Terjebak Di Dunia Kultivator

Terjebak Di Dunia Kultivator
Hutan Tanpa Ujung VII


__ADS_3

"Ternyata membantai mereka bukanlah misi yang mustahil..." gumam Li Hao, nadanya terdengar lemas, "Omong-omong, Hunter Eye itu apa?"


Li Hao membuka inventorynya, namun tidak menemukan item yang memiliki nama 'Hunter Eye', yang ada hanyalah manual Immune Step.


"Apa ada kesalahan di system?" Li Hao sedikit mengerutkan alis, lalu membuka layar pemberitahuan system dan menemukan logo mata yang di atasnya terdapat tulisan 'Hunter Eye'.


Li Hao kemudian melihat penjelasan lebih detail dari Hunter Eye dan alisnya naik turun selama membacanya.


[Hunter Eye adalah mata yang memungkinkan pengguna untuk bisa memprediksi secara tepat gerakan yang berada dalam jangkauan pandangannya, mata ini juga bisa melihat objek dalam jarak sejauh satu kilometer dengan jelas.]


Li Hao langsung bangun sesaat setelah selesai membacanya, kemudian ia mencari objek yang kira-kira berjarak satu kilometer dari tempatnya berada.


"Luar biasa, aku bisa melihat semut sekecil itu dari jarak sejauh ini." Li Hao berdecak kagum ketika menemukan sejumlah semut kecil sedang bergerak di pohon yang sudah hancur, jarak antara dirinya dengan pohon tersebut melebihi 500 meter, "Hadiah yang setimpal untuk misi tadi."


Li Hao mengangguk puas, lalu kembali berbaring karena luka luarnya masih belum pulih sepenuhnya.


Setelah menunggu sampai luka luarnya pulih, Li Hao bangkit berdiri dengan hati-hati. Ia kemudian berjalan ke lokasi sungai untuk memeriksa ketiga anak elang yang ia tinggalkan sebelumnya.


Sesampainya di sungai yang sudah kacau balau, Li Hao melihat ke satu arah dan matanya sedikit melebar ketika menemukan reruntuhan yang ia gunakan sebagai tempat ketiga anak elang itu bersembunyi telah hancur.


Li Hao menghampirinya dan memeriksa isi dalam dari reruntuhan tersebut, di sana ia bisa menemukan ketiga mayat anak elang yang sudah hangus terbakar.


"Api...? Tidak, ini listrik." ekspresi Li Hao menjadi dingin, lalu mengedarkan pandangannya ke sekitar, "Badak petir yang berhasil lolos itu ternyata mengetahui kalau aku mengasuh mereka, lalu membunuh mereka yang bahkan belum bisa terbang. Pengecut sekali..."


Li Hao kembali menatap ketiga mayat tersebut, lalu membawa mereka pergi dari sana. Ia memasuki hutan, kemudian menguburkan mereka di samping salah satu pohon terbesar yang ada di sana.


"Haaa... Maafkan aku karena tidak bisa bisa menjadi kalian dengan baik." Li Hao bergumam sembari menatap gundukan tanah di depannya, "Aku tidak berjanji, tapi aku akan menghabisi badak petir itu jika ada kesempatan."


Li Hao kemudian pergi dari sana usai berkata demikian, ia kemudian mencari tempat untuk beristirahat dan menemukan pohon beringin yang terdapat lubang besar di tengahnya.


Tanpa banyak berpikir Li Hao langsung memasuki lubang tersebut untuk bisa beristirahat, kemudian ia melakukan posisi bersila dan mengeluarkan sejumlah pil yang mampu memulihkan kondisinya saat ini.

__ADS_1


Meskipun luka luar Li Hao telah pulih sepenuhnya, namun tidak dengan luka dalam miliknya. Usai menelan semua pil yang dikeluarkan dari inventory, ia langsung memejamkan mata dan mulai bermeditasi agar mempercepat penyerapan khasiat pil yang ditelannya.


***


Lima bulan berlalu semenjak Li Hao berhasil membantai pasukan simpanse yang hendak membunuhnya. Saat ini, ia sedang berada di bawah alam sadarnya untuk mengaktifkan salah satu elemen miliknya.


Sudah lama Li Hao tidak memperhatikan elemennya yang belum aktif dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengaktifkan salah satunya.


Sebelumnya Li Hao telah mengaktifkan elemen api sewaktu berada di wilayah sekte Gunung Empat Pedang, sekarang niatnya adalah mengaktifkan elemen angin miliknya.


"Hm, perasaanku saja atau memang proses pemicunya lebih lama dari yang pertama kali?" Li Hao sedikit bingung karena buklet batu yang disentuhnya saat ini tidak beraksi setelah dialiri sejumlah Qi miliknya, "Jangan bilang setiap buklet batu memiliki pemicu yang berbeda-beda? Uh, kuharap tidak."


