Terjebak Di Dunia Kultivator

Terjebak Di Dunia Kultivator
Seorang Nascent Soul


__ADS_3

Kedua pengawal itu datang menghampiri Li Hao, mereka berhenti ketika sudah berjarak kurang dari lima meter lagi.


"Nak, pergilah dari sini."


"Benar, jangan ikut campur dengan urusan yang dilakukan Tuan muda kami."


Li Hao tidak bereaksi saat mendengarnya, wajahnya datar seolah tak peduli dengan ucapan mereka berdua.


"Hey, bocah. Apa kau sedang mempermainkan kami?" salah satu dari kedua pengawal merasa tersinggung karena Li Hao tidak menanggapi ucapan mereka.


"Tidak..." Li Hao menggeleng pelan, lalu menunjuk ke arah wanita yang masih dimaki oleh pemuda yang dipanggil Tuan muda Li, "Aku menginginkannya... Jika kalian memberikan dia, aku dengan senang hati pergi dari sini."


Kedua pengawal tersebut tertegun ketika mendengar itu, mereka kemudian memberikan tatapan tajam dan mengeluarkan aura Qi Refinement.


"Bocah, kuperingatkan sekali lagi untuk pergi dari sini. Jika kau masih diam saja, bersiaplah untuk menerima akibatnya." salah satu dari kedua pengawal mulai naik darah, namun ia masih bisa menahan emosinya.


Li Hao mengangkat sudut bibirnya dan berkata, "Akibatnya? Lucu sekali..."


Whooosh!


Aura Forging Qi bintang 14 merembes keluar dari tubuh Li Hao, meskipun dihadapkan oleh dua orang Qi Refinement dirinya sama sekali tidak gentar.


"Aku cukup yakin bisa menghajar mereka berdua..." Li Hao berpikir, dan ia mulai melakukan kuda-kuda tinju petir merah.


Kedua pengawal tersebut tidak tinggal diam, mereka berdua mengeluarkan pedang yang tersarung di pinggang dan siap untuk maju kapan saja.


"Berhenti." sebuah suara perempuan terdengar, yang disertai aura begitu kuat.


Aura yang dikeluarkan oleh Li Hao dan kedua pengawal itu sama sekali bukan tandingannya, dan mereka bertiga langsung bertekuk lutut karena tak kuasa dengan aura asing tersebut.


"Aura ini... Seorang Nascet Soul." salah satu pengawal langsung merinding saat mengatakan itu, begitu juga dengan temannya.


Li Hao sendiri yang tidak sengaja mendengarnya merasa sedikit ketakutan, "Nascent Soul? Sialan! Bagaimana bisa ada sosok sekuat itu di kota ini?".


Kondisi Tuan muda Li juga sama seperti Li Hao dan kedua pengawalnya, ia telungkup di tanah karena aura itu benar-benar berat baginya. Sedangkan wanita yang dimaki oleh Tuan muda Li sama sekali tidak terpengaruh dengan aura tersebut, dia mundur beberapa langkah karena terkejut dengan apa yang terjadi saat ini.


"Kalian membuat keributan di depan tempat makan yang sedang aku singgahi, sungguh lancang sekali." suara perempuan kembali terdengar, "Pergilah dari sini, jangan buat nafsu makanku hilang."


Sesaat setelah itu, aura yang menimpa tubuh Li Hao dan yang lainnya menghilang seketika. Tubuh mereka semua langsung dipenuhi dengan keringat dingin, ketakutan jelas malanda hati mereka.

__ADS_1


Tuan muda Li langsung pergi dari sana tanpa mengeluarkan sepatah katapun, ia meninggalkan perempuan itu karena takut Nascent Soul yang mengancam mereka barusan turun tangan.


Kedua pengawal yang berada di hadapan Li Hao langsung mengikuti Tuan muda mereka.


Li Hao berdiri dan terdiam sejenak, matanya teralih ke arah perempuan yang barusan dimaki oleh Tuan muda Li.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Li Hao dari kejauhan, ia sengaja tidak menghampiri perempuan itu karena tidak ingin dia ketakutan.


Perempuan itu menatap Li Hao dan ia mengangguk pelan, "T-terima kasih karena telah menyelamatkanku." ucapnya dengan suara pelan.


"Tidak masalah. Kalau begitu, aku pergi dulu... Jaga dirimu baik-baik." Li Hao tersenyum tipis saat mengatakannya.


Perempuan itu mengangguk, dan kemudian pergi dari sana dengan kepala yang sedikit menunduk ke tanah.


"Sepertinya dia masih ketakutan..." Li Hao bergumam sebelum matanya teralih ke pintu restoran, "Penjaga itu... Sudah tidak ada?" Li Hao merasa sedikit keheranan, tapi ia langsung menepis pikiranny itu dan berjalan pergi dari sana.


***


Di sebuah ruangan khusus, terlihat tiga orang perempuan yang sedang duduk dan dipisahkan dengan meja bundar.


"Anak muda itu menarik..."


"Apakah guru tertarik padanya?"


"Ah, begitu..."


Perempuan yang dipanggil Guru itu tersenyum pada muridnya, "Akhir-akhir ini kamu terlihat murung, ada apa?"


