
Sementara itu di luar Andi, Arga dan ayah Seno beserta jajaran Kepolisian mengepung rumah kosong yang digunakan untuk menyekap Katrin. Andi yang tidak sabaran ingin bertemu dengan istrinya memohon izin untuk masuk mengikuti penyergapan.
Karena kenal dengan pihak kepolisian dan ayah Seno yang banyak dikenal oleh kesatuan polisi, Andi dan keluarganya boleh mengikuti masuk.
Andi dan Arga masuk dari pintu belakang sedangkan pihak kepolisian masuk dari depan. Pengawal yang ada di sekitar ruangan sudah dibekuk terlebih dahulu. Mereka bergerak tanpa ada suara sehingga Indah dan satu pengawalnya tidak menyadari kalau semua kawan-kawannya sudah dibekuk dan ditangkap oleh pihak kepolisian.
“Brak…,” pintu kamar didobrak oleh polisi.
“Jangan bergerak. Anda sudah dikepung dan tidak bisa melarikan diri,” teriak salah satu anggota kepolisian.
“Cieh…, dengarkan aku. Kalian menjauh lah dariku kalau ingin wanita ini selamat!” teriak Indah yang langsung dengan cepat mengarahkan pisau ke leher Katrin. Sementara pengawalnya berhasil melompat lewat candela kamar. Arga yang mengetahuinya langsung mengejarnya.
“Bruk,” ini pukulan ku karena kau telah bekerjasama dengan manusia ular untuk menyakiti kakak ipar ku. Duelpun tak terelakan hingga akhirnya Arga berhasil meringkusnya. Sedangkan Andi yang mengetahui posisi istrinya langsung mencari cara agar bisa masuk lewat jendela.
Andi mengendap-endap hingga samapi di bawah jendela kemudian langsung melompat masuk melalui jendela. Indah yang mendengar suara berisik dari belakang langsung membalikan tubuhnya menghadap ke Andi sambil terus memegangi tubuh Katrin.
“Sayang, akhirnya kau datang menjemputku ya?” ucap Indah dengan yakinnya kalau Andi datang menjemputnya. Andi berusaha menenangkan Indah agar melepaskan Katrin tapi Indah malah histeris hendak melukai tubuh Katrin.
Pihak polisi yang mengetahuinya langsung bergerak cepat melumpuhkan Indah dari belakang.
Katrin langsung berlari menghampiri suaminya tapi sayang Katrin terjatuh dan merasakan kesakitan pada perutnya. Andi panik langsung menggendong istrinya yang sudah keluar air ketubannya. Andi terhuyung-huyung menggendong istrinya hingga akhirnya dibantu Arga masuk ke dalam mobilnya.
“Sayang, aku mohon kamu tetap bertahan ya? Arga tolong kamu kemudikan mobilnya kita langsung ke rumah sakit terdekat,” teriak Andi cemas. Arga langsung masuk ke mobilnya sedangkan ayah Seno mengemudikan mobilnya sendiri mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
Andi sepanjang jalan memegangi tangan istrinya dan mengusap kening istrinya yang mengeluarkan banyak keringat. Dan sesekali mencium kening istrinya sebagai tanda cintanya. Andi meneteskan air matanya membayangkan perjuangan istrinya selama 2 bulan hidup terkurung dalam ruangan yang pengap.
“Kak, aku sudah tidak kuat kak. Perutku sakit sekali,” ucap Katrin lirih dan hampir tidak sadarkan dirinya karena menahan sakit.
“Sayang, kamu harus kuat dan bertahan demi buah hati kita, buah cinta kita. Ingatlah kamu dulu selalu berucap kalau kita ingin membesarkan anak-anak kita hingga dewasa.” Andi memberi semangat pada istrinya.
“Arga tambah kecepatan mobilmu!” teriak Andi panik.
Sesaat kemudian mereka sampai ke rumah sakit. Arga langsung memarkirkan kendaraannya di depan IGD dan langsung minta bantuan ke perawat. Katrin dipindahkan ke ranjang kemudian perawat langsung mendorongnya ke ruang operasi untuk persalinan. Andi berlari mengikutinya dan Arga setelah memarkirkan kendaraannya mendampingi Andi yang berada di luar ruang operasi.
Arga mengambil ponselnya menghubungi Anita dan bundanya agar mereka segera menyusul ke rumah sakit. Tak lama kemudian ayah Seno datang dan selang beberapa menit kemudian keluarga besarnya datang karena lokasi rumah sakit tidak jauh dari kediaman Andi.
Andi nampak berjalan mondar-mandir menunggu kelahiran putra dan putrinya. Dia selalu berharap dan berdo’a agar keduanya selamat.
