
Melihat Assassin itu jatuh, Li Hao hanya memandanginya dalam diam. Ia mengangkat tangan kanannya ke depan dan melihat tangannya itu sedikit gemetaran, "Aku masih belum terbiasa..." gumam Li Hao, lalu mengalihkan pandangannya ke arah yang lain.
Li Hao bisa menemukan Diao Chan memenggal kepala seorang Assassin, dan sesaat setelah itu-- layar pemberitahuan muncul di depannya.
[Ding! Berhasil menyelesaikan Misi System!]
[Mendapatkan, Seni Bela Diri Pedang: Tujuh Gerakan Bintang]
Melihat semua notifikasi itu, Li Hao tersenyum tipis dan ia membuka inventory untuk memastikan hadiahnya masuk.
"Bagus..." Li Hao bisa melihat salah satu slot inventorynya diisi dengan hadiah yang baru saja ia dapatkan.
Li Hao kemudian menutup inventory lalu menghampiri Diao Chan yang kini sedang mengobrol dengan Wei Han.
"Apakah kalian berdua baik-baik saja?" tanya Li Hao penasaran.
"Aku hanya menderita beberapa luka ringan, sedangkan Wei Han baik-baik saja." jawab Diao Chan, dan ia menanyakan balik keadaan pemuda itu.
"Aku juga baik-baik saja, tidak ada luka serius yang kuterima." Li Hao tersenyum tipis, matanya kemudian terarah pada Wei Han yang memasang raut wajah sedih, "Hey, kamu kenapa?" Li Hao sedikit menundukkan badannya dan memegang kepala anak kecil itu.
Wei Han menundukkan kepalanya ke tanah dan berkata, "Aku minta maaf... Gara-gara kehadiranku, kalian jadi terpaksa melawan para penjahat yang mengejarku."
Li Hao terdiam sejenak sebelum tertawa kecil, "Tidak apa, aku malah senang karena bisa bertemu denganmu." Li Hao tersenyum tipis, lalu melanjutinya, "Sepertinya kamu akan bersama kami untuk sementara waktu..."
Wei Han hanya bisa mengangguk, ia sendiri juga tidak tau harus pergi ke mana selain mengikuti kedua orang asing ini.
Diao Chan melirik Li Hao dengan tatapan penuh selidik, entah kenapa ia merasa kalau pemuda itu merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuannya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Li Hao penasaran.
Diao Chan sedikit tersentak sebelum menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak ada... Omong-omong, sepertinya kita harus pergi dari sini. Takutnya, para Assassin lainnya datang kemari."
Li Hao mengangguk setuju, tetapi sebelum mereka pergi-- ia meminta waktu sebentar untuk menutup beberapa luka yang dirinya dapatkan dari pertarungan sebelumnya.
***
"Kakak... Kapan kita bisa beristirahat?" Wei Han bertanya dengan suara lemas, ia benar-benar mengantuk saat ini.
"Hm, kamu ngantuk, ya?" Diao Chan sedari tadi menyadari kalau anak kecil itu suka berjalan sembari menutup kedua matanya.
__ADS_1
Wei Han mengangguk, memang biasanya ia sudah tertidur di waktu segini.
"Kalau begitu, apa mau kakak gendong?" Diao Chan bertanya, tetapi Wei Han langsung menolaknya secara halus-- ia tidak mau merepotkan mereka berdua lagi.
"Tidak apa, kakak masih punya banyak tenaga." Diao Chan mengelus kepala Wei Han, dan ketika dirinya hendak menggendong anak kecil itu-- Li Hao menahannya.
"Biar aku saja." Li Hao berkata dengan suara pelan.
"Tidak boleh, kau punya beberapa luka di punggung. Pasti sakit jika harus menggendong Wei Han." Diao Chan menggeleng pelan.
Li Hao tidak menanggapi, ia memegang pundak Wei Han dan memintanya untuk naik ke atas punggungnya.
Diao Chan yang melihat Li Hao keras kepala langsung merasa kesal, namun ia mengurungkan niat untuk mengomelinya karena tidak ingin Wei Han merasa bersalah jika mereka berdua ribut.
Wei Han sendiri terdiam sejenak sebelum mengikuti perkataan Li Hao.
