Terjebak Di Dunia Kultivator

Terjebak Di Dunia Kultivator
Turnamen Bebas II


__ADS_3

"Tak kusangka akan mendapatkan serangan darimu." pemuda tampan itu tidak sedikitpun menunjukkan raut wajah yang marah.


"Kalau kau mengganggunya lagi, aku akan menghajarmu!" Diao Chan berkata dengan dingin.


Pemuda tampan itu tersenyum tipis, lalu menangkupkan tangannya, "Kalau begitu, maafkan diriku ini yang telah lancang mengganggu temanmu, nona." ucapnya dengan suara rendah, lalu segera melanjutinya, "Namaku adalah Guang Hai. Siapa namamu, nona?"


"Persetan dengan berkenalan, mati saja kau." Diao Chan berbalik, dan kembali ke tempat duduknya.


Li Hao yang menyaksikan dalam diam sedikit menyimpulkan kalau orang yang bernama Guang Hai ini mempunyai niat lain sampai bersikeras mengusir dirinya, tetapi untuk sekarang ia belum mengetahui dengan jelas niat tertentu orang itu.


"Ternyata orang sepertimu berlindung di balik wanita, ya? Hahaha... Ada seorang pengecut yang mengikuti Turnamen ini." Guang Hai melakukan provokasi tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya.


Li Hao tersenyum mendengar itu, dan berkata dengan nada santai, "Yah, itu tidak salah. Aku memang suka berlindung di balik wanita galak ini, tapi dengan begitu hidupku menjadi cukup tentram."


Guang Hai memasang ekspresi jijik ketika mendengarnya, "Kau memang benar-benar seorang pengecut sampah, waktuku yang berharga terbuang sia-sia jika harus mengobrol denganmu lebih lama lagi."


"Baguslah kalau kau berpikir seperti itu, aku jadi tidak perlu meladeni orang bodoh lagi." Li Hao memasang senyum mengejek.


Guang Hai berdecak kesal mendengar provokasi tersebut, namun untuk sekarang ia akan mengabaikannya karena beberapa penjaga Golden Core sedang menatapnya dengan tatapan tajam.


Melihat Guang Hai pergi membuat Li Hao menghela nafas panjang, "Untungnya ada kau, sulit untuk mengatasi orang semacam itu."


Diao Chan hanya mendengus ketika mendengar itu, wajahnya saat ini tak lagi menghadap ke bawah melainkan ke arah batu transmisi berada.


"Aku rasa turnamen ini akan sulit." gumam Diao Chan pelan.


"Mungkin... Aku sendiri tak yakin bisa menang di pertandingan pertama ini." Li Hao yang tidak sengaja mendengarnya langsung membalas seperti itu.


"Omong kosong, aku yakin setidaknya kau bisa mencapai 20 besar."


"Kau terlalu melebih-lebihkan diriku, aku tidak sekuat yang kau pikir."


"Tsk, terserahlah!"


"Kenapa juga kau kesal?"


"Berhenti bicara denganku, suasana hatiku saat ini sedang tidak bagus."


"Oh, apa karena kau lapar? Tadi kutawari bakpau kau malah menolak."


"Hei, Li Hao! Berhenti mengoceh! Mau kupukul, ya?!" Diao Chan berkata, suaranya sedikit keras sehingga membuat beberapa orang di sekitar teralih pada mereka.


"Oke, maaf, maaf..." Li Hao tersenyum pahit sembari mengangkat kedua tangannya.

__ADS_1


Mereka berdua tidak lagi mengobrol setelah itu, dan setelah kelima pertandingan di lapangan selesai-- Zhan Bao Jie yang berada di tengah lapangan mulai memanggil nama-nama peserta.


"Chen Yu dan Wang Jang!"


"Hua Yin dan Zhang Bao!"


"Guang Hai dan Li Hao!


"Bang Baoye dan Nian Shi!


"Ryu Xue dan Bing Yue!"


Li Hao langsung bangkit berdiri setelah namanya dipanggil, ia tidak melirik ke arah Diao Chan ataupun berbicara dengannya karena berpikir wanita cantik itu sedang tidak ingin diganggu.


Ketika Li Hao hendak melangkah kakinya, pergelangan tangan kanannya diraih oleh tangan kiri Diao Chan.


"Hm, ada apa?" Li Hao bertanya sambil menoleh ke samping, ia memperlihatkan raut wajah keheranan.


"Maaf, karena tadi membentakmu..." raut wajah Diao Chan tampak menyesal ketika mengatakan itu.


"Hahaha... Apa ini? Bukankah kau sudah sering bertingkah seperti itu? Kenapa kali ini kau minta maaf?" Li Hao merasa cukup kebingungan.


"Itu... M-maksudku, aku baru pertama kali membentakmu di tempat yang ada banyak orang, kupikir kau marah karena tidak berbicara denganku."


"Aku sama sekali tidak marah, tapi kuharap kau tidak mengulanginya lagi. Bukan karena aku akan kesal atau semacamnya, tetapi jika tanpa sadar kau melakukannya pada Wei Han, bagaimana jadinya?"


Mata Diao Chan sedikit melebar ketika mendengarnya, dan ia mengangguk sekali lalu berkata, "Aku mengerti, sekali lagi aku minta maaf."