Bunda Clara dan bunda Ajeng begitu sampai langsung mendekati Andi. Nak sini kau duduk dekat bunda dan tenanglah. Bunda Clara menarik lengan putranya agar duduk disampingnya.
“Pak dokter, bagaimana istri dan anakku?” tanya Andi kepada dokter diikuti oleh bunda Clara dan bunda Ajeng.
“Selamat kedua putra bapak selamat, tapi istri anda masih belum siuman karena banyak kehilangan darah. Dan silahkan masuk pak untuk melihat anak dan istrinya.
Andi langsung masuk ke ruang persalinan ditemani bunda Clara. Kemudian Andi merengkuh bayinya dan yang satu digendong oleh bunda Clara. Andi mengumandangkan adzan untuk kedua putranya. Setelah mengumandangkan adzan untuk buah hatinya Andi langsung mendekatkan putranya ke samping istrinya.
“Sayang, ayo bangunlah, lihatlah buah hati kita dia begitu cantik dan tampan. Lihatlah mereka berdua hidungnya nampak mancung seperti kamu. Sayang ingat janji kamu yang akan selalu menjaga anak-anak kita hingga tumbuh dewasa.” Andi meneteskan air matanya sambil mengusap-usap pipi Katrin dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Perawat dan bunda Clara nampak terharu melihat keadaan putranya tidak kuasa mereka juga meneteskan air matanya. Kemudian perawat meminta bayinya untuk dibawa ke ruang bayi.
“Pak, maaf ibu Katrin mau dipindahkan di ruang perawatan.” Ucap salah satu perawat kemudian langsung mendorong ranjang Katrin ke ruang perawatan VVIP sesuai permintaan keluarga.
Setelah dipindahkan Andi menunggu Katrin di ruang perawatan yang ditemani bunda Clara. Setelah hampir 7 jam tidak sadar dengan mujijat Allah Katrin mengerjap-ngerjapkan matanya dan dilihatnya suaminya terjaga di sampingnya.
“Sayang, aku haus,” ucap Katrin lirih hingga membuat Andi tersadar dan langsung mengambil air minum untuk istrinya kemudian memencet tombol memanggil dokter. Tidak lama kemudian dokter yang menangani Katrin hadir di ruang perawatan Katrin. Dokter memeriksa keadaan Katrin dan di didampingi oleh perawat.
“Pak Andi. Bu Katrin sudah melewati masa kritisnya. Tapi untuk memastikan kesehatannya harus dirawat beberapa hari di rumah sakit,” ucap dokter kemudian memberikan resep obat dan vitamin untuk Katrin. Setelah cukup lama memeriksa Katrin, dokter dan perawatnya meninggalkan ruang perawatan Katrin.
Sepeninggal dokter, Andi nampak mendekati istrinya. Andi mencium kening istrinya dan bersyukur karena masih diberi keselamatan untuk istri dan buah hatinya.
“Sayang mana jagoan dan putri kita?” tanya Katrin kepada suaminya. Bunda Clara yang mengetahuinya langsung meminta perawat untuk membawa kedua bayi Katrin ke ruang perawatan.
Tidak berapa lama kemudian datanglah kedua perawat dengan membawa bayi kembar mereka.
Katrin membelai kedua anaknya dengan perasaan sayang dan terharu.
“Sayang anak kita tampan dan cantik. Sudahkah kau menyiapkan nama untuk kedua putra kita?” tanya Katrin pada suaminya.
“Sudah kok sayang, mereka aku beri nama Katan Putra Atmajaya dan Ketty Putri Atmajaya. Katan itu artinya pembicara. Dan Ketty itu artinya penguasa,” jelas Andi pada Katrin.
“Sayang kenapa terbalik?” tanya Katrin pada suaminya.
__ADS_1
“Jangan salah sayang, yang laki-laki kan kuat sayang tapi harus bisa membimbing istri dan anaknya kelak jadi harus bisa menjadi pembicara yang hebat untuk menyakinkan nya. Sedangkan yang wanita itu biasnya lemah jadi haus muncul karakternya sebagai penguasa namun dalam batas-batas yang wajar ya?” terang Andi pada istrinya yang disambut dengan senyuman oleh bunda Clara. Bunda nampak tersenyum bahagia atas bersatunya kembali anak dan menantunya serta cucu-cucunya. Air mata kebahagiaan memenuhi kelopak mata bunda Clara.
💕💕💕💕Terimakasih para pembaca yang setia, mari kita simak episode selanjutnya dan jangan lupa kasih komentar, like, hadiah dan votenya!💕💕💕💕