
Melihat Diao Chan yang sedang menatapnya membuat Li Hao sedikit keheranan, perempuan cantik itu sepertinya sudah menyelesaikan makanannya dan tampaknya perasaannya cukup membaik saat ini.
"Apa kau masih lapar?" tanya Li Hao setelah berada di sebelah tempat tidur Diao Chan.
Sementara Diao Chan menggeleng pelan, matanya kemudian tertuju pada Tang Ling yang sedang berbaring dan menatap langit-langit ruangan.
"Apakah kalian berdua saling mengenal?" Diao Chan bertanya, nadanya terdengar penasaran.
"Ya, dia pernah membantuku dulu. Aku menyapanya dan mengembalikan uang yang dipinjamkan padaku." jawab Li Hao, lalu bertanya, "Kamu ingin berkenalan dengannya?"
"Tidak, untuk apa berkenalan dengan seseorang dari Aliran Putih." Diao Chan mendengus.
"Eh, kupikir kau adalah orang yang senang berteman dengan siapa saja." Li Hao tampak sedikit terkejut, baru kali ini dirinya melihat Diao Chan membuat raut wajah sinis.
"Bahkan dari sesama Aliran Hitam saja tidak cukup membuatku akur dengan mereka..." Diao Chan membalas, lalu segera melanjutinya, "Lagian, kenapa kau berpikir aku adalah orang yang mudah berteman?"
"Hm, mungkin karena kau mau berteman denganku dan bahkan tidak ragu untuk merawat Wei Han setelah mengetahui masalahnya." Li Hao menjawab, dia terlihat sedikit ragu akan jawabannya.
Diao Chan berdecak beberapa kali sembari menggeleng pelan, ekspresi jelas mengatakan kalau jawaban yang Li Hao berikan sangatlah salah.
"Hahaha, bukan rupanya..." Li Hao menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan senyuman pahit di wajahnya.
"Aku dulu sama sekali tidak mempunyai rencana untuk berteman denganmu, awalnya aku menerima ajakanmu berangkat bersama karena aku ingin memanfaatkanmu untuk melindungiku sepanjang perjalanan menuju kota ini. Namun, di tengah perjalanan aku memutuskan untuk melupakan rencana tersebut karena sudah merasa nyaman denganmu." Diao Chan menceritakan tanpa terlihat ragu sedikitpun, kemudian bertanya, "Apa kau marah karena aku sempat mempunyai rencana semacam itu?"
"Tidak, sama sekali tidak..." Li Hao menggeleng pelan, lalu melanjutinya, "Rencanamu itu sudah benar, mungkin aku sendiri akan melakukan tindakan yang serupa jika berada di posisimu."
"Aku lega mendengarnya..." Diao Chan mulai tersenyum.
"Jadi, apa kau akan kembali?" tanya Li Hao penasaran.
"Ya, begitulah. Bagaimana denganmu?" jawab Diao Chan sekaligus membalikkan pertanyaan.
"Sama dengan apa yang kubilang sebelumnya, aku akan kembali mengembara untuk meningkatkan kemampuanku." Li Hao menjawab dengan santai, kemudian kembali berkata, "Mungkin aku akan mendatangimu kapan-kapan, tempatmu tinggal berada di wilayah sekte Tiang Naga Iblis, bukan?"
"Eh, bagaimana kau mengetahuinya?" Diao Chan sedikit memasang ekspresi terkejut.
"Dari orang yang kujenguk sebelumnya..." Li Hao menoleh ke belakang, dan matanya tertuju pada tempat tidur Tang Ling, "Eh, dia sudah menghilang?"
__ADS_1
"Aku sempat melihatnya bangun dan pergi dari sini..." balas Diao Chan, lalu bertanya, "Apakah dia mengatakan sesuatu tentang diriku?"
"Bukan hal yang spesial, dia hanya mengatakan kalau kau adalah Diao Chan yang berasal dari sekte Tiang Naga Hitam." jawab Li Hao, dan ia bisa menemukan sedikit reaksi aneh dari perempuan cantik itu, "Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Ah, tidak..." Diao Chan sedikit tersentak, lalu menggelengkan kepalanya, "Ayo kembali, sudah tidak ada alasan lagi kita terus tetap berada di sini."
Li Hao jelas menyadari kalau Diao Chan mempunyai sesuatu dalam pikirannya, ia sebenarnya ingin bertanya lebih jauh tetapi mengurungkan niat tersebut dan mengangguk kecil.
"Baiklah, ayo."
Mereka berdua sama-sama keluar dari ruangan tersebut, dan kembali ke penginapan.
***
Setelah mereka berdua berada di luar stadion, ada paman Jang dan juga Wei Han yang sedang berdiri tepat di bawah pohon.
