Terjebak Di Dunia Kultivator

Terjebak Di Dunia Kultivator
Kota Luoyang


__ADS_3

Keesokan harinya.


Sebelum kembali melanjutkan perjalanan, mereka bertiga mengisi perut terlebih dahulu supaya tidak lapar saat siang nanti.


Tidak banyak pembicaraan yang keluar ketika mereka sedang mengisi perut. Setelah selesai, Li Hao memadamkan api unggun yang masih menyala dan ketiganya mulai melakukan perjalanan.


"Sudah hampir dua bulan, tapi aku masih belum mendapatkan misi system lagi." Li Hao berkata dalam hati sembari melihat layar statusnya, "Apa karena ucapanku waktu itu, ya? Tapi tidak mungkin, ah."


"Beberapa hari terakhir ini kau seringkali melamun, ada apa?" Diao Chan yang berjalan di belakang Li Hao bertanya.


"Hm, kau memperhatikanku?" Li Hao tentu menyadari kalau pertanyaan itu ditunjukkan padanya.


"Kau ada di depanku, jadi kau masuk ke dalam area yang kulihat, bodoh." Diao Chan berkata dengan nada kesal, tetapi pipinya sedikit merah merona.


"Padahal aku hanya bertanya, sudah gila emang." Li Hao menggeleng pelan saat menggumamkan hal itu.


"Apa yang kau katakan?!" meskipun hanya samar-samar, Diao Chan masih bisa mendengarnya.


"Tidak ada, kau salah dengar." Li Hao menoleh ke arah belakang sembari menunjukkan ekspresi datar, lalu menjawab pertanyaan wanita itu, "Aku hanya sedang memikirkan masa depanku nanti..."


"Masa depan? Ah, kalau tidak salah ingatanmu hilang saat mengembara, bukan?"


"Ya? Kenapa tiba-tiba membahas itu?"


"Apa kau mau aku bantu mencari keluargamu? Aku bisa menyewa beberapa informan saat kita berada di kota Luoyang nanti."


"Informan?"


"Informan itu adalah orang-orang yang menjual informasi di Daratan Surgawi. Pertama-tama mereka akan mencari informasinya, lalu menjualnya ketika ada seseorang yang membutuhkannya."


"Begitu..." Li Hao mengangguk paham setelah mendengar penjelasan Diao Chan, "Tapi aku tidak butuh bantuanmu, aku akan mencari informasi tentang keluargaku dengan usahaku sendiri."


"Apa alasannya?"


"Alasannya? Tentu saja itu hanya keinginanku saja."


"Kau sungguh aneh, Li Hao."

__ADS_1


"Hahaha... Benarkah?" Li Hao tertawa canggung sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tidak mungkin baginya untuk meminta bantuan pada Diao Chan, karena mau sekeras apapun usaha para informan itu-- mereka tidak akan menemukan keluarganya, karena pada dasarnya ia bukan berasal dari dunia ini.


"Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu..." Diao Chan sedikit menyipitkan mata, tetapi dirinya tidak akan menanyakan lebih jauh.


"Omong-omong, masa depan apa yang kamu pikirkan, paman?" Wei Han yang sedari tadi menyaksikan dalam diam bertanya karena penasaran.


"Hm, masa depan yang kupikirkan?" Li Hao sedikit mengangkat alisnya sebelum pandangannya kembali ke arah depan, "Aku memikirkan... Bagaimana dan kapan aku akan mati."


Wei Han tentu terkejut mendengar itu, begitupula dengan Diao Chan.


"Benar-benar deh, apa yang kau pikirkan sampai memikirkan hal itu?" Diao Chan entah kenapa merasa sangat kesal dengan jawaban dari pemuda itu.


"Masa depan yang pasti adalah kematian, itu adalah pengetahuan umum, bukan?" Li Hao tersenyum tipis saat mengatakannya.


Sebenarnya itu hanya jawaban palsu Li Hao, ia tidak mungkin bisa memberitahu mereka kalau dirinya sedang memikirkan tentang misi system.


"Hmph! Abaikan saja dia, Wei Han kecil. Otaknya mungkin sudah rusak karena tidak tidur semalaman." Diao Chan mendengus kesal saat mengatakan itu.


Sedangkan Wei Han sendiri hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia tidak menyangka kalau pertanyaan sederhananya akan membuat mereka berdua bertengkar.


***


"Woah... Megah sekali." Li Hao yang melihat kota Luoyang dari kejauhan tidak bisa untuk tidak berdecak kagum, "Bahkan luas kota ini lebih luas dari kota yang kutinggali sewaktu di bumi.".


