Terjebak Di Dunia Kultivator

Terjebak Di Dunia Kultivator
Ming Na III


__ADS_3

Melihat Qi berwarna biru yang menyelimuti tangan Li Hao, kedua pria paruh baya saling menatap satu sama lain kemudian mengangguk kecil.


"Terima kasih dan maaf karena telah mengganggu waktu anda, Teman Dao." pria paruh baya yang memiliki bekas luka di kakinya menangkupkan tangannya, begitupula dengan dua lainnya.


"Um, sebelum kalian pergi, aku ingin menanyakan sesuatu."


"Ya?"


"Apakah kalian mengetahui lokasi Gua Dunia Lain?"


"Ah, tempat itu..." pria paruh baya dengan bekas luka di kakinya langsung memberitahukan rute terdekat menuju Gua Dunia Lain, "Di sana adalah wilayah netral dan kebanyakan yang menempatinya adalah kelompok bandit jahat, jadi berhati-hatilah."


"Begitu, ya? Terima kasih atas informasinya, ini sangat berguna untukku..." Li Hao menyampaikan rasa terima kasihnya dengan tulus, berkat informasi darinya ia jadi tidak perlu pergi ke kota untuk membeli informasi tersebut.


"Tidak masalah, Teman Dao. Kalau begitu, kami pergi dulu."


Li Hao hanya mengiyakan dan mereka bertiga langsung berjalan pergi dari sana. Tidak lama setelah itu, Ming Na keluar dari rumah dengan raut wajah lega.


"Kupikir mereka datang karena tersinggung soal tadi malam..." Ming Na berkata, suaranya terdengar pelan.


"Mereka tidak seburuk itu..." balas Li Hao, lalu bertanya keberadaan kakek tua.


"Dia masih di rumah, aku memintanya untuk tidak keluar karena takut terjadi perkelahian." Ming Na menjawab, alasan lainnya juga ia tidak ingin rahasianya yang selalu pergi saat tengah malam untuk latihan pedang diketahui oleh kakeknya.


"Begitu..." Li Hao mengangguk, lalu mendongakkan kepalanya dan menatap langit pagi, "Mulai hari ini sampai satu bulan ke depan, kita akan memulai latihannya."


"Sepertinya tidak bisa..."


"Eh, apa maksudmu?"


"Aku dan kakek perlu bekerja menjadi buruh untuk mendapatkan uang agar bisa makan, mungkin setiap harinya aku bisa latihan paling lama hanya enam jam saja." Ming Na menjelaskan alasannya.


"Tidak perlu masalahkan soal makanan sehari-hari, stok dagingku di penyimpanan masih ada sangat banyak. Dan juga, aku membeli banyak persediaan saat mampir di kota sebelumnya..." Li Hao segera membalas sembari tersenyum.


"Tapi..."


"Tidak ada tapi-tapian... Waktu latihanmu terbatas, jadi tidak boleh membuang waktu dengan sia-sia."

__ADS_1


Ming Na sebenarnya merasa tidak enak tetapi ia hanya bisa menganggukkan kepala karena apa yang dikatakan oleh Li Hao memang benar.


"Baiklah, sebaiknya sebelum latihan mari kita isi perut terlebih dahulu."


......................


Di ruangan tamu rumah gubuk tersebut, Li Hao mengeluarkan daging serta sayuran yang dibelinya di kota Tianjin.


"Anak muda... Apa kau serius ingin memberikan kami semua makanan ini?" Kakek tua bertanya dengan mata yang melebar, sudah bertahun-tahun lamanya dia tidak pernah melihat hidangan mewah seperti ini.


Li Hao tersenyum sebelum mengangguk kecil, "Benar, selama satu bulan ini kita akan memakan hidangan seperti ini."


Kakek tua tidak bisa berkata-kata, begitupula dengan Ming Na yang duduk bersila di dekatnya.


"Tidak perlu sungkan atau merasa hutang budi, aku melakukan ini semua tanpa berpikir imbalan sedikitpun." ucap Li Hao, lalu mengambil piring kosong yang disediakan oleh Ming Na dan kemudian mengambil makan yang dikeluarkan olehnya, "Mari makan..."


Begitu Li Hao selesai mengambil makanannya, kakek tua dan Ming Na mulai mengambilnya dan mereka bertiga memakan makanan itu dengan lahap.


***


"Aku dari kemarin penasaran, darimana kau mendapatkan pedang itu?" Li Hao bertanya sesaat setelah Ming Na menggenggam pedangnya.


"Aku menemukan pedang ini tiga bulan yang lalu saat berjalan tengah malam di tepi pantai, dan keesokan harinya ada rumor tentang keributan yang terjadi antara beberapa bandit dengan anggota sekte Danau Suci. Kemungkinan pedang ini dijatuhkan dan ditinggalkan oleh salah satu dari mereka." Ming Na menjelaskan.


