
Kurang lebih sepuluh menit berlalu sejak Li Hao menghadapi dua kalajengking raksasa. Saat ini, dia berada dalam posisi unggul karena tubuhnya yang kecil memberinya keuntungan dalam situasi ini.
Li Hao sendiri tidak terluka selama pertarungan berlangsung, dan sebaliknya dia berhasil melukai kalajengking-kalajengking tersebut.
Li Hao terus menyerang dari titik buta tanpa memberi kesempatan kepada mereka untuk melakukan serangan balik. Setelah lima menit berlalu, satu kalajengking terbunuh oleh Tusukan Bintang, dan tak lama setelah itu kalajengking yang tersisa juga tewas karena teknik yang sama.
Sesaat setelah berhasil membunuh kalajengking yang terakhir, Li Hao menerima notifikasi atas kenaikan levelnya yang menjadi level 251.
"Jauh lebih mudah membunuh para kalajengking itu menggunakan pedang..." Li Hao bergumam sebelum menghela nafas pendek, "Yah, itu wajar saja... Aku tidak memiliki pengalaman yang bagus dalam menggunakan tangan kosong."
***
Gua Dunia Lain.
"Bajingan ini... Dia memasuki Pocket Realm untuk menghindari kejaran kita? Itu keberanian atau kebodohan yang mendarah daging?"
Sosok pria paruh baya berjubah putih dengan logo lotus hitam di belakang punggungnya bertanya-tanya, nadanya terdengar marah.
"Hahaha... Tenanglah, Tetua Dui. Bocah itu sudah berada di atas telapak tangan kita, sekarang waktunya menunggu pasukan khusus datang dan mencarinya di dalam sana."
Pria paruh baya lainnya membalas dengan santai, dia memakai topi caping yang terbuat dari bambu.
"Aku benar-benar tidak percaya... Patriark sampai mengirim tiga Tetua Inti untuk menangkap bajingan itu, apa yang telah dipikirkan beliau? Meskipun dia adalah bocah yang membuat kita kerepotan, tapi ini terlalu berlebihan!"
"Tutup mulutmu, Tetua Dui. Mempertanyakan kehendak Patriark sama saja menghina beliau, apakah pengetahuan sedasar itu kau sudah melupakannya?"
Seorang pemuda berusia sekitar 20-an memasang ekspresi serius, dia memiliki pedang yang tersarung di pinggangnya.
"Untuk seorang Tetua termuda, mulutmu sangat berisik, ya? Haruskah aku memberimu sedikit pelajaran?" Niat Membunuh merembes keluar dari tubuh Tetua Dui, ekspresinya saat ini tampak tak senang.
"Tetua Inti memiliki Hierarki yang sama, tidak ada yang namanya senior dan junior di sini." pemuda itu juga mengeluarkan Niat Membunuh yang kental, "Jadi, Tetua Dui... Apa kau pikir aku terlihat takut?"
Whoooosh!
Niat Membunuh mereka saling bertabrakan dan menggetarkan Gua Dunia Lain.
"Hentikan itu Tetua Dui, Tetua Long! Kita bertiga di sini ditugaskan untuk menangkap bocah itu, kalian berdua tidak melupakannya, bukan?"
"Haaa... Ingat ini baik-baik, Long bajingan. Aku akan menghajarmu setiap ada kesempatan, bersiaplah untuk itu."
__ADS_1
"Kalau begitu, aku juga melakukan hal yang sama padamu. Kuharap kau bisa mempertahankan gigi emasmu itu..."
Mereka berdua saling menatap tajam satu sama lain sebelum membuang muka ke arah yang berlawanan.
"Kekanakan-kanakan sekali, kenapa juga Patriark membentuk tim seperti ini..." pria paruh baya yang mengenakan topi caping bambu menghembuskan nafas pendek melalui mulutnya, "Omong-omong, apa yang sebenarnya dipikirkan bocah itu sampai berani kabur ke Pocket Realm di Gua Dunia Lain?"
***
"Sialan! Darimana mereka semua datang?!"
Saat ini, Li Hao dikelilingi oleh monster yang jumlahnya sangat banyak.
......................
Beberapa jam sebelumnya.
Setelah berhasil menghabisi kalajengking raksasa, Li Hao melanjutkan perburuannya sampai keluar dari sabana dan berakhir di hutan belantara.
Hutan yang dimasuki Li Hao memiliki pohon setinggi ratusan meter, dan saking banyaknya pohon yang ada di sana membuat suasananya menjadi gelap. Dengan cuaca mendung seperti ini, sekarang suasana di hutan tersebut tidak berbeda jauh dengan suasana saat di malam hari.
