Terjerat Cinta Satpol PP Arogant

Terjerat Cinta Satpol PP Arogant
Bunda Clara dan Bunda Ajeng


__ADS_3

Sewaktu bunda Clara masuk rumah sakit bunda Ajeng belum sempat menjenguk bunda Clara, karena butik yang ramai dan padat pengunjung. Hari ini bunda Ajeng ada waktu luang untuk menjenguk sahabatnya.


Bunda Ajeng nampak sibuk menyiapkan makanan yang hendak dibawa ke rumah sahabatnya sekaligus calon besannya.


“Nak, ayo kita berangkat, semua barang sudah dimasukan ke dalam mobil sama mbok Minah.” Bunda Ajeng berteriak dibawah tangga memanggil Katrin.


Katrin turun dari tangga dan berjalan mendekati bunda Ajeng. Katrin nampak cantik dengan stelan kaos kasual dan rok jin selutut. “Ayo bunda, aku sudah siap.”


Katrin dan bunda Ajeng berangkat dengan mengendarai mobil sport Katrin. Katrin kelihatan senang karena akan bertemu dengan pria sang pujaan hati.


“Nak, bagaimana hasil sidang kemarin?” tanya bunda ajeng yang duduk di samping Katrin.


“Indah akan dijatuhi hukuman 5 tahun penjara, tapi Indah naik banding bun,” ucap katrin sambil fokus mengemudi.


“Mudah-mudahan itu terbaik untuk Indah.” Bunda Ajeng menghela napasnya mengingat kejadian tempo hari yang membuat calon menantunya masuk penjara bahkan reputasinya hampir jatuh karena kasus yang dituduhkannya.


Tak berapa lama kemudian Katrin membelokan mobilnya memasuki pekarangan rumah bunda Clara. Mbok Ijah menyambut kedatangan mereka dan mempersilahkan masuk ke rumah. Semua oleh-oleh yang bunda Ajeng bawa, dibawa masuk oleh mbok Ijah.


Bunda Ajeng dan Katrin masuk ke dalam rumah dan disambut hangat oleh bunda Clara yang sudah berada di ruang tamu.


“Wah, calon besan, lama tidak bertemu.” Bunda Clara memeluk bunda Ajeng dan saling melepas rindu.


“Maaf jeng, baru bisa besuk,” ucap bunda Ajeng sambil mencium pipi kanan dan kiri bunda Clara.


“Tidak apa-apa jeng. Alhamdulilah aku sudah sehat kembali. Ayo jeng duduk sini!” Bunda Clara mempersilahkan bunda Ajeng dan Katrin.


“Bunda, ayah dimana?” tanya Katrin sambil menghempaskan dirinya duduk di kursi.


“Ayah lagi dinas nak, kalau Andi di ruang fitness, kamu kesana saja tidak apa-apa,” ucap bunda Clara sambil tersenyum kearah Katrin.


“Mbok Ijah, tolong antarkan nak Katrin ke ruang fitness!” perintah bunda Clara kepada mbok Ijah.


Mbok ijah mengantarkan Katrin ke ruang fitness Andi, kemudian meninggalkan Katrin untuk masuk ke ruang fitness. Katrin masuk berlahan tanpa sepengetahuan Andi, kemudian duduk di sofa mengamati Andi yang sedang fitness.

__ADS_1


“Aduh kak Andi dengan muka yang penuh keringat seperti itu semakin membuat macho. Dan badannya…, membuatku ingin memeluknya!” Katrin bengong menatap Andi yang penuh dengan keringat dan dengan pakaian yang memperlihatkan otot-otot tubuhnya.


Andi yang menyadari dirinya ada yang mengamati langsung menghentikan kegiatannya dan mendekati Katrin. Andi reflek memeluk tubuh Katrin dan mencium bibirnya. Katrin yang dari tadi mengamati Andi terbawa suasana. Katrin membalas ciuman Andi dengan penuh gairah. Andi yang sudah panas mencapai puncak ubun-ubunya menggendong Katrin untuk di rebahkan ke sofa.


“Sayang, kenapa kamu menggodaku?” Andi terus melancarkan aksinya menciumi wajah dan leher jenjang Katrin. Sebelum melangkah lebih jauh Katrin tersadar dan berusaha menghentikan aksi Andi.


“Sayang, ayo kamu mandi dulu, kita di tunggu bunda di bawah.” Katrin berusaha melepaskan dirinya dari tindihan Andi.


Tubuh Andi yang memanas dan terbakar segera menuju kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya, sedangkan Katrin kembali merapikan rambut dan bajunya menuju ruang tamu menemui bunda Clara dan bunda Ajeng.


“Nak, sudah bertemu dengan masmu?” tanya bunda Clara sambil mengupas buah jeruk.


“Sudah bunda, sekarang kak Andi lagi mandi, bunda!” ucap Katrin menghempaskan dirinya duduk di sofa.


