
Sesaat setelah Li Hao berhasil membunuh Dam Yuen, notifikasi system muncul dan memberitahu kalau misinya telah berhasil diselesaikan. Melihat hal itu tentu saja membuatnya senang, ia membuka layar status dan menemukan levelnya yang sebelumnya di angka 218 kini telah menjadi 248.
"Kerja kerasku akhirnya terbayarkan juga..." Li Hao tersenyum tipis, lalu mengalihkan pandangannya ke arah portal yang sedari tadi tidak menghilang, "Aku sempat melihat sekilas portal itu berubah warna, yang tadinya berwarna merah darah sekarang menjadi warna perak."
Li Hao terdiam sejenak setelah berkata demikian, mengingat portal itu bekas Dam Yuen keluar membuatnya menjadi cukup ragu. Apalagi, orang itu mengatakan kalau dia disegel di tempat yang gelap gulita.
"Sebelum memasuki portal itu, lebih baik aku memeriksa semua sisi tempat ini. Jika tidak ada portal lain, artinya portal itu adalah jalan satu-satunya untuk keluar dari dungeon ini." Li Hao bergumam, kemudian menyusuri setiap lantai yang ada di sana.
Tidak butuh waktu lama bagi Li Hao untuk melakukannya, dan setelah memeriksanya ia sama sekali tidak menemukan satupun portal selain yang ada di lantai lima.
"Sepertinya memang benar kalau portal ini adalah pintu keluar dari dungeon." Li Hao berkata sembari memandangi portal perak yang berada tepat di hadapannya, "Haa... Kuharap aku tidak salah."
Li Hao memasuki portal tersebut dan cahaya terang membutakan matanya sesaat. Setelah kembali mendapatkan penglihatannya, ia menemukan dirinya sudah berada di tepi pantai.
"Kupikir aku akan dipindahkan ke lokasi yang sama sebelum pergi ke dungeon..." Li Hao bergumam sembari melihat sekitarnya, lalu mendongakkan kepalanya dan memandangi langit sore hari.
Suasana tenang disertai dengan angin yang sejuk membuat Li Hao terdiam di tempatnya selama beberapa, ia kemudian kembali mengedarkan pandangannya dan menemukan sebuah desa yang letaknya tidak terlalu jauh dari pantai.
Desa tersebut berjarak lebih dari satu kilometer dan tampaknya itu adalah desa kecil yang tidak memiliki penjagaan atau semacamnya. Li Hao langsung memutuskan untuk mampir ke desa tersebut, tujuannya adalah mencari informasi sekaligus mendapatkan tempat tinggal untuk sementara waktu.
Li Hao melepaskan topengnya yang telah dipakainya selama di dalam dungeon, ia tidak ingin penampilannya membuat orang yang ada di desa itu curiga.
Setelah menyimpan topengnya ke dalam inventory, Li Hao langsung berjalan santai menuju desa itu. Membutuhkan waktu kurang dari sepuluh menit baginya untuk bisa sampai ke sana, kehadirannya yang merupakan orang asing langsung menjadi pusat perhatian warga yang masih beraktivitas di luar rumah.
Li Hao tidak peduli dengan tatapan dari mereka, ia mendekati salah seorang kakek tua sembari tersenyum lembut lalu menanyakan letak desa ini.
"Anak muda, desa ini adalah desa tanpa nama yang berada di wilayah kekuasaan sekte Danau Suci." kakek tua itu menjawab, suaranya terbata-bata karena memang fisiknya sudah cukup rapuh.
"Kalau masih dalam wilayah kekuasaan sekte Danau Suci, itu artinya kota Qibao tidak terlalu jauh dari sini."
"Ya... Kota Qibao kurang lebih berjarak tujuh kilometer dari sini." kakek tua memberitahu sembari menunjuk ke satu arah setelah tidak sengaja mendengar ucapan Li Hao, "Apa kamu ingin pergi ke sana, anak muda?"
"Ah, tidak..." Li Hao menggeleng kecil, "Aku sedang menuju ke tempat lain saat ini."
__ADS_1
"Itu bagus. Kota Qibao saat ini sedang dalam keadaan sensitif semenjak insiden yang terjadi beberapa hari lalu..."
"Insiden...?" Li Hao memasang ekspresi seolah baru mendengarnya, "Bisakah kakek menceritakannya lebih jauh?"
"Jika kamu ingin mengetahuinya, tentu kakek akan menceritakannya. Namun, hari sudah semakin gelap jadi lebih baik kita pergi ke rumah terlebih dahulu." ucap kakek tua itu, lalu bertanya, "Kamu datang kemari untuk mencari penginapan, bukan? Tapi desa ini tidak ada hal semacam itu, jadi menginaplah satu malam di rumah kakek."
"Bukankah berbahaya kalau mengajak orang asing menginap?" Li Hao bertanya, ia merasa tidak enak karena mereka baru saja bertemu.
