Terjerat Cinta Satpol PP Arogant

Terjerat Cinta Satpol PP Arogant
Hamil


__ADS_3

Hari ini hari libur. Andi dan Katrin berada di rumah. Mereka sedang menghabiskan waktunya untuk berenang. Andi dengan tubuh Atletisnya berenang dengan beberapa kali putaran.


Katrin yang berenang sekali putaran langsung berjemur diatas kursi pantai dekat kolam renang dengan memakai baju renang saja.


Setelah puas berenang Andi menghampiri Katrin dan berniat untuk menggendongnya mengajaknya berenang kembali.


“Sayang ayo berenang sama kakak kembali. Andi mengecup bibir Katrin?” Andi duduk berjongkok dihadapan Katrin dan membelainya.


“Aku malas kak, aku ingin berjemur saja.” Katrin kembali memejamkan matanya menikmati sengatan matahari di pagi hari.


“Ya sudah kalau begitu kita mandi saja.” Andi menarik tangan Katrin agar segera berdiri untuk mandi.


“Gendong kak,” ucapnya manja. “Kamu tidak malu ada mbok Sum,” ucap Andi langsung menggendong Katrin menuju kamar mereka.


“Tidak, kenapa aku mesti malu. Aku kan minta gendong suami aku.”Katrin menggelayutkan tangannya di leher Andi. Andi tersenyum melihat tingkah manja istrinya.


Setelah membersihkan diri mereka nonton acara televisi di kamar sambil sesekali memakan cemilan buatan mbok Sum. “Sayang aku ingin pergi ke rumah bunda Ajeng dan menginap di sana,” ucap Katrin tiba-tiba sambil menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.


“Iya tapi ntar sore ya berangkat. Soalnya aku mau ke café dulu.” Andi membelai rambut istrinya dengan sangat lembut dan penuh cinta.


“Aku maunya sekarang. Tidak pakai ditunda.” Katrin memanyunkan bibirnya sehingga menambah gemas Andi.


“Ya sudah, kamu siapkan perlengkapan kamu, kita berangkat. Tapi mampir dulu ke kafe untuk mengambil berkas. Nanti aku kerjakan di rumah bunda Ajeng saja.” Andi membantu beres-beres kemudian mengambil kunci mobilnya dan berangkat ke rumah bunda Ajeng.


Di dalam perjalanan menuju rumah bunda Ajeng, Katrin minta menghentikan mobilnya. “Kak berhenti,” teriaknya tiba-tiba mengejutkan Andi.


“Sayang kenapa? Kamu bikin aku kaget saja!” ucap Andi yang langsung menepikan mobilnya dipinggir jalan raya.


“Kak, tolong belikan kembang gula kapas yang ada di tepi jalan itu?” Perintah Katrin kepada suaminya yang masih bengong dengan sikap istrinya.


“Astaga sayang, kakak tidak salah dengar?” tanya Andi menyakinkan sekali lagi permintaan aneh istrinya.


“Engg…gak, aku sangat menyukainya. Ayolah sayang,” Katrin kembali merajuk kepada suaminya.


“Ok, kamu tunggu aku disini!” Perintah Andi pada istrinya, kemudian turun dari mobil dan menghampiri abang penjual kembang gula kapas.

__ADS_1


“Bang, kembang gula kapasnya ya? dua saja!” ucap Andi smabil mengeluarkan uang nya dan memberikannya kepada abang penjual kembang gula kapas.


“Ini mas.” Penjual memberikan kembang gula kapas ke Andi dan Andi menerimanya kemudian berlalu kembali ke mobilnya.


“Mas uang kembaliannya,” teriak abang penjual mengejar Andi.


“Untuk abang saja,” kata Andi sambil masuk ke dalam mobilnya.


“Terimaksih mas, semoga mas dan keluarga mendapat rezeki yang melimpah dan berkah.” Abang penjual kembang gula kapas mendo’akannnya.


Andi kemudian menyerahkan kembang gula kapas ke Katrin, kemudian melajukan mobilnya menuju rumah bunda Ajeng.


Katrin memakan kembang gula kapas dengan sangat lahapnya seperti anak kecil.


“Sayang, kamu yang pelan makanannya. Aku tidak akan memintanya!” ucap Andi sambil melirik Katrin makan kembang gula kapas.


“Ini sangat enak kak. Kakak mau mencobanya!” Katrin memberikan salah satu kembang gula kapas pada Andi, tapi Andi menolaknya.


Tidak lama kemudian mereka sampai di rumah bunda Ajeng. Bunda Ajeng sedang membaca koran di teras.


“Iya sayang, bunda juga kangen sama kamu. Ayo nak masuk, tadi bunda masak cumi bumbu pedas asem manis kesukaan kamu. Ayo nak Andi, untuk barang-barang kamu biar dibereskan sama mbok Minah,” ucap bunda Ajeng sambil menggandeng putrinya masuk ke dalam rumah.


