
Ketika keributan masih terus berlangsung, datang dua petugas keamanan yang tampaknya adalah seorang kultivator. Mereka langsung memberikan aura kuat yang mendominasi sehingga membuat suasana ricuh menjadi hening seketika.
"Kalian telah melanggar peraturan kota Luoyang, hukuman akan menanti kalian." salah satu petugas kemananan berkata dengan suara acuh tak acuh.
"Tapi, bukan aku yang memulainya duluan!"
"Hei! Kau mencuri uangku, masih tidak mau mengaku, brengsek?!"
"Aku tidak peduli siapa yang salah dan siapa yang benar. Sekarang, ikut kami dengan tenang... Jika menolak, maka pihak keamanan kota Luoyang akan menganggap kalian sebagai musuh." petugas keamanan lainnya memberikan peringatan, lalu mulai berjalan kembali ke arah gerbang.
Kedua orang yang menciptakan keributan hanya bisa pasrah ketika mendengar itu, mereka berdua langsung mengikuti petugas keamanan dalam diam.
"Tegas sekali, ya... Terlebih lagi, mereka langsung menurut tanpa perlu dikekang." Li Hao sedikit terkejut, tetapi ia tidak terlalu mengekspresikannya.
"Namanya juga kota besar, bahkan di sekteku-- melanggar peraturan yang terbilang sepele bisa mendapatkan hukuman." Diao Chan berkata tanpa menoleh sedikitpun.
Li Hao hanya mengangguk beberapa kali dan tidak berkata lebih jauh.
***
Setelah memasuki kota Luoyang dengan membayar satu koin emas per orang, Li Hao dan yang lainnya langsung berjalan menuju ke gerbang selanjutnya, yaitu, gerbang ketiga.
"Woah... Ramai sekali." mata Wei Han berbinar dan terus berdecak kagum ketika melihat suasana kota yang baru pertama kali dirinya lihat.
"Omong-omong, di mana Turnamen akan berlangsung?" Li Hao bertanya sembari menoleh ke arah Diao Chan yang ada di sampingnya.
"Di dalam gerbang ketiga..." Diao Chan menjawab dengan cepat.
"Hm... Kalau begitu, apakah kau mengetahui tempat orang yang menjual informasi?" tanya Li Hao penasaran.
"Apa kau berencana untuk membeli informasi daripada susah payah mencari keberadaan orang kepercayaan ayahku?" Diao Chan menebak seolah bisa mengetahui isi pikiran dari pemuda itu.
"Begitulah, kota ini terlalu luas, aku tidak yakin bisa mencarinya dalam waktu satu atau dua hari." Li Hao mengangguk pelan, ia tidak berusaha menyembunyikan rencananya itu.
__ADS_1
"Baiklah, itu terserahmu." Diao Chan mengangguk pelan, lalu mulai memimpin jalan untuk pergi ke tempat orang yang menjual informasi.
......................
"Kau tau bukan kalau Lima Menara Naga tidak hanya sekedar 'nama' saja?" Diao Chan berbicara sembari melirik ke arah Li Hao di sampingnya.
"Ya, tapi aku tidak terlalu tau tentang detailnya." Li Hao menyahuti.
"Salah satu dari kelima Menara itu disebut sebagai Menara Informasi, di sana menjual berbagai macam informasi yang dibutuhkan..." Diao Chan menjelaskan dan tanpa menunggu tanggapan dari Li Hao, ia kembali berkata, "Lebih baik kita membeli informasinya di sana, tapi akan menggunakan sedikit lebih banyak uang daripada penjual informasi yang lainnya."
"Itu tidak masalah, aku cukup yakin dengan jumlah koin emasku yang sekarang. Lagipula, semakin terkenal nama tempatnya semakin akurat pula informasinya." Li Hao tidak merasa keberatan sama sekali atas usulan wanita itu.
"Baguslah, kalau kau kekurangan, aku akan membantumu." Diao Chan menambahkan.
"Ya, baiklah." Li Hao tersenyum tipis, dan ia tidak berbicara lebih jauh lagi.
***
Membeli Informasi tentang keberadaan orang kepercayaan yang dimaksud oleh Diao Chan tidak terlalu menggunakan banyak uang, sebab informasi tersebut hanya berada di kategori tingkat menengah.
