Terjerat Cinta Satpol PP Arogant

Terjerat Cinta Satpol PP Arogant
Bebas


__ADS_3

Mereka berempat telah sampai di tempat Andi di tahan. Setelah melalui beberapa prosedur mereka sampai di ruang tunggu untuk menemui Andi. Bahkan beberapa petugas memberi informasi kalau hari ini Andi bebas dari Penjara.


Katrin nampak gelisah menunggu kehadiran Andi.


“Sudahlah Rin kamu yang tenang.” Anita menyenggol bahu Katrin.


“Iya, kak Katrin sebentar lagi pasti kakak keluar.” Arga menimpali Anita.


“Itu Andi!” Doni menunjuk ke arah Andi yang dikawal oleh dua petugas BNN.


“Sayang, aku kangen kamu!” Katrin berdiri dari tempat duduknya dan langsung berlari naik ke gendongan Andi dan memeluk erat leher Andi serta mengecup bibir Andi.


“Wah, enak ya jadi pak Andi, begitu ke luar tahanan sudah ada gadis cantik yang menyambutnya,” bisik petugas BNN ke temennya.


"Iya, membuat kita jadi teringat masa muda." Petugas yang satunya ikut menimpali perkataan temannya.


Arga, Anita dan Doni nampak bengong melihat tingkah Katrin.


“Astaga Katrin, malu-maluin saja!” ucap Anita lirih.


“Mungkin kangennya sudah di ubun-ubun dik.” Arga menimpali perkataan Anita.


“Iya kali…,” mereka bertiga pun tersenyum menertawakan tingkah Katrin.


“Sayang, jaga sikapmu! Apa kamu tidak malu?” Andi menggendong Katrin untuk duduk kembali di ruang tunggu.


“Tidak. Kamu kan calon suamiku.” Katrin menyatukan keningnya dengan kening Andi dan tanganya masih memeluk erat leher Andi.


“Terimakasih ya dik, kau telah membantu kakak bebas.” ucap Andi sambil menurunkan Katrin dari gendongannya.


“ Iya, kak. Andai Arga dan kak Doni tidak datang, aku sudah buat Indah jadi perkedel kak.” Katrin kembali memperlihatkan emosinya.


“Iya. Kak. Nggak tahu aku, kenapa Katrin seperti itu. Tiba-tiba mengamuk dan menghajar Indah,” jelas Anita.


“Tahu tuh jadi manusia gak ada tobatnya! Makanya kak jangan terlalu lunak. Harusnya dari kemarin kita jebloskan di penjara,” ucap Katrin.


“Sudahlah dik, semoga dia cepet insyaf,” ucap Andi mendesah pelan.


“Mana bisa begitu sayang, kayaknya dia nggak bakalan insyaf deh.” Katrin menatap wajah Andi.


“Iya kak, dan parahnya dia seorang perawat kok bisa mengenal obat-obatan terlarang ya?” Anita merasa heran dengan Indah.


“Aku juga nggak tahu. Sudahlah kita lupakan saja dia. O…iya sayang, gimana keadaanya bunda?” Andi mencemaskan kesehatannya bunda.


“Bunda sudah sehat, tapi harus pemulihan dulu,” jelas Katrin sambil memandangi wajah Andi.

__ADS_1


“Kakak sendiri bagaimana? Sehari di bui, nampak lelah.” Katrin kembali mengusap wajah Andi.


“Tidak kok sayang, aku baik-baik saja dan yang terpenting hari ini aku bebas.” Andi mencium Katrin dan mengusap punggung tangan Katrin.


“Terimakasih ya? berkat bukti yang kamu berikan pada pihak kepolisian aku bisa bebas.” Andi mencium kening Katrin.


“Waduh, kalian itu bener-bener pasangan mesum. Sebentar-bentar ciuman,” ucap Doni malu melihat tingkah mereka.


“Bener kok kak. Aku juga heran, dulu Katrin itu polos dan lugu tapi sekarang kok jadi begini ya?”Anita menyela pembicaraan mereka.


“Memang kenapa? Aku merasa aku biasa-biasa saja,” Katrin memandangi Andi dan menyandarkan dirinya di Pundak Andi.


“Udah dik, biarkan saja mereka. Kamu ngikut kakak saja.” Arga menarik tangan Anita untuk mengikutinya.


“Kak, aku urus dulu segala sesuatunya. Kakak tunggu disini saja.” Arga bersama Anita pergi ke dalam ruangan menemui kepala rutan.


Setelah semuanya beres Arga mengajak kakaknya untuk pulang.


“Kak, ayo pulang , tapi sebaiknya kita mampir ke rumah sakit dulu menemui bunda, karena bunda cemas memikirkan kakak,” ucap Arga sambil menggandeng Anita keluar ruangan. Kemudian disusul oleh Doni.


“Ayo dik.” Andi menggandeng Katrin mesra. Andi dan Katrin masuk di bagian belakang mobil Toyota Alphard, sedangkan Arga dan Anita masuk di bagian tengah.


“Ar, kamu duduk di depan temani aku. Kamu pikir aku sopir gabe apa!” teriak Doni yang sudah duduk di belakang kemudi.


