Terjerat Cinta Satpol PP Arogant

Terjerat Cinta Satpol PP Arogant
Calon Menantu Bunda


__ADS_3

Hai para pembaca, sebelum membaca beri like, komentar serta votenya ya? Penulis akan segera update kisah seru Andi dan Katrin.


Pernikahan Tora dan Widya kurang satu minggu lagi, Katrin bersama Andi pergi ke butik bunda Ajeng untuk fitting baju resepsi pernikahan Tora dan Widya.


“Mbak…, bunda ada tidak?” tanya Katrin yang baru datang sambil masuk ke dalam ruangan bunda Ajeng.


“Ada mbak, lagi sama mas Tora dan mbak Widya,” jawab pelayan butik.


“Terimakasih mbak, ayo kak..., kita masuk.” Katrin menggandeng tangan Andi dan bergelayut mesra.


“Assalamualaikum, selamat siang, bunda, kakak?” Katrin berlari memeluk Widya, calon kakak iparnya.”


“Andi…? Dik..., jadi yang akan menjadi calon adik ipar ku..., Andi Sanjaya?” kata Widya memandangi Katrin dan Tora secara bergantian.


“Hem…, iya kak, Andi Sanjaya Satpol PP yang Arogant dan mesum kak?” sebut Katrin tanpa basa-basi.


“Pletak…, tapi kamu suka kan dik?” goda Tora sambil memukul jidat adiknya pakai bolpoin. Mereka pun tertawa bersama-sama.


“Hai, Wid…, lama nggak jumpa ya? Ketemu sekali langsung jadi saudara ipar.” Andi bersalaman dengan Tora dan Widya secara bergantian.


“I_ya, kamu segera nikah juga ya? Atau nikah bareng kita saja, bagaimana?” ucap Widya sambil memandang Tora minta persetujuan.


“Ti_dak, jangan campur resepsi pernikahan kita dengan Satpol PP Arogant dan mesum ini dik? Bisa-bisa pesta kita porak poranda oleh preman pasar yang dendam sama dia dik,” ucap Tora sambil menggoda Andi.


“Sial…, apes betul aku hari ini,” kata Andi sambil meninju lengan Tora. Begitulah Andi dan Tora persahabatannya sejak lama sehingga mereka berdua sering bercanda seperti saudara sendiri.


“Sudah nak…, bercandanya dilanjutkan nanti.” Bunda Ajeng memotong pembicaraan mereka.


“Iya, bunda, aku mau coba bajuku dulu sama mbak Widya.” Katrin menarik lengan Widya, menuju ruang ganti.


Setelah mengganti baju untuk acara pernikahan Tora dan Widya, mereka keluar dari ruang ganti dan berjalan selayaknya peragawati yang menampilkan fashion untuk para penggemarnya.


“Gila…, calon istriku cantik betul?” ungkap Tora sambil bengong menatap Widya.


Sedangkan Andi juga terpesona dengan kecantikan Katrin. “Wah kalau seperti ini, aku siap menikah sekarang di depan penghulu, biar segera merasakan malam pertama,” gumam Andi nyaris tidak terdengar, tapi sayang Tora mendengarnya.


“Plak…, semua itu butuh proses bro, ja_di sebagai kakak tertua aku harus nikah dulu baru kalian,” ucap Tora sambil memukul bahu Andi.

__ADS_1


Andi tersadar dari lamunannya dan menghampiri Katrin, tiba-tiba langsung memeluk Katrin dan menciumnya.


“Lihat bun, calon menantu bunda, bener-bener Arogant dan mesum, main sosor dan tidak tahu tempat.” Tora menggelengkan kepalanya melihat ulah Andi.


“Iya nak…, anak muda sekarang tidak tahu tempat, tidak sungkan sama bunda." Bunda Ajeng menghampiri mereka, disusul dengan Tora.


“Terimakasih bunda, desain dan jahitannya sesuai dengan selera Widya,” kata Widya mencium bunda Ajeng.


“Sama-sama nak, Tora sama nak Andi, baju kalian cepat dicoba nak?” perintah bunda Ajeng.


“Siap…, bunda.” Mereka berdua pergi ke ruang ganti mengganti baju mereka. Kedua sahabat ini nampak tampan dan macho. Bunda Ajeng nampak tersenyum bangga menatap anak dan calon menantunya.


“Nak, kalian bener-bener anak dan calon menantu bunda yang tampan,” puji bunda Ajeng.


“Tora…, tolong dong, ambil gambar aku dengan Katrin.” Andi menyodorkan ponselnya, dan berpose begitu mesra dengan Katrin.


