Terjebak Di Dunia Kultivator

Terjebak Di Dunia Kultivator
Curhatan Diao Chan


__ADS_3

Setelah melakukan pertukaran, Shian Wi langsung mengucapkan terima kasih, dan ketika mereka hendak pergi dari sana-- Li Hao menahannya.


"Tunggu dulu, bolehkah aku bertanya sesuatu?"


"Hm?" Shian Wi menoleh ke arah belakang dan tersenyum tipis, "Silahkan..."


"Tujuan kalian, kota Luoyang, bukan?" tanya Li Hao penasaran.


"Benar." Shian Wi mengangguk pelan, "Sepertinya kalian juga bertujuan pergi ke sana, ya?"


Li Hao mengangguk pelan, "Ya. Omong-omong, terima kasih sudah bersedia menjawab pertanyaanku.'


"Tidak masalah. Kami pergi dulu..." Shian Wi melangkahkan kakinya, dan pergi dari sana bersama teman-temannya.


Li Hao tidak menatap kepergian mereka terlalu lama, ia menyimpan pedang Iblis Malam sembari menyusul ke tempat Diao Chan dan Wei Han berada.


"Kalau kamu melihat orang asing lagi, jangan langsung percaya, oke?" Diao Chan memberikan peringatan pada Wei Han supaya kejadian semacam ini tidak terulang lagi.


"Maafkan aku, bibi. Aku hanya berpikir kalau mereka bukanlah orang yang jahat." Wei Han menundukkan kepalanya dengan perasaan yang bersalah, "Tapi aku akan mengingat ini dan menjadikannya sebagai pelajaran."


Diao Chan tersenyum tipis lalu mengelus kepala Wei Han, "Bagus, kamu anak pintar."


"Ehem, aku kembali..."


Sesaat setelah itu, Li Hao tiba-tiba saja muncul dari balik pepohonan-- ia langsung tersenyum masam ketika mendapatkan tatapan tajam dari wanita cantik itu.


"Apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?"


Meskipun sudah tau alasannya, Li Hao tetap menanyakannya.


"Tatapan ini hanya mengarah ke orang bodoh saja!"


"Kau jahat, ya."


"Berisik, ayo lanjutkan perjalanan."


Diao Chan tidak menunggu tanggapan pemuda itu dan mengajak Wei Han pergi dari sana.


Li Hao hanya mengikuti mereka berdua dari belakang, tentu saja ia menjaga jarak sampai lima meter agar tidak melanggar peraturan.


***


"Hei, kalau kita berdua mendaftar di Turnamen, siapa yang akan menjaga Wei Han nantinya?" Li Hao bertanya karena ia baru mengingatnya.


"Aku punya kenalan di sana, jadi Wei Han bisa dititipkan olehnya." Diao Chan menjawab dengan cepat.


"Hm, siapa dia?"


"Bawahan ayahku."


"Apa dia bisa dipercaya?"


"Tentu saja, dia adalah salah satu orang kepercayaan ayahku."

__ADS_1


"Kenapa dia bisa ada di sana?"


"Mengawal kakak perempuanku."


"Oh, apakah kakakmu mengikuti Turnamen juga?"


"Begitulah."


"Kalau kakakmu dikawal, kenapa kau tidak?"


"Kami sebenarnya berpergian bersama, tapi saat di perjalanan-- aku diam-diam memilih kabur dari mereka karena mau mencoba berpetualang sendiri."


"Kenapa dia tidak berusaha mencarimu?"


"Aku memintanya untuk tidak menyusulku lewat surat yang kutinggalkan sebelum pergi."


"Baiklah kalau kau percaya Wei Han bisa dititipkan olehnya."


Li Hao tidak bertanya lebih jauh lagi dan memilih untuk diam.


......................


"Ayo kita istirahat..." Li Hao melihat langit yang sudah gelap sejak beberapa jam lalu.


Diao Chan dan Wei Han mengangguk pelan, mereka berdua duduk bersila di sana-- sedangkan Li Hao membuat api unggun dari batang pohon yang sudah ia tebang dan simpan di dalam inventory.


Setelah api unggun dibuat, Wei Han mulai membaringkan tubuhnya dan menggunakan kain tipis sebagai bantalan kepalanya.


Diao Chan yang ada di sebelah anak kecil itu hanya mengelus pelan kepalanya sembari tersenyum tipis.


"Omong-omong, apa kau berbohong tentang pembicaraan kita sebelumnya?" Li Hao bertanya dan membuat keheningan malam pecah.


"Maksudmu, tentang orang kepercayaan ayahku?" Diao Chan sedikit mengerutkan alisnya.


"Tidak, kalau yang itu-- aku yakin kau tidak berbohong."


"Lalu?"


"Tentang berpergian bersama."


"Ah, jadi kau mengetahuinya, ya?'


"Aku hanya menebak saja, sepertinya tepat sasaran."


"Aku sama sekali tidak bersama kakak perempuanku, aku kabur dari sekte diam-diam dengan tujuan mengikuti Turnamen di kota Luoyang." Diao Chan menjelaskan tanpa mengeluarkan ekspresi sedikitpun.


"Tapi cerita tentang kakakmu itu benar?" Li Hao bertanya untuk memastikan.


"Ya, begitulah." jawab Diao Chan cepat.


"Hm..." Li Hao tampak berpikir sembari memegang dagunya, lalu ia berkata, "Apa kau melakukan ini agar bisa menyaingi kakakmu saat di Turnamen nanti, atau kau ingin membuktikan kekuatan yang kau miliki agar dia mau mengakuimu?"


