
Andi yang sudah berada dalam kamar bersama Katrin duduk bersandar di ranjang. Sedangkan Katrin yang sudah berganti dengan baju tidurnya membaringkan dirinya di pangkuan Andi. Andi membaca laporan yang dikirim oleh Doni tentang keuangan cafenya.
Sesaat Setelah membaca laporan yang dikirim Doni, Andi memperhatikan Katrin yang belum tertidur.
“Dik setelah kita menikah nanti kita harus mandiri dan tinggal di rumah kita yang sudah aku siapkan.” Andi mengusap rambut Katrin yang ada di pangkuannya.
“Iya kak, aku siap. Aku akan belajar menjadi istri yang baik untukmu,” ucap Katrin yang masih berada di pangkuan Andi.
“Terimakasih sayang, aku sangat menyanyangi dan mencintaimu,” ucap Andi yang mengelus-elus rambut Katrin hingga Katrin tertidur.
Andi membetulkan posisi tidur Katrin dan memeluknya hingga Andi juga tertidur disampingnya Katrin.
Hawa dingin yang semalaman hujan membuat Andi terbangun, terlebih Andi junior miliknya sudah menegang. Andi berniat untuk menyatukan Andi juniornya dengan rahim Katrin. Andi memulai mengecup bibir Katrin dan bergeser ke leher jenjang Katrin dan berlanjut menyusuri tubuh Katrin. Katrin pun terbangun menikmati sentuhan dan sensasi yang telah Andi berikan.
“Tok…, tok…, Mas Andi, Mbak katrin…, cepat turun mbak Widya mau melahirkan.” Teriak Mbok Minah sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Katrin.
“Iya mbok sebentar,” sahut Andi bergegas mengambil baju ganti di almari begitu juga dengan Katrin mengikuti Andi.
Setelah mencuci mukanya dan merapikan diri, mereka berdua langsung menuju kamar Tora dan Widya yang berada di bawah.
“Mbok yang bener? Bukannya kemarin kata kak Tora perkiraannya awal bulan depan mbok,” tanya Katrin untuk memastikan.
“In ikan tanggal tua nak, dan bulan depannya perkiraannya di awal, kalau maju 1 minggu itu wajar nak!” sahut mbok Minah yang sudah berpengalaman.
“O…, begitu ya mbok. Ya sudah yang terpenting kita harus segera mengantarnya ke rumah sakit,” ucap Katrin yang terus berjalan menyusuri tangga untuk menuju kamar Tora.
Tora memapah Widya berjalan keluar kamar, Andi langsung menyiapkan mobil berangkat ke rumah sakit. Tora menenangkan Widya yang duduk di kursi belakang. Bunda Ajeng menyiapkan segala keperluan dan berangkat belakang diantar sopir.
“Dik tahan ya. Andi ayo segera tambah kecepatan mobil kamu,” teriak Tora sambil mengusap peluh keringat yang mengalir di kening Widya.
“Iya bro…, ini aku sudah ngebut. Tentunya juga harus ambil celah yang aman dong!” teriak Andi yang panik mendengar bentakan Tora.
__ADS_1
“Dik tahan nafasmu dan hembuskan secara berlahan.” Tora terus memegangi tangan istrinya dan memberi semangat untuk istrinya. Tora sangat cemas karena melihat istrinya yang berusaha menahan rasa sakit karena hendak melahirkan.
Setelah beberapa menit di jalan raya akhirnya mereka sampai di UGD rumah sakit. Tora panik langsung memanggil perawat, kemudian Widya di dorong masuk ruang persalinan oleh perawat.
Tora nampak panik menunggu di luar ruangan, mondar-mandir sambil berkali-kali mengusap wajahnya dengan kasar.
Bunda Ajeng yang baru datang langsung menarik tangan Tora untuk mengajaknya duduk dekat dengannya.
“Nak yang tenang dan berdo’a. Semoga anak dan istrimu sehat.” Bunda Ajeng mengusap pungung putranya.
“Iya, bunda. Aku akan mendo’akan untuk anak dan istriku semoga diberi kekuatan dan Kesehatan serta keselamatan untuk mereka,” ucap Tora sedikit lebih tenang dan selalu memunajatkan do’a untuk anak dan istrinya. Tak berapa lama suara tangis bayi terdengar pertanda bayi Tora lahir.
“Alhamdulilah,” ucap semua orang yang hadir di situ. Katrin pun merasa senang karena mendapatkan keponakan pertamanya.
“Kak, suaranya begitu keras. Aku rasa keponakan aku cowok,” ucap Katrin senang dan langsung memeluk suaminya.
