
Andi masuk ke villa dengan muka ditekuk dan masam. “Nita...,pa Katrin sudah pulang?” tanya Andi dengan cemas.
“Sudah kak, tapi langsung masuk kamar, kelihatannya… dia menangis. Ada apa kak, dengan Katrin?” tanya Anita dengan penuh selidik.
“I_tu, gara-gara ular betina yang berbisa. Kamu masih ingat yang di ceritakan Arga kan, tadi kebetulan ketemu di jalan?” kata Andi sambil berjalan menuju kamar Katrin.
“Maksud kakak, In_dah? Astaga, terus gimana kak?” tanya Anita cemas.
Andi mengangkat bahunya sambil pergi menuju kamar Katrin.
“Tok…tok, dik tolong bukakan pintunya dik, ada yang mesti kakak bicarakan,” kata Andi cemas.
Andi terus memanggil-manggil Katrin tapi tidak ada jawaban hingga tiba-tiba Katrin membuka pintu kamarnya sambil membawa tas yang berisi bajunya.
“Aku mau pulang, terserah kamu, kakak mau apa, aku nggak peduli,” kata Katrin pergi berlalu meninggalkan Andi.
“Sayang, kamu jangan percaya sama mulutnya yang berbisa, percayalah dik…, aku hanya sayang sama kamu.” Andi berusaha menyakinkan Katrin. Katrin tetap tidak peduli sama Andi bahkan dia terus berjalan keluar villa hingga sampai di tepi jalan. Anita dan Dewi bengong menatap kepergian Katrin.
“Rin…, tolong jangan pergi dulu, dengarkan penjelasan kak Andi,” ucap Anita menahan tangan Katrin.
“Nit…, sahabatmu itu aku apa dia?” Katrin berusaha melepas tangan Anita.
“Ya, bukan begitu Rin, percaya lah sama kak Andi? Aku yakin kak Andi gak seperti itu,” ucap Anita sambil terus memegangi tangan Katrin.
“Nit, kamu tahan Katrin dulu, aku ambil kunci mobil. Kamu, Dewi dan Arga pulang sama Toni saja,” teriak Andi berlari menuju kamarnya.
Katrin memesan taxi lewat aplikasi online, matanya sembab masih basah dengan air mata. Tak lama kemudian taxi datang bersamaan dengan mobil Andi yang berhenti di depan Katrin.
Katrin membuka pintu mobil taxi, Andi segera meraih tangan Katrin dan menutup kembali pintu mobil taxi. “Bang, maaf ini ganti rugi abang, dan sebelumnya terimakasih,” ucap Andi sambil menyodorkan selembar uang pada sopir taxi.
“Kak…dasar Arogant,” kata Katrin sambil melepaskan tangannya dari genggaman Andi.
“Dik, maaf…, aku akan jelaskan semuanya,” kata Andi sambil membelai rambut Katrin dan mencium keningnya.
“Kakak jahat, aku akan pulang sendiri,” kata Katrin sambil memukul-mukul dada Andi dengan tangannya. Andi dengan sigap dan tanpa persetujuan Katrin langsung mengangkat Katrin dengan tubuhnya di sandarkan pada bahunya menghadap kebelakang.
“Nita…, masukan tas Katrin ke dalam mobil!” perintah Andi sambil membuka pintu mobil dan dengan sigap menyandarkan Katrin duduk di depan samping sopir.
“Kak, hati-hati di jalan, sepertinya akan hujan dan jalanan licin,” kata Anita setelah memasukan barang.
“Nit, sampaikan ke Arga kalau aku pulang dulu.” Andi menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
Katrin nampak diam dan melepaskan pandangannya ke luar jendela. Katrin masih marah sama Andi bahkan mengabaikan Andi setiap Andi ingin menanyakan sesuatu.
“Dik…, bicaralah, janganlah kau abaikan kakak,” kata Andi sambil melirik Katrin.
Katrin memasang wajah cemberut, tiba-tiba Andi menepikan kendaraannya. “Sayang…, dengarkan kata kakak, kalau kamu ingin bukti kau boleh kok belah dada kakak, pasti di sana terukir namamu.” Andi meraih tangan Katrin dan menempelkannya ke dada Andi.
“Hick…hick, aku nggak tahu kak, aku marah dan benci kakak. Aku bingung…,” ucap Katrin terbata-bata menahan tangisnya.
“Sudahlah dik, maaf…aku sudah tidak menyimpan perasaan apapun sama dia,” kata Andi sambil meraih tubuh Katrin untuk dipeluknya.
“Kak, aku tidak ingin merasakan sakit hati lagi kak, cukup dengan kak Leo saja. Aku takut…terluka.” Katrin semakin mengeratkan pelukannya.
“Kakak janji akan membahagiakanmu, kalau kamu mau…, kita sampai di rumah langsung mengurus pernikahan kita.” Andi menyakinkan Katrin. Katrin menatap manik mata Andi dan melihat kejujuran ada dibalik mata Andi yang teduh.
“Maunya…, memang nikah itu gampang apa, kan mesti mempersiapkan segala perlengkapan kak?” tanya Katrin sambil menghapus air matanya.
“Dik…, kita lanjutkan perjalanan ya?” kata Andi disambut dengan anggukan oleh Katrin. Andi menghapus air mata Katrin.
