Terjerat Cinta Satpol PP Arogant

Terjerat Cinta Satpol PP Arogant
Penentuan Hari Pernikahan


__ADS_3

Bunda Clara sudah sembuh dan sehat kembali. Sesuai janji Andi setelah kesembuhan bunda Clara, Andi dan keluarga akan melamar Katrin secara resmi sekaligus penentuan Hari Pernikahan.


Di rumah, bunda Clara tampak sibuk menyiapkan seserahan untuk lamaran. Semua saudara Andi berkumpul hendak mengikuti kegiatan lamaran. Luki dan Alexa juga berencana mengikuti prosesi lamaran Andi.


“Wah kak Andi sebentar lagi resmi meminta Kak Katrin menjadi istrinya ya?” Alexa bergelayut manja menggandeng Andi.


“Bunda, semua sudah siap belum?” tanya Andi gugup.


“Sudah nak, semua sudah disiapkan.” Bunda Clara membantu menyiapkan perhiasan yang akan dibawa ke rumah Katrin.


Setelah semuanya siap mereka masuk ke dalam mobil masing-masing. Andi naik di mobil yang dikemudikan Arga diikuti oleh Luki dan Alexa. Alexa yang rempong selalu menggoda Andi.


“Kak, kalau aku lihat, kak Andi kalau sudah menikah auranya akan kalah deh sama kak Katrin. Kak Andi akan jadi suami yang penurut pada istrinya!” celoteh Alexa.


“Tidak juga dik, itu semua karena aku terlalu mencintai Katrin, dan aku sudah janji saat jatuh cinta padanya, untuk tidak menyakitinya. Bagiku Katrin segalanya, bahkan aku rela memanjakannya,” ucap Andi tegas, membuat Alexa bengong tidak percaya sama Perkataan Andi.


“Itulah cinta Alexa, pasti suatu saat kamu akan mengerti. Tentunya ketika kamu jatuh cinta!” Arga menimpali perkataan Andi.


Luki pun bengong dengan dua saudaranya, ternyata mereka laki-laki yang garang, tapi tunduk atas dasar cinta.


”Aku tidak habis pikir, apa seperti itu ya kalau jatuh cinta,” gumam Luki yang pura-pura mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil.


“Kalau menurut kak Luki, bagaimana?” tanya Alexa tiba-tiba, sehingga membuat Luki gelagapan menjawabnya.


“Bagaimana…? Apa ya?” tanya Luki balik, pura-pura tidak mengetahui pertanyaan Alexa!

__ADS_1


“Apa, pendapat kakak tentang cinta?” Alexa balik bertanya kepada Luki. Luki diam karena dirinya belum sama sekali merasakan yang namanya jatuh cinta. Luki memang pria kutu buku yang belum terpikirkan untuk mencintai seseorang.


“Dik, mana bisa si kutu buku kau tanyai tentang cinta? Dia kan tiap hari hobinya mengurung diri di kamarnya bersama buku-buku bacaannya!” Andi kembali menimpali pertanyaan Alexa.


Alexa nampak kesal karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Luki. Dia sangat mengharapkan jawaban dari pria yang menurutnya berbeda dengan kedua kakak laki-lakinya itu. Alexa memutuskan untuk berdiam diri hingga sampai ke rumah Katrin.


Tidak berapa lama rombongan Andi telah sampai di rumah Katrin. Mereka disambut hangat oleh keluarga Andi. Nampak di dalamnya Tora dan Widya menyambut kedatangannya dan mempersilahkan masuk Andi dan rombongannya ke dalam rumah.


Semua kerabat dari kedua belah pihak menyaksikan kesepakatan antara pihak keluarga Andi dengan kelurga Katrin bahwa pernikahan mereka akan segera dilangsungkan bulan depan. Andi nampak tersenyum lega karena sebentar lagi Katrin akan jadi miliknya seutuhnya.


Setelah acara inti selesai, acara dilanjutkan dengan ramah tamah. Katrin dan Andi yang memakai baju stelan dari butik bunda Ajeng membuat semua kerabat tersenyum memandang mereka yang begitu serasi.


“Bro…, aku percayakan Adikku sepenuhnya, kamu akan bertanggungjawab sepenuhnya terhadap kebahagiaan Katrin, jadi janganlah kamu menyakitinya. Ingat kalau kamu menyakitinya, kamu akan berurusan dengan aku,” ucap Tora yang tiba-tiba menghampiri Andi dengan Widya yang bergelayut manja disampingnya.


“Tentu bro. Aku akan selalu membahagiakannya dan memanjakannya. Itu janji Andi Atmajaya sebagai seorang lelaki sejati.” Andi menonjok lengan Tora dan mereka pun berlanjut berbincang-bincang seperti biasanya.


