Terjebak Di Dunia Kultivator

Terjebak Di Dunia Kultivator
Tinju Petir Merah


__ADS_3

"Hei, bangun... Mau sampai berapa lama lagi kau tertidur?"


Suara Xia Zhan terdengar jelas di telinga Li Hao sehingga membuatnya membuka mata secara perlahan dan menemukan wajah imut dari seorang perempuan berambut putih, "Ah, apa sudah pagi?" Li Hao bertanya sambil berusaha bangun.


"Tidak, ini sudah siang." jawab Xia Zhan cepat.


Li Hao sedikit terkejut tetapi ia tidak memperlihatkan reaksi mencolok, ia menggerakkan tubuhnya dan kemudian bangkit berdiri.


"Apa kau sudah bangun dari pagi?" Li Hao bertanya sembari memandangi Xia Zhan di sebelahnya.


"Ya, begitulah..." Xia Zhan menjawab lalu mengeluarkan beberapa bakpau dari balik jubahnya, "Aku tadi kembali ke tempatku dan membuatkanmu ini..."


Li Hao sedikit mengangkat alisnya sebelum menerima semua bakpau tersebut, "Terima kasih."


"Apa enak? Setelah kita kembali, aku akan membuatkanmu beberapa makan pagi lainnya..."


Li Hao menganggukkan kepalanya untuk menanggapi itu, mulutnya sekarang sudah penuh dengan bakpau yang diberikan oleh Xian Zhan.


Setelah selesai memakan semua bakpau tersebut, Li Hao mengedarkan pandangannya dan menemukan ratusan mayat Lebah Penghisap Darah, "Hm, apa kita harus membawa semua mayat ini?"


"Untuk apa?" Xia Zhan sedikit memiringkan kepalanya.


"Untuk dijual ke restoran." jawab Li Hao cepat.


"Dijual ke restoran? Apa kau mau meracuni para pembeli restorannya?" Xia Zhan memasang ekspresi seolah apa yang dikatakan oleh pemuda itu adalah sesuatu yang bodoh.


Li Hao langsung terbatuk pelan ketika mendengar itu, ia hanya tersenyum canggung dan kemudian mengalihkan pandangannya pada sarang raksasa yang jaraknya beberapa ratus meter dari tempatnya berada.


"Apakah di dalam sana terdapat madu?" tanya Li Hao penasaran sambil menunjuk ke arah sarang raksasa tersebut.


"Tidak, di sana hanya ada darah yang mereka hasilkan dari menghisap makhluk lain." Xia Zhan menggeleng pelan saat menjawabnya.


"Bagaimana kau mengetahuinya?"


"Aku sudah pernah melihatnya..."


Li Hao mengangguk beberapa kali, lalu mengalihkan pandangannya pada tiga lorong yang jaraknya cukup jauh. Ia bisa melihat kalau hanya lorong kiri saja yang tidak ditutupi oleh batu besar, sementara dua lorong lainnya masih sama seperti sebelumnya.


"Sudah tidak ada yang bisa kulakukan di sini, ayo keluar..." Li Hao mengajak Xia Zhan, dan perempuan itu hanya mengangguk saja.

__ADS_1


***


Setelah Li Hao dan Xia Zhan keluar dari Gua, mereka berdua berpisah karena ingin kembali ke tempat masing-masing.


Li Hao naik ke atas gunung dan ia langsung masuk ke dalam kediamannya.


Ketika Li Hao sudah berada di dalam kamarnya, ia langsung berbaring di atas kasur dengan kedua tangan yang telentang.


Li Hao kemudian membuka layar statusnya dan melihat levelnya sudah berada di angka 54, "Levelku hanya naik beberapa saja..." Li Hao menutup kembali layar statusnya, dan kemudian membuka inventory.


Tadinya Li Hao ingin melihat pedang Iblis Malam, akan tetapi matanya berhenti bergerak di salah satu item yang belum pernah dirinya lihat sebelumnya, "Buku...? Sejak kapan aku mempunyainya?" Li Hao mengambil buku tersebut, dan matanya mulai membaca tulisan yang ada di sampulnya.


"Seni Bela Diri Tangan: Tinju Petir Merah?" alis Li Hao mengerut, ia semakin yakin kalau dirinya tidak pernah menyimpan buku semacam ini di dalam inventorynya.


Li Hao bangun sambil membuka halaman pertama dari buku tersebut, ia mulai membacanya dengan serius.


......................


Tanpa sadar Li Hao sudah selesai membaca semua isi dari buku tersebut, satu hal yang bisa ia simpulkan, buku yang ada di tangannya saat ini adalah buku panduan untuk mempelajari suatu jurus.


"Jurus, ya...?" Li Hao perlahan menyeringai, "Bukankah ini adalah hal yang menyenangkan?!"


Li Hao bangkit berdiri dan ia pergi ke ruangan yang lebih luas. Setelah itu, Li Hao mulai melakukan gerakan untuk melakukan tinju petir merah.


"Seharusnya ada aura merah darah yang disertai kilatan petir muncul di kedua tanganku, tapi kenapa aku tidak melihatnya sama sekali?" Li Hao menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Apa aku harus mengalirkan Qi-ku ke kedua tanganku?"


