Terjerat Cinta Satpol PP Arogant

Terjerat Cinta Satpol PP Arogant
Pindah Rumah


__ADS_3

Setelah 3 hari berada di villa andi dan Katrin pulang ke rumah. Andi yang merasa memiliki tanggung jawab penuh terhadap Katrin berniat untuk mengajak pindah rumah ke rumah yang telah dia siapkan. Andi pun memberanikan dirinya untuk izin kepada bunda Ajeng.


“Bunda, besok kami izin mau pindah rumah, aku sama dik Katrin berniat untuk belajar hidup mandiri,” ucap Andi sopan tanpa berniat untuk menyinggung perasaan bunda Ajeng.


“Iya nak, tapi bunda harap kalau kalian ada waktu luang sering main kesini ya? Bunda belum bisa melepas Katrin tapi bagaimanapun setelah menikah Katrin menjadi tanggungjawab suaminya,” ucap bunda Ajeng yang berlinang air matanya.


“Bunda jangan menangis, Katrin sayang sama bunda,” ucap Katrin yang memeluk bundanya dengan sangat manja.


“Kau lihatlah nak, Katrin selalu seperti ini sama bunda, rasanya bunda baru kemarin membesarkannya tapi sekarang sudah menikah.” Bunda Ajeng mengusap air matanya sehingga membuat suasana semakin haru.


“Oek…, oek.” Tangis Satria yang ditinggal Widya dan Tora ke kamar mandi, memecahkan keheningan diantara mereka. Akhirnya mereka beranjak pergi ingin melihat Satria.


“Sayang, sini ikut tante ya?” Katrin mengambil bayi Satria dari ranjang tempat tidurnya. Katrin menimang-nimang bayi Satria hingga terdiam tidak menangis lagi. Andi mendekatkan dirinya memeluk Katrin dari belakang sambil mengambil gambar mereka.


“Cekrek…, cekrek…,” Andi sangat bahagia dengan moments mereka, kemudian mengabadikan foto mereka ke dalam medsos.


Bunda Ajeng nampak senang melihat keharmonisan mereka. “Mudah-mudahan mereka segera diberi momongan yang bisa menambah kebahagiaan mereka,” do’a bunda Ajeng kepada putri dan menantunya.


Di postingan Andi banyak komentar yang membanjir medsosnya, ada yang mengagumi, ada juga yang mengejek mereka dengan gurauan.


“Wah, enak ya sekali kawin langsung dapet bonus satu,” goda Doni si mulut ember yang kurang kerjaan.


“Iya, dong baby Satria kan juga kesayangan ayah Andi. Makanya segera menikah,” balas Andi terhadap komentar Doni.


Tak lama kemudian Widya dipapah Tora sudah kembali dari kamar mandi. “Wah kesayangan bunda ikut tante ya? Sini sayang kalau haus minum susu dulu,” ucap Widya yang bersandar di ranjang dan siap untuk memberi asi putranya.


Akhirnya Andi dan Katrin keluar dari kamar Widya diikuti oleh Tora dan bunda Ajeng. Mereka ngobrol di belakang rumah dekat dengan kolam.


“Bro, kamu jadi pindah rumah?” tanya Tora yang memulai pembicaraan dengan Andi.


“Iya bro, aku tadi sudah pamitan sama bunda Ajeng,” tegas Andi tanpa menyembunyikan apapun dari Tora.

__ADS_1


“Aku tidak melarang mu, sebenarnya aku berharap kalian berdua tetap tinggal disini menemani bunda Ajeng. Kamu kan tahu aku tidak mungkin kalau tinggal di sini karena aku berada di Jogja dan menetap di sana.


“Nak, janganlah kau menghalangi niat baik adikmu, bunda itu tidak masalah, karena perumahan mereka tidak jauh dari tempat tinggal bunda,” ucap bunda menyakinkan putranya.


Setelah sepakat dengan keputusannya, waktu pindah yang telah ditentukan sudah tiba. Dua keluarga besar telah berkumpul di rumah Andi dan Katrin termasuk teman-teman Andi dan Katrin. Mereka mengadakan syukuran atas kepindahan mereka.


“Rin, kalau aku sering bermain ke sini boleh tidak?” tanya Anita tiba-tiba dan sedikit takut jika Andi tidak memperbolehkannya.


“Bolehlah, Nit. Lagian kita akan menjadi saudara.” Katrin mengerlingkan matanya menatap Anita.


”Nit, Arga mana?” tanya Katrin begitu menyadari Arga tidak ada di dekat Anita.


“Kak Arga masih piket, sebentar lagi paling kesini,” ucap Anita yang tidak menyadari kalau Arga sudah ada dibelakangnya. Arga langsung menyekap mata Anita dari belakang.


