
Mereka bertiga kemudian singgah di restoran yang cukup terkenal, lalu makan di sana tanpa menerima gangguan sedikitpun.
Setelah selesai, mereka langsung kembali ke penginapan dan menunggu sampai orang-orang suruhan ayah Diao Chan datang menjemput.
"Ah, aku kesal karena pulang sekarang..." Diao Chan menggerutu, raut wajahnya saat ini sama sekali tidak sedap dipandang.
"Bibi, apakah aku bisa diterima di sana?" Wei Han bertanya, membuat perhatian Diao Chan dan Li Hao langsung teralih padanya.
"Hm? Tentu saja kamu diterima! Memangnya siapa yang berani menolakmu di sana?" Diao Chan dengan semangat menjawab.
"Tapi, aku hanyalah orang luar. Kalau semisalnya aku menerima banyak ajaran dari bibi tanpa memiliki ikatan dengan sekte, pasti mereka akan membenciku." ekspresi Wei Han tampak kusut, meskipun ia adalah seorang anak kecil berusia 8 tahun tetapi dia mampu memperkirakan beberapa hal di masa depan.
"Kamu tidak perlu khawatir soal itu, Wei Han kecil." Diao Chan mengelus kepala anak kecil tersebut, lalu menunjuk dirinya sendiri, "Tidak akan ada yang berani membencimu. Jika ada seseorang yang menunjukkan kebencian padamu, aku akan menghajarnya sampai sekarat!"
"Wah, kau gila rupanya..." Li Hao secara tak sadar berkata demikian, dan membuatnya langsung menutup mulut dengan kedua tangannya.
Diao Chan langsung menatap tajam Li Hao, "Apa maksudmu gila?"
"Tidak, tidak, tidak... Kau salah dengar." Li Hao menggerakkan kedua tangannya secara berulang.
"Dasar pembohong! Apa maksudmu berkata gila padaku? Mau mati, ya?!" Diao Chan tampak kesal sampai beberapa urat di wajahnya terlihat.
"Maksudku, itu bukan solusi yang tepat untuk masalah Wei Han. Dengan membelanya sampai seperti itu malah akan memperburuk pandangan orang lain terhadapnya." ucap Li Hao menjelaskan, lalu segera melanjutinya, "Ada baiknya kamu menjadikan Wei Han sebagai murid di sektemu, pastikan dia masuk tanpa adanya bantuan darimu."
"Tapi, itu pasti akan mempersulitnya." Diao Chan yakin akan ada banyak masalah yang menimpanya.
"Justru itu, jangan buat dia terlihat spesial. Kalau kau memberikan Wei Han perlakuan khusus, orang-orang pasti akan benci terhadapnya dan mungkin bisa menimbulkan rencana jahat yang berakhir sangat buruk." balas Li Hao cepat, dan kembali melanjutinya, "Menurutku, Wei Han adalah anak yang jenius. Kalau dia bisa menjadi murid dan mendapatkan ajaran yang baik dari Guru dan juga dirimu, bukan hal yang mustahil kalau dia nantinya akan menjadi murid terbaik di angkatannya. Intinya sih, kau boleh mendukungnya tetapi jangan sampai ke tahap yang berlebihan, biarkan dia menjadi kuat dengan perlakuan yang sama sehingga orang-orang di sekitar mau mengakui dirinya."
"Um! Paman benar, kalau aku berusaha sendiri dan menjadi yang terbaik maka kemungkinan kecil bagi orang lain memandang buruk diriku." Wei Han tampak setuju dengan itu.
Diao Chan tidak langsung menjawab dan memikirkannya selama beberapa waktu, kemudian helaan nafas keluar dari mulutnya dan berkata, "Baiklah, aku tidak akan memperlakukan secara spesial. Namun, aku menganggapmu sebagai adik! Dengan begitu, kau tidak akan diganggu meskipun akan sedikit mendapatkan pandangan buruk dari orang lain."
"Bukankah itu sama saja?" Li Hao memasang ekspresi datar.
__ADS_1
"Tidak, itu berbeda. Karena kau bilang kalau Wei Han kecil adalah seorang jenius, dia akan dengan mudah menghilangkan semua pandangan buruk itu. Mereka semua nantinya berpikir kalau dia memang pantas menjadi adik kecilku." ucap Diao Chan menjelaskan.
Li Hao mengangguk beberapa kali seolah mulai mengerti maksudnya, ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Wei Han dan bertanya, "Bagaimana? Apa kamu bisa menjadi yang terbaik di sana?"
"Aku tidak bisa menjanjikan hal itu, paman. Tapi, aku akan berusaha sebaik mungkin supaya bisa menjadi yang terbaik!" balas Wei Han sambil tersenyum.
"Bagus, tapi jangan sampai memaksakan dirimu. Jangan pernah berpikir kami berdua akan kecewa kalau kamu tidak mampu menjadi yang terbaik di sana." ucap Li Hao memberitahu.