Tidak hanya Li Hao saja yang kagum dengan luas serta indahnya kota Luoyang, Diao Chan dan Wei Han juga bereaksi sama.


"Kalian berdua juga baru pertama kali ke kota ini?" Li Hao yang melihat reaksi mereka berdua langsung bertanya.


"Ya, paman." Wei Han mengangguk antusias.


"Aku hanya keluar dari sekte jika ada misi penting saja, selain itu-- aku tetap berada di kediamanku dan berlatih." Diao Chan ikut menjawab, dan artinya ia sama sekali belum pernah ke kota Luoyang.


Li Hao hanya tersenyum tipis dan tidak bertanya lebih jauh, ia mulai melangkahkan kakinya ke gerbang timur kota Luoyang.


Perlu diketahui, kota Luoyang mempunyai empat tembok besar yang terbuat dari material langka. Setiap temboknya mempunyai ketinggian sekitar dua ratus meter dan tentu saja membuat tembok itu sangat sulit untuk dipanjat, kecuali kalau mereka adalah kultivator Nascent Soul.


Antrian untuk memasuki kota tersebut sangatlah panjang, dan sebagian besar dari mereka adalah seorang Kultivator.

__ADS_1


"Sepertinya mereka datang untuk mendaftar Turnamen bebas..." Li Hao bergumam, tetapi suaranya dapat didengar oleh Diao Chan yang berada di sampingnya.


"Ya, kau benar. Tetapi dengan melihat ini, aku jadi tidak terlalu percaya diri untuk bisa mencapai seratus besar..." Diao Chan mengangguk pelan.


Li Hao tidak menghiraukan itu dan kemudian bertanya, "Omong-omong, bagaimana caranya menemukan orang kepercayaan ayahmu itu?"


"Aku dengar kalau kakakku akan menginap di salah satu penginapan megah yang ada di tembok ketiga dari bagian dalam. Mungkin kita akan mencoba mencarinya di sana." Diao Chan langsung menjawab.


Tembok pertama adalah tembok yang melindungi tengah kota Luoyang, dan di sana adalah tempat berdirinya pusat Lima Menara Naga.


"Oi, bajingan! Kau berniat mencuri uangku, ya?!"


"Apa maksudmu, sialan?! Kenapa juga aku mencuri uangmu?"


"Dasar bedebah ini, masih tidak mau mengaku kau?!"


Ketika Li Hao sedang memperhatikan suasana di sekitarnya, ia sedikit terkejut ketika mendengar suara keributan dari antrian depan.


Seorang pria berbadan kekar, dan satunya lagi adalah seorang pemuda berjubah hitam yang tidak memiliki otot menonjol di tubuhnya.


"Akhirnya ada yang ribut..." raut wajah Diao Chan berubah menjadi antusias ketika melihat keributan tersebut.


Li Hao langsung menoleh ke arah kanan dan memasang ekspresi datar, "Pantas saja kita sering ribut, ternyata kau memang menyukainya."


"Ha? Kita seringkali ribut karena kau adalah orang bodoh." Diao Chan jelas tidak terima dengan pernyataan pemuda itu.


Li Hao mendengus pelan, tingkah Diao Chan yang sekarang jelas membuat bukti kuat perkataanya barusan. Ia tidak berniat menanggapinya lebih jauh karena malas untuk berdebat, perhatiannya kembali ke arah keributan yang berada di depannya.


"Kenapa tidak ada yang melerai mereka, ya?" Wei Han bertanya-tanya setelah melihat situasi tak kunjung berhenti.


"Karena tidak baik ikut campur dalam urusan orang lain, selama tidak ada hubungannya dengan kita-- ada baiknya untuk mengamati situasinya saja." Li Hao menjawab sembari memegang kepala Wei Han, "Tapi, kalau mereka berusaha saling membunuh dan mengganggu orang yang sedang mengantri saat ini. Cepat atau lambat orang lain akan campur tangan..."


"Jadi, kalau hal semacam itu terjadi lagi-- apa aku boleh meleraikannya?" Wei Han bertanya penasaran.


"Jangan... Itu akan membuatmu terlibat dalam masalah yang merepotkan, jika salah satu dari mereka tidak terima dengan keterlibatanmu-- maka urusannya akan menjadi semakin besar." Li Hao menjawab, lalu melanjutinya dengan tenang, "Tapi kalau kau lebih kuat dari mereka, coba untuk melerainya dan berhenti ikut campur ketika nyawamu sudah terancam."


"Begitu, ya." Wei Han menganggukkan kepalanya paham, dan ia akan terus mengingat kata-kata itu di dalam otaknya.

__ADS_1


Bersambung.....


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.


__ADS_2