"Terima kasih, kak." bisik Wei Han pelan.
Li Hao tertawa kecil sebelum mengangguk pelan, "Sama-sama... Tidurlah, kau pasti lelah setelah menghadapi hari yang berat ini."
Wei Han mengangguk dan beberapa saat kemudian ia mulai terlelap tidur.
Mereka berdua kembali berjalan dan hanya ada keheningan disertai suara angin yang sejuk.
"Tentu saja aku." Diao Chan berkata sembari menunjuk dirinya sendiri, "Kau pasti tidak akan bisa merawat anak kecil."
"Apa kau akan membawanya ke tempatmu?" Li Hao bertanya sembari menoleh ke samping.
"Ya, ada apa memangnya?" Diao Chan sedikit memiringkan kepalanya.
"Aku takut Wei Han terkena dampak buruk." jawab Li Hao pelan.
Alis Diao Chan sedikit mengerut dan kemudian berkata dengan nada tak senang, "Apa maksudmu, sekte aliran hitam adalah tempat yang buruk untuk anak-anak?"
Li Hao tersenyum pahit, setaunya memang begitu-- apalagi ia sering membaca komik dan novel yang membahas tentang kedua aliran itu, jadi bisa dibilang dirinya sudah mempunyai gambaran yang cukup besar meskipun itu terdengar naif.
"Dasar! Lihat aku, memangnya aku seburuk apa?!" Diao Chan berusaha menahan amarahnya karena takut tidur Wei Han terganggu.
Li Hao berjalan menjauhi wanita itu dan memandanginya dari atas sampai bawah.
__ADS_1
"Sedang lihat apa kau!" Diao Chan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Apa kau tidak pernah menyadarinya?"
"Menyadari apa?!"
"Kau mempunyai sifat pemarah dan beringas, kalau orang lain berkata kau adalah seorang bandit-- mungkin aku akan percaya."
"Bocah sialan!" Diao Chan mengepalkan kedua tangannya dan memperlihatkan ekspresi marah, tapi setelah melihat Wei Han-- ia langsung berusaha meredam amarahnya sembari menghela nafas panjang berulang kali, "Sialan kau, aku memang dari kecil mempunyai sifat seperti ini! Asal kau tau ya, tidak semua orang dari aliran hitam itu buruk! Begitu juga sebaliknya, tidak semua orang dari aliran putih itu baik."
"Kau benar, tapi jika menggunakan perspektif masyarakat di Daratan Surgawi-- siapa yang paling dipandang buruk?" Li Hao mengangkat alisnya dan membuat Diao Chan membisu.
"Tapi aku percaya padamu. Meskipun kau berada di aliran hitam, aku tau kalau kau adalah orang yang baik." Li Hao tersenyum saat mengatakannya.
Diao Chan sedikit melebarkan mata dan pipinya mulai merah merona, "K-kau... Berhentilah berkata sambil tersenyum seperti itu, sangat menjijikkan." ucapnya sambil membuang muka.
"Haisss... Kau ini, padahal aku serius mengatakannya. Haruskah aku menarik perkataanku kembali?"
"Berisik!"
Li Hao tertawa kecil dan tidak berbicara lebih jauh lagi, begitu juga dengan Diao Chan.
***
Saat ini, terlihat tiga orang pria berpakaian hitam seperti ninja sedang berdiri di hadapan lima mayat Assassin yang sebelumnya dibunuh oleh Li Hao dan Diao Chan.
"Kehilangan target dan lima rekan kita, sepertinya Matriark akan membunuh kita."
"Siapa yang telah melakukan ini?"
"Kurasa ada orang lain yang membantu target kita, dan jumlah mereka ada dua."
Ketiga Assassin itu terdiam dalam waktu yang cukup lama, sampai akhirnya salah satu dari mereka menciptakan sebuah bola api di tangan kanannya.
Dhaar.
Assassin itu melempar bola apinya ke kelima mayat rekannya, dan ketika mereka semua telah hangus-- ia berkata, "Ayo kembali."
Kedua Assassin lainnya mengangguk pelan, dan mereka bertiga menghilang dalam sekejap dari sana.
__ADS_1
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.