Terjebak Di Dunia Kultivator

Terjebak Di Dunia Kultivator
Membunuh


__ADS_3

"Keugh...! Bagaimana bisa seorang Forging Qi bisa sekuat ini?!"


"Sialan! Apa dia sebenarnya adalah seorang ahli yang sedang menyamar?!""


Setelah melakukan beberapa pertukaran serangan, keempat pria paruh baya itu langsung mengetahui kalau Li Hao bukanlah seorang Forging Qi pada umumnya.


"Kita harus membunuhnya!"


"Kau benar, kita harus mengerahkan segalanya untuk membunuhnya!"


Mereka berempat mengepung Li Hao dari berbagai arah lalu menyerangnya secara bersamaan.


Li Hao sendiri hanya mengangkat sudut bibirnya, meskipun mereka semua adalah seorang kultivator di ranah Qi Refinement tetapi bukan berarti kemenangan ada di tangan mereka.


Mereka sudah melemah setelah bertarung dengan perempuan bertopeng itu, dan lagi dirinya mempunyai kekuatan pukulan yang mampu membuat seorang Qi Refinement jatuh pingsan.


Li Hao mulai mengaliri Qi-nya ke pedang Iblis Malam dalam jumlah yang cukup banyak, dan tidak lama setelah itu aura hitam merembes keluar dari sana.


Whooosh!


Li Hao sejenak memperhatikan aura hitam itu, matanya kemudian teralih ke arah empat pria paruh baya yang sudah berada di dekatnya. Tanpa banyak bicara lagi, ia mengayunkan pedangnya ke samping dan menciptakan lapisan aura gelap.


Slaash!


Hanya dalam sekejap mata, dua orang yang menerima serangannya terbelah menjadi dua bagian. Sementara yang tersisa langsung mundur menjauh setelah menyaksikan hal itu, ketakutan langsung melanda hati mereka..


"B-bagaimana mungkin! Satu serangan saja... Teman-teman kita..." nafas salah seorang pria paruh baya mulai memburu, ia berbalik dan segera melarikan diri dari sana tanpa mempedulikan yang lain.


Pria paruh baya lainnya yang melihat temannya melarikan diri langsung mengumpat marah.


Dia juga ingin melarikan diri tetapi ketika hendak berbalik, matanya melebar karena pandangannya tiba-tiba saja menjadi terbalik.


"Eh...?"


Bruk.


Kepala pria paruh baya itu terpenggal dan jatuh ke tanah.


Li Hao yang menyaksikan semua itu hanya sedikit melebarkan matanya, "Aku... Membunuh seseorang..." suara Li Hao bergetar, tetapi ia menahan ketakutannya dengan cukup baik.

__ADS_1


Mata Li Hao kemudian tertuju ke pria paruh baya yang sedang melarikan diri, melihat jaraknya semakin jauh membuat Li Hao menghela nafas panjang, "Sebaiknya aku membiarkan dia pergi." Li Hao bergumam sembari menyimpan pedang Iblis Malam ke dalam inventory.


Sebenarnya menyisakan satu musuh adalah suatu kesalahan yang fatal, sebab itu bisa saja menciptakan masalah lainnya di masa depan nanti. Namun untuk saat ini Li Hao membiarkan kesalahan tersebut terjadi, karena ia memerlukan waktu untuk menenangkan diri setelah membunuh manusia.


Li Hao perlahan menghampiri perempuan berambut merah itu, lalu membopongnya dan membawa dia pergi dari sana.


......................


Selama di perjalanan, Li Hao tidak menemukan tanda-tanda kalau wanita tersebut akan menggerakkan sedikit tubuhnya.


Ketika Li Hao menemukan sebuah hutan yang cukup luas, ia tanpa banyak berpikir langsung memasukinya dan mencari tempat untuk bernaung.


Beruntung sekali Li Hao menemukan sebuah Gua yang ukurannya tidak terlalu besar. Setelah masuk ke dalam sana, ia membaringkan tubuh perempuan cantik itu lalu menyenderkan dirinya ke tembok Gua.


Li Hao menunduk sembari memegang kepalanya dengan kedua tangan, kejadian ketika dirinya membunuh orang-orang tadi masih terbayang jelas di pikirannya.


"Sialan... Sungguh mengejutkan anak introvert sepertiku bisa membunuh seseorang." Li Hao merasa sangat bersalah, namun di sisi lain ia tau kalau tidak memangsa maka dirinya yang akan dimangsa.


