Terjebak Di Dunia Kultivator

Terjebak Di Dunia Kultivator
Mampir Ke Sebuah Desa


__ADS_3

"Menurutmu, berapa lama lagi kita akan sampai ke kota Luoyang?" tanya Li Hao penasaran.


"Hmm... Jika terus seperti ini, mungkin kita akan sampai dalam dua bulan lagi." sahut Diao Chan setelah memperhitungkannya secara kasar.


Li Hao mengangguk pelan dan tidak bertanya lebih jauh, sedangkan Diao Chan kembali mengobrol dengan Wei Han yang berada di sampingnya.


"Kakak Diao, sebenarnya kenapa kalian berdua berjalan berjauh-jauhan?" sedari kemarin-- pertanyaan ini terus mengganjal di kepala Wei Han.


"Oh... Itu, kami berdua mempunyai sebuah peraturan yang tidak boleh dilanggar." Diao Chan kemudian menjelaskan isi dari peraturan tersebut.


Setelah mendengarnya, Wei Han langsung tertawa kecil, "Kakak Diao, kalian berdua benar-benar cocok."


"Hmph, mana mungkin aku cocok sama orang seperti dia!" Diao Chan berkata dengan suara yang sedikit keras, ia sengaja melakukannya agar pemuda itu bisa mendengar ucapannya.


Li Hao sendiri langsung menoleh ke arah belakang dan memasang senyum mengejek, "Kau benar, mustahil bagiku yang kalem ini bisa cocok dengan wanita beringas sepertimu. Aku tidak mau mati muda..."


"Apa katamu! Beringas?! Mana mungkin aku yang cantik ini beringas?! Memang kau-nya saja yang buta!" Diao Chan merasa sangat kesal karena Li Hao akhir-akhir ini terus mengatakan hal itu padanya.


Li Hao berdecak pelan berulang kali sembari menggelengkan kepalanya pelan, "Sepertinya saat sampai di kota Luoyang nanti, aku harus membelikan dirimu sebuah kaca yang besar."


"Dasar keparat! Coba kau ngomong sekali lagi!" Diao Chan hendak maju, tapi Li Hao langsung memperhatikan langkah kakinya, "Sial! Dia sengaja memancingku agar melanggar peraturan, ya!"


Diao Chan mengepalkan kedua tangannya dengan erat sampai memperlihatkan beberapa urat yang cukup besar, Wei Han sendiri yang melihat mereka berdua bertengkar hanya bisa menyaksikan dalam diam-- ia sudah mulai terbiasa dengan suasana semacam ini.


Li Hao terus mengejek Diao Chan dan membuat perempuan itu benar-benar kesal, namun amarahnya perlahan mereda ketika Wei Han mulai melerai pertengkaran mereka berdua.


"Hehehe... Bagus, Wei Han." Li Hao mengangkat jempolnya sambil tersenyum, "Mulai sekarang, kau adalah pawang dari wanita beringas itu. Aku percayakan dia padamu..."


Wei Han hanya tersenyum masam sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sedangkan Diao Chan langsung mengeluarkan sumpah serapahnya.


***


Li Hao menghentikan langkahnya, Diao Chan dan Wei Han langsung melakukan hal yang sama.


"Ada apa?" tanya Diao Chan penasaran.


"Aku menemukan sebuah desa." jawab Li Hao cepat sambil menunjuk ke satu arah, "Ayo kita pergi ke sana."

__ADS_1


"Huh, untuk apa?" Diao Chan sedikit mengerutkan alisnya.


"Aku ingin membelikan Wei Han beberapa pakaian, selama empat hari ini-- dia selalu memakai jubah yang sama, itu pasti tidak enak." Li Hao menjawab dengan cepat.


Diao Chan mengangkat sedikit alisnya, lalu menoleh ke arah anak kecil yang ia gandeng, "Wei Han kecil, kamu dengar yang dikatakan olehnya? Ini adalah kesempatanmu, habiskan uangnya. Jangan pernah merasa ragu, mengerti?" bisiknya pelan.


"Ah..." Wei Han tersenyum masam, ia tidak tau cara untuk menanggapinya.


"Aku dengar semuanya..." Li Hao memasang raut wajah datar, ia bisa melihat perempuan itu mengalihkan pandangannya ke arah lain, "Dasar, pasti kau adalah Iblis berwujud manusia."


"Apa katamu?!" Diao Chan langsung memasang ekspresi marah.


Li Hao tersenyum mengejek tapi ia tidak mau menanggapinya lebih jauh, matanya kemudian teralih pada Wei Han dan berkata sembari tersenyum, "Kau boleh memilih pakaian yang kamu suka, tapi jangan terlalu mahal, ya. Aku hanya punya seribu koin emas saja..."


"Terima kasih, kakak Li." Wei Han sedikit menundukkan badannya, dan kembali berkata, "Aku berjanji tidak akan membeli pakaian yang mahal..."