Raut wajah Li Hao semakin lama semakin buruk karena sudah hampir lima menit tidak ada reaksi dari buklet batu tersebut, namun tidak lama kemudian getaran terjadi pada buklet batu itu dan tiba-tiba saja muncul angin kencang yang entah berasal darimana.


Li Hao yang mengetahui peristiwa ini langsung tersenyum lalu mundur beberapa langkah, di detik selanjutnya buklet batu yang memiliki ukiran angin itu melayang di udara dan kemudian meledak dengan suara yang keras.


Duar!


"Akhirnya berhasil juga..." gumam Li Hao sebelum keluar dari alam bawah sadarnya dan membuka matanya.


Saat ini, Li Hao berada di tengah danau dan duduk bersila di atas batu besar yang tingginya mencapai dua meter jika diukur dari permukaan air.


Li Hao kemudian bangkit berdiri, lalu mencoba memanifestasikan elemen anginnya setelah mengumpulkan sejumlah Qi di telapak tangan kanannya.


Swooosh!


Dalam sekali percobaan, Li Hao berhasil menciptakan angin di tangan kanannya, meskipun tidak bisa melihatnya namun ia masih bisa merasakan dan tau kemana arah angin tersebut pergi.


"Hm, sepertinya jumlah Qi yang dipakai untuk bisa memanifestasikan elemen angin tidak jauh berbeda dengan elemen api." Li Hao bergumam, senyum tipis kemudian terukir di wajahnya, "Kalau begitu, aku ingin mencoba elemen angin ini..."


Li Hao menatap air yang ada di depannya, lalu angin kencang muncul secara tiba-tiba.

__ADS_1


Sraaaash!


Tidak lama setelah itu, angin tersebut membelah air sampai memperlihatkan daratan dan menciptakan jalan yang lurus ke depan. Li Hao yang melihat itu segera melompat turun ke bawah dan berjalan dengan santai, ia berdecak kagum karena tidak menyangka akan menikmati pemandangan semacam ini.


Setelah sampai di tepi danau, air yang telah dipisahkan oleh angin langsung menyatu kembali seperti semula.


"Elemen yang luar biasa..." Li Hao mengangguk puas, "Aku akan mengaktifkan elemen lainnya jika basis kultivasiku sudah meningkat."


Li Hao kemudian kembali ke gunung batu, lalu memasuki Gua yang telah menjadi tempat tinggalnya selama dua bulan terakhir. Di sana, ia duduk bersila dekat mulut Gua lalu mengeluarkan sebuah telur merah yang cangkangnya memiliki sisik seperti ikan.


Sudah hampir dua minggu Li Hao memfokuskan diri untuk menetaskan telur tersebut, ia melakukan itu karena sudah berhasil mencapai tujuannya yang di mana telah menginjak ranah Golden Core bintang 8.


Tentu saja Li Hao bisa berhasil mencapai ranah tersebut dalam kurun waktu lima bulan saja karena sebagian besar poin stat yang didapat olehnya langsung ia tambahkan ke statistik Qi.


Selain itu, ketika mencapai level 200, Li Hao menerima bonus peningkatan permanen sebanyak 20 poin untuk setiap statistiknya. Kemungkinan besar, setiap kali Li Hao mencapai kelipatan seratus dari levelnya, ia akan menerima dua kali lipat dari bonus sebelumnya pada setiap statistiknya.


"Haaaa... Bahkan setelah menyerap sebagian besar Qi-ku, telur ini masih belum memperlihatkan reaksi tertentu." gumam Li Hao, tubuhnya kini dipenuhi dengan keringat, "Kalau tidak menetas juga, haruskah kumasak telur ini? Aku jadi penasaran dengan rasa telur dari binatang buas tingkat legenda..."


Setelah Li Hao berkata demikian, telur tersebut langsung bergetar seolah menolak untuk dimasak.


Li Hao cukup terkejut saat melihatnya karena getaran tersebut adalah pertama kalinya terjadi, "Ternyata kau bisa mendengarkanku, ya? Hm, menarik..." ucap Li Hao sembari mengangkatnya ke depan menggunakan dua tangan, "Kapan kau akan menetas, huh? Aku tidak sabar untuk melihat makhluk macam apa yang berada dibalik cangkang ini."


Telur merah tersebut kembali bergetar seolah menjawab pertanyaan Li Hao, namun pemuda itu sama sekali tidak mengerti dengan reaksinya.


"Kurasa percuma, aku sama sekali tidak mengerti." Li Hao menggeleng kecil, "Cepatlah menetas, aku tidak sabar melihat wujudmu."


Telur itu kembali bergetar, sementara Li Hao hanya tertawa kecil sebelum memasukkannya kembali ke dalam inventory.


Bersambung.....


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.

__ADS_1


Kalian maunya makhluk apa yang ada dibalik telur? Kalau bisa sih jangan yang mainstream, bosen soalnya wkwkwk.


__ADS_2