“Kak Arga, jangan gitu dong?” Anita meronta berusaha melepaskan sekapan Arga. Arga semakin gemas dibuatnya. Arga langsung membalikan badan Anita dan menciumnya.


“Arga, kamu segera lamar Anita saja biar lekas kamu halalin. Dan nanti kamu bisa merasakan sensasinya saat bercinta,” ucap Andi yang somplak sehingga membuat Katrin malu.


“Iya kak. Aku akan urus berkas-berkas dulu untuk menikah batalyon.” Arga duduk mendekap Anita dengan gayanya yang khas Arga membelai rambut Anita.


“Lo, Arga belum mengajak kamu ke rumah sebelah ya?” tanya Andi yang mengejutkan semua orang yang mendengarnya.


“Rumah sebelah? Ada apa dengan rumah sebelah?” tanya Anita yang curiga dengan apa yang disembunyikan oleh Arga. Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Kakak? Padahal aku mau membuat surprise untuknya,” Arga mendengus kesal dengan ucapan Andi.


“Surprise?” ucap Anita dan Katrin bersamaan.


“Iya…, sebenarnya nanti kalau kita sudah menikah aku berencana mengajak kamu tinggal di rumah sebelah,” ucap Arga menjelaskannya sehingga membuat Katrin dan Anita senang.


“Sayang apa benar seperti itu?” Anita langsung memeluk Arga dan mengecup pipinya.

__ADS_1


“Iya, kebetulan kemarin rumah sebelah dijual, untungnya kak Andi mengetahuinya dan langsung menawarkan ke aku. Karena aku memang berencana ingin membeli rumah dan cocok dengan rumah sebelah jadi aku membelinya.”


Demikian juga Katrin reflek mengecup pipi suaminya. Pemandangan dua bersaudara ini mengagetkan orang yang melihatnya.


“Hoi, ini ya dua bersaudara sama-sama mesumnya,” teriak Doni yang baru datang, tapi kali ini dia datang menggandeng seseorang dengan sangat mesra.


“Doni, Farida. Kalian sudah jadian ya?” ucap mereka serempak. Farida yang pemalu langsung melepaskan dirinya dari Doni.


“Tadi kak Doni jemput aku, di tempat praktek aku ngajar kak, yang kebetulan dekat dengan tempat kerja kak Doni,” ucap Farida gugup menghilangkan rasa malunya.


“Farida, sudahlah tidak apa-apa? Selamat ya semoga kalian segera menikah menyusul kami.” Katrin menghilangkan kecanggungan diantara mereka.


“Bro, bener-bener sip jurus kamu.” bisik Doni di telinga Andi.


“Iya, tapi kamu jangan mempermainkannya ya? Dia sudah seperti Andikku sendiri.” Andi memberi peringatan kepada Doni.


“Farida, apa yang kamu suka dari Doni? Dia itu cowok yang sangat menyebalkan lo?” tanya Arga tiba-tiba.


“Kak, cinta itu tidak memandang apapun, yang ada hanya perasaan.” Anita membela Farida.


“Kok rame saja. Ayo kita makan dulu,” ajak Katrin menuju ruang makan. Bunda Ajeng dan bunda Clara menyiapkan makan untuk mereka.


“Ayo nak dimakan, semoga pindahan Andi dan KAtrin membawa berkah dan segera diberi momongan yang meramaikan kediaman mereka,” ucap ayah Sandi melafalkan do’a terlebih dahulu.


“Amin” ucap semua orang mengamini apa yang diucapkan oleh ayah Sandi. Suasana semakin ramai dan diwarnai dengan canda tawa para kerabat yang datang hingga sore hari baru pulang ke rumah masing-masing.


Setelah kepergian mereka, Katrin membantu mbok Sum membereskan rumahnya. Katrin nampak letih sehingga Andi mendekatinya.


“Sayang, biarkan mbok Sum yang membersihkan. Ayo kamu istirahat saja!” bisik Andi yang memeluk Katrin dari belakang.


“Tinggal sedikit kak! Nanggung kasihan mbok Sum,” jawab Katrin sambil melanjutakan aktivitasnya membersihkan meja.

__ADS_1


Tak lama setelah selesai Andi yang tak sabaran langsung mengendong Katrin menuju kamar mereka. Mereka sebenernya berencana istirahat, tapi entah mengapa mereka melakukannya lagi. Andi mencumbu Katrin mulai mengecup bibirnya, turun ke bawah hingga akhirnya Andi melepaskan semua baju Katrin. Andi memulai permainannya dengan sangat liar Andi membuat Katrin mendesah manja dan menggelinjang mencapai puncak bersama-sama.


💕💕💕Pembaca setia yang telah menikmati bacaan, bacaan ini hanya sekedar hiburan saja, semoga bisa menghibur para pembaca setia, dan jangan lupa kasih komentar, like dan votenya!💕💕💕


__ADS_2