" Li Hao mengajaknya, "Setelah mendengar ceritamu, aku menjadi tertarik untuk mengikuti Turnamen itu. Tapi, jika kau masih waspada dan curiga terhadapku-- kita akan berpisah di sini."
Diao Chan terdiam dalam waktu yang cukup lama setelah mendengarnya, ia sekarang sedang mempertimbangkan-- apakah pergi bersama Li Hao adalah tindakan yang tepat?
Setelah melakukan beberapa pertimbangan, Diao Chan akhirnya memutuskan untuk menerima ajakan Li Hao-- tapi dengan syarat, keduanya tidak boleh berjalan bersampingan dan harus dipisahkan dengan jarak lebih dari lima meter.
Li Hao langsung menyetujuinya karena memang sedari awal tidak ada niat baginya untuk menjahati perempuan cantik itu, ia hanya membutuhkan teman mengobrol saja.
Setelah sepakat dengan syarat tersebut, Li Hao berjalan di depan-- sedangkan Diao Chan berjalan di belakang. Mereka berdua mengarah ke utara, tempat kota Luoyang berada.
***
Li Hao menyadari, selain kecantikannya-- Diao Chan adalah perempuan yang kuat dan berpengetahuan luas. Ia juga samar-samar mulai mengetahui kalau Diao Chan mempunyai latar belakang yang tidak biasa, dan berpikir kalau ayah dari perempuan itu adalah orang yang kuat.
Suasana malam dan sejuk kini terjadi di padang rumput tanpa ujung. Li Hao dan Diao Chan berjalan santai sembari menatap bulan purnama yang ada di langit.
"Li Hao, bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Hm, bukankah kau biasa langsung bertanya?"
"Hehehe... Pertanyaan ini cukup privasi, jadi aku hanya ingin memastikan saja."
"Oh... Boleh saja, tapi aku tidak pasti akan menjawabnya."
__ADS_1
Diao Chan tersenyum tipis, dan kemudian memandangi tangan Li Hao, "Sedari awal aku penasaran tentang sesuatu, bagaimana caranya kau mengeluarkan pedang dari udara dan menyimpan hewan mati yang sudah kita buru? Sedangkan yang aku lihat, kedua tanganmu sama sekali tidak terdapat cincin penyimpanan." Diao Chan bertanya dengan nada penasaran.
Suasana hening setelah Diao Chan mengajukan pertanyaan itu.
Li Hao sendiri baru menyadari kalau Diao Chan sudah seringkali melihat dirinya mengeluarkan benda dari inventory, ia kini memutar otaknya dan mencari alasan yang tepat untuk pertanyaan itu.
"Kalau aku tidak menjawabnya, dia pasti akan curiga padaku." Li Hao berkata dalam hati.
Melihat Li Hao belum menjawab pertanyaannya, Diao Chan tersenyum tipis dan ia mendekati pemuda itu, "Hey, jangan berpikir terlalu serius. Kalau kau tidak bisa menjawabnya, katakan saja!" Diao Chan merangkulnya, lalu melanjuti, "Aku tak akan curiga padamu. Aku juga yakin kalau kau tidak mempunyai niat buruk padaku."
Li Hao sedikit tersentak dan diam-diam menghela nafas lega, "Terima kasih..." ucap Li Hao, dan kemudian menoleh ke arah perempuan yang merangkulnya, "Omong-omong, kau melanggar syaratmu sendiri."
"Ah..." Diao Chan langsung melepas rangkulan tersebut, dan raut wajahnya berubah menjadi kesal, "Dasar! Kenapa tidak bilang dari tadi?! Kau pasti mengambil kesempatan dariku, bukan?!"
"Huh, kau sudah gila, ya?" Li Hao mengangkat alisnya, lalu senyum mengejek terukir di wajahnya, "Oh, apa kau mengatakan itu supaya terhindar dari hukuman?"
"A-apa...? T-tidak, kok!" Diao Chan langsung tergagap dan membuang mukanya ke arah yang lain.
Beberapa hari yang lalu, Li Hao dan Diao Chan sepakat untuk memberikan hukuman pada orang yang melanggar syarat.
Peraturannya berupa, jika salah satu dari mereka ada yang berdekatan kurang dari lima meter (secara sengaja atau tidak sengaja) akan dikenakan hukuman sentil dahi sebanyak tiga kali, tetapi peraturan ini tidak akan berlaku ketika sedang dalam masa pertarungan atau kondisi yang tidak memungkinkan.
Li Hao menghentikan langkahnya dan memegang pundak Diao Chan, "Jangan berusaha kabur lagi, ya." Li Hao tersenyum mengejek, dan membuat perempuan itu berkeringat dingin.
"Baik, baik!" padahal Diao Chan baru saja ingin berlari kabur, tapi pemuda itu lebih dulu memegangnya, "Tapi, janji ya jangan menggunakan kekuatan penuh?! Kau masih ingat'kan ketika hukuman terakhir-- aku hampir pingsan karena sentilanmu itu!"
"Tenang saja, aku sudah cukup banyak belajar dari pengalaman." Li Hao mengangkat tangannya, dan bersiap untuk menyentil dahi perempuan itu.
Diao Chan sendiri mengatur nafasnya dan bersiap-siap untuk merasakan kesakitan.
Tak!
Ketika Li Hao menyentil dahi Diao Chan, perempuan itu langsung mengeluarkan suara kesakitan.
__ADS_1
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.