Terjebak Di Dunia Kultivator

Terjebak Di Dunia Kultivator
Mempelajari Tujuh Gerakan Bintang


__ADS_3

​​"Alasan lain?" alis Diao Chan semakin mengerut ketika mendengarnya.


"Aku tidak bisa memberitahumu secara detail tentang itu, tapi singkatnya-- aku mau membantu Wei Han karena dia mirip dengan seseorang yang kukenal." ucap Li Hao dengan suara pelan.


"Hm, siapa dia?" Diao Chan sedikit memiringkan kepalanya.


"Aku tidak bisa menjawab kalau orang yang kumaksud adalah karakter utama dari sebuah novel terkenal." pikir Li Hao dan ia diam-diam tersenyum pahit, ketika dirinya ingin mengatakan sesuatu-- terdengar suara Wei Han memanggil.


"Kakak~!" Wei Han berjalan menghampiri mereka berdua sembari tersenyum cerah, ia datang bersama dengan nenek penjual pakaian.


"Ah, Wei Han kecil..." Diao Chan mengelus kepala anak kecil itu, matanya kemudian teralih nenek pemilik toko, "Bagaimana, nek? Apakah nenek punya pakaian yang ukurannya pas dengan dia?"


Nenek itu mengangguk pelan sembari tersenyum, "Tentu saja, nyonya muda..."


"Nyonya?" alis Diao Chan sedikit terangkat sebelum berkata, "Maafkan aku, nek. Tapi, aku belum menikah..."


"Eh, bukankah itu suamimu dan dia adalah anak dari kalian berdua?" nenek tersebut menunjuk ke arah Li Hao, kemudian Wei Han-- ekspresinya saat ini tampak terkejut.


Suasana menjadi hening selama beberapa waktu usai nenek itu mengucapkan hal tersebut.


Li Hao terbatuk pelan, sedangkan Diao Chan langsung memasang ekspresi jijik, "Nek, lebih baik aku mati daripada punya pasangan seperti dia..."


"Huh, kau pikir aku mau denganmu?!" Li Hao menanggapi, ia tampak kesal ketika mendengar itu.


Keduanya saling bertatapan tajam sebelum membuang muka masing-masing ke arah lain sembari mendengus kesal.


Nenek itu yang melihat mereka berdua bertengkar langsung merasa bersalah sekaligus takut, mereka berdua adalah seorang kultivator-- jadi menyinggung keduanya adalah suatu kesalahan yang besar.


Nenek tadinya ingin bersujud dan memohon ampun, tapi Wei Han yang peka terhadap situasi segera menghentikan tindakan nenek tua itu.


"Jangan khawatir, nek. Mereka berdua sudah biasa seperti ini, sebentar lagi juga akan berbaikan." Wei Han berkata dengan senyuman tipis di wajahnya.


Diao Chan yang menyadari situasinya langsung berdehem pelan, "Ekhm.... Nek, apakah kamu mempunyai pakaian yang cocok untuk Wei Han?"


"Ah, tentu saja... Mari, saya antarkan ke tempatnya." nenek itu mempersilahkan mereka untuk mengikutinya.


Diao Chan sendiri langsung menggandeng tangan Wei Han, dan mereka berdua mengikuti nenek tua tersebut dari belakakang.

__ADS_1


"Kakak Li, apakah kamu tidak mau ikut?" tanya Wei Han yang melihat pemuda itu sedang melamun di tempatnya.


"Ah, aku akan keluar..." Li Hao tersentak seolah baru mendapatkan kembali kesadarannya-- ia berjalan menghampiri Diao Chan dan Wei Han, lalu mengeluarkan sebuah kantung coklat dari udara kosong, "Di sini ada sekitar seribu koin emas, kalian bisa beli pakaian lalu cari tempat penginapan di desa ini. Kita akan menginap malam ini, aku mempunyai urusan dan akan menyusul kalian nanti."


"Eh, kenapa tiba-tiba?" Diao Chan merasa cukup terkejut sembari menerima kantung coklat tersebut, "Apakah kau sakit hati dengan ucapanku barusan?"


Wei Han cukup gugup mendengar itu, ia merasa kalau tingkah Li Hao sedikit berbeda dari biasanya.


"Tidak." Li Hao memasang ekspresi datar, "Aku baru saja mendapatkan sebuah pencerahan Dao, jadi aku membutuhkan waktu sendiri untuk menyerap pencerahan itu." Li Hao berkata dengan santai, dan tanpa membuang waktu lagi-- ia pergi meninggalkan mereka berdua.


"Ah..." Diao Chan hanya diam melihat kepergian pemuda itu, begitu juga dengan Wei Han.


Keduanya terdiam sejenak di tempat sebelum kembali mengikuti nenek tua itu.


***


[Misi: Pertahankan Desa dari serangan kelompok Bandit!]


