
Semua pasukan Satpol PP sudah siap berangkat. Andi membawa mobilnya sendiri dengan Toni yang mengemudikan. Tiba-tiba Dewi datang tanpa melihat yang berada di belakang kemudi mobil Andi, dia langsung duduk di depan samping sopir dengan harapan yang mengemudikan Andi sendiri. “Ah pucuk dicinta ulam pun tiba.” Toni merasa tersanjung.
Tiba-tiba Andi datang dan membuka pintu depan mobilnya, karena sudah ada yang menempati tempat duduknya dan pandangan Toni menginginkan sesuatu, dengan sigap dan tanggap akhirnya Andi duduk di belakang. Anita yang belum dapet tempat langsung mengikuti Andi.
“Terimakasih pak," kata Anita menghempaskan dirinya duduk di sebelah Andi.
“Sial ternyata yang duduk di belakang kemudi pak Toni, sial betul aku, tahu begitu aku tadi duduk di belakang saja." Dewi nampak kecewa.
“Ayo jalan Ton, jangan bengong saja. Awas konsentrasi nyetirnya.” Andi memberi perintah pada Toni.
“Siap... pak.” Toni melajukan mobilnya menuju lokasi diikuti mobil patroli yang lain.
Beberapa menit mereka sampai di lokasi. Andi dan pasukannya mulai menjalankan misinya untuk menertibkan PKL di lingkungan alun-alun.
Operasi berjalan dengan insiden kecil, akan tetapi ada salah satu pemuda dan gerombolannya, yang merupakan pedagang tetap di alun-alun bersikeras tidak mau pindah tempat. Negoisasi berjalan sangat alot meskipun mendapat pengarahan dari Andi sendiri mereka tetap tidak mau pergi bahkan mereka bertahan tidak mau pindah tempat yang sudah di sediakan oleh pemerintah setempat. Karena ada orang yang memprovokasi keadaan menjadi ricuh dan ramai.
“Pak, kami tetap tidak mau pindah tempat. Kami sudah bertahun-tahun di sini, jadi apapun yang terjadi kami tetap menetap di sini," jawab salah satu pemuda yang diduga pemimpin dari aksi tersebut.
“Kami akan memindahkan lokasi khusus untuk para PKL dan tempatnya sangat layak dan prospek ke depannya," kata Andi menjelaskan dengan tegas penuh wibawa.
“Apa yang layak, di sana kami harus mencari pelanggan lagi. Kami harus merintis mulai dari nol kembali," jawab pemuda satunya lagi.
“Anda jangan memperkeruh keadaan. Di sana kalian juga dapat kompensasi selama 3 bulan, apa masih kurang, perhatian dari pemerintah," jawab Andi tegas.
“Pokoknya kami tidak mau pindah," jawab mereka serempak. Sehingga aksi dorong-mendorong antara pihak PKL dan Satpol PP tidak bisa di hindarkan. Ada beberapa pihak satpol PP yang terluka.
“Kalau kalian tidak segera pindah dan membuat keonaran, kami tak segan-segan menangkap dan memenjarakan kalian," ancam Andi dengan arogant sehingga membuat mereka ketakutan.
__ADS_1
“Kalau anda bergerak maju, saya akan melukai gadis ini," ancam salah satu pemuda yang ikut dalam rombongan. Ternyata informasi bahwa kekasih pak Andi salah satu mahasiswa magang diketahui oleh salah satu pemuda tersebut. Tapi sayang mereka salah sasaran, yang mereka jadikan sandra adalah Dewi. Pemuda itu mengalungkan sebuah benda tajam di leher Dewi.
“Pak, tolong selamatkan aku pak, aku belum mau mati," teriak dewi histeris sambil menangis ketakutan.
“Ya, Allah tolong selamatkan aku. Siapapun dia yang menyelamatkan aku jika dia masih bujang akan aku jadikan kekasihku.” Dewi berdo’a berharap ada mukjizat dari Allah yang menyelamatkan dirinya.
“Tolong jaga sikap anda, jangan pertaruhkan masa depan anda dengan mendekam di penjara.” Andi menatap tajam kepada pemuda tersebut.
“Percuma gertakan anda, aku tidak takut ancaman anda. Anda membuat kesepakatan dengan kami, kalau kami masih tetap disini, maka kekasih anda akan selamat," kata pemuda itu.