“Cekrek…, cekrek.” Tora mengambil beberapa gambar kemudian menyerahkan ponsel Andi.


“Bunda, sebaiknya mereka berdua segera dinikahkan saja, kayaknya sudah tidak betah!” ucap Tora sambil melangkah pergi ke ruang ganti.


Tora dan Andi selesai menganti baju mereka, Katrin dan Widya masih di ruang ganti perempuan.


“Aku inginnya setelah kuliah selesai mbak, kira-kira 1 tahun lagi,” kata Katrin sambil melipat baju yang barusan dia coba.


“Jangan lama-lama dik, takut kebablasan, aku lihat Andi begitu mencintaimu. Pekerjaan sudah ada, kurang apa lagi dik?” tanya Widya kepada Katrin.


“Entahlah kak,…aku masih fokus kuliah, dan aku masih trauma dengan masa lalu ku dengan kak Leo,” jelas Katrin.


“Tidak semua pria itu sama dik?” Aku lihat Andi tulus sama kamu.


“Ya, kak. Kita lihat saja nanti. Aku akan memberikan ruang selama satu tahun ini, untuk saling mengenal dan memiliki.” Katrin menghela nafas panjang.


“Ta_pi dik, apa kamu tidak takut Andi lari jatuh di pelukan cewek lain?” tanya Widya kembali.


“Tidak kak, aku yakin jodoh, rejeki, hidup dan mati seseorang sudah ada yang mengatur,” jawab Katrin santai.


“Sudahlah kak, ayo kita keluar kakak Tora dan kak Andi pasti sedang menunggu kita.” Katrin keluar ruang ganti bersama Widya menuju sofa.

__ADS_1


“Dik, ayo sini makan bareng, bunda sudah siapkan go food, pasti perut kalian sudah lapar,” ucap bunda Ajeng sambil menyajikan makanan di meja. Mereka makan bersama layaknya seperti sebuah keluarga. Bunda Ajeng mengambil beberapa jepret gambar untuk dipasang di status WashApp.


“Dret…, dret…, ponsel bunda Ajeng bergetar. “Assalamualaikum, bunda Ajeng?” sapa bunda Clara di sebrang sana.


“Waalaikumsalam, calon besan,” jawab bunda Ajeng sambil tersenyum.


“Itu anak nakal…, di situ juga ya?” tanya bunda Clara.


“Iya jeng fitting baju untuk pernikahan Tora dan Widya, nanti jeng Clara dan keluarga harus hadir lo?” ujar bunda Ajeng sambil mengarahkan ponselnya ke arah anak dan calon menantunya.


“Akan aku usahakan jeng, syukur-syukur nanti ayahnya Andi tidak tugas luar kota,” jawab bunda Clara kembali.


“Terimakasih jeng, nanti stelan baju keluarga aku titipkan sama nak Andi jeng, semoga cocok dengan seleranya jeng Clara.”


“Ya, jeng terimakasih, aku tutup dulu ya sampai ketemu kembali.” Bunda Clara minta ijin menutup video call ponselnya.


“Nak Andi, nanti kalau pulang baju untuk keluarga kamu, kamu bawa sekalian ya?” perintah bunda Ajeng kepada calon menantunya.


“I_ya, bunda, terimakasih,” ucap Andi sambil menyantap makanannya.


Suasana hati mereka sangat baik sehingga mereka saling bersenda gurau dan nampak akrab satu dengan yang lainnya.


“Tidak menyangka kita bertiga dipertemukan dalam situasi yang berbeda. Pertemanan kita berlanjut di pernikahan,” ucap Widya.


“Iya dik, aku juga tidak menyangka si kunyuk ini jadi calon adik ipar ku,” kata Tora sambil melirik Andi.


“Buk….” Andi melempar kulit pisang ke arah Tora.


“Awas ya, tidak aku restu i kamu, biar merasakan menjadi jomblo sejati.” Ancam Tora


“Wah itu namanya curang, memanfaatkan posisi untuk membatalkan suatu pekerjaan itu dosa,” sahut Andi kesal.


"Ayo, lanjutkan makannya, kata bunda Ajeng melerai mereka."


"Mereka, itu sejak dulu di asrama juga seperti itu bunda," jelas Widya pada bunda Ajeng.


"Kalau tidak begini, tidak heboh bunda," ucap Andi sambil tersenyum memandang Tora dan Widya bergantian.

__ADS_1


Begitulah mereka, bercanda dan menikmati kebersamaan mereka dengan penuh cerita.


__ADS_2