Terjebak Di Dunia Kultivator

Terjebak Di Dunia Kultivator
Taruhan Kecil


__ADS_3

Mereka mengobrol panjang sembari menikmati bir yang dibawa oleh Zhang Hai.


"Gurumu itu ada di mana? Apa dia juga menginap di penginapan ini?" tanya Li Hao penasaran.


"Tidak, dia tidak menginap di penginapan ini. Dia sekarang berada di pusat Lima Menara Naga dan sedang membicarakan kerugian serta masalah yang mungkin akan terjadi di masa depan karena insiden tadi siang."


"Ah, begitu... Memangnya Lima Menara Naga tidak memberikan fasilitas seperti penginapan sampai kau bisa ada di sini?"


"Eugh... Mereka memberikannya, tapi aku diam-diam pergi karena ingin bertemu dengan kau." Zhang Hai membalas, tampaknya dia mulai mabuk meskipun kandungan alkohol dalam bir tersebut sedikit.


"Aku penasaran, siapa nama gurumu?"


"Namanya Yang Pun, dia adalah salah satu Tetua inti di sekte Tengkorak Hitam." Zhang Hai menjawab, lalu sedikit menyipitkan matanya, "Apa kau penasaran tentang guruku?"


"Ya, lumayan... Orang sepertinya seharusnya mempunyai kepala yang dingin, bukan?"


"Kepala dingin...? Maksudmu, guruku suka menaruh es di kepalanya?" Zhang Hai memiringkan kepalanya, cara bicaranya mulai sedikit melantur.


Li Hao sendiri langsung menepuk jidatnya, kemudian menjelaskan maksud dari kepala dingin.


"Ah, jadi begitu... Kenapa kau tidak bilang dari tadi!" Zhang Hai menjadi sedikit kesal, sementara Li Hao hanya memasang ekspresi datar, "Ya, bisa dibilang guru tenang dalam menghadapi situasi apapun. Dia juga pernah bermasalah dengan beberapa Tetua inti, tetapi pada saat itu dia sama sekali tidak memperlihatkan banyak emosi dan menghadapi mereka dengan tenang."


Li Hao menganggukkan kepalanya beberapa kali, lalu melihat dua botol bir yang tersisa, "Hm, kurasa kita harus berhenti sekarang. Dua bir yang kadar alkoholnya paling rendah saja bisa membuatmu mabuk, jika diteruskan kau mungkin akan pingsan."


"Dasar sialan! Jangan pernah remehkan aku!" Zhang Hai langsung marah, lalu mengeluarkan empat botol bir yang bentuk serta warnanya berbeda, "Kekekeke... Aku sudah menyimpan bir ini sejak lama, namun aku belum pernah mencobanya karena kadar alkoholnya sangat tinggi."


"Sekarang adalah saatnya, ayo kita bertaruh! Orang yang kalah harus memanggil yang menang dengan sebutan kakak besar!" Zhang Hai berkata, kemudian tersenyum mengejek, "Kenapa diam saja...?! Kau takut?!"


Li Hao hampir saja tertawa ketika mendengar itu sebelum menganggukkan kepalanya, "Baiklah, mari bertaruh. Sebagai bukti, yang menang harus menghampiri Tuan Yang Pun, lalu menyerahkan yang kalah padanya."


"Huh! Kau mengatakan itu seolah yakin bahwa kau pemenangnya, tapi baiklah!" Zhang Hai memberikan dua botol bir tersebut pada Li Hao, "Masing-masing dari kita harus menghabiskan dua botol bir tanpa istirahat, jika sudah habis tapi tidak ada yang pingsan maka hasilnya akan seri. Setuju?"


"Baiklah, aku setuju..." Li Hao tersenyum tipis, "Kalau kalah, jangan menyesali ucapanmu."


"Seharusnya kau yang akan menyesal karena menerima tantangan dariku, akan kutertawakan kau saat sudah sadar besok!" Zhang Hai tertawa lantang, lalu meneguk botol bir yang memiliki kadar alkohol tinggi.

__ADS_1


Li Hao juga ikut meneguk birnya supaya adil, mereka berdua saling menatap dan memperhatikan botol bir satu sama lain.


"Kuaaah!" Zhang Hai berhasil menghabiskan satu botol tersebut dalam waktu kurang dari satu menit, "Hei! Menyerah saja dan panggil aku kakak besar mulai sekarang!"


"Sayang sekali, tapi aku masih mampu bertahan." Li Hao tersenyum tipis, lalu melihat wajah Zhang Hai yang memerah, "Tapi, apa kau yakin masih bisa lanjut?"


"Berisik! Aku tidak akan kalah!" Zhang Hai meneguk botol yang kedua, dan Li Hao juga melakukan hal serupa.


Ketika sudah setengah berhasil dihabiskan oleh Zhang Hai, dia tiba-tiba terkapar di kasur dan pingsan seketika itu juga.


Li Hao yang melihatnya hanya tersenyum tipis, lalu menatap botol bir di tangannya tersebut, "Hm, apa ini memang bir dengan kadar alkohol yang tinggi? Entah kenapa, aku tidak terlalu mabuk saat ini."


Setelah menggumamkan hal tersebut, Li Hao bangkit berdiri dari kasurnya lalu menggendong Zhang Hai yang pingsan di belakang punggungnya. Setelah itu, ia membawanya pergi ke luar penginapan dan menuju pusat Lima Menara Naga.