“Tenang, Widya sudah 2 bulan mengandung. Dan dia nyidam sangat aneh. Pernah suatu ketika aku disuruh memegang jenggot bapak-bapak yang sudah tua. Hingga aku berputar-putar keliling kota mencari bapak-bapak yang sudah tua dan berjenggot,” bisik Tora pelan agar tidak terdengar oleh semua orang.


Andi dan Katrin tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita dari Tora. Mereka berempat bersenda gurau menunjukan kalau mereka berempat merupakan calon saudara yang kompak dan cocok satu sama lainnya.


“Dik besok kalau sudah menikah, dan kamu hamil jangan menyusahkan aku ya?” ucap Andi sambil mengelus manja tangan Katrin. Katrin hanya menganggukkan kepalanya dan menghela nafasnya membayangkan saat dirinya hamil.


“Mana bisa begitu bro, kamu bisa merencanakan, tapi ibu hamil yang berkehendak.” Tora terkekeh mendengar ucapan Andi.


“Sayang, sudahlah sayang, janganlah kau mengatakan yang tidak-tidak. Biar besok mereka merasakan sendiri.” Widya menimpali perkataan Tora.

__ADS_1


Mereka berempat sesaat terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing, hingga Arga dan Anita muncul dihadapan mereka. Mereka semakin ramai membicarakan masalah tentang perkawinan dan masa depan mereka.


“Wah ternyata Arga sudah menemukan calon pendampingnya juga ya? Makanya si Andi somplak buru-buru tuh meminang adikku!” ucap Tora tiba-tiba.


“Iya kak, do’akan kita tahun depan setelah pernikahan kak Andi akan mengurus pernikahan kita. Tentunya kita menikah secara kesatuan dulu kak.” Arga tersenyum bahagia menggandeng Anita mesra, bahkan Arga tidak canggung lagi menunjukan kemesraannya di depan semua orang.


“Kenapa tidak bareng saja dengan kakak kamu!” Tora menimpali Arga.


“Tidak bisa bro, aku ingin mengabadikan acara pernikahanku degan konsep dan suasana yang indah tanpa ada pernikahan yang lain.” Andi tiba-tiba menimpali percakapan mereka dengan sangat antusias.


“Walah dengan Adiknya sendiri saja, kok dipermasalahkan!” ucap Tora yang kembali menggoda Andi.


“Bukan begitu bro…, setiap orang punya pandangan sendiri-sendiri tenang hari terpenting dan bersejarah di hidupnya, tanya Arga tuh, pasti Arga punya konsep sendiri.” Andi tak kalah seru dan serius berargumentasi tentang pernikahannya.


Tora dan Arga nampak tersenyum melihat kekesalan Andi. Mereka berdua kompak mengerjai Andi. Tora dan Arga terkekeh melihat tingkah Andi yang kesal. Tora dan Arga memang akrap sejak dulu, karena terkadang saat Tora bermain ke rumah Andi, Arga yang terpaut satu tahun dengan kakaknya selalu ikut nimbrung dengan mereka.


Katrin, Anita dan Widya hanya sebagai pendengar setia obrolan mereka dan sesekali mereka juga ikut tertawa mendengar obrolan mereka yang lucu.


“Kak Widya, selain yang disampaikan oleh kak Tora, ada nggak acara nyidam yang aneh lainnya,” tanya Katrin ingin tahu bagaimana nyidam itu.


“Kalau aku tidak nyidam aneh-aneh kok dik, justru kakakmu kelihatannya yang nyidam.” Baru saja Widya selesai berucap, tiba-tiba Tora berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan semua makanan yang ada di perutnya.


“Kak, ada apa dengan kak Andi?” tanya Katrin cemas. Widya tersenyum mendengar pertanyaan Katrin kemudian membisikan sesuatu ke telinga Katrin.


“Kakakmu kena sindrom hamil dik, jadi semua yang biasanya dialami oleh ibu hamil, kakakmu yang mengalaminya termasuk sick morning,” ucap Widya lirih, kemudian menyusul Tora menuju ke kamar mandi.

__ADS_1


Katrin menatap bingung ke arah Anita. Anita yang belum mengerti tentang kehamilan hanya mengangkat bahunya tanda tidak mengerti tentang kehamilan. Sedangkan Andi dan Arga hanya tersenyum melihat tingkah dari calonnya masing-masing.


🍁🍁💪 Terimakasih para pembaca, tetap setia dan semangat mengikuti kisah selanjutnya. Dan jangan lupa komentar, like dan votenya!🍁🍁🍁💪


__ADS_2