Li Hao terdiam sejenak sebelum kembali melakukan gerakan tinju petir merah, kali ini ia melapisi keduanya tangannya dengan Qi miliknya.


Ketika Li Hao baru memulai gerakannya, kedua tangannya yang dilapisi aura biru cerah perlahan mengalami perubahan menjadi berwarna merah.


Kemudian, setelah Li Hao mencapai setengah gerakan, kilatan-kilatan petir merah mulai melapisi kedua tangannya.


"Oh~ Berhasil!" Li Hao tersenyum senang, ia bisa mendengar suara kilatan-kilatan petir yang berasal dari tinjunya.


Li Hao kemudian mengakhiri gerakan tersebut dan aura merah serta kilatan-kilatan petir yang membaluti kedua tangannya mulai menghilang sampai tidak tersisa sedikitpun


"Huuh..." Li Hao menghembuskan nafasnya secara perlahan melalui mulut sebelum menatap kedua telapak tangannya dengan tatapan yang berbinar, "Keren sekali..."


Li Hao yang masih terkagum-kagum dengan apa yang baru saja dilakukannya langsung berhenti ketika mendengar suara ketukan dari pintu rumahnya.

__ADS_1


"Hm? Cepat sekali Xia Zhan memasaknya." Li Hao berjalan dan membuka pintu rumahnya, ia sedikit terkejut ketika ada sekelompok orang yang mengenakan jubah biru tua dengan lambang empat gunung di dadanya.


"Mereka... Murid, ya?" pikir Li Hao serius, dan kemudian bertanya, "Apakah kalian mempunyai urusan di sini?"


Seorang pria berusia 18 tahun dengan pedang tersarung di pinggangnya melangkah maju mendekati Li Hao, "Urusan kami adalah kau."


"Aku?" Li Hao menunjukkan dirinya sendiri sambil memberikan tatapan bingung, "Memangnya apa yang sudah kulakukan?"


"Tidak ada, hanya saja bos kami mempunyai sesuatu yang ingin dibicarakan denganmu." pria itu perlahan minggir dari tempat berdirinya dan memperlihatkan seorang pemuda gemuk yang tingginya kurang dari 160 cm.


"Halo, namaku adalah Tao Shen! Aku adalah putra tunggal dari seorang konglomerat terkaya yang berasal dari kota terbesar di daratan surgawi ini, kota Luoyang!" Tao Shen memperkenalkan dirinya dengan nada angkuh.


"Begitu, ya." Li Hao hanya mengangguk tanpa mengeluarkan ekspresi, ia tau gambaran kota tersebut dari buku yang dirinya baca beberapa hari lalu.


Melihat tanggapan Li Hao yang jauh berbeda dari ekspetasinya membuat Tao Shen sedikit menyipitkan mata, namun untuk sekarang ia tidak mau mempermasalahkan itu lebih jauh.


"Baiklah, tidak perlu basa-basi." Tao Shen tersenyum, lalu berkata, "Maju kalian berdua."


Ketika Tao Shen mengatakan hal tersebut, dua pemuda lainnya datang dari belakangnya sambil membawa sebuah peti berukuran sedang.


"Beberapa hari terakhir ini, aku melihat ada seorang perempuan imut yang selalu datang ke asrama ini sambil membawa sejumlah makanan." senyum Tao Shen mulai melebar, lalu melanjuti perkataannya, "Setelah kuselidiki lebih jauh, ternyata dia membawa makanan setiap harinya hanya untukmu seorang. Lalu hal penting lainnya, dia bukanlah pelayan dari sekte ini! Dan kemungkinan, dia adalah pelayan pribadi milikmu!"


Li Hao yang mendengar semua itu langsung mengangkat alisnya, ia cukup terkesan karena kesimpulan dangkal dari babi gendut ini hampir semuanya benar.


"Jadi, apa yang kau mau?" tanya Li Hao penasaran.


"Aku mau membeli perempuan imut itu darimu, dan dua peti ini akan sepenuhnya menjadi milikmu." Tao Shen berkata, ekspresinya saat ini terlihat menjijikkan.


Pada saat yang sama, dua pemuda yang membawa peti mulai membukanya secara perlahan dan memperlihatkan tumpukan koin emas yang sangat banyak.


Mata Li Hao langsung melebar melihat tumpukan koin emas sebanyak itu, "Whoa... Kau benar-benar anak konglomerat rupanya!" ucap Li Hao, nadanya terdengar kagum.


Tao Shen mengangkat dagunya dan tertawa kecil dengan sombong, "Hehehe... Untuk apa juga aku berbohong."


Li Hao tersenyum tipis, lalu menggelengkan kepalanya pelan, "Namun sayangnya, aku tidak bisa menjual perempuan itu padamu."


Raut wajah Tao Shen langsung berubah ketika mendengar itu, tatapan dingin mengarah ke Li Hao dan bertanya, "Apa alasannya? Apa uang segitu masih belum cukup untuk membelinya darimu?"


Li Hao mengangkat pundaknya dan senyumannya semakin melebar.

__ADS_1


Bersambung.....


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.


__ADS_2