“Bapak Tora, bayi laki-laki anda sudah lahir dengan selamat. Bapak diperbolehkan masuk sekarang,” ucap perawat yang telah membantu persalinan Widya.
“Betul kan sayang, keponakan aku laki-laki pasti sangat tampan.” Katrin hendak masuk mengikuti perawat tapi bunda Ajeng melarangnya.
“Terimakasih sayang, kamu telah melahirkan putra kita dengan sehat.” Tora mengecup kening istrinya.
“Iya sayang, aku juga senang karena aku melahirkan seorang anak yang tampan mirip dengan ayahnya,” ucap Widya lirih sambil memandangi putra dan suaminya bergantian.
“Maaf pak untuk sementara bayinya akan kami bawa di ruang perawatan bayi, dan ibu Widya akan kami pindahkan ke ruang perawatan juga.”Perawat itu mengambil bayi Tora dan membawanya masuk ke ruang perawatan bayi.
Sedangkan perawat yang satunya mendorong ranjang Widya menuju perawatan VVIP rumah sakit. Tora mengikuti dan ikutan mendorong disamping Widya. Bunda Ajeng, Katrin dan Andi mengikuti mereka dari belakang.
“Kak, selamat ya! Kakak sudah jadi ibu, do’akan semoga aku juga segera menyusul kakak!” ucap Katrin sambil mencium pipi Widya. Andi menepuk bahu Tora dan mengucapkan hal yang sama.
“Iya dik, kakak do’akan kamu segera hamil. Tapi sudah belum?” bisik Widya ke telinga Katrin.
__ADS_1
“Kakak, apa an sih kak!” ucap Katrin kesal dengan Widya.
“Tora, anakmu sudah ada namanya belum?” tanya Andi ingin tahu nama keponakannya.
“Sudah dong, anakku aku kasih nama Satria Atmajaya,” kata Tora tersenyum senang.
“Wah, bagus namanya. Kelak akan menjadi seorang yang satria membela kedua orangtuanya, agama dan negaranya sesuai dengan namanya,” ucap Andi yang berusaha mengartikan nama anak Tora sekaligus mendoakannya.
Bunda Ajeng tersenyum melihat putra-putrinya dan menantunya sangat akrap. Hari ini bunda Ajeng mendapatkan dua kebahagiaan sekaligus.
“Nak Andi, kamu ajak Katrin pulang ya? Kalian tidur saja di rumah, tidak enak dengan kerabat-kerabat yang masih menginap di rumah,” perintah bunda Ajeng kepada menantunya. Andi memandang sesaat pada Tora untuk meminta persetujuannya.
“Iya An, kamu pulang saja. Aku dan bunda biar menunggu Widya,” ucap Tora yang tahu maksud dari pandangan Andi.
“Ok, kita pulang dulu bunda.” Andi dan Katrin pamitan untuk pulang ke rumah.
“Sayang, sebelum pulang kita ke ruang perawatan bayi ya? Aku ingin melihatnya,” ucap Katrin manja sambil menggandeng tangan suaminya.
Setelah sampai di ruang perawatan bayi Katrin mencari keponakanya dan menatapnya tajam seolah ingin memeluknya. Andi langsung mengusap rambut Katrin dan mencium keningnya.
“Sayang kamu juga ingin memiliki putra ya? Setelah pulang ke rumah kita buat ya?” Andi menggandeng Katrin untuk meninggalkan Satria kemudian mereka mengendarai mobilnya meninggalkan rumah sakit.
Di sepanjang jalan mereka tidak berkata apapun, karena mengantuk maka Katrin menyadarkan dirinya di kursi mobil hingga tertidur sangat lelap.
“Dik, ayo bangun dan segera turun. Kita sudah sampai di depan rumah.” Andi mengguncang tubuh Katrin, tapi Katrin tak kunjung bangun juga.
“Kebiasaan kalau tidur susah dibangunkan.” Andi menggeleng-gelengkan kepalanya namun akhirnya dia menggendong Katrin masuk ke kamarnya dengan dibantu mbok Minah yang membukakan pintu.
“Nak, anaknya nak Tora cowok apa cewek?” tanya mbok Minah memastikan kepada Andi yang selesai merebahkan Katrin di atas ranjangnya.
“Cowok mbok, cakep kayak ayahnya,” ucap Andi sambil menyelimuti Katrin, kemudian mbok Minah pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
💕💕💕💕
Terimakasih para pembaca yang jadi penggemar setia, untuk menambah semangat update episode selanjutnya, jangan lupa kasih komentar, like dan votenya💕💕💕💕