Baru melanjutkan perjalanan tiba-tiba terjadi hujan lebat disertai angin kencang. Di depan mobil mereka ada beberapa mobil juga menghentikan mobilnya, bahkan nampak beberapa orang yang sengaja memberitahu mereka bahwa perjalanan tidak bisa dilanjutkan karena di depan ada tanah bukit yang longsor menghalangi jalan.
“Kak,…bagaimana ini kak?” tanya Katrin dengan wajah ketakutan. Hujan disertai angin kencang dan petir membuat semua orang panik dan takut.
“Mbak…, pesan 2 kamar kosong untuk kita berdua,” ucap Andi.
“Maaf…, kamar tinggal satu mas, semua kamar sudah habis. Gimana?” jawab resepsionis penginapan.
Andi dan Katrin saling pandang. “Ok…, tidak masalah mbak. Kalau mau mencari penginapan lagi dimana? Apalagi situasi seperti ini,” jawab Andi sambil mengeluarkan tanda pengenalnya.
“Ini, mas kunci penginapannya, selamat menikmati,” kata resepsionis penginapan ramah.
Andi menggandeng Katrin menuju kamar penginapan. “Dik kamu mandi dulu, ganti bajumu yang basah itu,” kata Andi menghempaskan tubuhnya di sofa.
“Ya…, kak.” Katrin mengambil perlengkapan mandi di dalam tas. Katrin menyalakan air hangat dalam bathtub kemudian berendam.
Setelah mandi, Katrin keluar dengan memakai baju tidurnya. “Kak…, sana mandi aku sudah siapkan airnya.”
“Wah, calon istri yang solehah dik, tahu kebutuhan suami,” kata Andi sambil berjalan mendekati Katrin yang lagi bercermin di depan meja rias.
Andi memeluk tubuh Katrin dari belakang. “Dik, aku ingin…?
“Ingin…ini? Kakak jangan nakal dan mesum” Katrin menjewer telinga Andi.
__ADS_1
“Sayang, sakit…awas ya kalau telingaku putus, kamu aku hukum.” Andi menangkap tangan Katrin dan menarik dalam pelukannya. Andi mencium kening, pipi, hidung dan turun langsung ******* bibir Katrin yang merah. Karena situasi dan suasana yang mendukung mereka menikmati permainan mereka hingga akhirnya mereka kehabisan nafas untuk mengakhiri permainan mereka.
“Kakak…, mandi sana! Tubuh kakak bau.” Katrin mendorong tubuh Andi sambil menyumbat hidungnya. Andi terkekeh melihat tingkah laku Katrin dan berlalu menuju kamar mandi. Setelah melaksanakan ritual mandi tiba-tiba Andi berteriak memanggil Katrin.
“Dik, tolong ambilkan kaos dan baju dalam di tas kakak,” perintah Andi dari dalam kamar mandi. Setelah berhasil menemukannya di dalam tas, Katrin melangkah menuju kamar mandi.
“Kak, semua perlengkapan mu tak taruh di depan pintu ya?” kata Katrin tanpa basa-basi, langsung meninggalkan kamar mandi.
“Dik, mana bajunya?” kata Andi sambil mengeluarkan kepalanya di balik pintu kamar mandi.
“Pletak…,” reflek tangan Katrin memukul kepala Andi.
“Dik sakit…, kamu jahat sekali dik?” jawab Andi mengambil bajunya, sambil meringis menahan sakit.
Setelah memberikan baju Andi, Katrin lari menuju sofa untuk melihat acara TV. “Siapa suruh kakak mesum banget.”
Andi keluar dari kamar mandi, kemudian menghampiri Katrin. “Dik, kita pesan makanan ya, aku lapar banget,” kata Andi sambil mengeringkan rambutnya pakai handuk.
“Ok…, aku pesankan kak?” jawab Katrin sambil memesan makanan lewat Aplikasi.
“Terimakasih, sayang.” Andi mendekat mencium Katrin kemudian duduk di sofa nonton televisi.
“Dret…dret…dret…, kak telepon kakak berbunyi,” kata Katrin menyerahkan hpnya Andi.
“Assalamualaikum, ada apa Ar?” tanya Andi beberapa detik setelah mengangkat telepon.
“Kak…, katanya ada informasi terjadi longsor dan akses jalan baru bisa di buka besok pagi ya? Kakak bagaimana?” tanya Arga di seberang sana.
“Alhamdulilah, baik. Kakak menginap di penginapan, besok baru pulang. Maaf ya liburannya jadi kacau,” ucap Andi sambil melirik Katrin.
“Tidak apa-apa kak, semoga kakak dan kakak ipar baik-baik saja,” kata Arga yang mengawatirkan kakaknya.
“Ok, terimakasih, jangan lupa kamu dan teman-teman segera pulang.” Andi menutup teleponnya. Tiba-tiba Katrin mendekati Andi dan memeluknya.
“Kak…, maaf, aku terlalu kekanak-kanakan sehingga mengacaukan rencana liburan kita.” Katrin mencium pipi Andi.
“Tidak apa-apa sayang, itu berarti cintamu sama kakak sangat besar sayang.” Andi mengeratkan pelukannya dan membalas mencium Katrin.
Tak lama kemudian pesanan makan mereka datang, dan mereka melanjutkan aktivitasnya dengan makan. Andi kadang-kadang menyuapi Katrin, dan sebaliknya Katrin juga menyuapinya sehingga mereka terlihat sangat romantis.
🍁🍁🍁 terimakasih para pembaca jangan lupa, like, vote dan komentarnya. Kita tunggu ya?
__ADS_1