
Hari ini jadwal terakhir magang Katrin, Anita dan Dewi di Kantor Satpol PP. Katrin dan teman-temannya pamitan dengan semua staff dan karyawan yang ada di Kantor Satpol PP. Katrin mewakili teman-temannya untuk menyampaikan terimakasih.
“Terimakasih kami ucapkan kepada semua jajaran staff dan karyawan yang telah membimbing dan membina kami, sehingga kami dapat nilai yang terbaik,” ucap Katrin di akhir sambutannya.
Setelah sambutan dari pihak peserta magang, dilanjutkan dengan kegiatan ramah tamah. Katrin dan teman-temannya berkeliling bersalaman dengan staff dan karyawan lainnya.
“Nak, ingat pak Broto ya? Nanti kalau beli cendol dan rujak bilang ya sama bapak! Biar bapak tidak salah tangkap lagi?” sindir Pak Broto disertai gelak tawa yang lainnya.
“Iya pak, situ yang salah tangkap, Pak Andi yang beruntung,” ucap Toni membuat semua yang ada di ruangan tertawa terbahak-bahak.
Muka Katrin memerah menahan malu. Andi yang mengetahuinya segera menyenggol Toni dengan tangannya. “Ton, diam kamu. Jaga mulut ember mu. Apa statusmu dengan Dewi perlu aku beberkan juga!” ancam Andi.
“Iya pak siap.” Toni langsung bungkam. Tak berapa lama kemudian Katrin dan temen-temennya berada di dekat mereka.
“Pak Andi, wah bakalan merana ya? Ditinggal sang pujaan hati!” goda salah satu karyawan Satpol PP.
“Dik, jangan di masukan di hati ya? Jangan lupa nanti aku jemput jam 19.00 wib. Kita jalan bareng,” bisik Andi pelan, agar tidak terdengar oleh orang lain.
“Pak Andi, kita ngikut! Aku sama Dewi dan Anita sama Arga,” ucap Toni yang sok mengatur.
“Aku tidak bisa kak. Kak Arga dinas ke luar pulau,” ucap Anita sedih.
“Sudahlah kita tidak usah kemana-mana, tapi kita ke café kak Andi saja,” ucap Dewi ditandai dengan anggukan oleh Toni.
“I_ya aku setuju, kita makan-makan di sana! Boleh minum tapi tidak ada alkohol!” ucap Toni sambil bersorak senang.
“Pletak..., Memangnya kamu ada uang! Nanti tidak boleh ngutang lo ya?” Andi memukul kepala Toni.
“Adalah pak. Kita kan baru gajian. Dik aku traktir kamu. Kita rayakan berakhirnya magang kamu dengan nilai yang baik,” ucap Toni sambil melirik Dewi.
“Kalau kamu mau ke café aku silahkan, kalian aku gratiskan, tapi aku tidak bisa karena ada perlu dengan Katrin,” ucap Andi karena memang tidak mau terganggu dengan Toni dan teman-temannya Katrin.
“Kak Andi, mana bisa begitu. Tidak seru dong!” Dewi nampak kesal dengan keputusan Andi.
__ADS_1
“Dik kita nonton saja kalau begitu!” hibur Toni untuk menyenangkan Dewi.
“Kalian ya bener-bener membuat orang lain merana tidak ada pasangan,” kata Anita pelan.
“Ya sudah kita merayakan ke café ku besok malam saja!” Akhirnya Andi mengambil keputusan untuk menyenangkan mereka semua.
“Nanti malam saja bos, kita ikut kemana pak Andi pergi, kalau besok malam terlalu lama,” ucap Toni yang sebenernya ingin mengetahui acaranya Andi.
“Kamu ya? sudah aku bilang tidak bisa ya tidak bisa!” Andi pun berbalik pergi masuk ke ruangannya.
“Tapi pak…, kita kan selalu bersama!” ucap Toni mengikuti Andi berjalan ke ruangannya.”
Setelah acara pamitan selesai, Katrin dan teman-temannya Dewi kembali ke kampus, untuk mengumpulkan laporannya kepada dosen pembimbing.
“Permisi pak, kami ingin mengumpulkan laporan magang kami, semua sudah kami revisi sesuai dengan instruksi bapak,” ucap Katrin mewakili temen-temennya.
“Baiklah, semua laporan kamu tinggal di meja saya saja! Untuk Anita dan Dewi kamu boleh ke luar dari ruangan saya,” perintah dosen Irfan pada Anita dan Dewi.
