
Tepat satu minggu sebelum latihan terakhir bersama Ming Na dimulai, Li Hao mendengar sebuah rumor yang tidak mengenakkan.
Rumor tersebut adalah sekte Lotus Hitam melakukan pencarian besar-besaran terhadap pemuda bernama Li Hao, pahlawan kecil yang sempat menjadi perbincangan hangat karena telah menjadi salah satu kontributor paling atas dalam penyelamatan jenius muda saat invasi di kota Luoyang. Sekte bintang sepuluh tersebut juga memberikan harga tinggi pada siapa saja yang bisa membawa Li Hao hidup-hidup.
Tentu saja tindakan yang dilakukan oleh sekte Lotus Hitam menarik perhatian banyak orang, terutama dari sekte Aliran Putih. Namun, belum ada kelompok yang melakukan pergerakan untuk melindungi Li Hao sebab mereka masih belum mengetahui tujuan sekte Lotus Hitam menangkapnya.
Traang!
"Serangan tipuanmu terlalu mudah untuk ditebak, tapi itu sudah cukup baik bagi pemula sepertimu." Li Hao menasehati dengan tenang setelah berhasil melempar jauh pedang Ming Na.
"Ugh, padahal menurutku itu sudah sangat bagus." Ming Na membalas sembari mengambil pedangnya di tanah, "Omong-omong, Guru akan pergi ke Gua Dunia Lain setelah ini?"
"Ya, aku akan pergi besok." Li Hao mengangguk kecil.
"Begitu..." Ming Na tidak beraksi banyak, lalu mengangkat pedangnya, "Mari kita mulai kembali."
Li Hao tersenyum tipis sebelum berkata, "Majulah..."
......................
Latihan berakhir ketika waktu sudah menunjukkan sore hari, Li Hao merasa puas dengan perkembangan Ming Na selama satu bulan terakhir. Mereka berdua kemudian membersihkan diri, lalu mengisi perut setelah latihan panjang bersama kakek tua di rumah.
"Huaa... Kenyangnya..." Li Hao memegang perutnya sesaat setelah menyelesaikan makanannya.
"Kakek juga sama, eugh..." Kakek tua bersendawa, dan Li Hao langsung tertawa melihatnya.
Sementara, Ming Na hanya bisa tersenyum melihat kelakuan mereka berdua yang sudah sangat akrab.
Setelah selesai makan dan kakek tua masuk ke kamar untuk beristirahat, Li Hao bersama Ming Na pergi dari rumah dan berjalan menuju pantai.
Mereka berdua mengobrol sepanjang perjalanan mengingat malam ini adalah malam terakhir mereka bertemu, selama di perjalanan mereka hanya mengobrol tentang latihan yang dilakukan selama sebulan terakhir dan juga tujuan Li Hao pergi ke Gua Dunia Lain.
Setelah sampai di tepi pantai, keduanya duduk bersama dan menikmati suara ombak serta memandangi langit yang dihiasi rembulan.
"Tak terasa ini akan jadi malam terakhir kita duduk berdampingan seperti ini..." ucap Ming Na, suaranya terdengar pelan.
"Yah, kau benar." Li Hao tersenyum tipis, "Kuharap di masa depan nanti, kita bisa bertemu kembali dan pada saat itu kau telah berubah menjadi sosok yang kau inginkan."
"Aku harap begitu..."
Karena sesi latihan berakhir, Ming Na tidak lagi memanggil Li Hao dengan sebutan Guru. Tentu saja hal itu bukan keinginannya melainkan permintaan dari orang itu sendiri.
"Sudah larut malam, ayo kembali." Li Hao bangkit berdiri, lalu meregangkan tubuhnya.
__ADS_1
Ming Na sendiri hanya mengangguk, dan sebelum mereka kembali ke desa, Li Hao mengeluarkan sebuah pedang dan topeng berwarna hitam polos.
"Itu... Untuk apa?" Ming Na sedikit memiringkan kepalanya melihat Li Hao mengeluarkan barang-barang itu.
"Untukmu..." Li Hao tersenyum sembari mengulurkan kedua tangannya.
"Eh?"
"Kedua barang ini akan sangat berguna untukmu nantinya..." Li Hao berkata, lalu menjelaskan keunggulan pedang Angin dan topeng hitam itu.
Ming Na terdiam sejenak setelah mendengarkan penjelasan tersebut, ia kemudian menerimanya lalu memeluk Li Hao tanpa mengeluarkan satu patah katapun.
Li Hao cukup terkejut melihat reaksi Ming Na yang sampai memeluknya, namun ia tidak mengatakan apa-apa dan membiarkan gadis cantik itu melepas pelukannya.