Mereka bertiga berada di ruang makan, untuk makan siang. Katrin mengisi piring Andi dengan makanan kesukaannya, demikian pula dengan piringnya. Mereka bertiga makan dengan sangat lahap terutama Katrin kelihatan seperti orang yang kelaparan. Tiba-tiba Katrin menghentikan makannya dan berlari ke kamar mandi dekat dapur.


“Hoek…hoek…,” semua isi perut Katrin dimuntahkannya di wastafel kamar mandi. Andi menhampirinya dan memijit teengkuk belakang Katrin.


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Andi sambil terus memijiti Katrin. Namun tiba-tiba Katrin pingsan. Andi dengan sigap menopang tubuh Katrin dan menggendongnya menuju kamar.


Andi merebahkan Katrin di ranjang, kemudian Andi mengolesi perut dan kening Katrin dengan minyak kayu putih yang bunda Ajeng bawa.


Bunda Ajeng karena ketakutan memanggil dokter keluarga untuk memeriksa Katrin.


“Sayang, ayo bangun. Kamu kenapa?” Andi memberi bau minyak angin yang menyengat di hidung Katrin. Kemudian Katrin membuka matanya pelan-pelan.


“Kak, aku kenapa? Kepalaku pusing?” Katrin menekan-nekan keningnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


“Mungkin kamu masuk angin dik, kamu tadi kan habis berenang dengan kakak,” kata Andi sambil mengelus-elus bahu Katrin.


“O…, tadi kalian habis berenang ya? Kirain kamu hamil nak?” tanya bunda Ajeng yang segera menginginkn cucu.


“Hamil? Dik betulkah kamu hamil mengandung anak kita?” Andi nampak tersenyum girang.


“Nak, itu masih dugaan bunda, jadi kalau lebih pastinya kita harus menunggu hasil pemeriksaan dokter. Sebentar lagi akan datang kesini,” jelas bunda Ajeng sambil berjalan menuju sofa di kamar tidur.


“Permisi, nyonya ada dokter Luna.” Mbok Minah masuk ke dalam kamar Katrin sambil mengantarkan dokter Luna. Kemudian dokter Luna masuk setelah dipersilahkan oleh bunda Ajeng.


Dokter Luna memeriksa Katrin dan tersenyum kepada mereka.


“Kelihatannya nona hamil, nanti untuk memastikan anda bisa pergi ke dokter kandungan,” ucap Dokter Luna sambil memberi resep vitamin untuk Katrin.


“Alhamdulilah, aku mau jadi ayah. Terimakasih dik.” Andi langsung mendekati istrinya dan mencium keningnya.


“Pak nanti segera dibawa ke dokter lo? Dan ingat selama usia kehamilan masih muda, aktivitasnya dikurangi! Biasanya pasangan muda itu tidak mematuhi instruksi dokter,” ucap Dokter Luna memberi peringatan kepada Andi sambil tersenyum menatap kedua pasangan muda tersebut.


“Siap Dokter,” ucap Andi sambil terus mengusap perut Katrin yang masih rata belum kelihatan klau hamil.


“Selamat ya nak? kamu akan segera menjadi seorang ibu, dan kurangi manja kamu,” ucap bunda Ajeng mendekati Andi dan Katrin sambil mengelus rambut putrinya.


“Tidak apa bunda, aku akan memanjakannya.” Andi tersenyum bangga dan menatap istrinya penuh kasih sayang.


Kemudian dokter Luna memberi beberapa wejangan untuk pasangan muda-mudi tersebut dan selanjutnya beranjak pergi diantar bunda Ajeng.


Sepeninggal mereka, Andi kembali menciumi perut Katrin, dan mengajaknya bicara. “Sayang, kesayangan ayah kamu jangan nakal ya? Kamu di dalam perut bunda baik-baik ya? Sehat dan jangan suka protes ya, kalau ayah sering-sering tengok kamu!” ucap Andi yang masih terus menciumi perut Katrin.


“Kakak, maksudnya apa?” Katrin mengeryitkan dahinya minta penjelasan dari Andi.


“Maksudnya begitu dik, kalau aku tengok adik bayi di dalam, dedeknya biar tidak rewel, jadi ayahnya mulus bisa melihat dedeknya. Ya minimal 2 hari sekali lah?” terang Andi sambil tersenyum menatap istrinya.


“Dasar mesum. Kalau disuruh istirahat ya istirahat kak,” Katrin mengabaikan celotehan suaminya dan beranjak tidur.


Terimakasih para pembaca yang setia semoga bisa menghibur, dan jangan lupa kasih jejak anda setelah membaca dengan komentar, like dan votenya!

__ADS_1


__ADS_2