"Informasi yang diberikan sangat detail, dan mereka tampaknya yakin kalau informasi tersebut sudah seratus persen keakuratannya." Li Hao bergumam setelah keluar dari Menara Informasi.
"Itulah Lima Menara Naga, mereka akan memberikan pelayanan yang terbaik agar tidak merusak citranya." Diao Chan menyahuti dengan tenang.
"Apakah aku bisa membeli informasi tentang Kekaisaran Bintang di tempat ini?" Wei Han bertanya, membuat Li Hao dan Diao Chan berhenti melangkah.
"Apakah kamu penasaran dengan itu, Wei Han kecil? Bibi akan membeli informasinya jika kamu menginginkannya." Diao Chan langsung memegang pundak Wei Han sembari jongkok agar wajah mereka saling berhadapan.
"Hahaha... Itu tidak perlu, bibi. Aku hanya penasaran saja..." Wei Han tertawa canggung karena tak mengira reaksi bibinya akan sejauh ini.
"Hm... Kamu yakin? Kamu mungkin bisa mengetahui, dalang yang melakukan kudeta di Kekaisaran Bintang-- sekaligus sosok orang yang telah membunuh kedua orang tuamu." Li Hao bertanya sembari menatap anak kecil itu.
Diao Chan yang mendengarnya langsung memelototi Li Hao seolah mengatakan 'kenapa kau membahas tentang kematian orang tuanya!'.
__ADS_1
"Ah, itu tidak perlu, paman." Wei Han mendongak agar bisa melihat wajah Li Hao, senyum pahit terukir di wajahnya, " Kalau aku sudah mengetahuinya, lalu apa? Aku masih anak lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa..."
"Aku mengerti." Li Hao tersenyum tipis, lalu menggendong Wei Han-- membuat mereka terlihat seperti ayah dan anak, "Ayo kita pergi cari makan, aku akan membelikanmu semua jajanan yang kamu suka."
Mau bagaimanapun, Wei Han adalah seorang anak kecil yang baru berusia 10 tahun, menerima informasi seberat itu pasti akan membebankan mentalnya, dan hal tersebut bisa saja memperlambat perkembangannya di masa depan nanti.
"Woah! Benarkah, paman?" Wei Han bertanya dengan nada antusias, seakan seluruh perhatiannya sudah teralih pada kata-kata itu.
"Tentu saja, tapi jangan mahal-mahal, ya. Hahahaha..." Li Hao tertawa tanpa malu setelah mengakhiri kata-katanya.
"Tentu, paman!" jawab Wei Han cepat.
Li Hao terus tertawa dan meninggalkan Diao Chan yang memperhatikan keduanya dalam diam. Senyum tipis perlahan terukir di wajahnya, dan ia mulai berjalan mengikuti pemuda itu dengan pipi yang sedikit merah merona.
***
Setelah melakukan beberapa kesenangan sampai malam tiba, Li Hao dan yang lainnya memutuskan untuk berhenti dan beristirahat. Mereka bertiga pergi ke sebuah penginapan yang cukup megah, dan menyewa sebuah kamar dengan dua kasur.
Sebenarnya Li Hao bisa saja menyewa satu kamar lainnya untuk Diao Chan, tetapi wanita cantik itu menolak karena menyewa dua kamar dengan satu kasur memakan biaya lebih mahal.
Lagipula, Diao Chan tidak keberatan jika satu ruangan dengan Li Hao, mereka berdua sudah bersama selama dua bulan kurang dan dia tau kalau pemuda itu bukanlah seseorang yang mencurigakan ataupun berbahaya.
Setelah berada di kamar penginapan, Li Hao langsung berbaring di atas tempat tidurnya. Wei Han sendiri berdiri di tempatnya karena ia bingung harus tidur dengan siapa.
"Tidak perlu bingung, pilih saja yang kamu inginkan. Tidur di ranjang paman, atau bibimu..." Li Hao yang melihat kebingungan di wajah anak kecil itu berkata dengan nada santai.
"Itu benar..." Diao Chan mengangguk pelan sembari tersenyum.
Wei Han tersentak mendengarnya sebelum menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia akhirnya memutuskan untuk tidur satu ranjang bersama pamannya.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.
__ADS_1