"Paman, bibi!" Wei Han tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya dengan cepat.
"Wei Han kecil, apa kamu lapar?" Diao Chan tersenyum ketika anak kecil tersebut menghampirinya.
"Kalau begitu, ayo makan! Bibi juga sudah sangat lapar~" ucap Diao Chan penuh semangat.
Li Hao yang mendengarnya langsung menatap perempuan cantik itu, bukankah makanan ringan yang ia berikan sebelumnya sangat banyak? Apakah semua itu masih belum cukup?
Diao Chan tentu menyadari tatapan Li Hao akan tetapi dirinya lebih memilih untuk mengabaikannya dan segera melangkah pergi dari sana bersama Wei Han.
"Nona, apakah anda akan menetap di kota ini sampai Turnamen selesai?" tanya paman Jang penasaran.
"Tidak, aku akan kembali hari ini." jawab Diao Chan sembari menggeleng pelan.
"Begitu, ya? Aku sudah mengabarkan tentang Nona kepada Patriark melalui Jade Sound, dan beliau telah mengirim lima Nascent Soul untuk mengawalmu pulang." ucap paman Jang, lalu segera melanjutinya, "Seharusnya hari ini atau besok mereka sudah sampai, bisakah Nona menunggu sampai mereka tiba?"
"Apa yang Ayah katakan selain itu?" Diao Chan bertanya, raut wajahnya terlihat gelisah.
"Ah, itu... Nona pasti akan mendapatkan hukuman setelah kembali. Kemudian, beliau ingin bertemu dengan teman anda..." jawab paman Jang, matanya sesaat teralih pada Li Hao.
Diao Chan langsung menghela nafas pasrah ketika mendengar itu, lalu kembali bertanya, "Untuk apa ayah ingin bertemu Li Hao?"
__ADS_1
"Saya sendiri juga tidak mengetahuinya, Nona. Tapi kemungkinan beliau ingin berterima kasih atas aksinya yang menyelamatkan anda dari para bandit." ucap paman Jang menjelaskan.
"Yah, sepertinya itu tidak diperlukan. Kita akan berpisah di sini karena dia ingin melanjutkan mengembaranya..." balas Diao Chan tenang.
"Eh, bukankah tindakannya menyerah di pertandingan tadi karena Nona kalah?" paman Jang sebenarnya masih bingung dalam kasus ini.
"Tidak, dia memang sudah merencanakannya sebelum Turnamen dimulai." Diao Chan membantah, kepalanya menggeleng kecil.
Paman Jang tadinya ingin menanyakan alasan dari rencana tersebut, namun ia mengurungkan niatnya tersebut karena itu sudah masuk ke dalam pertanyaan pribadi.
"Kalau begitu, saya akan memantau anda dari kejauhan. Saya mohon untuk tidak membuat kekacauan di sini, Nona." paman Jang meminta secara tulus.
"Apa-apaan itu! Apa kau pikir aku adalah biang masalah? Mau kuhajar, ya?!" Diao Chan melotot, ia memasang ekspresi kesal.
"Tidak, tidak... Bukan itu maksud saya, Nona." paman Jang dengan cepat menggelengkan kepala, ia tadinya ingin memberikan satu alasan tetapi Li Hao lebih dulu memotongnya.
"Sepertinya kita sudah menarik perhatian terlalu banyak, bukankah kau ingin mengajak Wei Han ke tempat makan?" Li Hao menepuk pelan kepala anak kecil itu saat mengatakannya.
Diao Chan yang mendengarnya langsung mengendalikan diri, kemudian mendengus kecil dan membawa Wei Han pergi dari sana.
Melihat Diao Chan dan Wei Han berjalan menjauh membuat Li Hao menghela nafas pendek, ia menatap paman Jang lalu menangkupkan tangannya, "Kalau begitu, saya pamit dulu, Tuan Jang."
"Hei, kau..."
Ketika Li Hao ingin menyusul Diao Chan dan Wei Han, paman Jang memanggil dirinya sehingga membuatnya menoleh ke belakang.
"Apa kau tidak mempunyai niat tertentu pada Nona muda?" mata paman Jang sedikit menyipit.
Li Hao tersenyum tipis, dan menjawab, "Kalau aku mempunyai niat tertentu padanya, aku sudah melakukannya sebelum kita sampai di kota ini."
Paman Jang tidak mengatakan satu patah katapun setelah mendengar itu, ia lalu memberikan tanda untuk pemuda itu pergi.
Li Hao tidak terlalu mempermasalahkan tingkah pria paruh baya itu, ia menyusul kembali Diao Chan dan Wei Han yang sudah hampir tidak terlihat di matanya.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.
__ADS_1