Terjebak Di Dunia Kultivator

Terjebak Di Dunia Kultivator
Kota Tianjin II


__ADS_3

Li Hao memasuki penginapan ombak biru dan disambut oleh seorang pemuda berpakaian rapi yang tidak lain adalah pelayan di sana.


"Selamat datang di penginapan ombak biru, Tuan. Apakah anda ingin menyewa kamar atau hanya sekedar makan malam?"


"Aku ingin menginap di sini selama beberapa hari, apa masih ada kamar yang tersedia?'


"Tentu saja ada, Tuan. Silahkan datang ke meja resepsionis untuk melakukan penyewaan. Jika anda ingin makan malam, anda bisa pergi ke ruangan itu. Namun, biaya untuk makan terpisah dengan biaya kamar yang telah anda sewa..." ucap pelayan itu sambil menunjuk ke arah ruangan berbeda yang berada di lantai dasar.


"Aku mengerti..." Li Hao mengangguk paham, kemudian pergi ke meja resepsionis.


Li Hao berbincang dengan pegawai di resepsionis, lalu memutuskan untuk menyewa kamar kelas menengah untuk menghemat uangnya.


Setelah itu, Li Hao tidak langsung pergi ke kamarnya melainkan berjalan menuju ruangan yang ditunjukkan oleh pelayan sebelumnya. Di sana, situasinya cukup ramai dan mereka sedang menikmati hidangan makanan masing-masing.


Sebagian besar meja telah diisi dan yang tersisa hanyalah meja-meja yang letaknya di pinggiran ruangan.


"Tak kusangka akan seramai ini."


Li Hao menduduki meja yang kosong, dan tidak lama kemudian seorang pelayan perempuan datang dan meletakkan menu makanan di meja.


"Silahkan dipilih, Tuan."


Li Hao mengangguk sebagai tanggapannya, lalu memesan sejumlah makanan yang menurutnya cukup enak.


Setelah memesan dan pelayan itu pergi, Li Hao membuka layar system untuk mengisi waktu luangnya. Selama itu berlangsung, ia bisa merasakan beberapa tatapan sedang mengarah ke dirinya, itu bukan hanya sekedar perasaannya saja tetapi memang ada orang yang memperhatikannya dari kejauhan.


Mereka adalah sekelompok pria dan wanita yang mungkin berusia 20-an, masing-masing dari mereka mengenakan jubah seragam yang sama dengan logo di bagian belakang dan juga dada sebelah kiri.


"Hm, apa mereka mengenaliku? Yah, tidak heran jika memang iya karena aku adalah salah satu pahlawan dalam insiden di kota Luoyang." Li Hao mengelus dagunya dan mengangguk dengan penuh percaya diri.


Ketika asik dengan pikirannya sendiri, Li Hao sampai tidak sadar kalau sudah ada beberapa orang di sekitarnya.


"Selamat malam, Teman Dao."


Li Hao tersentak dan langsung menoleh ke sumber suara tersebut, ia sedikit mengangkat alisnya ketika melihat tiga pemuda yang sedang tersenyum ramah ke arahnya.

__ADS_1


"Ya, ada apa?" Li Hao segera bertanya maksud kedatangan mereka.


"Sebelumnya perkenalkan, saya adalah Pi Hau. Sementara mereka berdua adalah teman saya, San Bo dan Mang Xi..." ucap pemuda yang berada di tengah sembari menangkupkan tangannya, "Kami adalah murid luar dari sekte Seribu Pedang, alasan kami datang menemuimu karena kami ingin memastikan sesuatu."


"Ah..." Li Hao sedikit terkejut sebelum mengangguk kecil, "Ingin memastikan apa?"


"Apakah teman Dao seorang pengembara atau berasal dari suatu sekte?"


"Memangnya kenapa?" Li Hao tidak langsung menjawab karena ia harus berhati-hati meskipun yang bertanya adalah murid luar dari sekte Seribu Pedang.


"Jika teman Dao adalah seorang pengembara, kami berniat untuk mengajakmu masuk ke dalam sekte. Kebetulan perekrutan murid sekte Seribu Pedang akan dibuka dalam tiga hari lagi..."


"Begitu, ya? Tapi sayang sekali, aku memang seorang pengembara tapi aku tidak berminat untuk masuk ke dalam suatu kelompok."


"Benarkah...? Apa aku boleh mengetahui alasannya?"


"Tidak ada alasan khusus, aku hanya ingin hidup bebas."


