Terjebak Di Dunia Kultivator

Terjebak Di Dunia Kultivator
Turnamen Bebas IV


__ADS_3

Li Hao mengamati pertandingan yang ada di lapangan lewat batu transmisi, tidak banyak reaksi dari dirinya sampai akhirnya nama Diao Chan dipanggil.


"Oh, akhirnya giliran dia tiba juga." Li Hao bergumam, lalu melanjutinya, "Lawannya seorang pria pengguna pedang besar, ya. Hm... Sepertinya ini akan mudah."


Bukan karena Li Hao meremehkan seseorang yang menggunakan pedang besar, tetapi dirinya mengatakan hal itu berdasarkan intuisinya saja.


Ketika pertarungan dimulai, Diao Chan lebih dulu bergerak menyerang lawannya dan dia tidak segan-segan mengeluarkan jurusnya.


"Hahaha... Diao Chan banget, ya." Li Hao tertawa kecil saat melihatnya.


Lawan Diao Chan yang pengguna pedang besar menjadi kesulitan dengan serangan agresif itu, dia langsung dipaksa dalam posisi bertahan dan sangat sulit bagi dirinya untuk memperlebar jarak.


Dalam waktu kurang dari lima menit, Diao Chan adalah orang pertama dari kelima area yang berhasil menyelesaikan pertandingan.


Meskipun memenangkan pertandingan, Diao Chan tidak mengeluarkan senyum sedikitpun dan hanya memasang ekspresi datar. Banyak orang yang bersorak senang atas kemenangannya, dan sebagian besar dari mereka adalah seorang laki-laki muda atau paruh baya.


Li Hao mengalihkan pandangannya ke arah pintu keluar ruangan, kemudian pintu tersebut terbuka dan memperlihatkan Diao Chan.


Setelah wanita cantik itu masuk ke dalam, pemuda pengguna pedang besar juga ikut masuk, raut wajahnya sangat suram-- sepertinya dia tidak menyangka akan dikalahkan di pertandingan pertama.


Diao Chan sendiri mengedarkan pandangannya seperti sedang mencari seseorang, senyumnya kemudian terukir di wajahnya ketika menemukan Li Hao yang juga menatapnya balik dirinya.


"Aku nanti akan ke sana." Diao Chan berkata dengan suara sedikit keras, dan kemudian dia melakukan pemeriksaan medis setelah mendapatkan anggukan dari pemuda itu.


Melihat Diao Chan yang sudah pergi, Li Hao bergumam, "Padahal tidak perlu sampai mengatakan itu, ada apa dengannya?"


Li Hao bertanya-tanya selama beberapa saat, namun menepisnya dan kembali mengamati pertandingan.


Beberapa saat kemudian, Diao Chan datang dan duduk di sebelahnya. Ia menghela nafas berat dan berkata, "Setelah kau pergi, suasananya jadi canggung tau."


Li Hao menoleh ke samping, lalu sedikit memiringkan kepalanya, "Canggung? Apa kau membicarakan kakak perempuanmu itu?"


"Ya." Diao Chan mengangguk sekali, lalu tersentak seolah mengingat sesuatu. Dia menatap Li Hao yang berada di sampingnya dengan tatapan menyeramkan, "Kau, kau pasti sengaja duduk di sana, 'kan?!" Diao Chan bertanya dengan nada yang terdengar marah.


Glek.


Li Hao menelan ludahnya dan tersenyum pahit, "Ayolah, jangan marah karena sesuatu semacam itu. Bukankah kau ingin dekat dengan kakak perempuanmu?"


Mendengar hal itu membuat Diao Chan sedikit mengubah tatapannya, ia cukup terkejut karena pemuda tersebut mengetahuinya tanpa dirinya harus beritahu.


"Tapi... Aku dan kakak... Tidak mungkin bisa dekat. Sejak kecil dia selalu saja mengabaikanku, aku bahkan berpikir kalau dia tidak pernah sekalipun menganggap diriku sebagai seorang adik." suara Diao Chan menjadi lemah saat mengatakan itu, ia kemudian menundukkan kepalanya karena tidak mau memperlihatkan wajahnya yang kusut.

__ADS_1


"Kalau pemikiranmu itu benar, bagaimana jadinya?"


"Entahlah... Satu-satunya cara adalah, dia mengakui diriku lewat pertarungan."


"Seandainya kakakmu tetap tidak mengakuimu setelah kau berhasil mengalahkannya di pertandingan turnamen ini, apa yang akan kau lakukan?"


"Aku... Mungkin akan terus mencari cara sampai akhirnya dia bersedia mengakuiku."


"Haah... Kau benar-benar gigih. Kenapa tidak ganti panutan saja?"


"Huh, apa maksudmu?"


"Maksudku, kau hanya perlu mengganti sosok yang dijadikan tujuanmu. Misalkan, aku menjadi objek yang membuatmu terus berusaha sehingga suatu hari nanti aku mengakuimu."


"Itu tidak akan bisa, bodoh. Untuk apa aku mengganti orang lain, tujuanku sudah ditetapkan dari kecil dan mustahil bagi diriku untuk mengubahnya."