Ketika masih memikirkan kejadian tersebut, Li Hao dibuat tersentak saat ada suara lembut di dekatnya.


"Sepertinya kau orang baik..."


"Hm?" Li Hao sedikit mengangkat alisnya, lalu mulai bangkit berdiri, "Karena kau sudah bisa bergerak, aku pergi."


"Tidak, jangan pergi!" perempuan itu berseru sembari mengeluarkan Niat Membunuh.


"Untuk seseorang yang baru diselamatkan, kau sungguh arogan." tatapan Li Hao menjadi dingin, "Bahkan tidak ada kata terima kasih yang keluar dari mulutmu itu."


Perempuan cantik itu sesaat memasang wajah sedikit takut, lalu berkata dengan suara ketus, "Kedua kakiku masih belum bisa digerakkan, aku tidak akan mengizinkanmu pergi sebelum kedua kakiku bisa kembali normal."


"Kenapa juga aku harus membutuhkan izinmu?" Li Hao sedikit mengerutkan alisnya, ia menatap perempuan itu seolah mengganggapnya gila.


"Ehem! Omong-omong, terima kasih karena telah menyelamatkanku." perempuan itu mengalihkan pembicaraan karena malu, "Namaku Diao Chan, siapa namamu?"


Li Hao terdiam sejenak mendengarnya sebelum helaan nafas keluar dari mulutnya, ia kembali duduk di tempat sebelumnya lalu menjawab, "Namaku Li Hao, seorang pengembara biasa."


Diao Chan mengerutkan alisnya, ia tadinya ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak jadi.


Suasana hening setelah mereka berdua bertukar nama.

__ADS_1


Diao Chan masih mengamati gerak gerik pemuda pemuda itu untuk berjaga-jaga jika seandainya diserang secara mendadak.


"Kau tidak seharusnya waspada terhadapku, nona." Li Hao dengan acuh tak acuh berkata.


Diao Chan menyipitkan mata sebelum mendengus pelan, "Aku hanya berjaga-jaga saja, memangnya itu tidak boleh?"


Li Hao tidak menanggapinya karena tak mau berdebat.


Melihat Li Hao tidak menanggapi perkataannya membuat Diao Chan kesal, tetapi ia tidak mau mempermasalahkannya karena mau bagaimanapun pemuda itu adalah penyelamat hidupnya.


"Seandainya dia tidak ada, mungkin aku sudau menjadi sisa-sisa potongan daging." pikir Diao Chan..


Sebelumnya Diao Chan ingin meledakkan dirinya kalau keempat orang pria paruh baya itu ingin melecehkannya, untung saja Li Hao datang di saat yang tepat jadi dirinya mengurungkan niat itu karena ingin mengamati situasinya lebih lanjut.


"Omong-omong, kau mau pergi ke mana?"


Setelah suasana hening selama beberapa waktu, akhirnya Diao Chan memberanikan diri untuk membuka pembicaraan.


"Aku tidak tau. Paling hanya berburu, lalu menjual buruan yang kudapat. Setiap hari akan kuulang sampai aku menjadi kuat." Li Hao menjawab, nadanya masih acuh tak acuh.


"Pemikiranmu sungguh sederhana sekali, apa kau pikir hidup sesimpel itu?" Diao Chan mendengus mendengar ucapan naif itu, "Kau berasal dari mana?"


"Aku tidak tau, ingatanku menghilang saat mengembara."


Diao Chan sedikit terkejut mendengarnya, tetapi ia tidak memperlihatkan banyak reaksi, "Lalu, apakah kau sedang berusaha mengembalikan ingatanmu yang dulu?"


"Tidak juga..." Li Hao kembali menjawab, lalu melanjutinya, "Aku tidak terlalu peduli dengan ingatanku yang hilang."


"Hm, kenapa?" Diao Chan sedikit memiringkan kepalanya.


"Aku tidak mau menjawabnya." Li Hao akhirnya menatap perempuan di dekatnya itu, "Kau sudah mengajukan beberapa pertanyaan, seharusnya aku juga boleh melakukan hal yang sama, bukan?"


Diao Chan tidak bereaksi dan hanya menampilkan raut wajah datar, ia kemudian mengangguk pelan dan mempersilahkan pemuda itu untuk bertanya.


"Kau ini... Berasal dari Aliran Hitam, ya?" Li Hao menunjukkan raut wajah serius.


"Apa...?"


Bersambung.....

__ADS_1


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.


__ADS_2