Terjerat Cinta Satpol PP Arogant

Terjerat Cinta Satpol PP Arogant
Rencana Pesta


__ADS_3

Setelah pulang dari Jogja Andi seperti biasa melakukan aktivitasnya bekerja sebagai abdi pemerintah di pagi hari. Dan untuk malam hari Andi selalu memantau perkembangan café yang dia miliki dengan bantuan Doni.


“Don, gimana keuntungan café bulan ini?” tanya Andi sambil bersandar di kursinya.


“Baik bos, bahkan keuntungan meningkat pesat , semenjak bos pacaran dengan mbak Katrin, temen-temennya banyak yang nongkrong di sini bos.” Doni menghempaskan tubuhnya duduk di kursi depan bosnya.


“Bagaimana bisa?” tanya Andi heran.


“Tanyakan saja sama mbak Katrin, dia bersama Trio Rempong nya sering kesini!” jelas Doni sambil membisikan sesuatu ke bosnya.


"Ada si Dewi juga bos?” ucap Doni kembali.


“Memang kenapa?” Andi pura-pura tidak mengetahui maksud Doni.


“Dewi kalau bos tolak, buat aku saja.” Doni memohon kepada Andi.


“Kau terlambat bro?” Andi memukul kepala Doni dengan tangannya.


“Kenapa? Bos berniat untuk poligami?” Doni menatap Andi mencari jawaban kepastian dari sorot mata Andi.


“Gila apa? Aku hanya cinta dan sayang sama Katrin saja, untuk yang lain lewat! Dewi sudah ada Toni,” ucap Andi tegas.


“Wah mantul si bos. Mbak Katrin bener-bener sudah membuat bos jatuh cinta termehek-mehek.” Doni mengacungkan jempolnya.


“Dewi sama Toni, temen si bos? wah gagal lagi aku. Nasib-nasib….” Doni mengusap wajahnya dengan kasar.


“Pak Andi, di cari mbak Katrin?” ucap salah satu pelayan menghampiri mereka.


“Suruh masuk ke sini, dan siapkan makanan untuk mbak Katrin!” perintah Andi.


Tak lama kemudian Katrin datang dan langsung menghampiri Andi. “Selamat malam sayang? Maaf mengganggu,” ucap Katrin memeluk Andi.


“Malam sayang, kamu kesini sama siapa?” kok tidak memberi tahu kakak.” Andi mencium kening Katrin.


“Sama Anita dan Dewi kak!” Katrin hendak pergi duduk ke sofa tapi Andi menariknya dan mengecup bibir katrin.


“Bos…, Ingat tempat bos, kamu membuat jiwa jombloku meronta-ronta.” Doni pergi meninggalkan bosnya.


"Bener-bener si bos mesum, tidak tahu tempat dan situasi.”


Katrin dan Andi tersenyum memandang kepergian Doni. “Dik, ada apa kamu kesini? Kangen kakak ya?” bisik Andi ke telinga Katrin sambil memeluk erat tubuh Katrin ke dalam pangkuannya.


“Tidaklah kak, kamu percaya diri banget. Aku ke sini mengantar Dewi mau boking café kamu, untuk acara ulang tahunnya minggu depan!” ucap Katrin bergelayut manja dipangkuan Andi.

__ADS_1


“Ya…, kamu bawa masuk kesini saja sekalian kita makan malam,” ucap Andi sambil mengandeng Katrin untuk duduk di sofa.


“Ya kak, aku akan memanggilnya.” Katrin hendak bangkit dari duduknya, Andi menariknya kembali.


“Aku suruh Doni saja dik.” Andi memencet tombol interkom nya.


“Don, kamu ajak Anita dan Dewi ke ruangan ku.” Andi memberi perintah Doni.


“Siap bos,” ucap Doni di ruang kerjanya. Tidak membutuhkan waktu yang lama, Doni sudah membawa masuk Anita dan Dewi ke dalam ruangan Andi.


“Silahkan mbak, aku tinggal dulu,” ucap Doni hendak beranjak pergi.


“Doni jangan kau pergi, layani klien kita. Dewi hendak mengadakan pesta ulang tahun ke 21 di café kita,” perintah Andi tegas.


“Ok, mbak Dewi maunya konsepnya seperti apa?” tanya Doni sambil mengambil buku catatan di meja bosnya.


“Aku menginginkan konsepnya sederhana tapi menunjukan kemewahan.” Dewi memandang Katrin agar membantu menjelaskannya.


“Jadi begini lo kak? Dewi menginginkan pesta dengan latar belakang sederhana tapi terkesan elegan dan mewah.” Katrin membantu menjelaskan.


“Ok, bagaimana kalau kita pakai konsep puteri Cinderala,” ucap Doni memandangi Dewi.


“Menarik, boleh juga,” ucap Dewi menyetujui usulan Katrin.


