Terjebak Di Dunia Kultivator

Terjebak Di Dunia Kultivator
Kota Tianjin


__ADS_3

Setelah menerima informasi rute terdekat untuk keluar dari hutan ini, Li Hao mengucapkan rasa terima kasihnya dan pergi dari sana dengan tenang.


Sementara, beberapa singa jantan yang berada di ranah Golden Core merasa tidak terima jika manusia itu bisa keluar hidup-hidup setelah melakukan perbuatan yang keji selama tinggal di hutan ini.


"Kekuatan adalah segalanya. Jika kau lemah, jangan berbicara omong kosong..."


"Tapi kenapa, Tuan!? Bukankah dengan kekuatan tempur kita saat ini, kita mampu menghabisinya?"


"Ya, kita bisa. Namun, sesuai dengan perkataannya, kita akan menerima kerugian yang besar jika berperang dengannya." jawab singa Nascent Soul, lalu memberikan tatapan tajam pada yang bertanya, "Setelah kita menerima kerugian sebanyak itu, apa kau bisa bertanggung jawab jika kelompok lain memanfaatkan kesempatan ini untuk datang dan menghabisi kita semua?"


Singa Golden Core itu langsung diam membeku sebelum menggeleng kecil, "Maafkan saya, Tuan."


"Sudah, lupakan saja. Kita harus bersiap untuk perluasan wilayah, jangan sampai kelompok lain tau kalau manusia itu telah pergi dari sini dan meninggalkan wilayahnya."


"Kami mengerti!"


***


Di sisi lain, setelah meninggalkan wilayah singa taring besi, Li Hao terus bergerak menuju timur laut. Rute ini akan mengarahkannya ke belasan gunung yang memisahkan Hutan Tanpa Ujung dengan Kota Tianjin.


Kota Tianjin sendiri termasuk kota terbesar di Daratan Surgawi, namun kota itu tidak sebesar kota Luoyang dan bisa dibilang memiliki ukuran paling kecil jika dibandingkan dengan kota besar lainnya. Meskipun begitu, kota Tianjin memiliki kekuatan tempur yang melebihi kota Luoyang karena kota itu termasuk wilayah kekuasaan dari sekte Seribu Pedang.


Meskipun termasuk wilayah dari sekte aliran putih bintang sepuluh, kota Tianjin bisa dianggap sebagai kota netral karena dapat diakses oleh siapa saja, termasuk mereka yang berasal dari aliran hitam. Alasan utamanya adalah karena pertimbangan bisnis, jika sekte Seribu Pedang menutup kota Tianjin dari aliran hitam, maka pendapatan mereka yang sekarang akan turun hingga setengahnya.


Li Hao merasa bersyukur karena bisa mendapatkan informasi berharga ini, dengan begitu ia bisa mengisi kembali perlengkapannya yang sudah habis di inventory. Selain itu, ia berencana untuk membeli beberapa topeng wajah agar keberadaannya sulit dilacak ketika si dalang di balik insiden penyerangan kota Luoyang terungkap.


Selama satu minggu penuh, Li Hao terus bergerak ke arah timur laut tanpa mengubah arah perjalanannya. Setiap harinya, ia hanya beristirahat selama dua jam saja sehingga memungkinkannya untuk keluar dari Hutan Tanpa Ujung dalam waktu yang relatif singkat.


Setelah melalui perjalanan panjang, akhirnya Li Hao bisa melihat rentetan gunung yang seperti sebuah tembok.


"Terlihat juga..." Li Hao tersenyum senang dan mempercepat lesatannya.


Li Hao berhasil keluar dari Hutan Tanpa Ujung dalam lima menit setelah menemukan keberadaan gunung-gunung itu.


"Haaa... Sepertinya aku harus istirahat penuh untuk memulihkan kondisiku."

__ADS_1


Rasa semangat Li Hao menjadi pudar karena dirinya harus melewati beberapa gunung untuk bisa sampai ke kota Tianjin.


Li Hao kemudian berbaring di atas batu besar yang ditemukannya setelah keluar dari Hutan Tanpa Ujung, melihat matahari pagi yang disertai dengan angin sejuk cukup membuatnya mengantuk.


"Hm, aku entah kenapa jadi khawatir dengan tuan Yang Pung. Apa dia akan baik-baik saja jika memberitahukan 'siapa' dalang dari insiden itu ke semua orang?" Li Hao bertanya-tanya dalam hati, "Yah, aku yakin dia akan baik-baik saja. Sekte Lotus Hitam terlalu sibuk untuk mengurusnya, apalagi dia juga berasal dari sekte bintang sepuluh."


Li Hao kemudian memikirkan banyak hal yang mungkin akan terjadi di masa depan, lalu membuka layar statusnya karena sudah cukup lama tidak melihatnya.