“Nak besok minggu kamu dan Andi ke butik bunda ya? Untuk mencoba baju yang bunda rancang untuk kegiatan lamaran kalian,” jelas bunda Ajeng.


Katrin nampak bingung memandang bunda Ajeng dan bunda Clara.


“Iya sayang keluarga bunda Clara secara resmi ingin minta kamu,” jelas bunda Clara yang seakan tahu makna roman muka Katrin.


“Nak, nanti kita segera dibuatkan cucu ya?” Bunda Ajeng menyambung perkataan bunda Clara.


“Wah kalau itu aku setuju bunda, sekarang juga boleh,” ucap Andi yang tiba-tiba nongol dan langsung merebahkan dirinya di sofa dengan kepala diletakan di pangkuan Katrin.


“Nak, jaga sikapmu! Malu dong sama bunda.” Bunda Clara menimpuk Andi dengan tisu yang ada di depannya.


“Itulah jeng yang membuat aku kuatir, kalau kita biarkan terlalu lama, bisa-bisa cucu-cucu kita brojol di luar nikah,” ucap bunda Ajeng yang penuh rasa kuatir.


“Bunda, aku sama kak Andi masih bisa menjaga sikap. Kita tahu batasnya bunda,” jelas Katrin sambil mengusap-usap rambut Andi.


“Bunda-bunda yang cantik, kalian ingin cucu berapa? Andi siap kok mau dua, empat atau berapapun siap.” Andi bangkit dari tidurnya kemudian memandang Katrin minta persetujuan.


“Kalau bunda sih inginnya 3 nak, tapi nggak tau kalau bundamu,” ucap bunda Ajeng memandang bunda Clara.

__ADS_1


“Lima…, laki-laki semua. Biar nanti bunda masukan ke sekolah militer seperti ayah Sandi!” Bunda Clara nampak bersemangat membayangkan jika mempunyai cucu laki-laki.


“Lo jangan begitu jeng, ya harus ada ceweknya yang bisa aku dandani dengan baju-baju rancangan aku,” ucap bunda Ajeng dengan sangat serius.


“Tidak bisa jeng, cucuku harus lelaki semua!”ucap bunda Clara tegas.


“Pokoknya aku minta harus ada cewek.” Bunda Ajeng bersikeras dengan pendapatnya, begitu juga dengan bunda Clara. Mereka berdua nampak beradu argumentasi hingga membuat suasana riuh.


“Bunda-bunda sayang, kalau begitu kita berdua ijin ya? mau membuat cucu untuk bunda.” Andi berdiri menggandeng tangan Katrin hendak meninggalkan mereka berdua.


“Andi Atmajaya, kembalilah duduk di tempat mu!” teriak bunda Clara yang tersadar dengan tingkahnya dengan bunda Ajeng.


“Awas ya! kalau kamu berbuat macam-macam sebelum menikah!” Bunda Clara melototi anaknya.


“Tidak kok bunda, habisnya bunda-bunda itu meributkan sesuatu yang belum resmi dicetak! Tunggu louncingnya bunda?” Andi menggoda bunda Ajeng dan bunda Clara.


“Dasar bocah somplak!” bunda Clara memukul bahu Andi dengan keras.


“Nak Katrin yang sabar ya? anak bunda ini memang sedikit somplak!” Bunda Clara menatap calon menantunya.


“Nak buku bunda sudah kamu baca belum?” tanya bunda Clara tiba-tba teringat akan bukunya yang diberikan untuk Katrin.


“Sudah bunda, isinya bagus kok dan mudah untuk dipraktekan,” jawab Katrin.


“Bagus, dan pastikan anak bunda yang somplak ini besok bisa kamu buat klepek-klepek di atas ranjang,” perintah bunda Clara sehingga membuat bunda ajeng bengong di tempatnya.


“Astaga jeng Clara? Apa yang kau ajarkan pada anakku?” Bunda Ajeng nampak terkejut dan melongo tidak mengerti.


“Banyak hal jeng nanti biar segera lahir cucu-cucu kita, setelah mereka menikah,” ucap bunda Clara penuh percaya diri.


“Aduh-aduh jeng ternyata kamu sudah menyiapkannya jauh hari.” Bunda Ajeng melongo melihat kelakuan calon besanya.


“Clara…, Clara dari dulu kamu tidak pernah berubah, kalau punya tujuan harus direncanakan secara matang!” Bunda Ajeng terbayang saat mereka berdua masih muda. Dimana bunda Clara selalu berbuat heboh dengan setiap kegiatannya.

__ADS_1


Setelah matahari terlihat sangat terik, bunda Ajeng dan Katrin berpamitan hendak beranjak pergi meninggalkan rumah bunda Clara.


💕💕💕💕Terimakasih para pembaca, jangan lupa komentar, like dan votenya!💕💕💕


__ADS_2