
Li Hao bersama Zhang Hai keluar dari ruangan itu, keduanya langsung mendapati Dang Yun dan beberapa orang lainnya yang saling mengobrol.
"Tuan muda... Apakah kalian berdua..." Dang Yun merasa sedikit khawatir jika ada dendam di antara mereka berdua, takutnya-- toko miliknya akan dihubungkan dalam pertengkaran mereka nantinya.
"Kau tenang saja, pak tua! Kami tidak akan membuat masalah lebih jauh lagi." Zhang Hai tersenyum lebar-- suasana hatinya sedang dalam keadaan baik saat ini, "Aku akan membayar pedang Angin, tapi berikan pada dia." Zhang Hai memegang pundak Li Hao saat mengatakan itu.
"Ah, baik, Tuan muda. Ada lagi?" Dang Yun bertanya dengan hati-hati.
"Aku ingin mencari pedang yang lain lagi." jawab cepat Zhang Hai.
Dang Yun mengangguk paham dan tidak banyak bicara lagi dirinya langsung meminta mereka untuk mengikutinya keluar dari sana.
......................
Setelah Zhang Hai membayar pedang Angin dan memberikan 500 ratus koin emas pada Li Hao, ia dengan segera memilih pedang lalu membayarnya.
Mereka berdua kemudian diantar keluar dari toko tersebut oleh Dang Yun, tampaknya pria tua itu ingin mereka segera pergi dari sana.
"Hei, Li Hao. Apa kau benar-benar seorang pengembara?" Zhang Hai bertanya untuk memastikan.
"Ya, kenapa memangnya?" Li Hao sedikit memiringkan kepalanya.
"Masuklah ke sekteku! Aku yakin, para Tetua akan menyukaimu!" Zhang Hai memberikan penawaran sembari tersenyum lebar.
"Aku menolak." Li Hao tanpa banyak berpikir langsung menolak tawaran itu, sebelum Zhang Hai menanggapi ucapannya-- ia lebih dulu menjelaskan alasan kenapa dirinya menolak.
Setelah mendengar penjelasan itu dari Li Hao membuat Zhang Hai menghela nafas pasrah, "Padahal jika kau masuk ke dalam sekte akan dapat lebih banyak keuntungan! Tapi, ya sudahlah... Itu keputusanmu." Zhang Hai menggeleng pelan saat mengatakannya, sebenarnya amat disayangkan kalau sosok berbakat seperti Li Hao dibiarkan begitu saja-- tetapi ia tak bisa memaksanya lebih jauh karena takut hubungan mereka berdua akan menjadi canggung.
"Meskipun aku tidak masuk ke dalam sekte manapun, namun aku yakin kemampuanku tidak akan kalah dengan kalian-- para jenius di generasi ini." Li Hao berkata dengan santai sekaligus yakin, selama ada system di sisinya-- menjadi orang terkuat di Daratan Surgawi mungkin bukan hanya sekedar mimpi belaka saja.
"Kukuku... Kau sungguh percaya diri." Zhang Hai tertawa kecil, lalu berkata, "Kalau begitu, kita sudahi di sini. Temanku pasti sudah lama menungguku."
"Baiklah, sampai jumpa. Terima kasih hadiah taruhannya." Li Hao melambaikan tangannya sambil melihat pemuda itu berjalan menjauh darinya.
"Sial! Lain kali, aku yang akan memenangkannya!" Zhang Hai membalasnya dengan nada tinggi, meskipun begitu tidak ada sedikitpun kemarahan di kata-katanya.
"Aku akan menantikannya..." Li Hao bergumam pelan, dan tentu saja tidak akan bisa didengar oleh Zhang Hai.
***
Sebelum kembali ke penginapan, Li Hao mampir ke sebuah tempat yang menjual cincin penyimpanan. Alasannya membeli cincin penyimpanan adalah agar dirinya tidak menarik perhatian jika mengeluarkan senjata dari Inventory.
Cincin penyimpanan hanya untuk pengalihan, tetapi Li Hao akan menggunakan cincin tersebut untuk menyimpan mayat hewan yang ia buru.
Setelah membeli cincin penyimpanan yang ukurannya 5x5, Li Hao kembali ke penginapan yang menjadi tempatnya bermalam kemarin.
__ADS_1
***
Tok...
Tok...
Tok...
Li Hao mengetuk salah satu pintu kamar yang ada di lantai dua penginapan, dan tidak lama kemudian seorang perempuan cantik membuka pintu tersebut.
"Sudah selesai?" Diao Chan memastikan, ia langsung menyadari kalau Li Hao menggunakan sebuah cincin berwarna perak di jari telunjuk tangan kanannya, "Apa itu cincin penyimpanan?"
"Iya..." Li Hao mengangguk kecil sembari melangkah masuk ke dalam kamar tersebut.
Diao Chan tidak bertanya lebih jauh lagi lalu menutup pintu kembali setelah Li Hao masuk ke dalam.
"Hm?" alis Li Hao sedikit terangkat ketika dirinya menemukan Wei Han sedang berkultivasi di lantai, ia bisa melihat lonjakan energi merembes keluar dari tubuhnya, "Sepertinya dia akan naik tingkat sebentar lagi, itu termasuk cepat..."