“Bodho amat. Ayo jalan. Makanya segera cari pasangan!” teriak Arga dari belakang Doni.


Di sepanjang jalan Katrin bergelayut manja pada Andi. Andi yang nampak lelah merebahkan dirinya di pangkuan Katrin.


“Dik aku semalam tidak bisa tidur,” ucap Andi sambil memegangi tangan Katrin.


“Masa sih kak? Paling-paling tidak bisa tidur karena banyak nyamuk ya?” kata Katrin sambil mengusap wajah Andi yang nampak lusuh.


“Tidak dik, tapi karena aku susah berhenti mikirin kamu!” Andi mengelu-elus tangan Katrin.


“Yang bener saja kak, berarti kita sama ya kak. Aku bahkan kawatit sama kakak, takut kakak di penjara disiksa.” Katrin memainkan tangannya menyusuri wajah Andi


“Iya, Kak Andi, semalam Katrin juga nggak bisa tidur. Sepanjang malam dia mewek terus mikirin kakak,” ucap Anita tiba-tiba.


“Ayo semuanya turun. Kita sudah sampai di tempat.” Doni mematikan kendaraannya dan langsung turun dari mobil.


Mereka semuanya turun dari mobilnya dan langsung menuju ruangan di mana bunda Clara di rawat.


Begitu sampai di rungan bunda Clara, Andi langsung menghampiri bunda Clara.


“Siang bunda? Gimana keadaan bunda?” ucap Andi duduk di samping bunda Clara.

__ADS_1


“Baik, nak? Lain kali kalau memilih pekerja yang hati-hati nak? Jangan sampai hal ini terulang lagi.” Bunda Clara meneteskan air matanya.


“I_ya, bunda? Lagian ini semua karena ulah In_?” Andi tidak melanjutkan pembicaraannya lagi.


“Indah? Maksudmu nak?” Bunda Clara memotong pembicaraan Andi.


“Iya, bunda…, kemungkinan dia akan lama masuk di bui,” jelas Andi sambil memijat lengan bunda.


“Kok bisa begitu?” tanya Bunda Clara yang tidak mengerti tentang hukum.


“Indah terlibat dengan sindikat peredaran narkoba bunda?” Arga menimpali apa yang diucapkan Andi.


“Dan ternyata Indah sudah menjadi buronan setahun yang lalu bunda,” jelas Arga yang sedang duduk di sofa dengan yang lainnya.


“Indah? Gadis desa yang lugu itu? Rasanya tidak mungkin?” Bunda Clara menghela nafasnya.


“Untung Indah tidak jadi menantu aku. Aku dulu hampir saja terperdaya dengan kepolosannya.” Bunda Clara nampak lega dan tersenyum memandang Katrin.


“Nak Katrin, sini kamu sama bunda ya nak?” Bunda Clara memanggil Katrin. Katrin mendekati bunda Clara yang masih berbaring dalam ranjangnya.


“Nak, apapun yang terjadi kamu harus bersama anak bunda ya? Percayalah anak bunda akan membahagiakanmu!” Bunda Clara memegang tangan Katrin dan diberikannya ke Andi.


“Bunda, jangan memikirkan apa-apa dulu, yang penting bunda segera sehat.” Katrin membungkukkan badannya dan mencium pipi bunda Clara.


“Iya nak, bunda akan berdo’a, semoga bunda bisa melihat kalian bersatu dalam ikatan cinta suci kalian.” Bunda Clara memeluk Katrin.


“Terimakasih bunda. Aku akan menunggu bunda sehat kembali.” Katrin merenggangkan pelukannya.


“Nak kamu sama Andi pulanglah, kalian nampak lelah. Arga dan Anita biar disini menunggu bunda,” perintah bunda Clara.


“Andi ingin menunggu dan merawat bunda disini,” ucap Andi yang tidak beranjak pergi dari tempat duduknya.


“Bunda sudah sehat nak, besok kata dokter bunda sudah boleh pulang.” Bunda Clara hendak bangkit dari tidurnya membuktikan kalau dirinya sudah sehat.


“Bunda, sudahlah jangan dipaksakan.” Andi menahan tubuh bundanya karena takut jika bundanya terjatuh.


“Iya kak, percayalah aku akan merawat bunda dengan baik,” ucap Arga tegas.


“Kak Andi, aku juga disini kok kak. Aku akan menemani kak Arga merawat bunda,” ucap Anita yang bersandar di bahu Arga.


“Wah, calon menantu bunda semuanya baik-baik,” ucap Bunda Clara memuji mereka. Anita mukanya memerah menahan malu.


“Don, kamu antar kak Andi pulang ya?” perintah Arga kepada Doni.


“Ok, mari bos aku antar pulang,” ucap Doni sambil mengangkat tangannya mempersilahkan Andi jalan duluan. Andi dan Katrin pamitan sama bunda Clara. Mereka keluar menuju parkiran depan rumah sakit.

__ADS_1


Demikian para pembaca, nanti sesaat lagi kita teruskan kisah Andi dan Katrin yang menahan rindu dan hendak melepaskan kerinduannya. 🍁🍁🍁🍁Jangan lupa komentar, like dan votenya!🍁🍁🍁🍁


__ADS_2