
Setelah berhasil membawa Ming Na pergi, keheningan menyelimuti di antara mereka berdua. Selama lima menit lamanya keduanya saling tutup mulut, akhirnya Li Hao angkat bicara.
"Tadi itu berbahaya, kenapa kau keluar malam-malam begini?" Li Hao bertanya seolah tidak mengetahui apapun.
Ming Na mengetahui kalau Li Hao hanya berpura-pura tidak tau, tetapi ia tidak akan membahasnya karena mau bagaimanapun dia adalah penyelamatnya.
"Aku... Ingin menjadi seorang kultivator dan mendapatkan banyak uang. Aku tidak mau menjadi beban untuk kakek, dan sebagai cucunya aku ingin memberikan beliau kehidupan yang layak."
Meskipun kakek bukanlah kakek aslinya, namun beliau telah merawatnya dengan tulus sedari kecil. Bahkan jika diberi pilihan untuk kembali ke keluarga aslinya, Ming Na akan tetap memilih bersama kakeknya walau mereka berdua harus hidup seperti ini.
Ming Na tanpa sadar mulai menceritakan keinginannya serta keluh kesahnya, dan Li Hao hanya menanggapinya dengan baik.
"Ah, maafkan aku..." Ming Na baru sadar kalau ia telah terlalu banyak cerita, "Omong-omong, terima kasih atas bantuanmu."
"Tidak masalah..." Li Hao segera membalas.
Setelah kembali ke desa dan sudah hampir sampai di rumah gubuk, Ming Na menghentikan langkahnya dan berkata pada Li Hao yang ada di sebelahnya, "Hei, tolong rahasiakan kejadian tadi dari kakek. Dan juga, jangan pernah bilang kalau aku mempunyai keinginan untuk menjadi seorang kultivator."
Li Hao yang ikut berhenti dan mendengar itu langsung menganggukkan kepalanya, "Tentu, aku juga tidak ada niatan untuk menceritakannya."
"Terima kasih." Ming Na kembali menatap ke depan dan belum sempat melangkahkan kakinya, suara Li Hao memanggilnya.
"Hei... Apa kau benar-benar ingin menjadi kultivator?" Li Hao bertanya, suaranya terdengar tenang.
"Huh...?" Ming Na sedikit melebarkan matanya sebelum menoleh ke arah pemuda tersebut, "Kau mau membantuku?"
"Ya, aku akan membantumu sedikit." Li Hao menjawab sembari mengangguk pelan.
"Bukankah kau memiliki kesibukan?"
"Itu benar, tapi aku bisa tinggal di sini selama beberapa waktu." Li Hao segera menjawab, meskipun ia merupakan buronan yang dicari oleh sekte Lotus Hitam tetapi berkat insiden yang terjadi di kota Qibao, penjagaan di wilayah ini pasti diperketat dan orang-orang dari aliran hitam itu tidak mungkin bertindak sembrono seperti sebelumnya, "Jangan khawatir, aku bisa mengajarimu dengan baik."
Ming Na terdiam sejenak untuk memikirkan itu sebelum akhirnya setuju dan meminta Li Hao untuk mengajarinya menjadi seorang kultivator.
"Baiklah, tapi kita harus memberitahukan ini pada kakekmu."
"Eh, kenapa?"
"Supaya waktu latihan kita lebih lama dan efesien. Daripada tengah malam begini, lebih baik kita melakukan latihan dari pagi sampai malam, bukan?"
__ADS_1
Ming Na langsung memasang ekspresi ragu, yang ia tau kakeknya tidak menyukai kultivator karena mereka dengan mudah membunuh sesamanya. Namun, ia harus memanfaatkan kesempatan yang mungkin tidak akan datang untuk kedua kalinya.
"Baiklah, aku akan memberitahunya." Ming Na mengepalkan kedua tangannya dan memasang ekspresi yakin.
Li Hao tersenyum tipis sebelum mengangguk kecil, "Tenang saja, kakekmu pasti akan setuju."
......................
"Apa? Kau ingin menjadi kultivator?"
Setelah mendengar cerita dari cucunya, kakek tua tidak bisa untuk tidak terkejut.
Ming Na menelan ludahnya kemudian mengangguk yakin.
"Iya, kakek. Izinkan aku menjadi kultivator, Na'er janji tidak akan menyulitkan kakek dalam masalah ini." Ming Na bersujud tepat di hadapan kakeknya yang duduk bersila.
Kakek tua yang melihat cucunya sampai bersujud langsung terkejut, tak pernah sekalipun ia melihat cucu kecilnya memohon sampai seperti ini.
"Na'er... Tidak perlu sampai bersujud, kakek mengizinkanmu untuk menjadi kultivator." Kakek tua membangunkan Ming Na.
"Benarkah...? Terima kasih, Kek!" Ming Na langsung tersenyum lebar setelah mendengar itu, ia memeluk kakeknya dengan erat karena saking senangnya.
"Ah, aduh! Maaf, Kek! Na'er tidak sengaja..."
Ming Na sendiri dengan panik melepaskan pelukannya, ia langsung meminta maaf berkali-kali.