"Tidak ada, guru." jawab seorang gadis cantik yang terlihat berusia 17 tahun-an.


Dia mempunyai rambut putih dengan panjang yang sampai menyentuh pinggang, kedua pupil matanya berwarna merah gelap dan dia memiliki lekuk tubuh yang sangat diidamkan oleh setiap wanita. Kulitnya berwarna putih tanpa adanya noda, suaranya begitu lembut dan membuat banyak pria terbius olehnya.


"Hahahaha... Adik Lian mungkin murung karena dia merindukan mantan kekasihnya." seorang gadis cantik lainnya berkata dengan lantang, dia mempunyai rambut hitam sepunggung dan kedua pupil matanya berwarna coklat cerah.


"Kakak Yin! Jangan membicarakan dia lagi, aku tidak mau mengingatnya terus!"


"Hehehehe... Adik Lian, jangan begitu serius, itu hanya gurauan saja."


"Gurauanmu menyebalkan!"

__ADS_1


"Oho~ Apa kamu marah? Adik Lian yang manis~" perempuan berambut hitam yang dipanggil kakak Yin itu mencubit kedua pipi adik seperguruannya.


"Ugh... Berhenti..." adik Lian berusaha melepaskan cubitan itu, tapi kakak seperguruannya malah tambah senang dan semakin keras mencubitnya.


"Bisakah kalian tenang?" perempuan yang dipanggil guru oleh mereka berdua berkata dengan wajah tanpa ekspresi, dia mempunyai kecantikan yang begitu luar biasa-- kulitnya masih kencang meskipun sudah menginjak umur ratusan tahun.


Dia adalah Meng Yu, seorang kultivator wanita yang namanya cukup terkenal di Daratan Surgawi.


Dahulu kala, dia adalah seorang kultivator yang berada di tingkat Immortal, akan tetapi sebuah peristiwa buruk menimpanya sehingga dia mengalami kemunduran kultivasi sampai ke tingkat Nascent Soul.


"Ehem... Maafkan kami, guru." kedua gadis cantik itu langsung menutup mulut usai mengatakannya.


"Xue Lian... Apakah kamu murung karena ayahmu melarang dirimu untuk berpetualang seorang diri."


Perempuan berambut putih dengan pupil mata merah itu langsung tersenyum pahit, "Ya, guru. Ayah beralasan kalau aku yang sekarang masih sangatlah lemah... Jika aku menjelajahi dunia luar seorang diri, mungkin aku tidak akan bisa kembali dengan selamat." ucap Xue Lian memberitahu, ia berharap gurunya ini mau membantu dirinya.


"Aku mengerti perasaanmu, tapi apa yang dikatakan oleh ayahmu adalah kebenaran. Dunia luar sangatlah berbahaya, kamu yang sekarang bagaikan semut di antara puluhan singa... Apalagi kamu mempunyai wajah yang cantik-- makin banyak orang jahat yang ingin mencelakaimu." Meng Yu menepuk kepala muridnya itu.


Mendengar hal itu membuat raut wajah Xue Lian tampak pasrah, ia hanya mengangguk dan berusaha untuk tersenyum.


"Kalau kamu bisa mencapai ranah Golden Core dalam tiga tahun lagi, mungkin guru akan meminta ayahmu untuk mengabulkan keinginanmu itu." timpal Meng Yu dan membuat raut wajah Xue Lian menjadi cerah.


"Benarkah itu, guru?" tanya Xue Lian memastikan.


"Tentu saja, tapi apa kau sanggup dengan persyaratan yang guru berikan?" jawab Meng Yu sembari mengangguk pelan.


Xue Lian terdiam sejenak mendengarnya, mencapai ranah Golden Core dalam tiga tahun lagi itu adalah sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan. Akan tetapi, pada saat itu umurnya baru 20 tahun, jika ia berhasil mencapainya mungkin dirinya akan masuk ke dalam kategori Jenius Termuda generasi sekarang.


Setelah terdiam selama beberapa saat, Xue Lian menatap gurunya dengan tatapan yakin, "Aku sanggup, guru!"


"Bagus..." Meng Yu tersenyum tipis, dan kemudian tatapannya ke arah muridnya yang lain, "Ada apa, Hua Yin? Sepertinya kamu ingin mengatakan sesuatu."


Hua Yin langsung menunjuk ke arah pintu ruangan tersebut, lalu bertanya, "Mau sampai kapan orang-orang itu menguping kita?"


Di balik pintu yang Hua Yin tunjuk, ada beberapa orang yang berdiri di sana dan salah satunya adalah penjaga pintu depan restoran.


"Jika penjagamu ingin meminta maaf karena tidak sempat turun tangan atas konflik yang terjadi di luar sana, lebih baik lupakan saja." Meng Yu berkata dengan suara tenang, tapi di setiap katanya mengandung aura yang mendominasi.


Orang-orang yang ada di balik pintu langsung bergetar ketakutan, mereka semua langsung menundukkan badan serendah mungkin lalu izin pergi dari sana.

__ADS_1


Bersambung.....


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.


__ADS_2