[ Nama: Li Hao


Umur: 19 Tahun


Level: 216


Basis Kultivasi: Golden Core bintang 8


Statistik


Strength: 285 Vitality: 235


SP: 0 ]


"Haaa... Semakin tinggi levelku, aku juga semakin sulit untuk naik level. Mungkin aku perlu membantai miliaran makhluk hidup supaya bisa naik ke ranah Immortal dengan tubuh fisik yang luar biasa." Li Hao tertawa kecil saat mengatakan itu, namun di detik selanjutnya raut wajahnya berubah menjadi suram, "Tunggu, jangan bilang aku memang harus membantai miliaran makhluk hidup terlebih dahulu agar bisa mencapai puncak?"


Li Hao menjadi kepikiran tanpa disengaja, dan kepalanya mulai terasa sakit sehingga dirinya memutuskan untuk membuang pikiran itu jauh-jauh.


......................


Seharian penuh, Li Hao beristirahat untuk bisa mengembalikan kondisi primanya. Setelah waktu berlalu, ia melanjutkan perjalanan dengan berlari mendaki gunung.


Bagi Li Hao, mendaki gunung bukanlah perkara yang sulit baginya. Namun, ia harus melewati beberapa gunung untuk bisa sampai ke kota dan kemungkinan dirinya akan sampai saat malam tiba.


Sepanjang perjalanan, Li Hao sama sekali tidak bertemu dengan satupun binatang spiritual karena medan gunung sama sekali bukan tempat yang cocok untuk dijadikan tempat tinggal.


Saat ini, Li Hao sedang berdiri di puncak gunung terakhir sembari memandangi kota luas di depannya yang terlihat terang.

__ADS_1


"Wah, bukankah kota ini cukup ramai? Mungkin keramaiannya tidak jauh berbeda dengan kota Luoyang." Li Hao bergumam, berkat mata Hunter Eye miliknya ia jadi bisa melihat suasana di kota Tianjin meskipun tidak terlalu jelas.


Li Hao kemudian segera turun dari gunung karena sudah tidak sabar untuk menyewa penginapan dan tidur di kasur yang empuk setelah sekian lama.


Ketika Li Hao sudah hampir mencapai gerbang kota, beberapa penjaga yang berjaga di sana langsung bersikap waspada karena mereka tau kalau ia memiliki basis kultivasi di ranah Golden Core.


"Selamat malam, Tuan. Apakah anda adalah pendatang baru?"


Seorang penjaga pria yang tampaknya sudah berusia paruh baya mendekati Li Hao dan bertanya dengan sopan.


"Ya, begitulah..." Li Hao langsung mengangguk kecil.


"Maafkan saya jika tidak sopan, namun bisakah saya mengetahui anda datang darimana?"


"Aku baru saja keluar dari hutan Tanpa Ujung, aku kemari karena ingin beristirahat sambil mengisi ulang perlengkapanku yang sudah habis."


"Hutan Tanpa Ujung...?" penjaga yang bertanya terkejut, begitupula dengan teman-temannya yang diam-diam ikut menguping, "Kalau begitu, silahkan masuk. Selamat datang dan tolong patuhi peraturan kota, maaf karena telah menyita waktu anda."


Li Hao hanya mengangguk kecil untuk menanggapi itu, ia berjalan melewati para penjaga dan masuk ke dalam kota.


"Ternyata masuk ke kota ini gratis, ya?" Li Hao perlahan tersenyum tipis, setelah melewati gerbang ia bisa menemukan beberapa papan pengumuman yang berisikan tentang peraturan kota.


Papan tersebut sebenarnya tidak wajib untuk dibaca, namun orang yang melanggar harus menerima konsekuensinya tanpa boleh menolak.


Li Hao sendiri tentu membacanya untuk berjaga-jaga, ia bisa mengingatnya dalam sekali lihat sehingga tidak perlu baginya untuk berdiam diri di sana terlalu lama.


Suasana kota Tianjin bisa dibilang cukup ramai untuk waktu yang sudah malam, masih banyak orang-orang yang berjualan meskipun hampir sebagian telah tutup.


Li Hao menanyakan letak penginapan yang bagus pada salah seorang pedagang ketika membeli jualannya, dan ia mendapatkan informasi kalau ada penginapan bernama 'Ombak Biru' yang tidak jauh dari tempatnya berada.


Penginapan ombak biru adalah penginapan yang dibangun langsung oleh sekte Seribu Pedang, penginapan ini masuk ke dalam seratus penginapan terbaik di Daratan Surgawi.


Li Hao merasa tertarik usai mendapatkan informasi itu, ia kemudian memutuskan untuk tinggal di penginapan Ombak Biru selama berada di kota ini.


Bersambung.....

__ADS_1


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.


__ADS_2