“Lo saya gimana pak?” tanya Katrin cemas. “Gawat ini pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh pak Irfan,” gumam Katrin cemas.
“Baik pak!” Katrin duduk di depan meja pak Irfan. Setelah mengutak-atik laptopnya Irfan mengarahkan laptopnya menghadap ke Katrin.
Katrin tampak melongo dengan apa yang dilihatnya. “Ayo, ayah. Kejar aku!” teriak anak laki-laki yang kira kira berusia 5 tahun. Dan yang membuat Katrin tidak percaya lelaki yang mengejar anak kecil itu Andi.
“Astaga…, siapa anak kecil itu dan apa hubungannya dengan kak Andi?” Katrin nampak kecewa dan hampir mengeluarkan air matanya.
“Gimana Rin? Apa kamu masih mencintainya? Aku rasa banyak rahasia yang disimpan oleh pak Andi.” Pak Irfan berusaha menjatuhkan Andi karena memang dari awal pak Irfan menaruh hati sama Katrin.
“Aku rasa itu hanyalah video yang belum tentu kebenarannya!” Katrin berusaha tegar dan tidak menunjukan rasa kecewanya di hadapan pak Irfan.
“Masa kamu akan menikah dengan pria yang sudah memiliki seorang anak!” ucap pak Irfan ingin membuat Katrin ragu dan bimbang.
“Maaf pak itu bukan urusan bapak! Apapun yang bapak perlihatkan tidak akan merubah keputusanku,” ucap Katrin tegas.
__ADS_1
“Dik…, ini sudah jelas lo! Tidak ada editan di dalamnya dan laki-laki itu benar-benar pak Andi,” ucap pak Irfan mendekati Katrin yang duduk di depannya.
“Gimana dik? Maukah kamu menikah dengan ku? Aku jelas masih singgel lo dik! Masa depan juga cerah.” Irfan semakin mendekatkan wajahnya ke arah Katrin.
“Maaf pak janganlah mengubah rasa hormatku terhadapmu hanya karena ulah bapak yang tidak terpuji.” Katrin membuang mukanya ke kanan menghindari bertatapan dengan pak Irfan.
“Aku akan menunggumu! Jika kamu merubah keputusanmu, aku siap menikahimu,” ucap pak Irfan penuh percaya diri.
“Maaf pak, apapun itu aku tetap sama pak Andi. Dan permisi saya mohon diri.” Katrin menggeser tempat duduknya dan pergi dari ruanganya pak Irfan. Pak Irfan nampak kecewa dengan keputusan Katrin.
“Emangnya aku percaya apa dengan vidionya, aku yakin pasti kak Andi ada alasan tersendiri,” Katrin ke luar ruangan sambil komat-kamit mengungkapkan hal yang tidak jelas.
“Rin, apa yang terjadi.” Anita dan Dewi menghampiri Katrin.
“Aku tidak menyangka, ternyata pak Irfan berniat untuk menjatuhkan kak Andi!” ucap Katrin kesal.
“Menjatuhkan? Maksud kamu apa?” Anita kembali bertanya pada Katrin.
“Pak Irfan memperlihatkan video seorang anak laki-laki yang memanggil kak Andi dengan sebutan Ayah,” ucap Katrin yang semakin kesal.
“Kamu percaya?” tanya Anita dan Dewi kompak.
“Ya, tidaklah! Aku percaya sama kak Andi, kak Andi kan sama anak kecil selalu memperlakukannya sebagai anak sendiri! Ingat Anisa kan?” ucap Katrin penuh percaya diri meskipun sedikit bimbang dalam hatinya.
“Ingat…, Anisa sangat dekat dengan kak Andi dan selalu memanggilnya ayah?” ucap Anita sambil mengingat ingat kejadian saat operasi Gepeng beberapa waktu yang lalu.
“Tujuan pak Irfan, apa Rin?” tanya Dewi tiba-tiba.
“Pak Irfan ingin menikahi ku,” ucap Katrin melenggang pergi meninggalkan mereka.
“What? Menikahi kamu?” pekik mereka berdua bersamaan karena kaget.
Katrin tidak peduli dengan tingkah mereka, Katrin meninggalkan mereka berdua dan berjalan menuju parkiran.
__ADS_1
💕💕💕💕Terimakasih para pembaca, siapakah anak lelaki yang memanggil Andi dengan sebutan Ayah? Mari kita simak episode berikutnya! Dan jangan lupa komentar, like dan votenya 💕💕💕💕