"Karena kota ini padat akan Qi, mudah bagi seorang Forging Qi awal untuk naik ke bintang selanjutnya." Diao Chan menjelaskan dengan suara pelan.
Li Hao mengangguk sekali dan kemudian berbaring di atas tempat tidurnya
"Kau tidak mau berkultivasi di sini juga?" Diao Chan bertanya ketika dirinya sudah duduk di tempat tidur yang berbeda.
"Selama di perjalan kau juga begitu, tapi kenapa aku merasa kau semakin kuat setiap harinya?" Diao Chan menatap Li Hao dengan tatapan menyelidik.
Li Hao tertawa kecil sebelum menjawab dengan nada angkuh, "Beginilah kehidupan seorang jenius, malas sekalipun tetap mempunyai kemampuan yang luar biasa."
"Tsk, membual terus hidupmu." Diao Chan menjadi malas dan mengalihkan tatapannya ke arah yang lain.
"Mana ada bualan, itu adalah kenyataannya." Li Hao mendengus pelan usai berkata demikian.
Diao Chan terlalu malas untuk menanggapi itu dan mengubah topik obrolannya, "Omong-omong, apa paman Jang mendatangimu?"
"Paman Jang? Orang kepercayaan ayahmu itu?" Li Hao bertanya, berpura-pura lupa.
"Ya." Diao Chan mengangguk sekali.
"Tidak..." Li Hao menjawab singkat agar tidak menaruh kecurigaan.
Diao Chan tidak bereaksi banyak ketika mendengar jawaban itu, ia kemudian bangun dari tidurnya dan turun dari atas kasur lalu mulai melakukan posisi lotus yang letaknya tidak jauh dari tempat Wei Han berada.
"Aku akan berkultivasi, jadi jangan menganggu." Diao Chan berkata sambil menatap tajam pemuda yang berbaring di tempat tidur.
Li Hao sendiri hanya mengangkat satu tangannya sebagai tanda dirinya mengiyakan.
__ADS_1
***
Keesokan harinya.
Langit terlihat gelap dan suasana yang dingin mampu menusuk kulit manusia, Li Hao bersama Diao Chan keluar dari penginapan dan pergi ke tempat pendaftaran Turnamen dibuka.
Meskipun pembukaan pendaftaran Turnamen masih ada empat jam lagi, Li Hao memutuskan untuk datang lebih awal. Pasalnya, ia cukup yakin kalau pendaftaran akan sangat ramai mengingat slotnya yang dibatasi.
"Tidak biasanya, entah kenapa hari ini terasa sangat dingin..." Diao Chan mengusap kedua telapak tangannya, ia merasa tubuhnya sedikit menggigil.
"Benarkah? Biasa aja, tuh." Li Hao sedikit mengangkat kedua tangannya ke depan, ia cukup yakin angin dingin pagi ini normal seperti biasanya, "Kenapa kau tidak menggunakan Qi untuk menghalau hawa dinginnya?"
"Aku sudah melakukannya, tapi percuma saja... Aku tetap merasa kedinginan." Diao Chan menjawab dengan cepat.
Alis Li Hao sedikit mengerut, langkahnya terhenti dan ia memegang pundak Diao Chan sehingga membuatnya ikut berhenti.
"Ada apa?" Diao Chan mengerutkan alisnya, menatap pemuda di dekatnya dengan tatapan keheranan.
Li Hao tidak mengatakan apa-apa dan ia menempelkan telapak tangan kanannya ke dahi Diao Chan.
"Eh... Apa?" pipi Diao Chan sedikit memerah.
"Kau demam." Li Hao bergumam saat merasakan suhu tubuh Diao Chan yang panas, "Demamnya cukup parah, kau harus beristirahat."
"Pantas saja, aku merasa ada yang aneh..." Diao Chan tentu sudah menyadari keanehan pada kondisi tubuhnya, tetapi ia tidak terlalu memikirkannya dan hanya diam saja.
"Ayo kembali ke penginapan..." Li Hao langsung mengajak Diao Chan untuk kembali, namun wanita itu dengan tegas menolaknya.
"Aku tidak akan kembali sebelum mendaftar!" Diao Chan berkata dengan nada sedikit tinggi.
Li Hao terdiam sejenak sebelum menghela nafas panjang, karena tau kalau Diao Chan adalah perempuan yang keras kepala ia tidak akan berusaha membujuknya.
"Baiklah, pegang tanganku." Li Hao mengulurkan tangan kanannya dan membuat Diao Chan terkejut.
"Apa yang ingin kau lakukan?!" tanya Diao Chan sambil berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Aku akan menggunakan elemen api agar kau bisa merasakan hangat."
"Ah, begitu..." Diao Chan mengangguk paham, lalu memegang tangan kanan Li Hao menggunakan tangan kirinya.
Ketika keduanya bergandengan tangan, lapisan tipis berwarna merah mulai menutupi setiap sisi tubuh mereka. Pada saat itu, hawa dingin yang menyelimuti mereka berdua perlahan mulai digantikan dengan kehangatan.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.
__ADS_1