Li Hao terdiam sejenak sebelum menghela nafas panjang, "Ya, sudahlah... Aku menyerah, sepertinya kau tetap tidak akan mengubah tujuanmu itu."


"Kau benar... Pasti payah, bukan? Diriku ini." Diao Chan mengepalkan kedua tangannya dengan erat, matanya sedikit melebar ketika Li Hao menepuk pelan kepalanya.


"Tidak, kau tidak payah. Setiap makhluk hidup punya tujuannya tersendiri dan mereka mempunyai hak untuk mengejarnya." Li Hao tersenyum tipis, kemudian melanjutinya, "Aku sudah bilang sebelumnya, kalau kau berhak mengejar tujuanmu itu asalkan kau mengingat kapan harus berhenti jika nantinya tidak tercapai."


Diao Chan tidak mengatakan apa-apa dan hanya tersenyum tipis, kesedihannya mulai mereda dan ia perlahan mengangkat kepalanya.


"Terima kasih, Li Hao. Kupikir kau benar... Aku mungkin akan merubah tujuanku itu suatu saat nanti." jawab Diao Chan, lalu memasang senyum yang lebar.


Li Hao mengangguk pelan dan berkata dengan suara pelan, "Itu bagus."


Suasana hening kemudian mengalir di antara mereka berdua, mata Li Hao teralih kembali ke batu transmisi sedangkan Diao Chan terus menatap pemuda itu dari samping.


"Kau dewasa, ya? Padahal aku dua tahun lebih tua darimu, tetapi kau yang selalu memberikan nasihat padaku." Diao Chan berkata sembari tersenyum.


"Benarkah? Itu artinya ada poin positif di dalam diriku, bukan?" Li Hao menanggapi, tapi matanya tidak teralih ke lawan bicaranya.


"Ya, kau benar..." Diao Chan mengangguk dua kali.


Pembicaraan kami terputus, dan beberapa saat setelah itu-- pertandingan di area terakhir selesai dan kemenangan diraih oleh seorang pemuda bertopeng hitam.


"Dia lumayan kuat, mungkin sebanding dengan dirimu." ucap Li Hao, dan kata-katanya itu tentu saja ditunjukkan pada Diao Chan.


"Kalau aku bertanding dengannya, menurutmu siapa yang akan menang?" tanya Diao Chan penasaran.

__ADS_1


Li Hao mengangkat pundaknya dan menjawab, "Entahlah... Aku tidak bisa memperkirakannya karena dia mungkin saja belum mengerahkan seluruh kemampuannya."


"Heeh... Jika itu benar, berarti kekuatan yang ditunjukkannya tadi sudah sebanding denganku?"


"Begitulah..."


"Kalau tidak salah namanya adalah Xiao Chen, bukan?"


"Ya, kenapa memangnya?"


"Aku tau nama itu cukup pasaran, tetapi jika dia berasal dari aliran hitam dan mempunyai kemampuan yang luar biasa, aku rasa bisa menebak asal-usulnya."


Li Hao mengalihkan pandangannya ke arah Diao Chan setelah mendengar itu, dan ia sedikit memiringkan kepalanya, "Memangnya siapa yang kau maksud?"


"Dia adalah Xiao Chen dari sekte Gunung Api Hitam."


"Sekte Gunung Api Hitam? Aku tidak pernah mendengarnya."


"Ya, sekte itu bisa dibilang sekte yang cukup tertutup. Tapi namanya sudah cukup terkenal di antara aliran hitam dan putih..."


"Sekte bintang sepuluh, ya?"


"Iya, tidak banyak yang tau tentang sekte Gunung Api Hitam tetapi ada beberapa rumor yang mengatakan kalau sekte itu sangatlah kuat. Aku tidak terlalu peduli sih dengan rumornya, namun dari yang kudengar ada juga yang mengatakan kalau sekte Gunung Api Hitam adalah sekte terkuat nomor satu dari Aliran Hitam."


"Apa rumor itu benar?"


"Tentu saja tidak, bodoh."


"Ah, begitu. Lalu, kenapa sekte Gunung Api Hitam terkenal di antara kedua aliran meskipun sekte itu tertutup?"


Pasti ada alasannya kenapa sekte yang bernama Gunung Api Hitam ini bisa terkenal di antara kedua aliran.


"Karena mereka adalah sosok yang menjadi pemicu perang di masa lalu, sekaligus sekte yang menghentikan perang tersebut."


"Perang di masa lalu? Apa itu adalah perang antara empat sekte aliran hitam bintang sepuluh, dan tiga sekte aliran putih bintang sepuluh?"


"Ya, itu terjadi sekitar 300 tahun lalu. Skala perangnya hampir mencangkup sebagian besar daratan Surgawi, dan itu menjadi salah satu perang berskala besar yang pernah terjadi di daratan Surgawi ini."


Li Hao menganggukkan kepalanya beberapa kali dan kemudian mengajukan beberapa pertanyaan lainnya.


Bersambung.....

__ADS_1


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.


__ADS_2