[Waktu sebelum Misi dimulai: 12 Jam]


[Hadiah: Telur Binatang Buas-- tingkat Legenda]


"Sialan, tiba-tiba saja dapat misi semacam ini." Li Hao merasakan sakit di kepalanya, ia menatap langit dan menemukan matahari yang tepat berada di atas kepalanya, "Misi akan dimulai dalam 12 jam lagi, itu artinya-- kelompok bandit akan menyerang desa ini ketika tengah malam."


Li Hao kemudian melihat hadiah yang akan di dapatkannya dari misi ini-- senyum senang mulai terukir di wajahnya, "Aku akan mendapatkan telur binatang buas tingkat Legenda jika berhasil menyelesaikan misi ini, tapi... Kegagalan yang kuterima juga tidak main-main." raut wajah Li Hao berubah menjadi serius, "Aku harus mempelajari seni bela diri itu sesegera mungkin."


Li Hao kemudian mencari tempat yang cocok untuknya berlatih.


......................


Dalam waktu kurang dari satu batang dupa terbakar, Li Hao akhirnya menemukan sebuah tempat yang cocok di pinggir desa. Di sana hanya ada beberapa rumah dan sebuah pohon yang sudah cukup tua.


Tanpa banyak basa-basi, Li Hao mengeluarkan buku seni Bela Diri pedang: Tujuh Gerakan Bintang dari inventorynya. Ia bisa melihat buku tersebut cukup tebal, helaan nafas keluar dari mulutnya sebelum membuka halaman pertama dari buku itu.


Li Hao mulai membacanya dengan seksama, dan ia membutuhkan waktu setengah jam lebih untuk menyelesaikannya.


Tujuh Gerakan Bintang adalah jurus pedang yang cukup rumit, meskipun begitu-- Li Hao mampu menghafal seluruh gerakan dari jurus tersebut.

__ADS_1


"Gerakan Pertama dinamai sebagai-- Tarian Bintang Malam. Gerakan ini tidak memerlukan Qi dan hanya murni kekuatan fisik saja, jika berhasil menguasainya-- seseorang dipastikan mempunyai kesempatan untuk mengalahkan lawan yang lebih kuat darinya." gumam Li Hao sembari mengelus dagunya.


Li Hao kemudian menyimpan kembali buku tersebut ke dalam inventory, dan di saat yang bersamaan ia juga mengeluarkan pedang Iblis Malam.


Whoosh...


Li Hao memainkan pedangnya sementara waktu untuk pemanasan, ia kemudian melakukan kuda-kuda dan mulai mempraktekkan gerakan yang pertama.


Swooosh!


Swooosh!


Swooosh!


Li Hao memainkan pedangnya dengan indah, dan tanpa sadar ia mulai menghancurkan area sekitarnya sekaligus menciptakan kebisingan.


"Eh..." Li Hao langsung menghentikan gerakannya ketika menyadari kalau area di sekitarnya hancur, ia juga bisa melihat ada beberapa warga yang mulai berdatangan dari kejauhan, "Ups... Sepertinya aku terlalu menarik perhatian."


Li Hao langsung buru-buru pergi dari sana sebelum para warga menyadari keberadaannya, ia keluar dari desa dan mencari tempat yang jauh dari pemukiman manusia.


Beberapa kilometer dari desa tersebut, Li Hao menemukan sebuah hutan yang sepertinya tidak terlalu luas. Ia terdiam sejenak sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam hutan itu.


Di dalam hutan, Li Hao menebang beberapa pohon di sekitarnya agar pergerakannya bisa menjadi lebih leluasa. Setelah itu, ia mengatur nafasnya dan memulai gerakan yang kedua.


Gerakan kedua dinamai Tusukan Bintang, gerakan ini bisa dibilang cukup sederhana karena pengguna hanya perlu menusuk saja. Namun, bukan berarti gerakan ini mudah untuk dikuasai-- seseorang memerlukan kesabaran sekaligus ketenangan dalam melakukannya.


Di dalam buku itu dijelaskan kalau pengguna bebas menggunakan Qi atau tidak dalam melakukan gerakan kedua. Tentu saja perbedaan itu akan terlihat dari daya hancurnya, jika menggunakan Qi-- daya hancurnya bisa dua kali lipat atau bahkan lebih dari kekuatan fisik.


Gerakan menusuk yang sedang Li Hao lakukan saat ini sangat tajam dan cepat, angin terus berhembus ketika ia mendorong pedangnya ke depan.


Ketika di tengah pergerakan, Li Hao mulai mengalirkan Qi-nya dalam jumlah kecil. Ia lupa kalau dirinya melakukan hal itu, aura gelap akan keluar dari senjatanya.


Whooosh!


Pada saat Li Hao melakukan tusukan pertama yang dialiri dengan Qi, ia menghancurkan daratan dan pepohonan di depannya sejauh ratusan meter. Mata Li Hao langsung melebar secara sempurna, ia tak pernah mengira kerusakannya akan separah ini.


Bersambung.....

__ADS_1


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.


__ADS_2