
"Aku tidak pernah berpikir akan ada orang asing yang menawariku makanan, enyahlah..."
Mendengar perkataan dingin yang diberikan wanita cantik itu, Li Hao sama sekali tidak memudarkan senyumannya.
"Kalau begitu, apakah kau mau berkenalan denganku?" Li Hao bertanya, dan membuat Diao Chan yang mendengarnya terbatuk.
"Tidak." jawabnya acuh tak acuh, lalu berkata, "Jika kau melakukan semua ini hanya untuk dia, lebih baik hentikan."
Dia yang dimaksud oleh wanita tersebut pastilah Diao Chan, tetapi Li Hao langsung menggelengkan kepalanya pelan, "Aku hanya murni ingin menawarkan bakpau hangat ini padamu, apa kau ini tipe orang yang suka membuang-buang makanan?"
Wanita itu menatap pemuda tersebut dengan tatapan dingin, "Aku sungguh tidak mengerti, tujuanmu bertindak seperti ini."
"Hm, apakah perkataanku sebelumnya kurang jelas? Aku berbicara padamu hanya untuk menawarkan bakpau ini, itu saja." Li Hao menjelaskan dengan tenang.
"Kalau begitu, enyahlah... Aku tidak mau bakpau itu."
"Nah, baiklah. Aku tidak akan memaksamu." Li Hao tersenyum tipis, lalu memakan semua bakpau di tangannya dengan lahap.
Melihat itu, kakak perempuan Diao Chan hanya diam dan kembali memejamkan matanya.
Li Hao sendiri tidak mengatakan apa-apa, ia kemudian bersender di dinding dan baru menyadari kalau ada beberapa kelompok yang sedang memandanginya dengan tatapan tajam.
Meskipun tidak tau isi pembicaraan yang mereka lakukan, Li Hao bisa memperkirakan kalau mereka sedang membicarakan dirinya.
"Hei, perasaanku saja atau mereka memang mereka sedang membicarakanku?" Li Hao bertanya sambil melirik ke arah Diao Chan yang berada di sampingnya.
"Perasaanmu saja kali, sudahlah jangan ganggu aku." Diao Chan berkata tanpa melihat ke arah yang dimaksud Li Hao, kepalanya sedari tadi terus menunduk ke lantai.
Li Hao yang melihat kekesalan Diao Chan belum mereda hanya menghela nafas panjang, ia tidak lagi mempedulikan tatapan tajam yang datang dari berbagai kelompok itu dan matanya mengarah ke batu transmisi berada.
......................
Satu batang dupa terbakar.
Ketika Li Hao sedang melihat layar statusnya, sebuah layar di batu transmisi muncul dan memperlihatkan lapangan luas yang lantainya terbuat dari batu.
"Kalau dilihat-lihat tempat ini mirip seperti stadion bola, ya." Li Hao bergumam setelah menyingkirkan layar statusnya.
Beberapa saat kemudian, seorang kakek tua tiba-tiba saja muncul di atas langit tengah lapangan tersebut. Penampilannya terlihat biasa saja, dia melipat kedua tangannya di belakang pinggang bawah dan memasang senyum yang hangat.
__ADS_1
"Perkenalkan, saya adalah Zhan Bao Jie. Saya adalah salah satu Ketua dari Lima Menara Naga, yang menyelenggarakan Turnamen ini."
"Saya di sini ingin mengumumkan kalau Turnamen akan dimulai sebentar lagi. Saya harap, kalian yang berada di Aliran Putih maupun Hitam bisa bekerja sama dan menyampingkan perasaan pribadi masing-masing."
Itu artinya, Zhan Bao Jie secara tidak langsung mengingatkan mereka untuk tidak membuat keributan selama Turnamen berlangsung.
Zhan Bao Jie kemudian melakukan pidato singkat, kemudian mengakhirinya dengan berkata, "Kalau begitu, tidak perlu membuang-buang waktu lagi... Mari kita mulai Turnamennya sekarang!"
Seruan Zhan Bao Jie bergema di seluruh sisi stadion, sesaat setelah itu kubah pelindung transparan muncul dan menutupi lapangan secara menyeluruh.
Para penonton menjadi tidak sabar ketika melihatnya, beberapa orang yang diperkirakan adalah wasit juga mulai bermunculan di lapangan.
Zhan Bao Jie tetap melayang di udara setelah kubah transparan lapangan yang ada di bawahnya, karena dia adalah pembawa acara Turnamen ini-- jadi dirinya diberikan tugas untuk memanggil setiap nama peserta yang berpartisipasi dalam Turnamen.
Meskipun hal ini adalah sebuah tugas yang merepotkan, Zhan Bao Jie tidak menunjukkan tanda-tanda mengeluh atau ketidakpuasan.