“Kekasih, siapa yang anda bilang kekasih? Dia bukan kekasih saya, anda salah sasaran. Siapapun itu kamu tetap membahayakan nyawa orang lain. Hukuman anda nanti bertambah berat karena dapat pasal pidana.” Andi menjelaskan panjang lebar untuk mengalihkan perhatian pemuda tersebut.
“Tetap saja, aku tidak peduli," jawab pemuda tersebut kembali mengeratkan cengkeramannya ke tubuh Dewi. Dewi semakin ketakutan menangis sejadi-jadinya.
“Diam kau..., apa kamu mau mati?" ancam pemuda itu keluar dari kerumunan orang-orang dan menyeret Dewi mengikutinya.
Setelah agak jauh dari gerombolan tiba-tiba Toni muncul menyelamatkan Dewi.
“Terimakasih kak, kak Toni telah menyelamatkan saya," kata Dewi dan langsung memeluk Toni.
“Ah...auh...sakit dik.” Toni meringis kesakitan karena bahunya sedikit terluka karena goresan senjata tajam pemuda tadi.
“Sini kak, aku obati.” Dewi menarik tangan Toni untuk duduk di bangku taman yang ada di sekitar tempat razia.
“Ini kotak obatnya.” Anita datang memberikan kotak obat kepada Dewi. Kemudian Anita kembali berkumpul dengan yang lainya dengan harapan memberikan kesempatan mereka untuk saling mengenal lebih mendalam.
“Kak...sekali lagi terimakasih, kakak telah mengorbankan jiwa kakak untuk menolong aku. Bahkan kakak tidak peduli dengan keselamatan kakak sendiri.” Dewi membuka kotak obat yang diberikan oleh Anita.
__ADS_1
“Dik, keselamatanmu bagi kakak sangat penting dik. Kakak siap menjaga dik Dewi sampai akhir hayat kakak," jawab Toni sambil memandangi wajah Dewi. Dewi nampak gugup sehingga tanpa sadar tangannya menekan terlalu keras pada bahu Toni dengan obat antiseptic yang dioles-oleskannya.
“Ah…auh…sakit dik dan perih sekali," teriak Toni meringis menahan sakit. Reflek Dewi berdiri dari duduknya dan meniup luka Toni. Toni memanfaatkan kesempatan itu untuk mencium pipi Dewi. Muka Dewi memerah menahan malu.
“Apa an sih kak.” Dewi tanpa sadar mengarahkan tangannya memukul bahu Toni.
“Dik sakit dik, memangnya kamu ingin aku mati... berdiri kesakitan ya," teriak Toni kembali menyadarkan Dewi.
“Wah kayaknya ada yang cinlok ya, bakalan seru nich.” Tiba-tiba Anita muncul.
“Apa Nit, kita nggak ngapa-ngapain kok," jawab Dewi beringsut agak menjauhkan duduknya dari Toni.
“Ngapa-ngapain juga nggak apa-apa kok. Kak Toni kan juga singgel. Kalian juga cocok kok menjadi sepasang kekasih, wajah kalian mirip kok," goda Anita menyakinkan mereka dan berniat menyatukan mereka.
“Betul gitu Nit..., gimana dik, mau kan kamu jadi kekasihku?” tembak Toni langsung di depan Dewi dan Anita.
“Dasar sealiran dengan bos nya. Sama-sama somplak dan sedeng, tidak lihat situasi dan kondisi," tawa Anita yang tiba-tiba berhenti karena Andi mendekat ke arahnya.
“Dasar calon adik ipar durhaka, masa ngatain kakak seenak jidat kamu. Awas lo ya tidak aku restu i dengan adik kakak," ancam Andi sambil menyenggol bahu Anita.
“Kakak... apaan sih kak, jangan buka kartu di sini.” Anita tersenyum malu.
“Gila, kita nggak ketemu sepekan saja ternyata kamu sudah ketemu jodohmu Nit? Kapan-kapan kenalkan ke kita ya?” goda Dewi.
“Jangan percaya sama kak Andi. Kak Andi itu suka berbohong. Ayo kita kembali ke kantor," kata Anita mengalihkan pembicaraan.
“Dik awas lo kalau kak Arga di ambil orang?” goda Andi sambil masuk ke dalam mobilnya. Merekapun kembali ke kantor dengan Andi yang mengemudi.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Ayo para pembaca, silahkan tinggalkan jejak anda dengan kasih komen dan like nya. Terimakasih.🍁🍁🍁