Li Hao mengangguk beberapa kali dan tidak bertanya lebih jauh, belum sempat ia mengatakan sesuatu, Ming Na lebih dulu bersuara.


"Sebelum kita memulai latihannya, mari bertukar nama. Kita sudah cukup lama mengobrol, tapi masih belum mengetahui nama satu sama lain." ucap Ming Na, lalu memperkenalkan dirinya.


"Kau benar, namaku adalah Li Hao. Mulai hari ini sampai latihan selesai, aku akan menjadi gurumu. Jadi, tolong kerja samanya..." Li Hao tersenyum, sementara Ming Na mengangguk kuat untuk menanggapinya.


***


Hari pertama latihan, Li Hao mengajari Ming Na untuk memasang kuda-kuda dengan benar sekaligus menjelaskan dasar-dasar tentang kultivator.


Li Hao cukup terkejut karena Ming Na adalah orang yang dapat dengan mudah belajar, dia bahkan mengingat setiap kalimat dari penjelasannya dan tidak tertinggal satu kata pun.


Setelah hari pertama terlewati, Li Hao akhirnya mengajari Ming Na melakukan kultivasi dasar, dan gadis cantik itu mampu menyerap energi di sekitarnya usai bermeditasi selama beberapa jam saja.

__ADS_1


Ming Na akhirnya resmi menjadi seorang kultivator setelah berhasil mencapai ranah pertamanya, Forging Qi bintang satu.


Li Hao kemudian memberikan beberapa sumber daya yang menurutnya tidak diperlukannya, dan hal itu membuat kecepatan kultivasi Ming Na meningkat.


Dalam seminggu, Ming Na berhasil mencapai ranah Forging Qi bintang empat. Bisa dibilang, gadis itu tergolong jenius dalam hal kultivasi karena dia bisa naik secepat ini dengan sumber daya seadanya.


Li Hao tidak hanya mengembangkan basis kultivasinya, tetapi juga kemampuan bertarungnya. Karena Ming Na memutuskan untuk memakai pedang, jadi tidak sulit bagi Li Hao untuk melatihnya.


Dua minggu terlewati begitu saja dan kemampuan Ming Na dalam berpedang sudah tergolong cukup baik, dengan kemampuan barunya tersebut dia sudah bisa membunuh beberapa binatang spiritual yang buas.


Li Hao terus melatih kemampuan ilmu pedang Ming Na, dia juga melatih fisiknya supaya kemampuannya bisa tersalurkan dengan baik.


Selama satu bulan penuh Li Hao terus melatih Ming Na, dan hari ini adalah hari terakhir mereka berdua berlatih.


Ming Na saat ini berada di ranah Forging Qi bintang enam, meskipun basis kultivasinya tidak ada perkembangan dalam dua minggu terakhir tetapi ilmu bela dirinya saat ini sudah cukup hebat. Itu karena, Li Hao mewariskan teknik Tinju Petir Merah dan Gerakan Pertama dari Tujuh Gerakan Bintang.


"Hari ini aku akan menguji kemampuanmu, jadi jangan ragu untuk mengeluarkan seluruh kemampuanmu saat ini." Li Hao mengeluarkan pedang Angin dari inventorynya saat berkata demikian.


"Baik, Guru." Ming Na mengangguk kuat sembari menggenggam pedangnya menggunakan kedua tangan.


"Mulai..." ucap Li Hao dengan suara pelan.


Whooosh!


Ming Na bergerak maju dan mulai menyerang Li Hao secara agresif, tentu saja pemuda itu menangkis seluruh serangannya dengan mudah dan membalikkannya tanpa berkedip sekalipun.


Ming Na langsung dibuat kesulitan saat Li Hao mulai berbalik menyerangnya, tetapi ia tidak menyerah begitu saja dan memakai beberapa tipuan agar bisa melayangkan serangan telak.


Namun, Li Hao bukanlah pemula yang bisa ditipu dengan trik murahan, pengalaman bertarungnya sudah banyak jadi tipuan yang dilakukan Ming Na sama sekali tidak berguna.


"Tapi, untuk seseorang yang baru memasuki dunia pertarungan seperti ini, dia benar-benar baik dalam segala aspek. Kekuatan, kecepatan dan akurasinya sangat membuatku terpukau..." Li Hao berkata dalam hati, "Ming Na mungkin bisa melampaui kultivator seusianya, bahkan menyaingi jenius-jenius muda meskipun dengan keterlambatannya."


Li Hao sebenarnya ingin melatih Ming Na lebih lama lagi mengingat potensinya yang luar biasa, namun rumor yang ia dengar dari anggota sekte Danau Suci yang masih menjaga desa membuatnya tidak bisa berlama-lama di desa ini.


Bersambung.....


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.

__ADS_1


__ADS_2