Terjebak Di Dunia Kultivator

Terjebak Di Dunia Kultivator
Menolak Kompensasi


__ADS_3

Setelah Zhang Hai kembali tenang, ada seseorang yang datang menghampiri mereka berdua. Dia adalah seorang pria tua yang mempunyai rambut hitam sepanjang bahu dan memakai jubah abu-abu yang di belakang punggungnya terdapat logo tengkorak berwarna hitam.


"Zhang'er, apa kau baik-baik saja?" pria tua itu bertanya, ia terlihat cukup khawatir.


"Aku baik-baik saja, Guru." Zhang Hai membalas, lalu merangkul leher Li Hao yang ada di dekatnya, "Tapi berkat dia, aku bisa selamat. Kalau dia tidak datang kemari, mungkin aku sudah mati."


Zhang Hai menceritakan awal mula kedatangan Li Hao sampai kemunculan Nascent Soul musuh.


Sementara pria tua itu mendengarkan dalam diam, ia kemudian menatap Li Hao setelah muridnya selesai menceritakan kejadian tersebut, "Terima kasih atas bantuanmu, Nak Li Hao. Aku sangat berterima kasih karena kau telah datang kemari dan membantu mereka, terutama Zhang'er. Aku berjanji akan memberikan kompensasi yang pantas untukmu."


"Eh, bagaimana anda tau nama saya?" Li Hao merasa penasaran karena seingatnya ia tidak pernah memberitahu namanya pada pria tua itu.


"Tentu saja aku tau, kau adalah bocah populer di hari pertama yang tiba-tiba saja mengundurkan diri saat pertandingan ketiga." pria tua itu langsung menjawab.


"Dan rumornya, kau mengundurkan diri karena perempuan yang kau sukai kalah di Turnamen itu." Zhang Hai menambahkan dengan santai.


"Huh? Rumor macam apa itu!" Li Hao jelas terkejut mendengarnya.


Zhang Hai tertawa mengejek, lalu melanjutinya, "Kalau tidak salah nama perempuan itu adalah Diao Chan, dan bisa ada rumor seperti itu karena kalian berdua selalu bersama selama di ruang tunggu."


Li Hao terdiam sejenak sebelum menghela nafas pendek dari mulutnya, ia tak menyangka kalau rumor semacam itu akan tercipta ketika dirinya mengundurkan diri setelah Diao Chan mengalami kekalahan di pertandingan sebelumnya.


"Yah, kurasa tidak masalah jika rumor tersebut menyebar sampai ke telinganya."


Karena Li Hao sudah mengetahui perasaan Diao Chan terhadapnya, ia jadi tidak perlu mengkhawatirkannya.


"Wah, apa kau senang? Kekeke... Sepertinya rumor itu bukanlah sekedar rumor belaka."


Li Hao mendengus kecil ketika mendengar itu, tidak ada alasan baginya untuk mengelak hal tersebut. Pandangannya kemudian teralih pada pria tua yang Zhang Hai panggil sebagai Guru, lalu berkata, "Tuan, mungkin ini terdengar lancang dan tidak sopan akan tetapi saya menolak kompensasi yang ingin anda berikan."


"Hm, apa alasannya?" pria tua itu langsung bertanya, Zhang Hai yang mendengarnya juga ikut penasaran.

__ADS_1


"Saya tidak pantas menerima kompensasi karena tidak banyak bantuan yang saya berikan dalam peristiwa ini." Li Hao menjawab dengan tenang.


"Apa-apaan itu...? Kau sungguh membantuku, bodoh!" Zhang Hai berseru sekali lagi, dan pria tua itu juga memberikan pendapat yang sama.


"Jika memang seperti itu, saya tetap tidak mau menerima kompensasi atau imbalan apapun. Karena pada dasarnya, saya di sini hanya untuk membantu."


Zhang Hai yang mendengar itu langsung menolak pernyataan tersebut karena Li Hao sudah sepantasnya mendapatkan kompensasi ataupun imbalan. Dia telah menyelamatkan banyak nyawa generasi muda yang berkumpul di tempat ini, tidak wajar jika tidak ada hadiah untuknya.


"Zhang'er benar. Jika kau tidak ada dan banyak generasi muda yang mati di sini, perang mengerikan pasti akan terjadi dan perang itu kemungkinan melibatkan dua Daratan lainnya."


Li Hao tetap teguh pada pendiriannya, ia tidak mau menerima kompensasi atau imbalan dari orang-orang yang ingin berterima kasih padanya. Alasannya adalah karena menurutnya penerimaan kompensasi atau imbalan dari seseorang dapat menjadi dasar hubungan di antara mereka. Ini mungkin terdengar berlebihan, tetapi jika orang yang memberikannya berasal dari dua aliran yang berbeda, maka bisa menimbulkan potensi konflik di masa depan.


Tujuan Li Hao adalah menjadi kuat dan mencari tau alasan mengapa dirinya bisa ada di dunia ini, tidak ada alasan baginya untuk terlibat lebih dalam dengan kedua aliran.