"Hahahaha... Bagus, bagus. Pertahankan sifatmu itu, Wei Han. Jangan sampai terhasut oleh Iblis di dekatmu." Li Hao tertawa kecil sambil mengangkat jempolnya.


"Siapa yang kau maksud?!" Diao Chan melotot ke arah pemuda itu.


Li Hao memasang senyum mengejek lalu mengangkat pundaknya, "Entahlah, bagi yang merasa saja." sahutnya santai, dan kembali melangkahkan kakinya ke depan.


***


Setelah memasuki desa, Li Hao dan Diao Chan langsung menjadi pusat perhatian orang-orang desa yang sedang beraktivitas. Sebagian besar dari mereka lebih memerhatikan perempuan pengembara itu, mereka semua sudah terbius oleh kecantikannya.


Diao Chan sendiri yang merasa diperhatikan orang-orang langsung menundukkan kepalanya. Li Hao tentu menyadari hal itu, dan ia langsung bertanya, "Apakah alasanmu memakai topeng karena tidak suka menjadi pusat perhatian?"


"Begitulah." jawab Diao Chan pelan.


Li Hao hanya diam usai mendengarnya dan tidak bertanya lebih jauh, mereka bertiga kemudian mempercepat langkah dan mencari tempat yang menjual pakaian.


Hanya butuh waktu beberapa menit saja bagi mereka bertiga untuk menemukan tempat yang menjual pakaian, ketiganya masuk dan langsung disambut oleh seorang nenek tua yang sebagian besar rambutnya sudah beruban.


"Ohoho... Akhirnya ada pelanggan yang datang ke sini, mari masuk..." nenek tua itu mempersilahkan mereka bertiga untuk masuk ke bagian dalam.


"Apakah kalian bertiga ingin membeli pakaian?" Nenek tua itu bertanya dengan suara pelan.

__ADS_1


"Benar, nek. Tapi kami membelinya untuk dia..." Diao Chan memegang kepala Wei Han menggunakan kedua tangannya, "Apakah nenek punya pakaian yang ukurannya sama seperti dia?"


"Hmm... Sepertinya saya harus mengukur tubuhnya terlebih dahulu." nenek tersebut berbalik usai mengucapkannya, "Ayo nak, ikut aku."


"Baiklah, nek." Diao Chan mengangguk pelan, lalu meminta Wei Han untuk mengikuti nenek tersebut.


Wei Han mengangguk patuh dan ia mulai mengikuti nenek itu dari belakang.


"Dia terlihat senang..." gumam Diao Chan sembari melihat Wei Han yang berjalan menjauh.


"Hey, identitas Wei Han sebagai penerus asli Kekaisaran Bintang harus disembunyikan. Setelah dia bersamamu, kuharap kau bisa menjaga rahasianya." Li Hao berkata dengan raut wajah serius.


"Tentu saja, aku tau itu." Diao Chan mengangguk pelan, jika saat di sektenya identitas Wei Han tersebar luas-- cepat atau lambat kekekacauan mungkin akan terjadi, "Tapi, aku akan memberitahu beberapa orang yang benar-benar kupercaya. Aku pasti tidak akan bisa mengawasinya setiap hari..."


"Jangan... Ada baiknya untuk menyimpan rahasia itu seorang diri." Li Hao menggeleng pelan, seseorang bisa saja berkhianat tergantung dengan kondisi yang diterimanya.


"Kenapa? Apa kau pikir orang-orang yang kupercaya tidak bisa menjaga rahasia ini?" Diao Chan berkata dengan suara dingin.


"Siapa yang tau, aku saja tidak mengenal orang-orang yang kau percayai." Li Hao berkata dengan nada acuh tak acuh.


Diao Chan menggertakkan giginya, ia jelas tidak senang dengan tanggapan yang diberikan oleh pemuda itu.


"Tapi itu terserahmu, asalkan Wei Han tetap aman-- lakukan apa yang kau inginkan." timpal Li Hao cepat, ia sengaja mengatakan itu agar tidak terjadi keributan di sini.


Diao Chan terdiam sejenak mendengar itu sebelum mendengus pelan, "Omong-omong, apa kau merencanakan sesuatu pada Wei Han? Awalnya kau tidak terlalu senang dengan kehadirannya, tetapi kenapa sekarang berbeda?" Diao Chan bertanya dengan tatapan penuh selidik.


"Investasi..."


"Huh, apa itu?"


"Menurutku, Wei Han adalah sebuah aset yang berharga. Jika aku bisa menjadikannya sebagai Kaisar Bintang selanjutnya, maka akan ada banyak keuntungan yang kudapatkan." Li Hao menjelaskan tanpa berbohong sedikitpun.


Alis Diao Chan langsung mengerut ketika mendengar itu, "Jadi selama ini kau tidak tulus dalam membantunya, dan ingin meraup keuntungan darinya saja, begitu?"


"Hmm... Tidak sesederhana itu juga, ada alasan lain aku membantu dia." Li Hao menjawab dengan suara tenang.


Bersambung.....

__ADS_1


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> COMMENT.


__ADS_2