Ketiga pemuda itu saling menatap satu sama lain sebelum mengangguk secara bersamaan.


"Kalau begitu, maukah kau minum bersama kami? Kakak senior kami sepertinya tertarik padamu."


"Apa tadi itu hanya basa-basi?"


"Hahahaha... Begitulah, tapi mengenai sekte Seribu Pedang membuka pendaftaran untuk murid baru memang benar adanya."


Li Hao mengangguk beberapa kali sebelum berkata, "Maaf, tapi aku tidak tertarik. Aku di sini hanya ingin makan dan beristirahat."


"Tolong kami sekali ini saja teman Dao, kedua kakak senior kami adalah murid dalam yang mempunyai banyak koneksi. Kami ingin membangun kesan untuk mereka supaya kehidupan kami di masa depan tidak terlalu sulit..."


"Jawabanku tetap tidak." Li Hap membalas, kali ini nadanya terdengar acuh tak acuh.


Mereka bertiga terdiam sejenak mendengar jawaban itu sebelum San Bo melangkah maju dan mencengkeram kerah pakaian Li Hao.


Pi Hau dan Mang Xi cukup terkejut melihatnya, namun keduanya tidak bereaksi banyak dan hanya menutup mulut untuk mengamati situasinya .

__ADS_1


"Wah, wah... Apa-apaan ini?" Li Hao tersenyum tipis sambil melirik ke tangah yang menarik kerah bajunya.


"Ikuti saja permintaan kami kalau kau ingin hidup tenang."


"Lucu sekali, ikuti permintaan kalian? Kenapa aku harus melakukannya?" Li Hao tertawa kecil karena situasi menjadi tambah menarik sekaligus merepotkan, "Lagipula, jangan lakukan kekerasan daripada kau harus menanggung malu di hadapan kedua kakak seniormu."


"Huh? Jangan bertingkah sok kuat, sialan." San Bo memperkuat cengkeramannya sambil mengepalkan tangan kirinya seolah bersiap untuk meninju.


Grab.


Li Hao meraih pergelangan tangan yang mencengkeram kerah bajunya, lalu memperkuat genggamannya dengan tenang.


"Akh!"


San Bo yang mencengkram kerah baju Li Hao langsung berdesis kesakitan, wajahnya memerah dan berusaha untuk melepaskan diri dari genggaman lawannya.


"Kenapa dengan sifat sampahmu, kau bisa masuk ke dalam aliran putih?" Li Hao bertanya, ia semakin memperkuat genggamannya, "Haruskah aku membuatmu cacat supaya bisa sadar?"


"Teman Dao, tolong lepaskan teman kami."


Pi Hau yang melihat situasinya memburuk mencoba membantu melepaskan tangan temannya dari cengkeraman Li Hao, namun mau sekeras apapun usahanya ia tidak mampu melakukannya.


"Apa-apaan...?! Tangannya sama sekali tidak bergeming, kekuatanku seperti bukan apa-apa baginya!" Pi Hau menjerit dalam hati.


"Sudah kubilang, jangan permalukan dirimu sendiri." Li Hao melepaskan cengkeramannya usai berkata demikian.


San Bo sendiri langsung menarik tangannya, ia sedikit melebarkan matanya ketika mendapati pergelangan tangannya sudah menjadi biru dan tidak bisa digerakkan sama sekali.


"Tidak perlu cemas, itu hanya patah." ucap Li Hao sambil menatap ketiga pemuda yang sudah mundur beberapa langkah dari mejanya, "Meskipun kota ini adalah wilayah sekte Seribu Pedang, tapi bukan berarti kalian yang merupakan bagian dari sekte itu bisa semena-mena dalam bertindak. Aku datang kemari dengan tenang dan ingin keluar dengan tenang juga, kuharap tidak ada dendam di antara kita supaya urusannya tidak semakin panjang."


"Kami mengerti. Maaf telah mengganggumu..."


Mereka segera pergi dari sana tanpa menarik perhatian lebih jauh, sementara Li Hao memandangi sekitarnya dan mendapati kalau beberapa orang mengetahui keributan kecil tadi.


"Haaa... Meskipun aku sudah menahan diri sebaik mungkin, tapi masih ada yang menyadarinya, ya?" Li Hao menghembuskan nafasnya melalui mulut, "Walaupun kemungkinannya kecil, kuharap masalah tadi tidak merembet kemana-mana..."

__ADS_1


Bersambung.....


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.


__ADS_2