Nama para peserta mulai dipanggil oleh Zhan Bao Jie. Karena jumlah peserta yang ikut dalam Turnamen ini berjumlah 500 orang, pada hari pertama lima pertandingan akan diadakan secara bersamaan.
Jumlah peserta akan berkurang drastis saat hari kedua, dan pihak Turnamen akan mengadakan dua pertandingan saja dalam waktu yang sama.
Pada hari terakhir, pertandingan yang diadakan hanya satu saja. Tentu saja itu dikarenakan jumlah peserta sudah berkurang banyak dan diperkirakan Turnamen akan selesai pada waktu sore hari.
"Hei, kau... Bisakah kau berikan tempat dudukmu itu?"
Sebuah suara yang cukup berat terdengar, awalnya Li Hao mengabaikan itu karena tidak berpikir kalau dirinya adalah orang yang diajak bicara, kemudian orang tersebut mengulangi perkataannya dengan nada yang sedikit lebih kuat dari sebelumnya.
"Maaf, apakah kau sedang berbicara padaku?" Li Hao bertanya sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri menggunakan jari telunjuk tangan kanannya.
"Ya, aku berbicara padamu." pemuda berwajah tampan itu menganggukkan kepalanya sekali, dia mempunyai tubuh ramping yang sedikit kekar dan tingginya mungkin setara dengan Li Hao.
"Pertanyaanmu itu... Kenapa aku harus memberikannya padamu?" Li Hao sedikit memiringkan kepalanya.
"Karena kau tidak berhak duduk di sana."
Wow...
Jawaban dari pemuda tampan itu membuat Li Hao berdecak kagum, "Kau sungguh arogan rupanya, apa alasannya aku tidak berhak duduk di kursi ini? Sejauh dari yang kulihat, tidak ada aturan dari pihak Turnamen yang melarangku untuk duduk di tempat ini."
"Memang tidak ada, aku mengatakan itu berdasarkan diriku sendiri."
__ADS_1
"Jadi kau sendiri yang bilang kalau aku tidak berhak duduk di sini? Kalau begitu, enyahlah... Kau sungguh menggangguku." Li Hao melambaikan tangan kanannya seperti sedang mengusir serangga.
Mendengar tanggapan Li Hao yang sedikit di luar ekspetasinya membuat raut wajah pemuda tampan itu sedikit mengeras.
"Aku akan bilang untuk yang terakhir kalinya... Pergilah dari tempat duduk itu."
"Heeh... Kalau aku tidak mau, apa kau mau melakukan intimidasi atau semacamnya?"
"Ya, begitulah..."
Ketika pemuda tampan itu memberikan tatapan dingin pada Li Hao, semua orang dari beberapa kelompok ikut menatapnya dengan tatapan yang serupa.
Menyadari semua itu membuat Li Hao tersenyum lebar, ternyata semenarik dan setegang ini ketika mendapatkan banyak tekanan dari berbagai pihak.
"Aku jadi menyadari perasaan karakter dalam novel ketika ada suasana semacam ini, tidak mengherankan jika sebagian besar dari mereka sangat senang dengan situasinya." Li Hao berkata dalam hati, lalu menyandarkan badannya, "Begini saja, berikan alasanmu ingin duduk di sini. Jika kau memberitahuku alasannya, aku mungkin akan menuruti kemauanmu dan pindah dari sini..."
"Ditolak."
Li Hao mengangguk beberapa kali, lalu berkata dengan acuh tak acuh, "Maka, kau tidak akan bisa duduk di sini. Maaf, ya."
Li Hao perlahan memejamkan matanya usai mengucapkan itu, tapi matanya kembali terbuka ketika menyadari sebuah tinju melesat ke wajahnya dan berhenti 1 cm sebelum mengenainya.
"Apa kau masih tidak mengerti dengan apa yang kukatakan?" pemuda tampan itu sedikit mengeluarkan niat membunuh, "Untuk serangan selanjutnya, pasti tidak akan berhenti."
Li Hao menghela nafas dan untuk pertama kalinya matanya menatap tajam pemuda di depannya, ketika ia hendak berbicara-- wanita cantik di sampingnya yang tidak lain adalah Diao Chan mendahuluinya.
"Hei! Kau benar-benar membuatku kesal, brengsek!" Diao Chan bangkit berdiri, dan meraih kerah pemuda tersebut menggunakan tangan kanannya, "Jangan cari masalah dengan temanku, cari tempat duduk lain sana!"
Bam!
Diao Chan meninju ke arah perut pemuda itu dan membuatnya melompat mundur sejauh beberapa belas meter.
Seandainya pemuda itu tidak sempat menangkis pukulan Diao Chan, mungkin dampaknya akan jauh lebih besar.
Tentu saja karena hal itu terjadi membuat perhatian penjaga Golden Core yang ada di sekitar teralih ke arah mereka.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.
__ADS_1