Pusat Lima Menara Naga terletak di tembok kedua kota Luoyang, dan untuk pergi ke sana Li Hao harus melewati gerbang kedua terlebih dahulu.


"Karena insiden tadi siang, gerbang kedua dan pertama ditutup untuk sementara waktu. Jadi, kembalilah."


Seorang penjaga pria yang sudah berusia kepala empat berkata dengan suara tegas.


"Haisss... Bagaimana bisa dia keluar dari tembok kedua kalau gerbangnya ditutup?" Li Hao melirik Zhang Hai lalu menghela nafas panjang.


Ketika Li Hao berbalik dan ingin kembali ke penginapan, ia tersentak ketika menemukan wajah yang cukup familiar.


"Oh, kau!"


Seorang perempuan cantik yang mempunyai rambut hitam sepunggung dan dengan kedua pupil mata berwarna coklat cerah menunjuk ke arah Li Hao menggunakan tangan kanannya. Dia adalah Hua Yin, salah satu peserta Turnamen Bebas, dan orang yang dipanggil menjadi lawan Li Hao di pertandingan ketiga sebelum dirinya memilih untuk menyerah.


"Kau bajingan yang menjadi pahlawan, apa yang kau lakukan di sini?" Hua Yin bertanya, dia termasuk salah satu orang yang berada di ruang tunggu stadion pada saat insiden tersebut terjadi.


Di sebelah Hua Yin terdapat perempuan cantik lainnya, kecantikannya benar-benar luar biasa dan mungkin melebihi Diao Chan ataupun Diao Yu San.


"Kenapa kau begitu kasar kepada orang yang telah menyelamatkan nyawamu?" pelupuk mata Li Hao sedikit berkedut saat mengatakannya.


"Huh! Menyelamatkan nyawa? Aku ogah mengakuinya!" Hua Yin mendengus kencang.

__ADS_1


Li Hao tidak menanggapi, lalu kembali berjalan menuju penginapannya. Dan baru mengambil beberapa langkah, Hua Yin menghadangnya sambil menelentangkan kedua tangannya.


"Apa...?" Li Hao bertanya, suaranya terdengar malas.


"Kalau tidak salah dia adalah Zhang Hai, bukan? Kenapa dia bisa bersamamu?"


"Huh? Apa urusannya denganmu?"


"Jawab saja!"


Li Hao tidak langsung menjawab, lalu melirik ke belakang dan menemukan beberapa penjaga masih mengamatinya dari kejauhan. Sepertinya mereka lebih memperhatikan Hua Yin dan perempuan cantik yang bersamanya, namun ia terpikirkan sebuah kesempatan di sini.


"Ah, benar... Tujuanku di sini adalah mengantar Zhang Hai yang pingsan karena mabuk untuk kembali ke pusat Lima Menara Naga, namun karena ada larangan masuk, aku jadi tidak bisa ke sana." Li Hao berkata dengan suara yang cukup keras, lalu menghela nafas panjang sembari memasang ekspresi suram, "Entah bagaimana nasibku jika gurunya yang merupakan seorang Immortal tau kalau aku tidak membawanya kembali pulang, haruskah aku menyalahkan mereka yang menghalangiku?"


Setelah Li Hao berkata demikian, Hua Yin dan perempuan cantik yang bersamanya memasang ekspresi terkejut sekaligus keheranan, sementara penjaga yang sebelumnya melarang Li Hao melewati gerbang langsung ketakutan.


"Apa-apaan...? Kenapa kau mengeluarkan suara sekeras itu?" Hua Yin mengerutkan alisnya, lalu dari belakang Li Hao ia bisa melihat seorang penjaga datang dengan ekspresi wajah yang ketakutan.


"T-tuan...? Apa dia benar merupakan murid dari seorang Immortal?" penjaga itu bertanya, nadanya terdengar gugup dan juga ketakutan.


Li Hao sendiri langsung menoleh ke arah penjaga yang sudah berada di sampingnya, lalu tersenyum tipis, "Itu benar, dia merupakan murid dari seorang Immortal. Dan juga, dia berasal dari sekte Tengkorak Hitam."


"E-eeeeeh....!" ekspresi ketakutan penjaga itu semakin menjadi, lalu berusaha untuk tersenyum ramah, "M-maafkan atas ketidaktahuan saya sebelumnya, Tuan. A-anda boleh lewat karena yang berhubungan dengan Lima Menara Naga dan Turnamen Bebas bisa masuk melewati gerbang."


"Oh, begitukah? Terima kasih..." Li Hao langsung berjalan menuju gerbang dan meninggalkan Hua Yin serta teman perempuannya tanpa berbicara sedikitpun.


"Haaa... Dasar sialan! Ternyata dia memanfaatkanku, ya? Sudah berapa kali dia membuatku kesal?" Hua Yin mengepalkan kedua tangannya, dan makanan ringan yang ada di tangan kirinya langsung dibuat hancur.


"Hahaha... Kakak Yin, dia ternyata lebih pintar darimu." Xue Lian tertawa kecil melihat kemarahan kakak seperguruannya itu.


"Lihat saja, suatu saat nanti aku akan membalasnya." Hua Yin melangkah maju menuju gerbang, sementara Xue Lian hanya mengikutinya sembari berusaha menahan tawanya.


Bersambung.....


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.

__ADS_1


__ADS_2