"Terima kasih..."
Setelah satu menit lamanya, Ming Na melepaskan pelukannya dan mengucapkan rasa terima kasih.
Li Hao hanya mengangguk kecil, lalu memegang kepala Ming Na, "Jangan mudah percaya dengan orang lain, dan lakukan apa yang menurutmu itu baik."
"Aku mengerti..." Ming Na menjawab demikian, dan Li Hao hanya tersenyum kemudian mengajaknya untuk kembali.
***
Saat ini, Li Hao sedang berdiri tepat di hadapan rumah gubuk. Di dekatnya terdapat Ming Na dan juga kakek tua, keduanya mengucapkan salam perpisahan untuknya.
"Nak, Li Hao. Kakek sungguh berterima kasih... Mulai dari melatih Na'er sampai semua yang telah kamu berikan, kakek tidak tidak akan melupakannya."
"Tidak perlu merasa berhutang budi, Kek. Aku membantu kalian berdua dengan tulus..." Li Hao memegang kedua tangan kakek tua, "Kuharap kakek sehat terus supaya kita bisa bertemu di kemudian hari."
"Kamu juga, Nak Li Hao. Sehat-sehat terus..."
"Tentu, Kek."
"Li Hao, aku juga berterima kasih. Kuharap kau bisa sampai ke tempat tujuanmu dengan selamat." Ming Na menangkupkan tangannya sebagai tanda hormat.
"Setelah aku pergi, teruslah berlatih dan jangan lupakan tujuanmu menjadi kultivator."
Ming Na mengangguk dan Li Hao juga melakukan hal yang sama. Akhirnya, mereka berpisah dan Li Hao langsung berjalan menuju rute Gua Dunia Lain.
Saat berjalan menuju keluar desa, Li Hao berpapasan dengan dua orang yang tidak lain merupakan anggota sekte Danau Suci. Mereka berdua langsung menyapa dan segera menghampirinya.
"Teman Dao, tumben sekali kau berada di sini. Bukankah biasanya kau melakukan latihan dengan gadis cantik itu?" pria paruh baya yang memiliki bekas luka di kakinya bertanya.
__ADS_1
"Aku sudah selesai melatihnya. Sekarang, aku ingin pergi ke tempat yang menjadi tujuan utamaku."
"Ah, Gua Dunia Lain?"
"Ya, benar." Li Hao mengangguk, lalu bertanya, "Apa kalian akan terus menetap di sini?"
"Yah, begitulah. Kita berdua harus menjaga desa ini sampai ada perintah untuk kembali..." pria paruh baya dengan bekas luka di kakinya menjawab, "Huaaa... Enaknya junior kita, dia bisa pulang lebih cepat karena masih berstatus murid."
Junior yang dimaksud adalah pemuda yang bersama kedua pria paruh baya tersebut, dia kembali lebih cepat karena masih seorang murid. Itu dilakukan supaya murid-murid yang menjalankan tugas tidak mengalami keterlambatan dalam berkembang.
"Hahaha, tapi menyenangkan bukan bisa tinggal di sini dan bersantai?"
"Em, begitulah. Setidaknya kami bisa tenang sementara waktu tanpa harus mendengar ocehan Tetua..."
Li Hao tertawa kecil mendengarnya, lalu bertukar beberapa kata sebelum akhirnya berpisah dengan mereka berdua.
Setelah keluar dari desa dan berlari menuju Gua Dunia Lain, Li Hao melihat layar statusnya sembari memikirkan statistik apa yang harus ditingkatkannya.
[ Nama: Li Hao
Umur: 19 Tahun
Level: 248
Basis Kultivasi: Golden Core bintang 8
Statistik
Strength: 300 Vitality: 235
Agility: 351 Qi: 420
SP: 150 ]
"Hm, statistik apa yang harus kutingkatkan, ya?" Li Hao bertanya-tanya dalam hati sembari memegang dagunya, "Aku hanya berniat menggunakan 50 poin saja, dan sisanya akan kugunakan saat waktu terdesak saja. Tapi sekarang aku bingung harus meningkatkan yang mana..."
Awalnya Li Hao berniat menggunakan 50 Skill Poinnya pada statistik Agility supaya pas menjadi 400, namun di sisi lain ia juga ingin meningkatkan pertahanan fisiknya yang masih berada di angka 200-an.
Li Hao memikirkan itu selama hampir setengah jam dan pada akhirnya ia meningkatkan statistik Agilitynya sebanyak 50 poin dan mendapatkan bonus SP sebanyak 50 poin.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.
__ADS_1