
Xue Jian langsung mengumpat ketika melihat Li Hao dengan sengaja memasuki jalanan sempiat, tanpa berpikir dua kali dia langsung mengikuti pemuda itu dengan Niat Membunuh yang terus merembes keluar dari tubuhnya.
Li Hao mengetahui kalau Xue Jian masih mengejarnya, ia mengalirkan Qi lebih banyak lagi ke teknik Immune Step-nya dan membuat kecepatannya meningkat seiring banyaknya Qi yang dialirkan.
Sementara, warga kota Qibao mulai menyadari kalau ada keributan di pusat kota. Mereka merasakan Niat Membunuh mengerikan yang tidak diketahui darimana asalnya, dan juga mendengar suara ledakan beruntun yang membuat perasaan takut timbul di hati mereka.
Bagi mereka manusia biasa, peristiwa yang terjadi saat ini terjadi begitu saja tanpa ada penyebabnya. Namun, berbeda bagi mereka yang berada di jalan kultivator, mereka tau kalau hal ini terjadi karena ada pertikaian di antara kultivator kuat.
Meskipun begitu, sebagian besar dari mereka tidak mengetahui kalau peristiwa itu hanya disebabkan oleh dua orang saja, itu karena mata mereka tidak mampu mengikuti kecepatan dari kedua kultivator tersebut.
Kekacauan yang terjadi semakin membesar, sehingga para warga di sekitar area tersebut mulai menghentikan aktivitas mereka dan masuk ke dalam rumah hingga situasi menjadi aman dan terkendali.
***
"Apaaa?! Beraninya mereka membuat kekacauan di kota yang dilindungi sekte Danau Suci!"
Seorang kakek tua yang merupakan Nascent Soul bintang sebelas menggeram marah ketika mendengar kabar kalau ada keributan yang terjadi di kotanya.
"Kakek, sepertinya kultivator-kultivator itu berbahaya. Sebaiknya kita menunggu di sini sampai bantuan dari sekte Danau Suci datang..." seorang pemuda di ranah Golden Core bintang tiga berkata dengan raut wajah serius.
"Shao'er, kota Qibao adalah kota di mana kita berdua lahir. Apa kamu mau diam saja kalau tempat ini hancur karena ulah mereka?"
"Tapi..." pemuda itu merasa sedikit khawatir, namun melihat kakeknya tersebut tersenyum membuatnya mengangguk paham, "Baiklah, aku percaya padamu, Kek. Aku akan mengumpulkan prajurit kota untuk membantu menahan mereka..."
"Tidak perlu melakukan itu, kakek saja cukup..." ucap kakek tua tersebut, lalu menimpalinya, "Lebih baik mulai evakuasi penduduk di sekitar pusat kota untuk berjaga-jaga."
"Aku mengerti, berhati-hatilah, Kek."
"Tentu saja, aku akan kembali."
Setelah berkata demikian, kakek tua tersebut langsung menghilang dari tempatnya dalam sekejap. Sementara, pemuda itu segera keluar dari ruangan yang merupakan bagian dari bangunan sederhana dan mengumpulkan prajurit kota untuk mengevakuasi para warga.
***
__ADS_1
"Sialan, ini lebih sulit dari yang kubayangkan." Li Hao mengumpat dalam hatinya, "Mau kemanapun aku pergi, dia bisa menyusulku dengan cepat. Kalau begini terus, aku tidak bisa menggunakan kunci dungeon..."
Li Hao setidaknya butuh setengah menit untuk menggunakan kunci dungeon, namun ia tidak bisa melakukannya karena kecepatan mereka tidak berbeda terlalu jauh.
"Aku har-"
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Li Hao dibuat terkejut oleh seorang kakek tua yang tiba-tiba saja muncul beberapa puluh meter di depannya.
"Sial!"
Li Hao langsung menghentikan larinya tetapi karena kecepatannya yang tinggi jadi sulit untuk melakukannya, sedangkan kakek tua itu mengangkat tangan kanannya dan menangkap leher pemuda yang datang ke arahnya dengan mudah.
"Keeeugh!"
Li Hao melebarkan matanya karena lehernya terasa sangat sakit setelah diberhentikan secara paksa seperti itu, ia mencoba melepaskan cengkraman kakek tua itu tetapi dirinya tidak mampu melakukannya.
"Siapa kau..." kakek tua itu bertanya, sorot matanya terlihat dingin.
"Jangan menghalangiku, tua bangka. Setelah menangkap anak itu, aku akan keluar dari kota ini dengan tenang..." Xue Jian berkata sembari menunjuk ke arah Li Hao yang sedang tercekik.
