Terjerat Cinta Satpol PP Arogant

Terjerat Cinta Satpol PP Arogant
Interview


__ADS_3

Kay hari ini bangun pagi hendak menuju rumah sakit terbesar di kotanya. Key mengendarai mobilnya dengan pelan. Key sampai di rumah sakit sangat pagi sekali bahkan baru sedikit orang yang hadir di sana. Key langsung mencari ruangan untuk interview.


Key duduk di ruang tunggu untuk menunggu hingga waktunya tiba. Key dipanggil bagian resepsionis untuk segera masuk ke ruang interview.


Setelah melakukan interview dengan beberapa orang terpenting di rumah sakit Key dinyatakan lolos dan besok diperbolehkan masuk kerja.


Key akhirnya ke luar ruangan setelah melakukan perjanjian kontrak. Key menerima telpon dari Leli berjalan menuju parkiran namun tiba-tiba dirinya menabrak seseorang hingga dirinya hampir jatuh. “Dik kalau jalan hati-hati, jangan jadi kebiasaan terima telpon sambil jalan,” ucap seseorang yang ditabraknya namun telah menyelamatkan dirinya sehingga tidak jadi jatuh.


Key seperti mengenal suaranya. Dan benar saja ternyata itu suara Brian. “Kak Brian? Apa yang kakak lakukan di sini?” tanya Key curiga.


“Lo dik? Bukannya aku yang harusnya tanya kenapa kamu berada di rumah sakit?” Brian tersenyum menatap Key dan membawanya untuk duduk di bangku taman rumah sakit.


“Kakak lupa ya? kalau aku tadi malam bilang hari ini ada interview. Aku diterima kak, dan menempati posisi sebagai kepala ruangan Orthopaedi. Dan besok aku sudah bisa mulai kerja,” ucap Key girang dan tiba-tiba tanpa sadar memeluk Brian.


“Iya Key sayang, selamat ya? Tapi kamu lepaskan dulu pelukan kamu, itu banyak orang melihat aku dan kamu?” ucap Brian tersenyum melihat tingkah laku Key.


Key pelan-pelan melepaskan pelukannya kemudian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Setelah sadar Key langsung menggeser duduknya agak jauh dari Brian.


Key…Key sayang, kamu bener-bener membuat aku gemas. Ayo ikut kakak.” Brian langsung menggandeng Key menuju ruangannya. Key heran dengan sikap beberapa orang yang ada di rumah sakit nampak memberi hormat pada Brian.


Brian membuka ruangannya kemudian mengajak Key duduk di sofa. Brian berbincang-bincang sejenak tentang rumah sakit. Brian menyuruh Key untuk menunggunya terlebih dahulu. Brian mengambil berkas di mejanya kemudian menandatanganinya. Setelah selesai Brian segera mengajak Key pergi namun Key tiba-tiba menolaknya.


“Kakak, Key butuh penjelasan apa maksud semua ini? Apa kakak direktur di rumah sakit ini? Dan kakak juga tahu kan kalau aku interview di sini?” tanya Key yang benar-benar tidak mengerti.


“Maaf sayang. aku memang direktur rumah sakit ini, tapi aku tidak tahu kalau kamu interview di rumah sakit ini.” Brian menjelaskan pada Key.

__ADS_1


“Benarkah yang kakak katakan? Aku diterima kerja di sini bukan karena campur tangan kakak? Aku malu kak kalau seperti itu?” ucap Key lirih hampir tidak terdengar oleh Brian.


Brian menghampiri Key dan mendongakkan mukanya untuk menatapnya. “Key sayang, rumah sakit manapun ada aku tau tidak ada aku pasti akan menerima kamu. Karena kamu cerdas, pinter, cantik dan tentunya lulusan terbaik universitas luar negeri. Sudahlah Key, tidak usah dipermasalahkan. Oke! Ayo kita pulang bersama. Mana kunci mobil kamu biar aku yang mengemudi.” Brian mengambil kunci mobil Key yang sudah berada di tangannya. Key pun nurut begitu saja apa yang disampaikan oleh Brian.


Brian kembali menggandeng Key menuju parkiran. Lagi-lagi semua karyawan dan karyawati melihat mereka berdua dengan kagum.


Brian membuka pintu mobil Key dan mempersilahkannya masuk, kemudian Brian duduk dibelakang kemudi. Brian melajukan kendaraannya menuju rumah Key.


Mbok Sum yang mengetahui Key pulang dengan Brian langsung menyiapkan makan siang. Bunda Katrin yang sibuk di butik pun pulang ke rumah untuk makan siang setelah mendapat telpon dari mbok Sum. Bahkan tidak lama kemudian ayah Andi pun juga pulang.