"Aku mengerti, paman."
Li Hao tersenyum tipis, ketika dirinya ingin mengatakan sesuatu, suara ketukan pintu terdengar sehingga membuat mereka bertiga mengalihkan pandangan ke arah pintu ruangan.
Li Hao tidak banyak bicara dan langsung membuka pintu tersebut, ia bisa menemukan lima orang dewasa yang dua di antaranya adalah seorang perempuan.
"Siapa kalian...?" Li Hao bertanya, nadanya terdengar sedikit gugup karena merasakan aura kuat keluar dari tubuh mereka.
"Kami datang untuk menjemput Nona muda." ucap salah seorang pria paruh baya, wajahnya terlihat garang dan ada beberapa bekas luka permanen di kedua tangannya.
"Ah..." Li Hao mundur beberapa langkah, lalu memperlihatkan Diao Chan dan Wei Han yang berjalan menghampiri.
"Aku mengerti, aku mengerti." Diao Chan membalas dengan acuh tak acuh, lalu pandangannya berpaling ke arah Li Hao, "Apa kau ingin menetap di kota ini untuk sementara waktu?"
"Tidak, aku akan pergi setelah dirimu..." jawab Li Hao sambil tersenyum.
"Begitukah? Baiklah, kapan kita bisa bertemu lagi?" Diao Chan kembali bertanya.
"Entahlah, mungkin aku akan mendatangi sektemu beberapa tahun ke depan."
"Janji, ya?! Kalau tidak datang, aku akan memusuhimu!"
"Ya, aku janji." Li Hao mengangguk sekali saat menjawabnya.
Diao Chan tersenyum lebar, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada lima Nascent Soul yang berada di luar, "Dia tidak bersamaku, jadi lupakan perintah Ayah. Kalau kalian macam-macam, aku akan mengamuk seperti waktu terakhir kali!"
__ADS_1
"Kami mengerti, Nona..." salah satu dari mereka menjawab dengan tenang.
Diao Chan mengangguk puas mendengarnya, lalu meraih tangan kanan Wei Han, "Kalau begitu, kita akan berpisah di sini." ucap Diao Chan sambil menatap Li Hao.
Sementara Li Hao sendiri mengangguk pelan, "Sampai jumpa lagi..."
Diao Chan mengangguk kuat, ia bersama Wei Han dan kelima Nascent Soul tersebut pergi dari sana.
Li Hao menghela nafas panjang setelah kepergian mereka, entah kenapa perasaannya menjadi sedikit aneh karena harus berpisah dengan mereka.
"Sendirian lagi, ya?" Li Hao diam-diam tersenyum pahit, lalu keluar dari kamar penginapan.
Sesuai dengan rencananya sebelumnya, Li Hao memutuskan untuk keluar dari kota Luoyang karena sudah tidak ada yang harus dirinya lakukan di sini.
Setelah berada di luar kota, Li Hao menghentikan langkahnya dengan mata yang melebar. Dirinya sekarang ini dihadang oleh beberapa orang yang tampaknya sudah cukup berumur.
Mereka saling menatap tajam satu sama lain sehingga membuat Li Hao berpikir kalau masing-masing dari mereka bukan berasal dari pihak yang sama.
"Um, apa ada sesuatu yang kalian inginkan?" Li Hao bertanya, suaranya terdengar jelas sedang gugup.
"Nak, aku menyaksikan dirimu saat Turnamen berlangsung. Dan aku memutuskan untuk merekrutmu menjadi murid sekteku, sekte Lingkaran Pelangi." ucap seorang perempuan paruh baya, dia adalah seorang Nascent Soul yang hampir mendekati Immortal.
"Daripada masuk ke sekte itu, lebih baik kau masuk ke dalam sekteku! Aku adalah Wakil Ketua dari klan Padang Pasir Hitam!" seorang pria berbadan kekar yang tampaknya adalah seorang Nascent Soul akhir berkata dengan lantang.
"Perkenalkan, aku adalah Ahn Yang. Aku adalah seorang Tetua yang berasal dari sekte Delapan Tombak Langit, tujuanku di sini karena ingin merekrutmu menjadi salah satu murid di sana."
Dua orang lainnya juga mempunyai tujuan serup dengan ketiga orang itu, mereka ingin merekrut Li Hao karena sangat menyukai kemampuannya.
Li Hao sendiri sebenarnya tidak terlalu terkejut dengan situasi ini, tapi ia tak menyangka kalau sebagian besar orang yang menghadangnya mempunyai latar belakang yang besar.
Li Hao terdiam selama beberapa waktu setelah mereka semua menyampaikan niat masing-masing, ia sedang memikirkan cara untuk menolak tanpa harus menyinggung perasaan mereka.
Bersambung.....
__ADS_1
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.