"Setelah membuat kekacauan di kota ini, kau ingin pergi begitu saja? Aku tidak akan membiarkan itu..." ucap kakek tua itu, lalu bertanya, "Siapa kalian berdu- Ah, siapa kalian semua, huh?"
Sesaat setelah bertanya demikian, sepuluh orang bermantel hitam muncul di sana dan mengelilingi mereka dengan tangan yang sudah menggenggam senjata masing-masing.
"Tidak perlu kau tau siapa kami, cepat berikan anak itu dan akhiri ini dengan damai..." ucap Xue Jian dengan suara lantang, namun masih berusaha menyembunyikan Niat Membunuh yang sebelumnya terus merembes kemana-mana.
"Haaa... Kenapa anak-anak jaman sekarang tidak punya sopan santun?" kakek tua itu menghela nafas panjang melalui mulutnya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Li Hao, "Nak, siap- Tunggu, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Kakek tua itu sedikit mengerutkan alisnya melihat raut wajah Li Hao yang tampak familiar, namun meski begitu dia tidak bisa mengingatnya dengan jelas.
"Bertemu...?" Li Hao tidak langsung menjawab untuk memikirkannya, "Apa mungkin saat Turnamen Bebas di kota Luoyang?"
"Turnamen Bebas...." kakek tua itu terdiam sejenak sebelum memperlihatkan raut wajah seperti mengingat sesuatu, "Ah! Benar, kau adalah pemuda bernama Li Hao, bukan?! Pemuda yang dijuluki sebagai pahlawan kecil karena telah berani berhadapan dengan seorang Nascent Soul demi bisa mengulur waktu?"
__ADS_1
Mendengar ucapan antuasias dari kakek tua tersebut, Li Hao langsung melihat sebuah kesempatan.
"Ya, itu benar. Saya adalah Li Hao, apa kakek mengenal saya?" Li Hao menjawab setelah kakek tua itu melepas cengkeramannya.
"Tentu saja! Cucuku sangat mengagumimu. Waktu itu, kami berdua menonton turnamen dan kagum dengan kemampuanmu saat tampil di arena. Apalagi, setelah mendengar kabar mengenai aksi heroikmu di kota Luoyang membuat cucuku menjadi lebih giat berlatih agar bisa sehebat dirimu!"
"Hahaha... Benarkah? Aku jadi senang." Li Hao menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia sedikit tak menyangka kalau kakek tua itu jauh lebih antusias dari perkiraannya.
"Hei, kalian berdua! Aku masih ada di sini, sialan!" Niat Membunuh merembes keluar dari tubuh Xue Jian, dia tampak marah karena merasa keberadaannya diabaikan.
"Seharusnya kau menjawab pertanyaanku terlebih dahulu..." kakek tua itu menggeleng pelan sebelum aura Nascent Soul bintang sebelas merembes keluar dari tubuhnya, "Kenapa orang-orang dari aliran hitam seperti kalian mengejar pemuda ini?"
"Haaa... Apa kau ingin membuat kota ini menjadi lautan darah? Aku sama sekali tidak keberatan jika harus membunuh orang-orang di sini." Xue Jian berkata, perkataannya serius.
"Lautan darah...? Tentu aku tidak mau, tapi aku juga tidak ingin membiarkan orang yang membuat keributan di kota ini pergi begitu saja tanpa adanya tanggung jawab."
"Tanggung jawab katamu? Untuk apa aku melakukannya?" Xue Jian mendengus kecil, lalu aura Nascent Soul bintang empat belas dari tubuhnya, "Aku akan membunuhmu di sini dan mengambil bocah itu."
"Meskipun basis kultivasimu ada di ranah Nascent Soul bintang 14, apa kau pikir bisa mengalahkan aku, Dang Tun, yang merupakan Tetua Inti sekte Danau Suci?!" kakek tua itu juga mengeluarkan aura kultivasinya, membuat kedua aura kuat tersebut saling berbenturan dan menciptakan gelombang angin yang kuat.
Li Hao merasa sesak nafas ketika berada di dekat mereka berdua, ia perlahan menjauh supaya tidak menjadi beban bagi kakek tua itu dan mencari momen yang tepat untuk menggunakan kunci dungeon.
Bersambung....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.
Note: Sorry guys, Author jarang update karna kemalasan yang sedang memuncak. Mungkin tanggal 3 atau 4 bakal diusahain update dua kali sehari untuk karya ini, dan karya Shin Yu sehari sekali atau dua hari sekali.
Author bakal sebisa mungkin tamatin tiga karya yang tersisa, tapi itu butuh waktu.
Minal 'Aidin Wal-faidzin, mohon maaf lahir dan batin.
Maaf kalau telat.
__ADS_1