"Uhuk, tak apa... Kakek senang melihatmu senang." Kakek tua tersenyum, kemudian bertanya, "Tapi, bagaimana kamu menjadi kultivator? Apa kamu ingin pergi ke kota dan memulainya di sana?"
Ming Na langsung menggeleng cepat, lalu mengalihkan pandangannya pada Li Hao yang duduk bersender tidak jauh dari sana.
Kakek tua yang menyadari arah mata cucunya juga ikut menatap Li Hao, sementara pemuda itu langsung tersenyum dan berkata, "Aku akan menjadikan Ming Na sebagai kultivator, tanpa perlu adanya imbalan atau semacamnya."
"Kenapa kau mau melakukannya...?" Kakek tua segera bertanya, dan Li Hao langsung menjelaskan alasan mengapa dia ingin membantu cucunya.
Setelah mendengar alasannya, kakek tua langsung menatap cucunya dengan mata yang berkaca-kaca. Perasaannya menjadi sedih sekaligus terharu karena Li Hao ingin membantu Ming Na menjadi kultivator supaya cucunya utu bisa mengumpulkan uang yang banyak, dan uangnya tersebut dipakai untuk memberikan kehidupan yang layak buat mereka berdua.
"Na'er..." suara Kakek tua bergetar, ia merasa sedih sebab kemiskinannya membuat cucunya berpikir demikian.
Ming Na yang melihat kakeknya ingin menangis langsung memeluk secara perlahan, "Kakek tidak perlu menyalahkan diri... Na'er melakukan ini supaya kakek tidak perlu bekerja lagi."
__ADS_1
"Maaf... Maafkan kakek..."
"Tidak perlu minta maaf, Kakek. Seharusnya Na'er yang minta maaf karena telah merepotkan kakek selama ini..."
Mereka berdua saling bertukar kata di masa itu, sedangkan Li Hao tidak memperhatikannya dan memilih untuk menunggu di luar.
Baru saja Li Hao berada di luar rumah, tiga orang yang tidak lain kelompok kultivator tadi malam datang dan menghampirinya.
"Salam kenal, Teman Dao."
Setelah berhenti beberapa meter dari Li Hao, mereka bertiga langsung mengucapkan salam sembari menangkupkan tangan.
Li Hao sendiri juga melakukan itu dan kemudian bertanya apa tujuan mereka datang kemari, ia tidak mewaspadai mereka karena ketiganya datang dalam damai tanpa memperlihatkan sikap ingin bertarung.
"Teman Dao sekalian, kita bertemu lagi..." Li Hao tersenyum ramah saat mengatakan itu.
"Ehem, sebelum pada intinya, kami bertiga ingin minta maaf mengenai kejadian tadi malam. Kami benar-benar dalam keadaan mabuk dan sulit mengendalikan diri sampai menggoda kekasihmu." pria paruh baya yang memiliki perawakan dua meter lebih menundukkan badannya, dia adalah orang yang merangkul paksa Ming Na sebelumnya.
"Kami bertiga benar minta maaf, itu murni kesalahan kami." pria paruh baya satunya lagi menimpali, dia memiliki badan berisi dan terdapat bekas luka yang panjang di kakinya.
Sementara pemuda yang bersama keduanya juga minta maaf meskipun yang salah bukanlah dirinya.
"Aku sudah memaafkan kalian, Teman Dao. Lagipula, tidak ada masalah serius saat malam itu..." Li Hao menanggapi dengan senyum tipis.
"Terima kasih, Teman Dao." mereka bertiga berkata dengan serempak.
"Jadi, apa tujuan kalian kemari? Kalau tidak salah dengan, minta maaf bukan inti dari kedatangan kalian, bukan?" Li Hao bertanya tanpa basa-basi.
"Begini, apa kamu mengetahui insiden yang terjadi di kota Qibao tiga hari lalu?"
"Aku baru mendengar ceritanya kemarin, kenapa?"
"Kami adalah anggota dari sekte Danau Suci, dan insiden yang terjadi di kota itu membuat pemimpin kami marah besar. Sehari setelah insiden, sebagian besar anggota keamanan diperintahkan untuk memperketat penjagaan di wilayah yang dilindungi, beberapa murid bagian luar dan dalam juga ikut terlibat dalam hal ini." pria paruh baya setinggi dua meter menjelaskan, ia berhenti sejenak untuk mengambil nafas kemudian melanjutinya, "Selain ditugaskan untuk memperketat keamanan wilayah, kami juga ditugaskan untuk mencari aliran hitam yang mengacaukan kota Qibao..."
"Tujuan kami datang kemari untuk menanyakan, apakah Teman Dao pernah melihat sekelompok aliran hitam lewat selama perjalanan? Dan, bisakah kami melihat warna Qi-mu?" pria paruh baya yang memiliki bekas luka di kakinya melanjuti perkataan rekannya.
Li Hao tidak langsung menjawab sebelum akhirnya mengatakan kalau dirinya tidak melihat kelompok seperti itu dari beberapa hari yang lalu, dan kemduain dia juga memperlihatkan warna Qi-nya yang berwarna biru muda.
Bersambung......
__ADS_1
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.