"Eh..." mata Diao Chan langsung melebar, pandangannya segera tertuju ke arah pemuda yang berada di sebrang api unggun, "Bagaimana bisa kau mengetahuinya?"

__ADS_1


"Yah... Biasanya memang ada alur seperti itu di dalam novel." Li Hao berpikir dan diam-diam tertawa kecil.


"Apa yang lucu?" Diao Chan tentu menyadari tawa kecil yang dilakukan Li Hao.


"Tidak ada." Li Hao langsung menghentikan tawa kecilnya sebelum terjadi kesalahpahaman, "Jadi, dari dua tebakanku, yang mana yang benar?"


"Keduanya." Diao Chan langsung menjawab.


"Hoo..." Li Hao menjadi sedikit tertarik, "Jadi, tujuanmu adalah menyaingi kakakmu saat di Turnamen nanti agar dia mau mengakui dirimu, begitu?"


"Ya, kurang lebih semacam itu." Diao Chan mengangguk pelan, kemudian raut wajahnya sedikit berubah menjadi sedih, "Sejak dulu, kakak perempuanku sama sekali tak pernah mengakui diriku, hubungan kami bahkan tidak terlihat seperti kakak dan adik pada umumnya. Dia adalah seorang jenius di generasi ini, sedangkan aku hanyalah wanita biasa yang jauh berada di bawah kakakku."


Diao Chan merubah posisi duduknya dengan mengangkat kedua kakinya sampai lututnya berada di depan dada, "Aku sudah berusaha semampuku, tetapi bakat yang kupunya tidak akan bisa melampaui kakakku. Meskipun dia sudah mengetahui kerja keras yang kulakukan, dia selalu bertindak acuh jika bertemu denganku." Diao Chan menutup wajahnya di antara kedua lututnya, ia tidak mau menunjukkan ekspresinya yang hampir menangis.


"Begitu, ya."


Li Hao bangkit berdiri dan duduk di samping wanita cantik itu, "Kau ingin dapat pengakuan dari kakakmu karena dia adalah orang yang pertama kali kau kagumi, bukan?" tanya Li Hao sembari menatap api unggun di depannya.


Diao Chan hanya mengangguk untuk menanggapinya.


"Ini bukan nasehat yang bagus, tapi aku akan tetap mengatakannya. Lakukan apa yang bisa kau lakukan, kakakmu memang tidak mengakuimu tapi bagaimana dengan orang-orang terdekatmu? Jika mereka sama seperti kakakmu, maka kau harus mencoba berhenti di masa depan nanti. Kalau dirimu terus terpaku dalam satu hal, kau mungkin akan menyesalinya di akhir."


"Menyesalinya di akhir?" suara serak Diao Chan keluar, nadanya terdengar keheranan.


"Ya, kau melewati banyak hal hanya karena satu tujuan. Contoh sederhananya, aku yang bertujuan untuk menjadi orang terkuat di Daratan Surgawi, tetapi sampai akhir umurku-- aku belum bisa mencapai tujuan itu... Saat itu terjadi, aku akan berpikir kalau aku telah kehilangan banyak hal karena terlalu fokus untuk menjadi kuat."


"Kehilangan banyak hal? Seperti apa?" Diao Chan kali ini mengangkat kepalanya, wajahnya terlihat kusut sekarang ini.


"Cinta, kehangatan, kebahagiaan dan yang lainnya." Li Hao menjawab dengan tenang.


"Bukankah itu bisa dilakukan meskipun hanya terpaku pada satu tujuan?" Diao Chan sedikit memiringkan kepalanya.


"Menurutku tidak." Li Hao menggeleng pelan.


"Apa alasannya?" tanya Diao Chan penasaran.


"Coba lihat dirimu sendiri..." Li Hao yang tadinya menatap api unggun menoleh ke arah wanita cantik di sebelahnya, "Apa kau pernah berpikir untuk mendapatkan kekasih, mempunyai seorang anak dan hidup santai di masa depan nanti?"


Diao Chan sedikit melebarkan mata dengan nafas yang tertahan, ia memang pernah memikirkannya waktu kecil-- tetapi itu sebelum dirinya mempunyai suatu tujuan, yaitu, mendapatkan pengakuan dari kakaknya.


"Kulihat dari reaksimu, sepertinya belum, ya?" Li Hao sedikit tersenyum tipis, "Mempunyai tujuan memang bisa membuatmu berkembang, tapi kalau tujuan itu tidak berhasil meskipun sudah berusaha keras-- ada baiknya untuk berhenti dan mencari tujuan lain yang bisa kau raih."


Suasana menjadi hening usai Li hao menyelesaikan kata-katanya, hanya ada suara api unggun dan semilir angin malam yang sejuk.


"Maafkan aku jika kata-kataku ini mencampuri urusan pribadimu..." Li Hao berkata dengan suara pelan.


"Terima kasih..." Diao Chan tersenyum tipis dan kepalanya menyender ke bahu kanan Li Hao.


Li Hao cukup terkejut tetapi ia tidak terlalu mempermasalahkannya.


"Omong-omong, kau melanggar peraturan. Jadi, siap-siap dahimu kena sentil, ya." Diao Chan berkata dengan nada mengejek.


Li Hao tertawa kecil sebelum menjawab, "Baik, baik."

__ADS_1


Bersambung.....


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.


__ADS_2