“Iya…, ide bagus. Jadi kostumnya yang cewek pakai gaun silver, sedangkan yang cowok pakai jas nuansa silver juga, pasti bagus,” kata Katrin semangat.


“Catat Don, buat sebaik mungkin,” perintah Andi.


“Siap bos, akan aku siapkan yang terbaik.” Doni mengacungkan jempolnya.


“Ayo kita makan dulu,” ucap Andi mengambil piringnya.


“Anita, kamu besok sama Katrin diminta bunda pergi ke rumah. Bunda ada perlu sama kalian,” Andi menatap Anita dan Katrin. “Dik kamu besok aku jemput jam 9 ya?”


“Iya sayang, nanti sekalian kita mampir ke tempat Anita ya?” jawab Katrin.


“Sayang, Anita sudah ada Arga, paling Arga nanti akan menjemput Anita?” ucap Andi dengan wajah datarnya.


“Kak Arga sudah pulang?” tanya Anita kesal.


“Sudah…, tadi siang. Memangnya tidak memberitahu kamu Nit?” tanya Andi balik.


“Tidak, bahkan ponselnya mati.” Ucap Anita. “Bener-bener kak Arga somplak, awas ya kalau ketemu akan aku cabik-cabik jadikan perkedel," gumam Anita kesal.

__ADS_1


“Udah ayo makan, nanti makanan kamu keburu dingin?” ucap Dewi yang duduk di sampingnya.


“Dik coba menu yang ini ya? Ini menu andalan café kita.” Andi menyuapi Katrin, sehingga membuat hati Dewi terasa teriris sembilu. Meskipun Dewi sudah mempunyai Toni, tapi belum sepenuhnya melupakan Andi.


“Aku harus move on dari kamu kak Andi, maafkan aku kak Toni.” Dewi mendesah pelan menahan perih dan sakit hatinya.


Acara makan bersama mereka terlewati dengan baik, akhirnya mereka pamitan untuk pulang. Anita pulang bersama Dewi sedangkan Katrin menunggu Andi yang bersiap-siap untuk mengantarnya.


“Sayang, ayo cepetan bunda sudah telpon dari tadi,” teriak Katrin dari luar kamar.


“Iya sayang, sebentar…, aku masih ganti baju.” Andi keluar dari kamar dengan pakaian kaos oblong dan celana pendek. Rambutnya yang cepak semakin membuat tubuhnya yang macho bertambah seksi.


“Pletak….” Andi menyentil kening Katrin dengan jarinya.


“Dik tutup mulutmu dik, kau terpesona ya lihat tubuh kakak yang macho ini!” ucap Andi menyadarkan Katrin.


“Kakak, lama banget. Bunda telepon marah-marah,” ucap Katrin kesal.


“Ya, sebentar aku telepon bunda.” Andi mengambil ponselnya dan memencet no ponsel bunda Ajeng.


“Asalamualaikum bunda, maaf dik Katrin pulangnya agak terlambat,” ucap Andi sopan.


“Waalaikumsalam. Iya nak, tidak apa-apa, segera diantar pulang ya nak?” jawab bunda Ajeng dari seberang.


“Terimakasih bunda, atas kepercayaannya. Aku akan antar dik Katrin dengan selamat tanpa kekurangan suatu apa pun,” cerocos Andi untuk mengambil hati calon mertuanya.


Setelah mendapat ijin dari calon mertuanya melalui telepon, Andi mengandeng Katrin m


Keluar café menuju parkiran.


Andi membukakan pintu untuk Katrin dan selanjutnya melajukan kendaraannya untuk mengantarkan pulang Katrin.


Di tengah perjalanan Andi menghentikan kendaraannya.


“Kak, kenapa berhenti?” ucap Katrin sambil menoleh menatap Andi mencari tahu.


“Kita beli martabak dulu, kesukaan bunda Ajeng.” Andi membuka pintu mobilnya diikuti oleh Katrin.


“Kakak tahu dari mana, kalau bunda suka Martabak “Super Jaya” buatan bang Tukri?” tanya Katrin sambil mensejajarkan langkahnya menyamai Andi.


“Ya tahu lah dik, aku tahu semua hal yang berhubungan dengan kamu dan keluarga kamu dik,” ucap Andi percaya diri.


“Kakak, jangan bercanda dong?” Katrin kesal dengan ulah Andi. Andi menatap Katrin dengan senyuman.

__ADS_1


Martabak untuk calon mertua sudah diperolehnya, Andi dengan percaya diri mengantarkan Katrin pulang. “Ayo sayang, kita pulang,” Andi menggandeng mesra Katrin, untuk asuk ke dalam mobil.


💕💕💕Terimakasih para pembaca, silahkan kasih komen, like dan votenya? Itulah Andi cowok yang punya banyak strategi untuk calon mertuanya.💕💕💕


__ADS_2