"Kakek tau kalau kamu bukan orang seperti itu, senyum yang kamu perlihatkan sebelumnya terlihat tulus." kakek tua menjawab, lalu melangkah ke arah rumah gubuk yang tidak jauh dari sana, "Mari ikuti kakek..."
Li Hao sebenarnya ingin menolak tetapi mengingat dirinya butuh tempat tinggal untuk sementara waktu jadi dia mengikuti kakek tua itu.
Mereka berdua memasuki rumah gubuk yang tidak jauh dari sana, lalu kakek tua itu mempersilahkan Li Hao untuk duduk di lantai ruang tamu yang ukurannya sangat kecil.
"Apa kamu ingin minum, anak muda?"
Sebelum duduk bersama Li Hao di lantai, kakek tua bertanya padanya.
Li Hao menggeleng kecil dan menjawab, "Tidak perlu, Kek. Saya memiliki persediaan air yang cukup."
Li Hao sedikit melebarkan matanya sebelum menghembuskan nafasnya secara perlahan melalui mulut, ia jelas merasa bersalah sebab karenanya orang tua itu sampai harus mengorbankan nyawa.
"Tapi, bagaimana kakek bisa mengetahuinya? Bukankah desa ini cukup jauh dari kota? Kejadiannya saja bahkan belum ada satu minggu..." Li Hao segera bertanya sesaat setelah memikirkan itu.
"Itu karena sekte Danau Suci langsung menyebarkan anggotanya untuk mencari petunjuk mengenai aliran hitam yang menyerang kota Qibao, dan beberapa anggota mereka ada yang datang ke desa ini."
"Begitu, ya..." Li Hao mengangguk paham, "Apakah mereka masih ada di desa ini?"
Kakek tua langsung mengangguk, lalu memberitahu kalau mereka sekarang sedang menginap di tempat tinggal kepala desa.
Li Hao yang mendengar itu tidak bertanya lebih jauh, tetapi ia harus berhati-hati terhadap mereka supaya tidak dicurigai dan menciptakan masalah yang lebih merepotkan.
"Omong-omong, kemana tujuanmu?" kakek tua bertanya setelah keheningan sesaat menyelimuti mereka.
__ADS_1
"Ah, aku ingin pergi ke Gua Dunia Lain. Apakah kakek mengetahuinya?"
"Gua Dunia Lain? Sayangnya kakek tidak mengetahui hal semacam itu." kakek tua menggeleng kecil, "Sejak lahir sampai sekarang kakek selalu tinggal di desa ini dan jarang pergi ke luar desa, pengetahuan kakek tentang dunia ini sangat terbatas karena tidak ada fasilitas seperti perpustakaan. Bahkan kakek baru mengetahui keberadaan kultivator ketika baru menginjak usia 30 tahun."
"Apakah kakek pernah merasa kesal menjalani kehidupan seperti ini?"
"Hahaha... Tidak, sama sekali tidak. Setelah mengetahui keberadaan kultivator dan sifat mereka yang mudah membunuh sesamanya, kakek bersyukur karena tidak menjadi bagian dari mereka." kakek tua tersenyum, "Hidup di desa bukan berarti tidak bahagia, bahkan menurut kakek lebih baik hidup seperti ini daripada menjadi kultivator."
Li Hao setuju dengan pendapat itu, hidup di jalan kultivator sudah pasti jauh lebih sulit daripada menjalani hidup sebagai manusia biasa.
"Omong-omong, apa kakek tinggal bersama seseorang?" Li Hao bertanya karena ia merasakan hawa kehadiran orang lain semenjak masuk ke dalam rumah gubuk ini.
"Bagaimana kau mengetahuinya?"
"Melihat ada beberapa barang yang merupakan aksesoris perempuan, aku hanya mencoba menebak saja." Li Hao menjawab sembari menatap ke beberapa barang di sana.
"Kamu benar, ada cucu kakek yang sedang beristirahat di ruangan itu. Sudah satu minggu semenjak dia mulai demam, kakek tidak bisa berbuat banyak karena tidak ada tabib di desa ini."
"Demam?" Li Hao sedikit mengangkat alisnya, "Kebetulan aku punya pil penyembuh, mungkin itu bisa menyembuhkan cucu kakek."
"Pil penyembuhan...? Anak muda, apa kamu seorang kultivator?"
"Ya, aku seorang kultivator pengembara."
"Ah, apakah kamu marah dengan ucapan kakek sebelumnya?"
"Sama sekali tidak, Kek. Justru ucapan kakek memang benar..." Li Hao tersenyum tipis, dan kakek itu juga ikut lega mendengarnya.
"Jika kamu tidak keberatan memberikan pil itu tanpa menginginkan imbalan, kakek senang bisa menerimanya untuk menyembuhkan cucu."
Li Hao tentu tidak merasa keberatan karena bisa dibilang ia tidak terlalu membutuhkan pil penyembuh lagi. Ia kemudian meminta kakek itu untuk mengantarkannya masuk ke dalam ruangan satu-satunya di rumah gubuk tersebut.
Bersambung.....
__ADS_1
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.