Li Hao menggunakan elemen api sebagai penerangan ketika memasuki kawasan hutan itu, ia tidak menurunkan sedikitpun kewaspadaannya karena sempat mendengar raungan binatang buas.
Tiba-tiba terdengar suara gemersik dan pada saat yang bersamaan Li Hao merasakan sejumlah kehadiran mendekat ke arahnya secara perlahan.
Li Hao melebarkan matanya ketika merasakan kehadiran di sekitarnya semakin banyak, ia langsung mengeluarkan Niat Membunuhnya dan hal itu membuat beberapa dari mereka mundur.
Rooooar!
Suara raungan yang sama seperti sebelumnya kembali terdengar, Li Hao menjadi serius karena raungan itu membuat kehadiran di sekitarnya bertambah banyak.
Binatang spiritual yang memiliki kehadiran kuatkan perlahan mulai memperlihatkan diri mereka ke hadapan Li Hao, mereka memberikan tatapan permusuhan tetapi tidak ada yang bergerak untuk menyerang.
"Sialan! Darimana mereka semua datang?!" Li Hao menyadari kalau semakin banyak binatang spritual yang mulai memperlihatkan diri, "Untuk sekarang, aku harus tetap tenang. Mereka masih belum berniat menyerangku, aku harus menyusun rencana untuk menghadapi mereka."
Li Hao terus mengedarkan pandangannya dengan tenang sembari mencari celah yang paling mudah untuk ditembus. Selain itu, ia membuka layar statusnya dan memikirkan statistik mana yang tepat untuk mengatasi situasi seperti ini.
"Sudah lima menit dan mereka tidak bergerak sama sekali..." Li Hao berkata dalam hati, lalu memperkuat genggaman pedangnya, "Sepertinya mereka dikendalikan oleh sesuatu, haruskah aku menyerang terlebih dahulu?"
Li Hao sejenak memikirkan keputusannya sebelum akhirnya mengalirkan Qi ke pedang Iblis Malam dalam jumlah yang besar, kobaran api yang terbakar di bilahnya semakin besar karenanya.
__ADS_1
"Sudah kuputuskan, bergerak lebih dulu adalah keputusan terbaik!'
Gerakan Keempat: Membelah Bintang!
Whoooosh!
Li Hao mengayunkan pedangnya secara horizontal ke arah celah yang paling mudah ditembus, dan menciptakan lekungan aura hitam yang dihiasi dengan sentuhan biru di tepiannya.
Duaaaar!
Duaaaar!
Duaaaar!
Ledakan beruntun terjadi ketika serangan itu mengenai seluruh objek yang ada di jalurnya, pada saat itu berlangsung Li Hao menerima notifikasi kalau levelnya meningkat sebanyak dua kali.
"Teknik yang pernah membantai para simpanse memang tidak mengecewakan." Li Hao mengangkat sudut bibirnya, lalu melesat ke arah celah besar yang berhasil ditembus oleh serangannya.
Swoooosh!
Li Hao menghilang dari tempatnya, sementara binatang spiritual yang ada di sana masih tetap berada di posisi masing-masing tanpa bergerak sedikitpun.
Rooooooar!
Raungan yang lebih kencang dari sebelumnya tiba-tiba saja terdengar sesaat setelah Li Hao pergi dari sana, di detik selanjutnya para binatang spiritual itu langsung menoleh ke arah Li Hao pergi lalu segera mengejarnya.
Di sisi lain, Li Hao menoleh ke belakang sembari meloncat dari satu pohon ke pohon lainnya dengan cepat. Ia sedikit mengerutkan alisnya sebab tidak ada yang mengejarnya setelah dirinya melancarkan serangan barusan, bahkan sebelumnya ia sempat melihat kalau mereka sama sekali tidak bergeming ketika serangan Membelah Bintang terjadi.
"Sepertinya kesimpulanku benar, mereka memang dikendalikan oleh sesuatu. Tapi, bagaimana bisa kendalinya sehebat itu? Sampai-sampai berani menerima seranganku secara mentah-mentah..." Li Hao bergumam dengan penuh tanda tanya, "Apakah kendalinya bukan dari rasa takut melainkan seperti hipnotis?"
Li Hao memikirkan itu sejenak dan tidak lama setelahnya matanya sedikit melebar karena merasakan banyak Niat Membunuh yang tertuju ke arahnya.
"Apa...?" Li Hao kembali menoleh ke arah belakang dan betapa terkejutnya dia saat mendapati puluhan binatang spiritual menatapnya dengan tatapan haus darah, "Sialan, apa-apaan itu?!"
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.
Note: Author sebenarnya agak ambigu dalam pemahaman monster dan binatang spiritual, harap maklumi.
__ADS_1