"Ya." Li Hao menjawab singkat sembari mengangguk pelan, "Kalau begitu, aku pergi dulu. Sepertinya hanya aku yang masih ada di ruang tunggu ini."


"Ah, iya..." Diao Chan langsung melepaskan pergelangan tangan Li Hao, dan pemuda itu mulai berjalan menjauh darinya.


Li Hao diam-diam tersenyum tipis dan ia sedikit teringat pada masa lalunya.


***


Ketika Li Hao sudah berada di pinggir lapangan, seorang pria paruh baya di tingkat Golden Core berjalan mendekatinya.


"Apa kau adalah Li Hao?"


"Ya, itu benar." Li Hao mengangkat tangan kirinya, dan memperlihatkan gelang karet hijau yang mengukir namanya.


Penjaga Golden Core itu memeriksa keaslian gelang karet tersebut, lalu menganggukkan kepalanya sekali, "Kalau begitu, silahkan pergi ke sana." ucapnya sambil menunjuk ke satu arah.

__ADS_1


Li Hao mengangguk paham dan ia berjalan menuju kubah transparan.


Kubah pelindung transparan yang mencangkup seluruh lapangan dibagi menjadi lima area, dan terdapat dinding energi yang cukup tebal untuk memisahkan kelima area tersebut. Tujuannya adalah untuk tidak saling mengganggu pertandingan yang ada di area berbeda.


Li Hao memasuki area ketiga, ia menembus dinding pelindung transparan tanpa kesulitan sedikitpun, "Sepertinya gelang karet ini sudah diatur agar bisa memasuki kubah pelindung tanpa adanya masalah." Li Hao bergumam saat melihat gelang karet hijau di pergelangan tangan kirinya.


Setelah bergumam demikian, Li Hao menatap ke depan dan menemukan seorang pemuda tampan yang sedang menyeringai ke arahnya.


"Sungguh lelucon yang buruk." ucap Li Hao dalam hati.


"Wah, wah... Ternyata kau yang menjadi lawanku. Sungguh kebetulan yang menakutkan, bukan?" Guang Hai terkekeh pelan, dia adalah pemuda sebelumnya yang hendak mengusir Li Hao dari kursinya.


"Kau benar, tampaknya dewa tidak suka denganmu sehingga memilihku untuk mengeliminasimu." Li Hao menanggapi sembari tersenyum tipis.


Mendengar sedikit provokasi dari Li Hao membuat Guang Hai berdecak kesal, ia mengeluarkan sebuah pedang panjang dari cincin penyimpanannya.


"Kalian seharusnya sudah mengetahui peraturan Turnamen, bukan?" tanya wasit, dan diangguki oleh kedua peserta, "Bagi mereka yang melanggar peraturan akan mendapatkan konsekuensi setimpal, kuharap kalian berdua bisa bekerja sama dalam mematuhi semua peraturan."


"Mengerti..." Li Hao dan Guang Hai menjawab di waktu yang hampir bersamaan.


"Kalau begitu, kita akan memulai pertandingannya dalam satu menit lagi. Kalian bisa bersiap-siap mulai dari sekarang..."


Ketika wasit berkata demikian, dia perlahan terbang ke udara agar tidak mengganggu jalannya pertandingan nanti.


"Hei, kau mau kalah dengan cara apa?" Guang Hai bertanya, lalu melanjutinya, "Tapi sayangnya aku tidak ingin memberikan kekalahan yang mudah untukmu."


Li Hao tersenyum tipis lalu mengeluarkan pedang Angin dari inventorynya, "Kau sungguh percaya diri, apa kau sudah yakin bisa menang dariku?"


"Hahaha... Aku tidak pernah sekalipun berpikir kalau diriku ini bisa kalah darimu." Guang Hai menanggapi sembari tertawa kecil.


"Lelucon yang bagus, kurasa kau sudah cocok menjadi seorang komedian." Li Hao sendiri juga tidak merasa dirinya akan kalah, meskipun ia tau kalau basis kultivasi Guang Hai berada di atasnya-- tetapi baginya yang sudah pernah berhasil mengalahkan seorang Golden Core, dia bukanlah masalah besar.


"Percuma dengan provokasimu, takdirmu di pertandingan ini sudah ditentukan." Guang Hai memasang senyum mengejek, aura intimidasi juga keluar dari tubuhnya, "Aku sebenarnya tidak membencimu, tapi karena kau sangat tidak sadar diri telah duduk di antara dua dewi cantik. Aku akan mempermalukanmu di hadapan mereka!"


"Huh?" Li Hao sedikit mengerutkan alisnya sebelum tawa kecil keluar dari mulutnya, "Hahahaha... Apa itu artinya semua hal yang kau lakukan tadi didasarkan dari kecemburuan? Sungguh, kau benar-benar kekanak-kanakan."


"Berisik!"


Karena sudah lebih dari satu menit-- wasit memulai pertandingan, Guang Hai dengan cepat mendekati lawannya. Aura biru menyelimuti pedangnya, dan ia langsung mengayunkannya secara vertikal.


Li Hao mendengus pelan dan menerima semua serangan yang dilancarkan oleh Guang Hai dengan tenang.


Bersambung.....

__ADS_1


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.


__ADS_2