Pada saat Zhang Hai membujuk Li Hao untuk menerima kompensasi dari mereka, pria tua yang menjadi gurunya menghentikan tindakannya.


"Zhang'er hentikan, kita tidak bisa memaksakan keinginannya." pria tua itu memegang kepala muridnya, lalu menatap Li Hao sembari tersenyum tipis, "Tidak masalah jika kau menolak, tapi datanglah ke sekte Tengkorak Hitam jika kau membutuhkan sesuatu. Selama permintaanmu masih dibatas kemampuanku dan tidak merusak nama sekte, aku akan dengan senang hati membantumu."


Zhang Hai tidak membujuk lebih jauh setelah mendengar itu, dan tidak lama kemudian beberapa Immortal lainnya datang lalu mengucapkan terima kasih atas bantuan Li Hao yang berani mengulur waktu.


Beberapa dari mereka juga ingin memberikan kompensasi atas jasa heroik Li Hao tetapi pemuda itu menolaknya secara halus. Ia awalnya cukup kesulitan menghadapi Immortal yang tidak terima ketika dirinya menolak kompensasi yang ingin mereka berikan, namun berkat bantuan dari Guru Zhang Hai ia jadi tidak mengalami masalah yang merepotkan.


Meskipun beberapa Immortal memberikan ucapan terima kasih padanya, tetapi ada yang langsung pergi meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkan satu patah katapun. Tentu saja Li Hao merasa senang karena tidak harus membuang waktunya lebih banyak lagi.


Setelah melewati semua itu, Immortal dari pihak peserta mulai berkumpul di satu tempat, pihak Lima Menara Naga juga ikut bergabung untuk membicarakan masalah ini. Untung saja, peserta yang mati atas peristiwa ini bukan berasal dari sekte atau klan besar. Memang hal itu terdengar jahat tetapi dengan begitu, pihak Lima Menara Naga masih bisa menenangkan mereka dan meminimalisir kemungkinan perang yang akan terjadi.


Di sisi lain, Li Hao menginap di salah satu penginapan yang masih berdiri di dalam tembok ketiga. Ia tidak pergi ke luar dari kota karena waktu sudah hampir malam, dan juga ia masih memikirkan keputusannya apakah ia harus memberitahu dalang dari peristiwa ini atau tidak.


Li Hao bingung karena kalau dirinya membeberkan dalang dibalik peristiwa ini, ia akan terlibat dengan kedua aliran. Selain itu, sekte Lotus Hitam pasti akan mengincar nyawanya karena dia membeberkan hal tersebut.


Sebenarnya bisa saja Li Hao meminta perlindungan dari kedua aliran dan pihak Lima Menara Naga, namun tujuannya kemungkinan terhalang karena ia pasti diminta untuk menetap di satu tempat sampai sekte Lotus Hitam musnah.

__ADS_1


Perang yang melibatkan pihak-pihak besar sudah jelas akan nemakan waktu yang lama dan Li Hao enggan membuang waktunya selama itu. Ketika ia masih memikirkan, suara ketukan tiba-tiba terdengar dan membuatnya bangun.


"Hm, siapa...?" Li Hao bertanya-tanya dalam hati, lalu mengeluarkan pedang Angin miliknya.


Li Hao menjadi waspada karena takutnya orang yang berada dibalik pintu saat ini adalah utusan dari sekte Lotus Hitam untuk membunuh dirinya.


"Hei, Li Hao! Cepat bukain pintunya!"


Suara familiar tersebut membuat Li Hao menghela nafas panjang, sebelum membukakan pintu dirinya terlebih dahulu menyimpan pedang Angin.


"Astaga, apa kau sudah tidur?"


Ketika pintu terbuka, Zhang Hai langsung masuk dengan santainya seolah kamar tersebut adalah kamar yang disewanya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Li Hao memasang ekspresi datar sembari menutup pintu kamarnya.


Zhang Hai tersenyum lalu berbalik sembari mengangkat tangan kanannya ke depan, "Lihat, aku membawakan sejumlah minuman bir untuk kita!"


"Huh, apa-apaan? Kenapa juga kita harus minum bersama? Kita tidak sedekat itu." balas Li Hao cepat.


"Kekeke... Ayolah, anggap saja minuman ini adalah tanda terima kasihku secara pribadi."


Li Hao tidak langsung menanggapi karena ada sesuatu yang terlintas di pikirannya. Melihat pemuda itu diam tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya membuat Zhang Hai memasang ekspresi sedikit kesal, "Hei! Apa kau sebegitu tidak maunya minum denganku?!"


Li Hao tersentak sebelum menggeleng kecil, "Kebetulan ada yang ingin kubicarakan. Jadi, ayo minum..."


Zhang Hai langsung tersenyum lebar ketika mendengar itu, lalu mereka berdua duduk di atas kasur dan mulai meminum bir berkualitas tinggi tersebut bersama-sama.


Bersambung.....


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.

__ADS_1


__ADS_2