“Nak Brian, sudah lama ya? Katanya nanti malam jemputnya kok siang sudah kesini?” tanya ayah Andi yang duduk di samping Brian.


“Iya, ayah. Tadi secara kebetulan aku bertemu sama Key di rumah sakit. Makanya Brian antar pulang sekalian,” jawab Brian sopan.


“Ayah, aku tadi kebetulan kok yah ketemu ka Brian. Dan yang lebih menjengkelkan lagi aku kerja di rumah sakit kak Brian. Aku tahunya setelah tanda tangan kontrak dan yang lebih menjengkelkan lagi tidak boleh mengundurkan diri selama kontrak 2 tahun,” jelas Key jengkel dengan memanyunkan bibirnya.


“Benarkah begitu? Kalau begitu baguslah. Jadi putri ayah akan selalu bekerja dibawah pengawasan calon suaminya. Ayah sih tidak masalah apalagi bunda pasti setuju lah.” Ayah Andi kembali menggoda putrinya.


“Ayah, Key belum siap untuk menikah. Key masih ingin menikmati kesendirian Key,” ucap Key langsung menghempaskan dirinya duduk di dekat ayahnya.


“Dik, itu tandanya kamu secara alami berjodoh dengan Brian. Meskipun kamu mengelak, kakak yakin kamu pasti akan bertemu kembali dengan Brian,” ucap Ata tiba-tiba yang barusan masuk dengan baju dinasnya karena pulang kerja.


Key langsung berlari menghampiri kakaknya dan melompat ke dalam gendongannya. Tangan Key melingkar di leher Ata dan menempelkan keningnya di kening kakaknya. Key sangat merindukan kakaknya karena 2 tahun lebih baru ketemu dan Ata menetap di rumah dinas.


“Astaga Key, kamu apa tidak malu? Itu ada Brian yang sebentar lagi jadi suamimu?” ucap Ata yang tidak dihiraukan lagi oleh Key.

__ADS_1


“Key andaikan aku di posisi Ata. Aku pasti senang. Aku akan selalu memanjakan mu tapi tidak sebagai kakak tentunya, tapi sebagai istri.” Brian menelan salivanya.


“Nak Brian, kalau kamu jadi suaminya kelak harus siap menerima sikap manja dirinya. Dan Key itu kekanak-kanakan. Dia manja tidak pada Ata saja. Tapi pada semua kakak sepupu laki-lakinya seperti itu,” jelas ayah Andi sehingga membuat Key malu dan berlahan-lahan Key turun dari gendongan kakaknya.


Ata menggandeng Key untuk kembali duduk di ruang tamu. Bunda pun mengajak mereka untuk makan karena semua makanan sudah di siapkan oleh mbok Sum.


Mereka layaknya keluarga makan bersama dan nampak akrab satu sama lainnya. Brian pun nampak sudah menyatu dengan keluarga ayah Andi. Ayah Andi nampak senang karena Brian pandai beradaptasi dengan keluarganya.


Ayah senang dan berharap Brian segera melamar dan menikahi putrinya. Ayah Andi tersenyum melihat putra dan putrinya yang tumbuh besar dan sebentar lagi jika sudah menikah dan memiliki anak, dirinya akan menjadi opa dan Katrin jadi oma.


“Ayah, kenapa senyum sendiri?” bisik bunda Katrin kepada suaminya.


“Tidak ada apa-apa sayang, aku hanya membayangkan jika kedua putra kita menikah dan memiliki anak, aku dipanggil opa. Asyikan? Opa muda!” Ayah Andi berbisik kepada bunda yang membuat ketiga anak muda yang ada di depannya penasaran.


“Ayah dan bunda, kayaknya ada sesuatu ya? Aku kok jadi penasaran?” tanya Key kepada kedua orang tuanya.


“Tidak kok Key? Ayah kamu hanya ingin segera dipanggil opa muda?” jawab bunda Katrin hingga membuat kedua anaknya dan Brian melongo melihat kekonyolan orang tua mereka.


“Siap ayah, do’a kan aku bisa segera mewujudkan keinginan ayah ya?” ucap Brian sopan hingga membuat Key tambah kesal.


“Setuju yah? Aku pun segera ingin menikah lo? Tapi tentunya setelah Key menikah terlebih dahulu. Key cepetan ya? atau kita nikah bersama-sama saja bagaimana?” goda Ata semakin membuat Key kesal.


“Ogah. Aku tidak ingin menikah bersamaan dengan kak Ata? Bukan begitu ya kak Brian?” tanya Key tiba-tiba tanpa sadar hingga membuat kedua orang tuanya melongo tidak percaya. Key langsung menutup mulutnya karena keceplosan.


Terimakasih para pembaca yang setia atas kontribusinya dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya.

__ADS_1


__ADS_2